
Makanan-makanan lezat tersedia di depan mata, mereka kemudian dengan adab yang benar memamah semua tak melewatkan sisa. Suluh sempat dibuat terkesan akan kelezatan masakan Rahayu, terlebih ketika Sabrina dengan congkak berseru bahwa itu buatannya. Walaupun demikian anak itu tak berbuat hal-hal berarti, Rahayu dan Sekar tak sekali-kali keberatan maupun menaruh rasa risih.
Karena hari semakin kelam, Arnadi tak memberikan izin kepada mereka untuk kembali ke rumah, harus berkamar di sana sampai langit kembali cerah. Suluh tak enak atas kebaikan mereka yang luar biasa, tak dapat menolak dikarenakan Sabrina yang sudah ketiduran. Wanita berkonde itu lantas membawanya ke dalam, memberikan kehangatan. Tak terkecuali Arnadi yang harus kembali ke industri untuk menuntaskan masalah-masalah dalam inovasi temuan, tak mau ada kerusakan.
Kini, di halaman belakang serta di bawah sinar bulan yang menawan, mereka sendirian. Sama-sama menikmati suasana, mata Suluh dan Sekar berkelana ke antariksa luas tak terbatas. Meski mereka seakan tak acuh, hati antar insan itu berbisik untuk membuka suara, meminta berkomunikasi. Suluh diketahui berkali-kali melirik ke arah Sekar yang terdiam, menanti laki-laki berambut hitam memulai.
"Bagaimana Sabrina?" kata Suluh menoleh, melihat kecantikan rona Sekar yang mempesona. "Apakah dia merepotkanmu?"
Perempuan itu tersenyum manis sekali sambil memperhatikan, memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara perlahan. "Tidak, dia sangat membantu."
"Maaf, dia memaksaku untuk bertemu denganmu," seru anak laki-laki tersebut sambil kembali melihat ke atas.
"Ya, kami banyak bertukar cerita," seru Sekar menekuk kedua kaki, menyilangkan tangan di lutut sambil membenamkan kepala. "Termasuk kamu."
Suluh terhentak secara instan menoleh ke arah Sekar. "Apa? Apa yang dia bicarakan?"
Perempuan itu tak merespons. Suluh sadar bahwa muka Sekar merah merona, semakin masuk ke dalam rasa malu. "Dia berkata bahwa kamu selalu bertanya sesuatu tentangku. Kamu selalu berusaha untuk mencari tahu."
Suluh mati rasa, Sabrina telah berkhianat membocorkan semua rahasia antar mereka. Anak itu tak dapat mengelak dengan mudah dikarenakan semua yang disampaikan adalah fakta, tak mungkin Suluh menolak dan menuntut bahwa Sabrina bersalah. Sebab laki-laki itu seharusnya sudah tahu, bahwa Sabrina tak dapat mengunci rapat suatu rahasia. Ingin sekali topik saat itu diubah ke bentuk lain, bentuk apa saja asalkan terbebas dari rasa was-was yang membuat sesak napas.
"Suluh," lirih Sabrina tak sekali-kali menoleh ke arah Suluh, berusaha tak memaparkan muka. "Apa kau menyukaiku?"
Detak yang berada di dalam dada semakin cepat, Suluh kehilangan momentum menarik oksigen secara teratur. Hati yang berkecamuk tatkala bertemu Sekar, memberikan tanda bahwa Suluh tak dapat berdusta. Saat hari itu, di tempat kumuh ketika dia tak berdaya tanpa ada secercah harapan, kehidupan Suluh diselamatkan. Menarik tangan yang telah hancur tanpa aba-aba dan celaan, menerima kekurangan dengan dambaan rasa kasih yang terpancar dari ekspresi Sekar.
Ucapan terima kasih belum elok membalas itu semua. Suluh entah berbuat apa mengambil sesuatu dari dalam seragam hitam murid Cenderawasih yang dikenakan, masih merahasiakan di balik kepalan tangan. "Sekar, ini terimalah."
Sekar menoleh dengan menebak-nebak apa yang hendak anak itu beritahu. Suluh dengan lambat membuka tangan buatan itu, terekspos sebuah liontin kayu. Di tengah benda itu terukir suatu pohon cantik beserta akar yang merambat; memenuhi keseluruhan bingkai yang berbentuk lingkaran. Sekar tak dapat berbicara malainkan membisu kebingungan. Tak dapat mencerna maksud laki-laki di sebelahnya.
"Untuk apa?" tutur Sekar bernada lirih.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," tukas Suluh sulit menemukan kalimat yang tepat. "Aku hanya ingin membuatkan ini kepadamu."
Sekar menerima hadiah itu sebagai alasan entah apa, memakaikan liontin tersebut di sekitar leher. Perhiasan itu tampak cocok menempel di sana, seketika memberikan Sekar keceriaan. Merasa bahwa ini mungkin adalah bentuk yang mewakilkan hati sanubari Suluh. Seakan merasa memiliki nilai dengan ketulusan yang tak terkira. Ketika dia kembali menatap laki-laki itu, Suluh malah melamun sambil terus memperhatikan.
"Bagaimana kelihatannya?" seru Sekar ingin tahu dari sudut Suluh.
"Ah, ya?" sahut anak tersebut tersadarkan. "Aku rasa kamu terlihat cantik."
"Benarkah?" kata Sekar tersipu sambil menunduk. "Terima kasih, Suluh."
