Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
31. Petualangan Baru


__ADS_3

Di Bentala, ada lima kerajaan yang berdiri dengan Kerajaan Indrayana sebagai kekaisaran selama lebih dari seratus tahun. Terbentuknya kekaisaran menciptakan tahun tanggalan baru yang kini dicetak SK--Setelah Kekaisaran--maka disimpulkan bahwa saat ini adalah tahun 112 SK. Tepat di momen Indrayana sendiri runtuh oleh kekuasaan Ganendra. Hari-hari berikutnya adalah momok menakutkan dalam sejarah kerajaan di Bentala dikarenakan mereka sudah tak mempercayai satu sama lain, menginvasi demi memperebutkan tahta Penguasa Kekaisaran.


Niskala barangkali adalah kerajaan yang paling nahas menerima serangkaian serangan. Kota metropolitan Asarania bahkan sampai rata dengan tanah, diketahui Padepokan Cenderawasih demikian hancur tak berbentuk. Tak terhitung berapa banyak korban yang berceceran, hangus, bahkan tertimbun reruntuhan. Wira-wira Niskala dipaksa bertekuk lutut bila tak mau menemui maut, menuruti semua keinginan mereka. Penduduk yang bertahan tak memiliki pilihan selain menerima kepemimpinan baru yang telah dipersiapkan, mengubah Niskala dari negeri masa depan menjadi negeri terbelakang.


Itu semua karena suatu visi yang diemban bahwa revolusi industri meracuni ekosistem Prana, merusak alam sedikit demi sedikit. Memurnikan Bentala dengan cara kekerasan, membakar semua yang dilalui, mereka tak ada bedanya dengan inovasi tersebut. Malah, mesin-mesin itu memberikan dampak yang relatif bermanfaat untuk manusia menjalankan kehidupan lebih baik dan serba mudah. Bahkan temuan ini telah diekspor sampai ke empat kerajaan di Bentala, membiarkan mereka membentuk dan mengelolah kreativitas.


Terlepas dari Niskala adalah satu-satunya tempat yang dapat mengelola benda-benda itu, mereka masih harus membutuhkan kerajaan lain untuk merauk sumber daya alam. Terlebih daerah Indrayana dan Darsana yang terkenal akan minyak tanah serta batu bara melimpah. Simbiosis yang sudah terikat kepercayaan selama bertahun-tahun itu sirna tatkala Ganendra secara rakus memutus tali silaturahmi, membawa Bentala kembali ke masa-masa kegelapan. Masa tatkala pertumpahan darah adalah hal lumrah demi mempertahankan hak martabat.


Namun setelah dua tahun terakhir, Niskala yang dikuasai antek-antek Ganendra mulai dibangun kembali. Desa-desa didirikan seperti sedia kala. Termasuk Desa Baturia yang sebagian besar dimakan oleh api sampai tak tersisa. Baik kediaman, maupun makhluk yang ada di sana. Semua itu dikarenakan satu amarah tak terkendali yang sangat berbahaya. Anak yang telah kehilangan kedua orang tuanya di depan mata, memancarkan rasa dendam yang saat ini telah teredam oleh kemurnian hati. Pemuda itu kini kembali ke rumah, sekadar memastikan dan berpamitan.


Langkah anak muda dengan busana berjubah hitam serta kombinasi cokelat sempat terhenti menemui sekumpulan orang di sana. Mereka sibuk membangun kembali rumah-rumah yang telah rubuh, bahkan ada banyak yang sudah layak dihuni kembali. Dari muka mereka terlihat awas ketika Suluh semakin mendekat, beberapa bahkan sampai menghunus belati dilanda kecurigaan. Karena dirasa semua ini hanyalah salah paham, Suluh membuka topi lebar berbentuk lingkaran yang terbuat dari rotan berwarna cokelat itu, membuat sikap tubuh berdamai.


"Siapa kau?" seru pria berbadan kurus dengan tatapan tak suka, kumis tebalnya bergerak-gerak ketika berkata. "Apakah kau dari Ganendra?"


"Daku ini adalah anak dari Pak Bara dan Ibu Arumi," tutur Suluh sambil membungkuk. "Di sini tempat tinggalku."


"Apa?" sahut laki-laki itu menoleh ke wanita yang ada di sebelah serta ke warga lainnya. "Apakah kau Suluh?"


Pemuda itu menaik-turunkan kepala merespons. "Benar, Pak. Daku, Suluh."

__ADS_1


Mereka masih dengan berhati-hati mendekat, memperhatikan secara seksama muka anak muda itu yang terlihat berbeda. Salah satu wanita berceletuk, "Nak Suluh, apakah ini kau? Kau tampak berbeda!"


Suluh hanya tersenyum sambil sesekali menyentuh tangan wanita yang tengah membelai parasnya, tak sadar bahwa dia telah memperlihatkan tangan buatan yang berwarna hitam tersebut. Wanita itu meneruskan, "Tangan ini, kau benar-benar anak dari Arumi."


"Syukurlah kau selamat!" Dia sekilas memeluk anak muda tersebut lalu kembali memperhatikan. "Apakah kau lupa dengan tetanggamu sendiri, Nak? Aku Ibu Ratna."


