Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
34. Kendala


__ADS_3

Suara kereta kuda itu mewarnai suasana tatkala mentari masih baru muncul di ufuk timur. Setidaknya ada delapan kereta dengan membawa makanan yang bermacam-macam, memenuhi bawaan sampai-sampai lari kuda itu terasa sangat lamban. Seperti yang dikira Savira, ada dua wira yang duduk di depan bersama kusir tampak bersantai, bercengkrama tak ada suatu masalah. Bahkan mereka berbagi cerutu antar satu sama lain, menandakan kedekatan.


"Bagaimana kondisi kota akhir-akhir ini, Septian?" Sipir itu menyalakan korek lalu membakar tembakau yang sudah menempel di mulutnya.


"Apa yang bisa kukatakan," kata Septian menoleh ke sebelah, memperhatikan area sawah dan bukit-bukit kecil di sana. "Aku tak tahu ini disebut anugerah atau tidak karena Asarania mulai kondusif."


"Ya, masyarakat mulai menerima kehidupan baru mereka," timpal wira lainnya sesekali menghisap cerutu lalu mengembuskan asap-asap itu di udara. "Mungkin mereka lelah terus memberontak."


"Terlebih, mereka sedikit demi sedikit terbiasa dengan aturan baru di Niskala," sahut sipir yang tampak tua memakai busana formal serta flat cap yang menutupi rambut berubannya. "Maksudku, bila aturan tersebut tak ada, aku sudah memakai automobilku daripada kuda ini."


"Hahaha ... kau ternyata lebih kaya dari yang terlihat, Pak Tua!" Wira yang menemani Septian itu bernama Rudi, menepuk bahu sipir keras-keras.


"Ya, kita tak dapat membantah bahwa inovasi itu sangat bermanfaat untuk manusia," seru laki-laki berambut hitam yang sedikit memerah diterpa cahaya baskara. "Tapi di sisi lain secara diam-diam mencekik Prana itu sendiri."


"Aku sepakat denganmu," seru Pak Tua sambil merokok menimpali kalimat Septian. "Polusi udara sudah sangat mengkhawatirkan semenjak mesin-mesin tersebut dibuat."


"Sebab Niskala sebagai distributor utama alat itu telah ditiadakan, kini Indrayana kewalahan menahan invasi Arnawama," imbuh Septian tertawa kecil. "Wira-wira Ganendra yang ada di sini sampai harus ditarik mundur ke kekaisaran."


"Meski makhluk yang membakar Asarania ikut campur, mereka masih belum dapat menghentikan Arnawama," ujar Rudi menyentil cerutunya ke bawah, merontokkan ampas ke tanah. "Aku terkesan kepada teknologi mereka, mungkin Niskala terlalu fokus dengan meningkatkan mutu kehidupan sehari-hari daripada memperkuat infanteri."


Septian tiba-tiba teringat masa dia diberikan tugas menyelamatkan anak-anak kecil yang terluka, kembali memori kematian Andrian memenuhi kepala. Manusia sialan itu membakar habis kota, menyebabkan pria yang dia hormati sampai tertimbun bangunan. Tapi beruntungnya, anak-anak itu masih bisa diselamatkan, diantarkan ke tempat yang aman terkendali. Dia memejamkan mata lama sekali, berusaha tidak berlarut-larut dalam duka.


"Apa kalian lupa bahwa Arnawama dibantu oleh Darsana?" Sipir itu mengendalikan kemudi, mencoba menempatkan kuda di jalan yang tidak terlalu berbatu.


"Oh, benarkah?" timpal Rudi yang tampak kelabakan.


"Itu pasti berat untuk mereka," kata Septian sadar akan suatu hal. "Darsana terkenal dengan kekuatan sihir mereka. Maksudku, kebanyakan wisaya berbakat berasal dari sana."


"Mesin bersatu dengan sihir," kelakar sipir tersebut mulai melompat-lompat dari tempat duduk dikarenakan tanah yang tak rata. "Entah kekuatan seperti apa yang akan mereka hasilkan."


Sontak secara tiba-tiba, ada sesuatu seperti benturan samar-samar terdengar. Mereka tampak tak menggubris dikarenakan keadaan jalanan yang amburadul akan tetapi Septian menoleh, memeriksa ke belakang. Di sana sudah ada kereta lain yang terlalu mepet, hampir bersentuhan. Tak mungkin ada yang membuntuti dikarenakan kereta mereka berada di akhir barisan. Septian menautkan dahi, tersulut amarah.


