
Di dalam aula besar terbuka, terdapat murid-murid yang tengah berlatih. Mereka memperagakan gerakan yang sama seirama, terkoneksi satu sama lain. Sedang Guru Safiudin mondar-mandir memperhatikan anak asuhnya, memeriksa dengan cermat tiap langkah yang dilakukan. Tampaknya, tak satu pun dari siswa di sana yang tak menguasai teknik tersebut.
Sudah hampir seminggu berlalu semenjak Suluh berkultivasi, banyak hal yang telah terjadi. Anak-anak lain mulai menyusul, satu per satu merasakan dan ada juga yang menerima Prana ke dalam tubuh mereka. Kemajuan ini tentu membuka suatu peluang besar untuk mendaftarkan diri ke dalam kompetisi bela diri antar kerajaan.
Seperti yang telah diketahui, ada banyak padepokan di luar sana yang tak kalah populer daripada Cenderawasih. Masing-masing daerah setidaknya ada satu sekolah andalan yang menghasilkan murid-murid bertalenta. Mereka akan merekomendasikan anak-anaknya untuk maju, menahan dahulu padepokan-padepokan kecil yang berminat mengirim calon kandidat.
Walaupun sangat kecil bagi mereka mengikuti kompetisi, semua murid yang terlihat berbakat di padepokan kecil akan segera dipindahkan ke padepokan yang lebih besar dan bergengsi. Semata-mata untuk menunjang fasilitas yang lebih mempuni demi terciptanya siswa hebat di masa mendatang. Demikian pula, kompetisi akbar tersebut bukanlah main-main.
Di Niskala ada Cenderawasih, di Ganendra ada Merak Hitam, Darsana ada Turuwara Merah, Arnawama ada Cemara Biru, dan Indrayana ada Gagak Putih. Itu semua adalah padepokan terkenal yang tak pernah absen menghasilkan murid-murid luar biasa. Saling memperebutkan status Ahli Bela Diri yang tersematkan pula nama sekolahnya.
Dari semangat membara yang diekspresikan di ruangan luas itu, dapat disimpulkan bahwa mereka bersungguh-sungguh ingin turut serta mengharumkan nama Padepokan Cenderawasih. Tak terkecuali Suluh yang selama ini mendedikasikan diri demi tercapainya cita-cita untuk bersekolah di sana, namun, sebenarnya lebih dari itu.
"Baiklah, mari kita rehat sebentar," seru Guru Safiudin yang kembali ke depan.
Para siswa sontak berhenti lalu membalas dengan serentak, "Baik, Guru!"
"Ada hal yang hendak aku beritahu kepada kalian," kata kakek tersebut mengedarkan pandangan ke anak-anaknya yang duduk bersila. "Seperti yang diketahui, kompetisi bela diri akan segera tiba."
"Kompetisi ini mewakilkan sekolah ke kancah dunia," Guru Safiudin mulai berjalan ke sana kemari. "Oleh sebab itu, kami menyeleksi secara ketat berdasarkan kemampuan kalian."
"Aku diberikan kuasa oleh kepala sekolah untuk memilih tiga calon dari kelas ini," tutur kakek tersebut yang berhenti bergerak. "Tentu, hal ini diterapkan di kelas lain."
"Maka, tanpa menunggu lebih lama, aku sudah mempertimbangkan banyak hal termasuk peraturan kompetisi serta meminimalisir konsekuensi," Guru Safiudin kembali ke tengah, mengambil secarik kertas dari tangan asistennya. "Mohon untuk ke depan disaat namamu dipanggil."
Suasana senyap semakin mendebarkan, penuh ketegangan. Di dalam hati mereka telah bercampur aduk semua angan-angan, mendambakan menjadi salah satu dari ketiga calon yang membawa nama Cenderawasih kembali disegani setelah kegagalannya dalam lima tahun silam. Kini adalah saat-saat yang tak boleh disia-siakan.
"Samudra!" suara keras dari Guru Safiudin itu menggema, memantik tepuk tangan semua siswa yang hadir. Anak berambut hitam itu lantas berdiri seorang, melangkah ke depan lalu membungkuk dalam-dalam di hadapan kakek tersebut. "Kami mengharapkan keberhasilanmu, anak muda."
__ADS_1
"Selanjutnya," seruan itu seketika mengheningkan situasi. "Savian!"
Kembali, tepuk tangan bersorak sorai. Anak berambut kemerahan itu tak langsung berdiri akan tetapi menoleh ke arah Suluh yang menyambut dengan suka cita, bersalaman ala-ala teman baik dengan mimik ceria. Dia pun maju ke depan dengan melakukan hal yang sama seperti Samudra, berbaris di sebelahnya dengan sedikit basa-basi ikut memberikan ucapan selamat.
"Dan yang terakhir adalah," kata Guru Safiudin yang sorotannya kemana-mana.
Babak penentu ini yang dinantikan oleh semua murid, terlebih untuk Suluh. Dia sudah berlatih keras selama ini, nomor dua lebih cepat menerima Prana daripada yang lain, dan mahir dalam teknik pertahanan yang belum ada siswa manapun yang dapat menembusnya. Suluh sangat percaya diri bahwa dia akan menjadi salah satu dari mereka.