Pemuda itu lantas kembali menatap kartika yang berterbaran di langit lalu berseru, "Kamu ingat tidak, waktu kita berada di kereta kuda? Kini, kamu, termasuk duniaku."
"Aku akan melindungimu meski sukmaku sebagai taruhan."
Sekar merasa aneh dengan kalimat Suluh, seakan-akan akan tertimpa suatu masalah. "Kenapa? Apa ada sesuatu?"
"Mukhalis?" tutur Sekar sambil memikirkan. "Kalau tidak salah sebutan itu ada di buku Bahari."
"Ya, aku mendengar hal tersebut dari Guru Madiarta," Suluh teringat percakapan saat latihan waktu itu.
"Tunggu, bila diingat," Sekar tiba-tiba berdiri, hendak ke suatu tempat. "Aku rasa mama ada bukunya, mari ikut aku!"
Tanpa mendapatkan izin dari Suluh, Sekar menarik tangan anak laki-laki tersebut kembali masuk ke dalam rumah. Mereka melewati ruangan demi ruangan besar nan luas sambil membalas sapaan penjaga yang berlalu lalang. Sampai akhirnya sampai di tempat di mana semua peralatan mekanik berserakan, di atasnya ada balkon berisi lemari-lemari buku tertata elegan. Sekar tanpa memberi jeda sedikit pun, menaiki tangga yang mengharuskan Suluh mengalihkan pandangan ke depan, menjaga ritme langkah kaki agar berkesinambungan.
"Buku Bahari adalah hasil tafsiran dari Lembaran Semesta," ucap Sekar mencari di sudut-sudut lemari. "Konon katanya, mereka yang menafsirkan benda itu berakibat buta untuk selamanya."
"Apa seburuk itu?" tukas Suluh sembari membantu Sekar menulusuri.
"Tak sedikit dari mereka kehilangan akal sehat setelah melihat sesuatu yang teramat sakral," sambung Sekar sesekali membuka tumpukan buku. "Melihat masa depan dan masa lalu secara bersamaan. Bukankah itu tak masuk akal?"
__ADS_1
Suluh terdiam, memproses semua uraian kalimat Sekar. Tak lama setelah itu, Sekar menemukan buku yang mereka cari, duduk bersebelahan. Dari sampulnya saja sudah terlihat berbeda dari tipikal buku pada umumnya. Benda ini lebih mirip disebut kitab, kitab yang memberikan kisi-kisi dalam berkehidupan. Sekar tanpa menunggu lebih lama, langsung membuka lembaran demi lembaran seakan sudah tahu letak ramalan.
"Aku belum memberikan tanda di halamannya," celetuk Sekar masih terus membuka kertas-kertas itu. "Tapi kita sudah hampir sampai."
Belum ada lima menit Sekar menahan kertas itu, kroscek kembali narasi-narasi yang tertulis. "Ini dia, sudah aku temukan!"
Suluh secepat kilat mendekat, muka biasa-biasa itu hampir bersentuhan dengan Sekar. Laki-laki tersebut berbisik, "Dalam kesengsaraan yang dibawa oleh ketidakmampuan atas esensi baru, Mukhalis kembali ke dalam dunia dengan kekuatan maksimal."
"Dendam membara membumihanguskan Bentala, merubah tempat kedamaian kembali ke dalam neraka." Suluh semakin tertarik dan terus membaca.
"Dia tak sadar bahwa esensi yang sama terlahir dengan kekurangan. Sebuah kekurangan yang tak ada manusia mau menerima kecuali hati bersih nan suci." Kali ini, semua yang dikatakan Rahayu diketahui asal muasalnya.
"Mereka sama, memiliki sumber kekuatan yang terpadu. Hanya dengan Prana keduanya dilahirkan. Hanya dengan Prana keduanya ditidurkan untuk selamanya. Hingga dunia berasa seperti sedia kala. Pahlawan Bentala yang berkorban untuk keselamatan umat manusia." Suluh berhenti, detak jantungnya terpompa semakin cepat beserta isi kepala yang mumet tak karuan.
"Suluh, kamu tak apa?" sambut Sekar sedikit khawatir dengan kondisi Suluh yang bercucuran keringat dingin.
"Ya, aku baik-baik saja," timpal Suluh berpura-pura. "Aku hanya sedikit merasa tidak enak badan setelah membaca tulisan ini."
"Apa ada sesuatu yang tidak kau tahu?" kali ini Sekar mencoba menawarkan bantuan.
Suluh menarik napas dalam-dalam lalu berseru, "Apakah ... apakah Mukhalis di sini tak hanya satu?"
Sekar menarik buku tersebut lalu menilik, mencoba memberikan respons yang tepat. "Aku rasa seperti itu. Yang aku tahu secara mutlak adalah Mukhalis akan muncul ketika dunia dalam kekacauan. Sudah kepastian bahwa dia ada di masa lampau, bukankah begitu?"
Suluh memberikan senyuman kecut manakala dia masih dihantui oleh ramalan kuno tersebut. Terlebih di cuilan buku itu, Mukhalis akan melawan satu sama lain. Berakhir hanya dalam sebuah kenangan menyeramkan, memakmurkan Bentala seperti seharusnya. Semua ini adalah beban yang harus Suluh terima untuk keselamatan mereka yang dicintainya.
...----------------...
__ADS_1