
Entah kemana mereka berlalu, Madiarta membawa Suluh ke sebuah hutan yang tak dikenali anak itu sema sekali. Menembus kepekatan semak-semak dan tak lama kemudian mereka tiba di sebuah halaman luas yang terdapat rumah tua. Pohon biloba memutari area itu. Daun-daun yang berwarna keemasan ada yang terhempas oleh angin, berterbangan ke mana-mana.
"Kau kira aku akan dengan mudah menerimamu, anak muda?" kakek itu tampak mencomot dahan yang tergeletak di atas tanah. "Dengan alat bantumu itu, aku ingin tahu apa yang bisa kau lakukan."
Tiba-tiba benda itu dilempar oleh Madiarta dengan kecepatan tinggi, mengarah langsung kepada Suluh. Pemuda yang terkejut refleks merapatkan kedua tangannya di depan muka, membiarkan dahan itu membentur alat metal Suluh sampai kayu itu terbelah. Meski sudah kakek-kakek, tenaganya masih luar biasa.
"Tak buruk," kata Madiarta kembali melangkah ke rumah itu. "Cobalah untuk menghindar, tanganmu akan mudah rusak bila kau terus bertahan di baliknya."
Suluh terdiam membisu. Alam bawah sadarnya secara otomatis melakukan hal demikian dikarenakan trauma yang selama ini melanda anak itu. Sekilas, memori tentang Rehan yang menumbuknya sampai tak berdaya teringat kembali. Menimbulkan secercah amarah dalam sanubari Suluh.
"Baiklah," seru kakek itu setelah meletakkan peralatan pancingnya di atas tangga. "Mari dimulai."
Madiarta mendekati Suluh dengan langkah lembut yang dibalas seiras oleh anak itu. Kedua tangan mereka terulurkan, lirikan mereka awas akan tindakan. Suluh mulai was-was dan keringat mulai bercucuran. Entah serangan seperti apa yang akan dilancarkan kakek itu, membuat dada Suluh semakin sesak.
Madiarta secara cepat menebok dengan tangan kanannya akan tetapi mampu ditangkis oleh Suluh. Kakek itu tak terkesan sama sekali, dia lalu berputar dan menghantam Suluh dengan telapak tangan kirinya. Suluh sempat menahan namun daya serangan Madiarta sangat kuat menyebabkan dia terpelanting beberapa meter.
"Masih belum," keluh Madiarta menghampiri anak yang terkapar. "Kau masih belum bersungguh-sungguh."
"Bangkitlah!" Teriakan keras itu memaksa Suluh untuk berdiri dengan susah payah. Tubuhnya terasa berat, kedua tangan buatannya terlihat sudah peyot. Kakek itu terus berjalan sambil mencerocos, "Apa kau rela duniamu diinjak-injak?"
Suluh menolak, dia tak terima. Emosi dalam dirinya mengepul membara. Kaki-kakinya yang bergemetar dapat berdiri, dari kedua mata Suluh tersembur tatapan penuh ambisi. Sekilas pemandangan itu mencurahkan senyuman di wajah Madiarta, mengerti bahwa Suluh tak akan mudah menyerah begitu saja.
"Bagus," kakek itu membuat ancang-ancang. "Kita lanjutkan."
Madiarta kembali melancarkan serangan bertubi-tubi kepada anak yang kesusahan menahan semua teknik rumit itu. Gerakan Madiarta terlihat mengalir dengan indah, seolah-olah menari bersama irama. Kegesitan yang luar biasa bahkan tak mampu ditangkap oleh mata Suluh, berkali-kali terkena tumbukan. Namun api yang ada di dalam pemuda itu tak sedikitpun pudar.
Lama kelamaan, Suluh dapat mengimbangi permainan Madiarta. Mulai membaca dan menangkis sedikit demi sedikit. Tetap itu tak sebanding dengan hantaman yang diterima, hampir membuat Suluh rubuh tak berdaya. Sementara kakek itu tak terlihat letih, stamina yang dia punya diluar dugaan dan bukan tanpa sebab dia menyandang status mentor di sekolah ternama.
__ADS_1
Dengan sekali tendangan, Suluh dibuat mundur beberapa langkah oleh Madiarta yang membuka suara, "Kau tak tahu cara melawan. Apa selama ini kau hanya menerima semua caci makian itu?"
Napas Suluh terengah-engah, tak dapat merespons. Kakek itu lantas menambahkan, "Oleh sebab itu kau lemah. Melawan bukan berarti kau membalaskan dendam, itu bentuk dasar bahwa kau masih memuliakan harga dirimu."
"Kecuali kau memang membiarkan martabatmu dihinakan," kalimat Madiarta menyulut amarah Suluh seketika. Dia melabrak Madiarta dengan kepalan tangan akan tetapi usahanya sia-sia belaka. Kakek itu tanpa usaha berarti menahan dengan telapak tangan dan menjegal Suluh hingga roboh tak berkutik.
"Kau masih harus banyak belajar," kata Madiarta yang masih berdiri di hadapan Suluh. "Salah satunya adalah mengontrol emosi."
