Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
32. Tersembunyi


__ADS_3

Silir-siliran yang berhembus membuat semak-semak serta dedaunan menari, Suluh sama sekali tak takut terus melangkahkan kaki meski dia tahu dia tengah dimata-matai dari bermacam arah. Mereka tidak hanya satu, tapi banyak. Seperti suatu komunitas rahasia yang memutuskan bertempat tinggal di hutan. Mungkinkah korban selamat dari malapetaka dua tahun silam, Suluh hanya dapat menebak-nebak dengan kedua mata yang awas melirik ke segala arah.


Situasi semakin sunyi dan terasa mencekam. Suluh secara tidak terduga terdiam di tempat, merasakan kehadiran mereka yang semakin kuat. Suara sesuatu di balik semak belukar sontak menyebabkan Suluh mempersiapkan kuda-kuda dengan kedua tangan terulur ke depan, berhati-hati akan serangan tiba-tiba. Karena terlalu fokus kepada satu arah, Suluh harus merubah konsentrasinya sesegera mungkin ke sekitar. Hal itu terbukti benar, saat dia mendongak, seseorang mendarat dengan kaki yang sudah melesat.


Refleks, Suluh mundur dan berhasil menghindar. Namun serangan tidak lantas berhenti, insan itu terus memberikan serbuan dengan belati kecil yang sangat cepat serta lincah. Piawai dalam melakukan akrobatik sampai Suluh dibuat tak berkutik menelaah aksi seperti apa yang hendak dia lakukan setelahnya. Gerakannya luwes dan mulus, tak ada interval dari satu aksi ke aksi lain. Suluh tak banyak melakukan apa-apa selain memproteksi diri.


Sampai dia hendak menusuk Suluh, laki-laki itu secara cekatan menangkap tangan kanannya, menghentikan mobilitas sekaligus menahan dia untuk terlepas. Perempuan itu menautkan alis, sedikit merasa terheran-heran anak muda tersebut dapat menahan keahlian yang telah disempurnakan. Bahkan kedua tangan yang memegang belati itu telah terkunci, tak dapat melakukan serangan kembali. Kedua mata mereka bertemu, iris yang sama-sama memancarkan warna hazel itu seakan berkomunikasi.


"Dikau siapa?" seru Suluh yang masih kelabakan dengan kemunculannya.


"Seharusnya aku yang menanyakan itu!" Secara kasar, dia berusaha menarik tangannya lalu memberikan sepakan memutar kepada Suluh.


Laki-laki tersebut dengan mudah mengelak, merenggangkan jarak di antara mereka sambil berkata, "Daku hanyalah musafir dan tak ingin membuat suatu masalah kepadamu."


Perempuan itu membisu, menilik busana Suluh cermat-cermat. Tak ada yang salah dari tampilan anak muda tersebut, dia tampak seperti salah satu insan yang berkelana. Ciri khas musafir ada di topi caping dan beberapa bundelan yang Suluh bawa. Dia tak lekas luluh, masih kukuh tak mempercayai siasat buruk yang mungkin akan dilakukan laki-laki itu. Dengan sekali membidikkan belati, insan berambut hitam lurus sebahu tersebut kembali hendak melakukan serangan.


"Lantas kenapa kau tak memilih ke rute utama?" tutur wanita itu memicingkan mata dengan serius.


"Dikau mungkin sudah tahu bahwa setelah dua tahun terakhir Ganendra di sini, semua berubah kacau," seru Suluh mencoba untuk mencairkan suasana. "Banyak hal telah menimpa di Niskala. Keberadaanku semacam ini akan menimbulkan kecurigaan yang tidak diinginkan."


"Orang sepertimu, sudah sangat mengerti, bukan?" imbuh Suluh masih membatu. "Oleh sebab itu kita bertemu di hutan ini."


Sorotan mata wanita tersebut lantas berubah, mengembuskan napas lalu memasukkan kembali belati ke dalam wadah yang terletak di pinggul kiri tersebut. Dengan hanya bersiul, muncul beberapa manusia dari atas pohon dengan anak panah yang sudah dipersiapkan untuk menembak. Salah satu dari mereka yang berambut berantakan berwarna kecokelatan mencerocos, "Apa yang aku katakan, Savira, dia bukan ancaman."


"Aku tak bisa lengah, Alan," sahut Savira, wanita yang mahir dalam berakrobat masih tak memalingkan lirikan ke arah Suluh. "Siapa tahu dia akan membuat suatu hal yang membahayakan kalangan kita?"

__ADS_1


"Terakhir kali kuingat orang-orang yang melintas sebatas warga yang hanya ingin memancing ikan," timpal laki-laki bernama Alan menancapkan sesuatu di batang pohon itu. Dengan santai dia turun sambil mengulurkan tali secara mekanik yang ada di pergelangan tangan kirinya. "Apa kau masih khawatir akan ada seseorang dari kerajaan yang lewat?"


"Apakah kalian bertempat tinggal di sini?" Suluh melangkah ke depan, mencoba ramah.


"Kami tidak memiliki banyak pilihan setelah mereka membumihanguskan Asarania," sahut Savira dalam keadaan menunduk, kedua mata itu tampak sendu. "Selama itu, kami berusaha mencukupi kebutuhan di sini dan mulai merasakan rumah kami kembali."


"Jadi begitu," bisik Suluh sambil menoleh ke kanan, memikirkan sesuatu. "Apakah kalian tahu bahwa desa Baturia sudah dibangun kembali?"