Suluh terperangah, dia membisu dengan terbelalak. Wanita itu adalah wanita yang sama yang telah berkali-kali menghina keluarganya. Berkali-kali memfitnah. Namun, Suluh secara tidak terduga tersenyum semringah, bertutur kata, "Ya, Bu. Daku masih ingat. Syukurlah Ibu baik-baik saja."


"Di mana kau selama ini? Apakah kau bersembunyi bersama orang tuamu di suatu tempat?" Tiba-tiba orang berkumis tebal yang tadi menghunus belati dimasukkan kembali.


"Tidak, Pak, aku bersembunyi sendirian di hutan," balas Suluh menunduk. "Karena orang tuaku sudah tiada."


"Nak, maafkan ibu," rintih wanita itu semakin tersedu-sedu. "Ibu banyak salah kepada orang tuamu. Ibu selalu memberikan masalah kepada mereka, mencelamu, dan bahkan sampai mencideraimu. Maafkan ibu, Nak Suluh, ibu menyesal dengan kelakuan ini. Kumohon, maafkan ibu."


Suluh buru-buru bersimpuh, mendekap erat kedua tangan Ratna yang tak sesekali mereda. Dengan air muka sendu, Suluh berbisik lirih, "Daku tak memiliki dendam atau memendam kebencian kepada Ibu. Orang tuaku demikian, karena merekalah yang telah mendidikku seperti itu. Daku dan atas nama almarhum mereka, telah memaafkan semua kesalahan Ibu."


Wanita tersebut sontak memeluk Suluh erat-erat masih tak berhenti berderai air mata. "Terima kasih ... Terima kasih banyak, Nak."


Pria yang melihat kejadian menyentuh itu tersenyum haru, dibalas oleh Suluh dengan merekahkan sudut-sudut bibir yang bergetar. Benar yang dikatakan Guru Madiarta, sukma akan merasa lebih tentram bila memilih untuk berdamai dan merelakan. Mudah terketuk sampai ke dalam dada. Memberikan harmoni kepada sesama, melibas perasaan buruk yang terus mencemari hati.

__ADS_1


Terkadang orang tak dapat memaafkan karena mereka tak mampu melakukannya. Oleh sebab itu, mereka yang terus berbuat baik walaupun disakiti adalah yang terkuat.


Sebelum memulai berkelana, Suluh sempat mampir ke rumahnya yang masih berdiri dengan utuh, tak terkena kobaran api. Selama dua tahun tak ada yang menghuni, rumah tersebut ditempati laba-laba dan debu menempel. Sofa kayu itu, taplak meja dengan corak yang indah, dan tirai merah di tengah-tengah ruangan, sama sekali tidak berubah dari terakhir kali Suluh berada di sana.


Anak itu semakin masuk ke dalam, membuka pintu dengan decitan yang memekakkan telinga. Kamar itu terlihat miris bahkan tak layak dihuni. Dia mengenali bilik tersebut dengan baik, termasuk tahu sesuatu yang disembunyikan. Tatkala dia menarik suatu kotak dari bawah tempat tidur, debu berterbangan dengan hebat sampai membuat Suluh terbatuk-batuk tak tertahankan. Terpaksa dia harus membekap hidung dan mulutnya ketika mencoba membuka benda tersebut.


Suluh lantas tercekat, kelopak mata terbuka lebar sembari mengambil sesuatu yang ada di dalam kotak. Sebuah liontin berukiran pohon berserta akar-akarnya yang merambat, memenuhi bingkai lingkaran. Ini adalah kalung yang sama seperti yang dia berikan kepada Sekar, satu lagi untuk dirinya sendiri. Dia membersihkan debu-debu tersebut dengan buku-buku tangan, sesekali meniup kuat-kuat.


"Sekar," kata Suluh bernada kecil, hampir berbisik sambil menggenggam erat liontin tersebut. "Tunggulah aku."


Tujuan yang akan Suluh datangi adalah ke desa Sinambu yang terletak di Utara Asarania. Desa itu tidak seterpencil Baturia, lebih tepatnya desa Sinambu adalah akses masuk semua imigran dari luar. Terlepas mencari informasi sebanyak-banyaknya yang dapat dia temukan di sana, Suluh penasaran dengan kondisi desa tersebut setelah sekian lama.


Sebelum benar-benar meninggalkan mereka, Suluh diberikan bundelan kecil dari Ibu Ratna. Dia membungkuk dalam-dalam sebagai rasa terima kasih kemudian berlalu, melangkah semakin menjauh lalu tidak terlihat. Sesuatu di balik kain itu ternyata berisikan ramuan-ramuan herbal, mencurahkan semringah Suluh yang berseri. Sebab, alasan Suluh ke desa Sinambu cepat-cepat merupakan imbauan dari Guru Madiarta untuk membeli ramuan. Namun ternyata, obat-obatan itu yang malah menghampirinya.


Tak lama melangkahkan kaki, Suluh melintasi setapak yang menuntun ke sebuah arah menembus hutan, tak ingin sosoknya terlihat di kalangan umum. Wira-wira terpantau selalu berpatroli di sekitar sana, waspada terhadap hal-hal mencurigakan terutama tampilan Suluh yang misterius. Pemuda itu semakin lama semakin ke inti hutan, merasuk ke dalam sampai tak ada lagi terlihat sawah-sawah maupun bukit yang ditumbuhi rerumputan.


Dia tak tahu bahwa kehadirannya telah diintai oleh mereka yang tengah bersembunyi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2