Suluh merasa bersalah, tak seharusnya dia berbuat tak beradab seperti itu. "Maafkan aku, Guru."
Muka Madiarta yang memancarkan aura menakutkan secara perlahan tergantikan senyuman menenangkan. Dia mengulurkan tangan, suatu hal yang tak pernah terbesit sedikitpun oleh Suluh. Kakek yang rambutnya penuh uban tak terawat itu berkata, "Siapa namamu?"
Anak itu menerima tangan kakek itu lalu berdiri. "Aku Suluh, Guru!"
"Suluh," dia yang berada tepat di hadapan Suluh itu menempelkan kedua telapak tangan di depan dada. "Mulai saat ini kau adalah muridku."
Madiarta berlalu, melangkah sedikit yang memantati Suluh lalu berkata, "Apa kau lapar?"
Suluh tercekat, tak dapat menemukan kalimat yang tepat. Kakek itu meneruskan, "Aku masih ada ikan kemarin yang harus dibakar."
"Ah, biarkan aku melakukannya, Guru!" Suluh cepat-cepat membuntuti Madiarta yang melesat ke sebelah rumah itu.
Suluh dengan bersikeras membantu Madiarta, mulai dari mempersiapkan kayu bakar dan alat-alat memasak lainnya. Bahkan dengan arahan Madiarta, Suluh meracik bumbu-bumbu itu secara teliti, tak mau menghancurkan citra rasa ikan tersebut. Namun, disaat Suluh hendak membuat api dengan dua dahan yang bersentuhan, hal itu dihentikan Madiarta.
"Suluh, apa kau tau bahwa kekuatan Prana dapat dimanifestasikan ke dalam unsur lain?" seru kakek itu yang duduk di atas kursi.
Suluh menggeleng, sama sekali tak tahu yang dimaksud. "Tidak, Guru. Aku bahkan baru tahu hal semacam itu."
__ADS_1
Madiarta berdiri, melangkah mendekati Suluh. "Menjauhlah!"
Dengan gesit Suluh bergeser mundur, membiarkan kakek itu melakukan entah apa. Dia berkali-kali menarik napas dalam-dalam dengan gerakan tangan yang aneh. Pola yang tidak biasa itu kemudian dirasakan oleh Suluh. Hawa terasa sedikit memanas secara tiba-tiba dan dengan sekali dorongan, sesuatu mencuat keluar dari tangan Madiarta.
Kobaran api yang membakar kayu-kayu tersebut.
Suluh yang menyaksikan itu terpaku, tak mampu berbicara maupun bereaksi. Ini seperti mereka yang sebut-sebut sebagai ilmu sihir. Mereka dikabarkan dapat berlevitasi, secara misterius memadamkan api hanya dengan mengulurkan telapak tangan, dan tabib-tabib yang dikabarkan membuat air dapat berhilir-hilir sesuai arahan.
"Prana adalah unsur alam mentah," tutur Madiarta masih terdiam di tempat. "Dia dapat berubah ke bentuk lain."
"Guru," tukas Suluh yang masih tidak percaya. "Aku kira itu cuma mitos."
"Tak banyak orang yang bisa melakukannya," Madiarta kembali ke tempat duduk. "Tak heran kabar itu hanya sekadar rumor dan mitos belaka."
"Oleh sebab itu, Prana mungkin akan membantu kita dalam kehidupan sehari-hari," kata kakek itu menoleh ke arah Suluh. "Tapi disaat bersamaan menjadi momok menakutkan bila digunakan untuk kerusakan."
"Tapi, Guru," balas Suluh lekas-lekas membakar ikan yang sudah ditusuk. "Apakah mungkin kita dapat mengendalikan lebih dari satu unsur?"
Kakek itu mendongak, memperhatikan pohon-pohon menjulang beserta dedaunan yang dikibarkan oleh semilir angin. Langit terlihat biru cerah, tak ada awan yang melintas sama sekali. Disela-sela keindahan itu, tabun-tabun hitam turut serta mewarnai udara. Butuh beberapa detik untuk Madiarta membalas pertanyaan Suluh, memikirkan respons yang tepat.
"Aku tidak tahu," timpal kakek itu dengan nada kecil. "Untuk dapat merubah ke satu unsur saja sudah sangat sulit."
Suluh menaik-turunkan kepala, mencoba memahami sembari membolak-balikkan ikan tersebut. Madiarta kemudian berseru, "Tapi masih ada kemungkinan berhasil."
"Bila skala Prana insan itu diluar kapasitas kemampuan tubuhnya." imbuh kakek itu sambil memejamkan mata.
Di sisi lain, Suluh yang mendapatkan ilmu baru hanya dapat berandai-andai. Seberapa kuat dirinya nanti bila dapat menguasai unsur alam tersebut. Namun saat ini, Suluh harus berfokus dengan latihan bela diri dan merasakan kehadiran Prana. Masih banyak yang dia tidak tahu.
__ADS_1
...----------------...