
Kedua mata mereka awas, terus waspada terhadap tindakan yang hendak dilakukan manusia bernama Candra. Aura insan itu tampak berbeda, bahkan sampai membuat tetua Cenderawasih was-was. Bertahun-tahun lamanya mereka tak mendengar kabar, muncul secara tiba-tiba membawa malapetaka. Dia ditakuti karena dapat merubah unsur Prana, tak ada kendali dan rasa iba yang menahan moral kemanusiaan.
Membakar semua yang disentuhnya.
"Sudah kukira kau akan berada di sini, Guru Mustari," seru Candra membuka lebar kedua kaki. "Dari dulu muka keriputmu itu tak berubah."
"Namun kita tak sendirian menikmati kemeriahan ini, bukan?" secara berkala kedua tangannya terbakar, berubah biru kemudian diluncurkan ke langit.
Bola api itu menabrak satu sama lain tatkala berada di atas sana, meledak dan terpecah ke berbagai arah. Kobaran yang melesat cepat itu menghancurkan apapun di bawahnya, tak memandang baik itu orang tua, anak-anak, maupun balita. Menyebar cepat ke semua penjuru tanpa terkecuali, menghanguskan rumah dan makhluk bernyawa. Kericuhan tersebar di mana-mana, isak tangis dan ketidakberdayaan menguar memenuhi kesuraman kota.
Wira-wira Indrayana yang melihat tanda itu, secara cepat berubah kepribadian ketika bersama wira Niskala. Mereka yang awalnya saling berbagi minuman bersenda gurau, secara tiba-tiba tanpa keraguan membunuh satu sama lain. Wira yang ditugaskan di pelosok-pelosok desa pula melakukan aksinya, menarik paksa warga sipil dan tak segan-segan mengakhiri nyawa bila melawan. Kekacauan merembes dalam hitungan detik di Niskala setelah kobaran api tersebut terlontarkan.
"Kenapa kau memilih muncul di saat-saat seperti ini?" kata Raja Reswara yang sudah memerintahkan adipati-adipatinya bertugas di beberapa kota mengurus keselamatan mereka sebelum memasuki stadion. Firasat laki-laki itu tak pernah meleset.
"Selama ini apakah Pranamu masih secetek itu, Reswara?" cemooh Candra dengan senyuman sinis. "Apakah kau tak merasakan kekuatan teramat besar telah bangkit beberapa hari yang lalu?"
Reswara terbungkam, tidak dapat menyanggah bahwa dia sama sekali tak merasakan apapun dikala itu. Awalnya dia kira bahwa yang dimaksud adalah Prana milik Raka, namun sepertinya berbeda. Sedangkan Tetua Mustari dan Ardiyasa tak bersuara, tahu betul siapa insan tersebut. Mengedepankan keselamatan Suluh adalah hal utama, dia masih harus banyak menimba ilmu di luar sana. Masa depan yang mereka serahkan kepada bocah dalam ramalan.
"Tak heran kau masih lemah seperti dulu," tangan kanan Candra kembali terbakar, ekor-ekor api itu menimbulkan percikan yang bertaburan di udara. "Yang mana orang lemah tak ada tempat di sini!"
Kecepatan luar biasa itu nyaris menghantam Reswara bila dia tak ditarik oleh Tetua Mustari. Candra tak mengenai apa-apa melainkan suatu matras yang menimbulkan ledakan dahsyat. Bahkan berkat serangan itu, daratan tersebut terbelah membentang searah mata angin. Tiap retakan mencuat semburan api yang liar tak terkendali, bertransformasi menjadi suatu pilar yang menghalangi penghilatan mereka.
__ADS_1
Karena kebutaan akan sekitar itu, Tetua Ardiyasa menempelkan kedua tangan di tanah, mencoba merasakan dan memprediksi apa yang akan dilakukan Candra. Mata terpejam berusaha berkonsentrasi tiba-tiba terbelalak, mendongak di hadapan lantas berteriak. "Awas di depan!"
Bola api dengan kecepatan tinggi menembus tembok-tembok tersebut, melintas tepat ke arah mereka. Namun, Raja Reswara secara cekatan menangkis semua proyektil panas dengan kedua tangan, menerapkan unsur Prana Tingkat Mandraguna. Akibat energi yang digunakan untuk menghalau tersebut, bola-bola api itu terhempaskan dan hancur menghilang. Menyapu bersih area dari si jago merah sekaligus memperlihatkan Candra yang berdiri di sana.
"Oh, kau sudah berada di tingkatan itu rupanya," tutur pria berambut putih sambil berjalan ringan ke depan. "Apakah si tua bangka masih menolak mendidik hingga ke Tingkat Alam?"
Reswara tak merespons, membiarkan Candra melanjutkan kalimat, "Tentu saja, pikiran naif tersebut masih ada sampai sekarang, bukankah begitu, Guru Mustari?"
"Itulah sebabnya aku memutuskan berkelana dari Cenderawasih," celetuk Candra kembali hendak menyerang. "Kau tak akan mendapatkan apa-apa bila terus berada dalam asuhan mereka!"
Dia melesat cepat ke arah Reswara, pria berambut cokelat yang telah memutih itu dengan senang hati menyambut serangannya. Mereka beradu sengit saling melancarkan serbuan, sesekali menangkis hantaman demi hantaman yang dikeluarkan. Tiap halauan tersebut menghancurkan sesuatu di sekitarnya dikarenakan kekuatan mentah Prana yang terlampau merusak, sedikit demi sedikit meruntuhkan bangunan.
