
Di dalam hutan yang rimbun itu terdengar suara orang menyapu halaman. Sapu lidi yang tak terlalu panjang memaksa kakek tersebut sedikit membungkuk walaupun tubuhnya sehat lagi gagah perkasa. Mengumpulkan dedaunan yang telah mati berserakan ke satu tempat sampai menumpuk, sedia untuk diuraikan bersama kobaran api yang meluluhkan.
Tak lama setelah dia melakukan aktivitasnya, seorang tamu hadir dari balik setapak yang menaik, harus mendaki mencapai tempat itu. Dia anak muda berambut hitam ikal, berbusana santai berwarna putih dan membawa bundelan yang dililitkan di tangan kiri. Tatkala kakek itu sadar akan kehadirannya, laki-laki tersebut lantas tersenyum.
"Aku kembali, Guru Madiarta."
Ekspresi yang semula terperangah itu memudar tergantikan oleh keceriaan, berseri-seri seakan diselimuti sinar mentari. Untuk sekian lama, Suluh baru bisa bertemu kakek yang sudah sangat berjasa untuk kehidupannya. Mereka hanya bertukar sapa dan keadaan lewat perantara ayah Suluh, Bara, yang sesekali setiap Minggu akan hadir membawakan makanan. Bentuk rasa syukur serta terima kasih.
Untuk saat ini Suluh yang memainkan peran tersebut. Juga, anak itu tidaklah sendirian ke sana melainkan ditemani oleh gadis manis bernama Sabrina yang tentu terlihat kelelahan. Dia benar-benar keras kepala, sudah diperingatkan berulang kali bahwasannya perjalanan akan sangat mengkhawatirkan bagi bocah seusianya. Tetap saja, laiknya berbicara dengan batu, Sabrina kukuh memaksa.
Alhasil Suluh harus berkali-kali berhenti, menggendong, serta menuntun adik kesayangannya. Dia sedikit kesal dengan sikapnya yang seperti itu, bisa saja hal ini malah akan membuatnya jatuh sakit. Namun tidak, semangat Sabrina dalam berpetualang memang perlu diakui jempol, ingin sebuah kesaksian dari kakaknya bahwa dia mampu. Padahal sejak pertama kalinya dia bisa berada di puncak bukit besar itu, Suluh sudah mengakui kehebatannya.
Tatkala Suluh membungkukkan badan, Sabrina ikut melakukan hal yang sama. Kepolosannya dalam mencuri pandang ke Guru Madiarta yang mendekat, ditimpali kekehan kecil dari kakek tersebut. Sorotan mata rapuh itu bergantian memperhatikan Suluh dan adiknya, mulai menepuk bahu anak laki-laki itu untuk berdiri tegak kembali.
"Padahal sebulan lebih tak bertemu," tutur kakek Madiarta yang terdengar serak. "Kau tampak banyak berubah, anakku."
Suluh menarik sudut-sudut bibirnya dengan lembut, "Ayah mungkin belum memberitahu semua hal yang telah kulalui di Cenderawasih."
Guru Madiarta menaik-turunkan kepala sambil berseru, "Kita ada banyak waktu untuk membicarakannya, kau tak usah khawatir."
Lalu, lirikan itu beralih kepada Sabrina, kakek tersebut melanjutkan, "Dan siapakah engkau wahai anak dara yang cantik?"
Suluh turut menoleh, berbisik, "Perkenalkan dirimu, adinda."
Sabrina terlilit kikuk dalam kecanggungan, berucap secara terbata-bata, "A-aku, na-namaku Sabrina, Kek."
Guru Madiarta tertawa kecil sambil mengelus-elus rambut hitam dikuncir milik Sabrina dengan lemah lembut, berseru kemudian, "Anak sekecil dirimu sudah sangat luar biasa berada di sini. Mari masuk, ada banyak makanan menanti."
__ADS_1
Setelah kakek itu berbalik, muka Sabrina berbunga-bunga bersama senyuman lebar menoleh ke kakaknya. Hal yang dinanti-nantikan terbayarkan. Mereka sama-sama membuntuti Guru Madiarta ke sebuah rumah sembari membantu mempersiapkan, tak luput bekal buntelan turut menambahkan ragam hidangan kala itu.
