Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
22. Kekalahan


__ADS_3

Senyuman itu merekah sinis, berdecak kesal sebab laki-laki di hadapan Raka ini keras kepala. Dia tak diam sampai di situ, secepat mungkin anak muda tersebut meluncur melakukan serangan lanjutan, berniat membuat Satia keluar dari batasan area. Namun itu tak mudah, semangat Satia masih melekat kuat membara. Pukulan Raka yang bertubi-tubi dapat dihindari bahkan Satia melakukan sapuan dengan kaki kanan, memaksa laki-laki berambut emas tersebut melompat.


Saat itu kesempatan terbuka lebar, Satia dengan hantaman kuat tepat mengenai kedua tangan Raka yang ditempatkan di dada. Akibat dorongan tersebut, anak itu terpental sampai ke tengah arena, mencoba menjaga kestabilan tubuh ketika mendarat. Lantas tatkala dia menoleh ke arah Satia berada, anak muda tersebut entah kenapa sudah berada tepat di depannya, refleks dia berdiri dan berusaha sekeras mungkin menangkis semua sambaran yang semakin lama semakin cepat.


Dia tak bisa berkonsentrasi, kecepatan luar biasa dari Satia tak sesekali berhenti. Raka tertekan, serbuan itu melemahkan pertahanan. Pada titik Satia sedikit melambat, Raka dapat membaca tangan kanan yang hendak terayunkan. Namun, sesaat sebelum Raka hendak menahan hantaman, dia terkecoh oleh sebuah sepakan yang meluncur ke arahnya. Teknik Satia tersebut sama persis seperti yang dia lakukan ketika melawan Suluh saat tes bela diri.


Alhasil, Raka kembali terlontar sampai terkapar. Penonton di sana menilik seksama, tak banyak berkomentar kecuali terkesima. Suluh yang sadar akan teknik itu hanya mencurahkan senyuman, tahu bagaimana rasanya terkecoh dan dikalahkan. Namun, itu belum berakhir. Karena serangan terus menerus tersebut, Satia kelelahan. Berbeda dengan Raka yang mencoba bangkit kembali, tak sudi bertekuk lutut berserah diri. Bersama napas yang terengah-engah, kedua mata biru tersebut memancarkan amarah.


"Kau benar-benar licik," cerca Raka sambil merekahkan senyuman mencemooh. "Teknik murahan tak beradab itu kau lakukan untuk menghinaku, bukan?"


Satia tak merespons, dia hanya terdiam dengan kuda-kuda yang tak melemah sama sekali. Raka semakin kesal diabaikan, menambah rasa muak yang berlebihan. Sebab Satia sama sekali tak menolak bahwa yang diutarakan Raka salah, semakin mencela harga dirinya sebagai murid berbakat di Turuwara Merah. Entah apa yang akan dia lakukan, Raka tiba-tiba melakukan pemanasan, bersimpuh kemudian membuat suatu ancang-ancang seakan seperti hendak berlari.


"Tidak, kau lah yang memalukan ranah bela diri," bisik laki-laki tersebut dalam konsentrasi. "Aku tak akan membiarkanmu lolos dengan teknik sampahmu itu!"


Sekali tarikan kaki, dia melesat cepat sekali sampai-sampai matras tempat dia bertumpu retak seketika menahan kecepatan Raka. Satia tersentak melihat itu akan tetapi masih bisa menghindar dengan membalikkan badan, membiarkan anak muda berambut keemasan tersebut lewat dari atas. Saat Satia kembali menoleh ke arah Raka, dia sudah melancarkan sebuah tendangan mematikan yang tak kuasa ditahan. Menyebabkan Satia terseok-seok mundur.


Gerakan Raka kali ini benar-benar berbeda. Dia berubah beringas, memutar balik badan sembari melakukan teknik Pukulan Pemecah Angin berkali-kali. Tentu hal ini tak bisa ditepis Satia, tiap kali dia berusaha bertahan di balik kedua tangan, teknik Raka tersebut mendobraknya. Dapat dikatakan bahwa anak berambut keemasan itu mendominasi kompetisi. Tak ada yang bisa dilakukan Satia kecuali menerima semua hantaman keras dari Raka.


Laki-laki yang melihat kemenangan di depan mata tak tanggung-tanggung dalam melakukan serangan. Amarah yang membara tersebut tersalurkan di setiap gempuran kepada Satia, tak sesekali merasa kasihan maupun menahan diri. Karena dirasa Satia tak melakukan perlawanan sama sekali, dia melancarkan tarian terakhir dari Pukulan Pemecah Angin. Telapak tangannya kini berada di dada Satia, sebelum melaksanakan sambaran terakhir, dia masih sempat membuka mulut.


"Rehatlah!" Sekali sambaran dikala itu, Satia melesat hebat terhempas sampai berputar-putar ketika menabrak matras. Dia secara instan tak sadarkan diri di saat berhenti di luar arena, buru-buru dicek oleh wasit.

__ADS_1


Stadion dibuat suram tanpa ada suara, Suluh yang menyaksikan kebrutalan itu sempat terbakar hatinya, tak dapat menerima apa yang dilakukan kandidat Turuwara Merah tersebut. Dia bahkan sampai hendak beranjak dari tempat duduk, Sekar sampai harus menahan tangan laki-laki itu untuk tidak benar-benar meloncat ke dalam arena. Di dalam benak dia hanya mempertanyakan, akankah hal tersebut dibolehkan dalam kompetisi.