"Rasakan ini!" sesaat sebelum tangan yang terbakar itu menyentuh Reswara, Tetua Ardiyasa mendadak hadir di hadapan Candra dan berhasil menahan serangan dengan tangan kiri. "Kau benar-benar membuatku muak!"
Getaran hebat tersebut dapat dirasakan Suluh dan Savian yang buru-buru menyelamatkan diri. Di sekitar mereka ricuh akan manusia-manusia yang berusaha untuk selamat, tak memikirkan apapun selain diri sendiri. Anak-anak kecil yang terisak terlantarkan di salah satu sudut trotoar, mereka yang mencoba keras keluar dari himpitan bangunan-bangunan runtuh, serta kunarpa yang tergeletak berceceran terbakar habis di seluruh tubuhnya, mewarnai kengerian kondisi Asarania.
Sekilas Suluh khawatir dengan keadaan rumah Tuan Arnadi, berpamitan kepada Savian yang kini mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan. Dengan situasi mencekam mereka saling bertatapan, kedua netra mereka terkoneksi, seakan berkomunikasi secara telepati. Dengan anggukan kepala, mereka memahami satu sama lain sambil bersalaman ala-ala sahabat sehidup semati.
"Sampai bertemu kembali, Suluh." seru Savian dengan mantap.
"Jada dirimu, Savian." balas anak berambut hitam tersebut kemudian berlalu, sama-sama menuju ke keluarganya.
__ADS_1
Suluh berlari secepat mungkin, mendapati pemandangan yang menyayat hati. Dia gundah tak karuan, keringat merembes deras di sekujur tubuhnya. Dia hanya berharap keluarga yang membesarkan dan mencintainya baik-baik saja, tak lebih. Turbulensi di kota secara tidak langsung meningkatkan aksi anarkisme, mereka tak segan-segan menjarah dan meremas orang-orang dengan status sosial tinggi. Ini bukan lagi seperti Asarania yang Suluh kenal.
Persimpangan di depan yang hampir sampai di kediaman Sekar, terlihat macet oleh kendaraan automobil yang saling bertabrakan, terbakar, bahkan ditinggalkan pengemudinya. Tak peduli seberapa mahal benda favoritnya, manusia akan meninggalkan semua itu dikala nyawa mereka hampir melayang. Suluh sontak membeku tatkala memperhatikan kedua orang tua tersebut menangisi anak kecil dalam pangkuan, kepalanya dilumuri darah yang sudah tak sadarkan diri.
Dada Suluh kembang kempis, tak dapat mengatur napas yang terengah-engah dipenuhi rasa pahit di dalam hati. Sakit sekali melihat mereka menderita seperti itu. Namun, dia harus segera pergi, memastikan keselamatan mereka yang disayangi. Tergesa-gesa dia menerobos persimpangan yang penuh akan kehidupan nahas, sesekali tersandung berusaha kembali melancarkan ritme langkah kaki.
Sesampainya di sana, Suluh bernapas lega karena rumah Sekar tampak utuh tak ada yang rusak barang sedikit. Namun pagar itu terbuka dan penjaga sirna di dalam posnya. Firasat Suluh tak mengenakkan, tanpa pikir panjang dia berlari secepat kilat masuk ke dalam. Pintu besar itupun menganga lebar, semakin mencemaskan anak yang sudah berada di bilik tamu. Rumah tersebut tampak kosong tidak berpenghuni, bahkan pelayan-pelayan tak terlihat batang hidungnya.
"Tuan Arnadi, Ibu Rahayu!" teriak Suluh menggema di penjuru ruangan. "Sekar, Sabrina! Apa kalian di sini?"
Semakin anak itu ke dalam, dia sadar bahwa ada beberapa benda pecah berceceran. Ini sungguh aneh, pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Suluh benar-benar kelabakan kali ini, tak ada sedikit pun petunjuk yang mendukungnya. Kepalanya sakit penuh kerisauan, dia bahkan sampai tak berdaya memilih duduk di atas lantai dan bersandar di sebelah sofa. Pikirannya campur aduk bukan hanya karena invasi ini, melainkan juga sosok wira tersebut.
Dia sama persis dengan seseorang di mimpi buruk Suluh yang tak lain dan tak bukan adalah Mukhalis. Ramalan itu, penglihatan itu, mereka semua nyata dan timbul ke permukaan. Namun, Suluh tak boleh dilumat oleh ketakutan. Dia beranjak, mengumpulkan keberanian untuk kembali melangkah keluar. Melesat secepat yang dia bisa untuk pulang ke rumah. Memeriksa keadaan orang tuanya.
Asap-asap memenuhi tempat yang beberapa jam yang lalu ramai akan pengunjung, sorak sorai memenuhi tiap sudut dengan keantusiasan. Kini, hanya seonggok puing-puing yang rata dengan tanah. Hanya kemalangan tersisa. Tampak di antara kehancuran itu berdirilah Tetua Mustari dan Ardiyasa, begitu pula Raja Reswara yang penampilannya berantakan tak terawat. Namun, dia tak boleh lengah sedikit pun, mereka tahu Candra tak akan mudah dikalahkan begitu saja.
"Hahahaha ...." Suara tertawa itu terdengar keras dari dalam reruntuhan. "Kalian membuatku bersemangat."
Tak lama setelah itu, tanah tiba-tiba bergetar, bergemuruh seolah-olah hendak memuntahkan sesuatu. Benar sekali, dalam hitungan detik, ledakan luar biasa menyeramkan mencuat dari bawah, meleburkan benda-benda itu ke atas. Sesosok insan melompat dari sana, mendarat tepat di hadapan mereka dengan senyuman merekah.
"Baiklah kalau itu yang kalian inginkan. Aku akan serius kali ini."
__ADS_1
...----------------...