"Satia!" suara itu terdengar nyaring dan keramaian pun tercipta. Namun, hal itu tidak bagi Suluh. Suasana penuh gegap gempita tersebut seolah-olah tak bersuara, hanya dia di antara para murid yang memeriahkan suasana, terdiam membisu. Tak percaya bahwa dia tidak cukup baik untuk melangkah ke tahap yang lebih menentukan nasibnya.
Dia sempat melirik ke arah Savian yang sama terkejutnya, mulutnya terbuka dengan mata terbelalak. Suluh entah kenapa menarik sudut-sudut bibirnya, senyuman terpaksa bahkan tak nampak wajah bahagia. Kalimat-kalimat Guru Safiudin setelahnya, barangkali adalah hal yang cepat terlupakan olehnya, tak menghiraukan, terlampau kecewa.
Dia hanya ingin menjalani hari-hari saat itu dengan cepat dan kembali ke rumah.
Penduduk di kediaman mewah itu pun menaruh rasa khawatir kepadanya, pemuda tersebut bersikap aneh dan murung. Diajak bicara hanya menjawab seadanya, tak seperti Suluh yang mereka kenal. Tuan Arnadi memberikan suatu isyarat untuk memberikan ruang sendirian bagi Suluh membenarkan suasana hatinya, tahu bahwa anak itu telah melalui hal-hal berat. Tak sepatutnya mereka membombardir Suluh dengan berbagai pertanyaan yang malah akan menekannya.
"Kamu baik-baik saja, Suluh?" ujar pemilik suara halus tersebut, Sekar, berada di ambang pintu masuk dengan membawa dua cangkir minuman. Penampilan perempuan itu benar-benar santai, memakai setelan hitam keseluruhan membiarkan rambut kecokelatan gelapnya tergerai.
Laki-laki tersebut menyuguhkan senyum sambil mengangguk, tampak sekali dibuat-buat. Sekar pun berjalan mendekatinya sambil menyodorkan cairan hangat tersebut. "Tidak, aku tahu kamu ada masalah."
Suluh lupa bahwasannya selama ini dia sering bertukar cerita mengenai apa yang terjadi di padepokan kepada Sekar, seharusnya dia tak menyembunyikan hal sepenting itu terhadapnya. Perempuan di hadapannya tak akan berhenti sampai mengeruk sampai ke inti. Suluh pun membalas, "Selalu ingin tahu, bukankah itu dirimu?"
Dia menerima minuman tersebut sambil melanjutkan, "Terima kasih."
"Tak seperti biasanya kamu sediam itu ketika papa mengganti tangan buatanmu," ungkap Sekar mulai menyandarkan badan di tepian pagar. "Selagi kamu masih berada di sini, aku tak keberatan berbagi masalah denganmu."
Wajah penuh pesona Sekar yang tak menatap Suluh sama sekali itu menoreh senyuman kecil dari Suluh. Dia menyuruput susu tersebut lalu mendongak, berucap lirih, "Aku hanya sedikit kecewa."
__ADS_1
"Aku berusaha keras selama ini, namun ternyata masih belum cukup mengantarkan ke jenjang yang lebih tinggi," sambung Suluh masih memperhatikan bintang-bintang.
Laki-laki itu terdiam sejenak lalu terkekeh pelan, menggerutu, "Aku terlalu percaya diri dengan ekspektasi yang tentunya hanya akan menjatuhkanku."
"Perihal apakah demikian?" tanya Sekar masih kebingungan.
"Kompetisi Akbar Bela Diri," Suluh menoleh ke arah Sekar, menatapnya dalam-dalam. "Sebentar lagi akan tiba."
"Jadi kamu kecewa sebab tak terpilih menjadi salah satu kandidat, seperti itu?" Sekar pun memfokuskan diri kepada Suluh, sekadar memastikan.
Pemuda itu mengangguk pelan sambil merespons, "Ya ... apakah menurutmu aku naif dan kekanak-kanakan?"
Sekar sontak tertawa kecil, tak mengira mendengar pertanyaan tersebut. "Menurutku tidak juga, bukankah normal?"
"Tapi, bila kamu memilih berlarut-larut dalam kekecewaan itulah yang tidak normal," Sekar mulai mendekati Suluh. "Karena rasa kecewa akan selalu ada disaat sesuatu tak seirama dengan yang kita perkirakan."
"Jadi bagaimana? Kamu ada dua pilihan," seru Sekar yang kini berada tepat di hadapan Suluh. "Antara kamu nyaman berada dalam parit keterpurukan atau menerima dengan lapang dada lalu keluar dari sana?"
Suluh mendengus perlahan, sambil tersenyum simpul dia berkata, "Baik-baik, aku akan mencoba pilihan kedua."
"Memang seharusnya begitu," Sekar beralih ke sebelah, bertumpu ke pagar pembatas sambil melihat panorama malam yang dihiasi cahaya lampu. "Tak banyak yang bisa kita lakukan menghadapi sesuatu yang tak bisa kita kontrol."
Suluh turut bersandar di samping Sekar, menumpukan kedua tangannya. Membiarkan perempuan itu melanjutkan, "Antara menerima dan merelakan."
Suluh membeku kala itu, benaknya melangkah jauh ke depan. Fakta yang diungkapkan Sekar tepat sekali, bahkan Suluh tak bisa melarikan diri dari takdir itu sendiri. Masa depan yang telah ditentukan kemana arah menuntun, serta tempat pemberhentiannya.
...----------------...
__ADS_1