"Hey, apa yang kau lakukan?" teriak laki-laki tersebut membuat Rudi dan sipir terperangah.

__ADS_1


"Ah, maaf Pak, kami tak sengaja," seru sipir yang tampak sederhana, memakai topi rotan sambil tersenyum mencoba tidak meneruskan masalah.


"Menjauh dari kereta sebelum kami menahanmu!" Septian benar-benar kehilangan kendali, dia hampir melompat hensak memarahinya.


Bukan semakin memberikan jarak, kereta mereka seakan-akan melambat dari kecepatan normal. Bahkan sampai tertinggal dari rombongan yang ada di depan. Sipir dan kedua wira dengan tanda tanya menoleh satu sama lain, terarah kepada dokar yang membuntuti mereka. Wira-wira itu dengan aba-aba memerintahkan untuk berhenti, turun secepat kilat memeriksa sesuatu. Begitu pula sipir dokar yang semula menabrak, buru-buru menghampiri.


"Kenapa kau ada di sini?" Rudi kali ini main tangan, mendorong pria itu sampai mundur beberapa langkah. "Kau tidak sepatutnya berada dalam rombongan, bukan?"


"Ya, Pak, tapi ini adalah rute tercepat yang aku ketahui ke Indrayana," timpal sipir itu menerangkan alasan.


"Meski begitu, tak bisakah kau melambatkan kecepatan?" Kini Septian yang mendekat, air mukanya terpanggang amarah.


"Maaf, Pak, itu murni kelalaianku," sipir itu menunduk, Alan membuat-buat ekspresi memelas.


"Bila aku menemukanmu sekali lagi seperti ini," desak Septian sambil mengarahkan jari telunjuk tepat ke wajah Alan. "Kau akan kupastikan tak dapat beroperasi dengan keretamu."


Alan tak membalas, masih menenggelamkan kepala sambil mengangguk. Sementara Rudi kembali beralih ke Pak Tua yang tampak kebingungan memeriksa kerusakan, bertanya-tanya, "Bagaimana, apa terjadi sesuatu?"


Kedua wira itu beralih, terpusat kepada sipir yang menggelengkan kepala, tak yakin dengan pengamatannya. Dia pun berseru, "Aku tak tahu, semuanya tampak baik-baik saja kecuali lubang retakan ini."


Di saat mereka tertuju ke satu arah, Suluh, Savira, dan Intan sudah bersiap-siap membekuk mereka secepat mungkin. Namun, entah kenapa Suluh malah sedikit ragu dan merasa enggan melakukannya. Di sela-sela persiapan, Suluh berbisik, "Tidak, bukankah itu wira yang menyelamatkanku dulu?"


"Apa maksudmu?" Savira berceletuk, merespons kalimat anak laki-laki itu.


"Daku tak bisa melakukannya, ini tidak sepadan dengan apa yang dia lakukan padaku," racau Suluh sambil kembali bersembunyi setelah menoleh ke arah target. "Daku berutang budi kepadanya."


"Kalau begitu aku yang mengatasinya," sahut Intan sudah bersedia. "Kau taklukkan wira satunya."


"Cepat, waktu kita tidak banyak!" Saat Savira berkata seperti itu, tak lama kemudian mereka melaksanakan aksi yang sesuai dengan rencana.


Mereka melompat dan langsung membekuk leher mereka. Savira menjatuhkan sipir, Intan menaklukkan Septian, dan Suluh meruntuhkan Rudi dengan hanya sekali hantam. Terkapar tak sadarkan diri. Secara buru-buru mereka melucuti dan mengambil seragam mereka, mengambil alih kereta dengan Intan yang mengemudi. Memecut kuda untuk menyusul ketertinggalan. Sementara Suluh dan Alan harus memakai busana wira, tertaut nama Septian dan Rudi yang masih menempel.


"Maafkan daku," kata Suluh lirih.

__ADS_1


"Kenapa kau meminta maaf?" Alan yang masih mengatur pakaiannya tampak kesulitan membenarkan dekorasi yang melekat.