"Benarkah itu?" Tiba-tiba wanita lain turun secepat kilat dengan mekanisme tali yang sama seperti Alan, buru-buru mendekat. "Apakah kau dari sana? Bagaimana keadaannya?"


"Ada beberapa rumah yang sudah didirikan, warga mulai merapatkan tangan membantu satu sama lain," tutur laki-laki tersebut sambil membenarkan topi bambunya. "Seperti kalian, daku bersembunyi di hutan sebelah Selatan dan berniat memeriksa keadaan desaku yang hancur lebur."


"Tunggu, kau bilang rumahmu di Baturia dan ... benda metal ini," cerocos wanita tersebut terlalu bersemangat seraya menarik tangan Suluh. "Jangan-jangan namamu adalah Suluh? Benar, kau adalah Suluh anak dari Pak Bara, bukan?"


Anak muda itu tampak kikuk tatkala tangannya diayun-ayunkan olehnya. Dia menimpali, "Ya, aku Suluh dan siapakah engkau?"


Anak laki-laki tersebut merekahkan sudut bibirnya lalu merespons, "Daku merasa lega karena diberikan kesempatan mengenali warga sendiri seperti ini."


"Suluh? Sepertinya aku tak asing mendengar namamu," seru Alan melangkah mendekati mereka berdua. "Kalau tidak salah, kaulah yang mereka sebut sebagai 'anak istimewa' itu?"


"Ah, kau benar! Aku ingin tahu bagaimana caramu menggerakkan tangan-tangan buatan ini?" Intan mulai membombardir berbagai pertanyaan sekaligus, begitu demikian Alan. Membuat Suluh kelabakan dan kehilangan kalimat yang akan dilontarkan.


"Kalian berhentilah merecokinya," tampik Savira sontak menyebabkan Intan dan Alan terdiam terperangah. "Kalian membuatnya tertekan."


"Kalau tak keberatan," imbuh wanita berambut sebahu tersebut berbalik arah. "Apakah kau tertarik melihat-lihat?"

__ADS_1


Hutan itu semakin ke dalam semakin rimbun dan lebat. Daun-daun yang telah mati berceceran memenuhi setapak, suara kicauan terdengar bersahut-sahutan. Selama Suluh mengikuti mereka, anak muda tersebut mulai menemui insan-insan yang lewat, tatapan mereka terfokuskan kepadanya. Waspada melihat wajah yang tidak dikenal. Kondisi mereka kebanyakan sedikit miris namun masih dapat dikatakan berkecukupan, membangun rumah-rumah dari kayu dan batu-batuan.


Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah tempat terbuka yang sangat luas. Tempat ini serasa sebuah desa dengan kediaman sederhana yang beraturan. Terdapat banyak sekali manusia mondar-mandir beraktivitas, sibuk dengan urusannya sendiri. Sementara itu, di tengah mereka teralirkan sungai deras dengan air murni nan segar, suara hiliran itu pun dapat terdengar oleh Suluh dengan sangat baik.


"Hey, Suluh," teriak Intan sontak menyadarkan Suluh dari lamunan yang terkesima. "Kau tak ikut?"


"Ah, maaf," seru anak muda itu buru-buru menyusul ketertinggalan. "Tempat ini benar-benar luar biasa!"


"Kami mencoba mendirikan kehidupan di sini," sahut Savira menimpali. "Berusaha melupakan masa lalu dan memulai kembali apa yang telah sirna."


"Kalau boleh tahu, bagaimana kalian mendapatkan semua kebutuhan utama dan sekunder ini?" kata Suluh yang sedari tadi menahan diri untuk bertanya.


"Sebagian besar dari kami berburu di hutan," tutur wanita itu secara tiba-tiba berhenti. "Dan 'berburu' di tempat tertentu."


Suluh menautkan alis ketika mendengar kalimat itu. Menelaah maksud yang disampaikan sebelum laki-laki berbadan tambun muncul entah dari mana menghampiri. Dia tampak berpakaian bagus, aneh sekali melihat itu di sekitar sini. "Akhirnya aku menemukan kalian," cibirnya dengan napas tak beraturan.


"Ada apa, Pak Ravi?" Alan berubah was-was seketika bila ada sesuatu yang teramat darurat.


"Bahan-bahan kita semakin menipis," kelakar pria buncit bernama Ravi tersebut. "Menurut kalkulasiku, kita akan benar-benar kehabisan kebutuhan pokok setelah dua hari ke depan."


"Kebetulan sekali kalau begitu." Savira berbalik, memperhatikan Suluh yang tidak tahu apa-apa. "Dengan kemampuanmu, apakah kau mau membantu kami?"


Di tepian sana ada suatu kereta kuda yang terbuka, seperti kendaraan yang biasa digunakan oleh pedagang menjajakan buah-buahan. Alan terlihat memberikan makanan berupa sayur-sayuran kepada hewan tersebut, Intan sibuk mempersiapkan alat-alat yang diperlukan, dan Savira fokus menulis sesuatu di atas kertas. Sementara Suluh yang kelimpungan mendekati Savira selaku ketua dari operasi itu.


"Jadi, kalian 'berburu' kebutuhan ini ke suatu tempat tanpa diketahui?" kata Suluh berdiri di sebelah Savira. "Dan di manakah tempat itu?"

__ADS_1


Savira tersenyum lalu berseru, "Desa Sinambu."


...----------------...


__ADS_2