Memanfaatkan unsur Prana untuk memperkuat serangan.


Sebab hantaman yang dilancarkan Raka tak mungkin dapat menghasilkan daya rusak semengerikan itu bila tidak dibarengi Prana. Semenjak Suluh menilik semua yang dilakukan anak muda tersebut, dia entah kenapa dapat merasakan sesuatu dari tubuhnya. Sesuatu yang teramat liar mencuat dari sukma Raka. Sontak Suluh menoleh ke atas, tepat ke tempat di mana Tuan Reswara dan Mandala berada. Penasaran dengan reaksi mereka.


Wasit secara tiba-tiba memberikan isyarat dengan kedua tangan, tim medis secepat kilat memasuki area dengan membawa kotak obat-obatan dan tandu. Segala macam cara mereka lakukan sampai Satia dibaringkan lalu dibawa masuk ke dalam ruangan di sana. Wasit kembali ke tengah, mendekati Raka yang sudah bisa menenangkan diri. Pria dengan seragam hitam putih itu lantas mengangkat tangan Raka, mengumumkan bahwa dialah pemenangnya.


Pihak Turuwara Merah serentak berteriak heboh sembari melambai-lambaikan bendera, meramaikan keberhasilan. Namun Suluh tak bisa menerima hal tersebut, tidak, mungkin sebagian besar murid-murid Cenderawasih yang turut menonton. Mereka yang berada di tribun sebelah bersorak menuntut keputusan wasit keras-keras, mempertanyakan keselamatan Satia. Hal tidak manusiawi dan terlalu sadis tersebut seharusnya didiskualifikasi, tak patut dibiarkan lolos.


"Apa-apaan itu? Kau membiarkan kandidat tak senonoh itu kembali memukuli kandidat lain sampai tak sadarkan diri?" seru Suluh dengan suara lantang nan keras.


Insan-insan yang berada di depan serta di sekitar sedikit terusik dengan teriakan anak itu, laki-laki dewasa di hadapan Suluh membalas dengan tertawa, "Dia berhak mendapatkannya! Manusia lemah lebih baik tak usah mengikuti kompetisi sedari awal."


Suluh dibuat naik pitam mendengar respons orang-orang amoral tersebut, dia dengan emosi berapi-api sontak membentak, "Apa yang kau kata, huh?"


"Kenapa denganmu?" cibir laki-laki berambut ikal kecokelatan tersebut yang berada di sebelah Suluh.


Tiba-tiba secara cekatan, Sekar mendekap tangan Suluh, membekukan aksi anak itu yang sudah telah sirna akal sehat. "Suluh, sebaiknya kita tengok kondisi temanmu itu."


Pemuda tersebut memperhatikan kedua manik mata Sekar yang khawatir nan sedikit ketakutan. Bilamana insan-insan itu mendadak buas. Suluh menaik-turunkan kepala, memilih mematuhi Sekar kemudian melangkah berlalu mendahului mereka yang masih menatap sinis. Angkat kaki dari sana buru-buru masuk ke dalam markas murid Cenderawasih. Awalnya mereka tak diizinkan masuk akan tetapi tatkala salah satu dari sahabat Suluh, Savian, memberitahu bahwa dia merupakan anak satu sekolah, Suluh dan Sekar sesegera mungkin ke dalam.

__ADS_1


"Ini keterlaluan," celetuk Savian yang berada di koridor sambil mondar-mandir. "Dia tak harus kelewatan seperti itu."


"Bagaimana keadaan Satia, Savian?" kata Suluh bernada was-was.


"Masih tidak sadarkan diri," tutur anak berambut kemerahan tersebut. "Serangan tepat di dada membuatnya sesak napas."


"Kacau sekali, kenapa wasit malah membiarkan hal ini?" balas Suluh kelabakan.


"Lebih parahnya, dia bahkan diloloskan," Savian kemudian memilih duduk, mencoba mendamaikan keadaan. "Ini sudah salah besar! Entah apa yang berada dalam kepala wasit itu."


Tak lama setelah mereka bercengkrama, tabib yang terlihat tua keluar dari bilik tersebut, disusul oleh tetua-tetua yang hadir mendekati. Sebelum menyatakan kondisi Satia, dia manarik oksigen lantas berucap lirih, "Untuk saat ini kami berhasil menormalkan napas Satia yang tak karuan, tapi dia masih belum siuman."


"Ada titik nadi di tubuh Satia yang masih terkunci, terhambat dari edaran darah," lanjut tabib tersebut yang memakai busana serba putih menjelaskan secara detail. "Untuk memulihkan hal tersebut memerlukan waktu yang relatif lama."


Suluh yang mendengar hal tersebut tak terima, dia lantas mencerocos, "Guru, kenapa mereka mengizinkan hal seperti itu?"


Guru Safiudin yang berada di sana menoleh, air mukanya sama seperti yang lain. Tak tahu menahu. "Suluh, tenangkan dirimu. Kami akan mencari lebih dalam dari masalah ini."


"Aku minta kepada kalian sekalian," kini suara Guru Safiudin sedikit dikeraskan, bermaksud melaporkan sesuatu. "Jangan melakukan sesuatu yang membuat nama Cenderawasih ternoda. Kontrol emosi kalian dari hal-hal yang tidak diinginkan. Apa semua mengerti?"


"Baik, Guru!" kompak mereka di sana menjawab. Namun untuk Suluh sendiri, dia masih belum sudi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2