"Untuk orang yang menyelamatkanku dari perundungan," ujar laki-laki berambut hitam yang menari-nari diterpa angin. "Daku tak dapat membalasnya dengan kebaikan."


Mereka melaju sangat cepat melintasi bebatuan, membuat buah-buahan tersebut banyak yang berjatuhan. Savira sampai harus menarik pintu pembatas yang terbuka dengan kail persenjataan. Semua itu demi tidak menarik prasangka terhadap rombongan lain dan berusaha mencairkan suasana seperti tidak terjadi apa-apa. Terlebih ketika kereta-kereta kuda itu sudah mencapai gerbang desa Sinambu yang terjaga beberapa wira, menilik satu-satu di antara mereka secara seksama.


Savira menancapkan alat kail itu lalu melompat dari gerobak, bersembunyi di semak-semak. Rencana mereka tak berjalan mulus kali ini, seharusnya mereka dapat mengambil kereta kedua selama perjalanan. Namun kali ini, mereka lebih memilih mengalir dalam alur yang akan menimpa. Harus dapat berkamuflase. Reno dan Riki yang membawa dokar semula tak memilih berbelok ke desa melainkan terus maju ke depan, meninggalkan kendaraan tersebut kemudian mengikuti Savira yang mengendap-endap masuk ke dalam.


Satu per satu kereta makanan diizinkan melewati pembatas, kini giliran Suluh, Alan, dan Intan yang mencoba meyakinkan mereka. Salah satu dari wira tersebut merasa aneh ketika memperhatikan kehadiran rombongan terakhir, berseru dengan nada heran, "Dari mana asalmu? Apa spesialis makanan yang kau bawa?"


Pertanyaan itu sontak menyebabkan ketiga orang itu membeku, menoleh satu sama lain. Mereka tamat kali ini, sama sekali tak tahu informasi asal muasal kereta yang baru saja mereka rampas. Ide turut serta masuk ke dalam acara mungkin adalah kesalahan, namun bila tak berbelok ke desa jauh lebih fatal sebab mereka mengetahui rombongan ada yang hilang satu dan mulai mengejar. Satu-satunya cara adalah ikut bermain, berusaha untuk tidak mencurigakan.


"Kami dari Pawana," sahut Suluh saat mereka terdiam beberapa detik. "Ini semua adalah buah-buahan eksotis dari sana."


"Pawana? Daerah manakah itu?" Saat pertanyaan itu muncul, wira lain bertubuh kurus memeriksa gerobak yang berisikan buah-buahan.


"Ah ... itu daerah timur dari Arnawama," tutur Suluh semakin membuat Intan dan Alan bercucuran keringat.


"Benarkah? Aku tak pernah mendengar desa itu," pria berbadan buntal tersebut melipat kedua tangan di dada. "Apa nama buah eksotis tersebut?"


"Itu adalah buah rambutan," kata Suluh cepat dengan senyuman lebar.


"Ah benar, rambutan ini merah-merah!" Wira yang tadi memeriksa gerobak berkomentar setelah naik dari roda kayu kereta, tak membuka pintu belakang sebab akan memuntahkan semua isi yang dimuat. "Satu tangkai bukan sebuah masalah besar, bukan?"


"Ya, tak masalah, kami masih ada banyak untuk acara, bukankah begitu, Bu Sipir?" Suluh menepuk bahu Intan, mencoba membuat perempuan itu rileks.


"Hahaha ... iya, masih tersisa banyak untuk mereka!" Intan tersenyum terpaksa seraya tertawa kecil.


"Baiklah, kalian boleh lewat," tutur wira buncit sambil mengayunkan tangan, mempersilahkan. "Hey, sisakan itu untukku walau sedikit!"


Mereka berbagi buah dan tak mempermasalahkan lebih dalam kereta Suluh masuk, kecurigaan itu lantas sirna. Intan menghela napas dalam-dalam, menatap dua laki-laki di sebelahnya lalu kembali beralih ke depan. Desa itu kini terlihat ramai sekali, banyak pedagang berada di sisi jalanan, menjajakan makanan. Gegap gempita itu seperti berada di kota, hanya saja lebih berdempetan karena wilayah yang sempit. Bahkan kuda yang menarik mereka hanya maju beberapa langkah ke depan.


Kali ini mereka lolos, namun rencana masih harus terus dituntaskan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2