Suluh memberitahu perkembangannya selama bersekolah di sana, menceritakan teknik mutakhir Guru Madiarta yang sampai saat ini, belum ada yang dapat memecahkan ketahanan Suluh. Sementara beliau hanya berdehem menganggukkan kepala sambil memamah makanan, memilih mendengarkan dengan antusias.
Sampai di fase latihan Prana, Suluh membeberkan bahwa dia telah menerima unsur itu dan berkultivasi. Sempat membuat kakek Madiarta membeku sesaat, kemudian melirik kepada murid satu-satunya yang masih mencerocos. Pantas dia merasakan sesuatu yang berbeda dari Suluh, suatu hal fantastis. Dia menepuk-nepuk tangan, membersihkan dari kotoran yang menempel lalu entah kenapa duduk bersila dengan sempurna.
Suluh sontak terdiam, berhenti berbicara. Kelabakan dengan apa yang dilakukan kakek di hadapannya secara tiba-tiba. Muka Guru Madiarta mendadak berubah drastis penuh keseriusan, menautkan kedua alis rapat-rapat seolah-olah tak mau kehilangan konsentrasi. Tak lama setelah itu, semua mereda. Dia pun membuka kedua kelopak mata hendak berkata sesuatu.
"Suluh, apa kau tahu bahwa kapasitas Prana yang ada di tubuhmu itu di luar batas kemampuan manusia?" tutur Guru Madiarta yang bernada keras, kepanikan.
Suluh yang sadar atas gelagat aneh kakek tersebut merespons dengan berseru, "Ya, Guru, Sesepuh Mustari memberitahuku."
Pria tua itu lantas menghela napas dalam-dalam, berbisik, "Jadi dia sudah tahu yang akan terjadi dan membiarkannya begitu saja."
Pemuda tersebut larut dalam keresahan, terlebih ketika dia sama sekali tak dapat mencerna kalimat kakek Madiarta. "Apa maksud Guru?"
Alih-alih menafsirkan kalimat yang diutarakan kakek tersebut, Suluh malah khawatir gurunya kenapa-kenapa. Tingkah tak karuan itu bahkan menakuti Sabrina yang lekas bersembunyi di balik badan kakaknya. Madiarta berubah secara instan seperti orang lain, sirna sudah kewibawaan yang tersemat dalam nama. Kini hanya sebuah ketakutan, ketakutan yang dapat merubah kepribadian manusia hanya dengan kedipan mata.
"Ini hanya sekadar firasatku," celetuk kakek itu terengah-engah sembari menunduk, seolah-olah habis melakukan kegiatan yang menguras energi. "Suluh, berhati-hatilah bila kau kembali ke Asarania."
Pemuda itu terbelalak, berkali-kali menelan saliva turut serta terbawa suasana, was-was. "Ba-baik, Guru."
Peristiwa tersebut adalah kali pertama Suluh mendapati kakek Madiarta berlagak aneh semacam itu. Benar-benar pengalaman yang kurang berkesan oleh Sabrina. Dia masih tak dapat melupakan ekspresi Guru Madiarta yang menakutkan, benar-benar sudah seperti insan yang telah sirna akal sehatnya. Tatkala Bara dan Arumi mendengar cerita itu langsung dari Sabrina, mereka membeku tak percaya.
Malam itu, Asarania kedatangan tamu terhormat beserta kemeriahan sambutan yang dihadirkan. Balon-balon udara dengan lampu-lampu berwarna-warni memperindah kota itu, warga yang berada di tepian bersorak sorai antusias terutama anak-anak. Selebihnya orang dewasa yang tahu bahwa tamu tersebut dari kerajaan lain memasang muka berhati-hati. Tiap trotoar tersebut berdiri wira-wira Niskala yang berjaga, memastikan perhelatan berjalan kondusif.
Desas-desus yang tersebar luas bahwa Indrayana kini berada dalam naungan Ganendra, membuat masyarakat semakin waspada. Mereka adalah musuh akan tetapi oleh Raja Reswara sendiri, Raja Niskala, dia masih membuka ruangan untuk berdiskusi serta bernegosiasi demi terhindar dari ranah pertumpahan darah. Karena menurut beliau, perbedaan pandangan sejatinya dapat diluruskan atas alasan saling membutuhkan.
__ADS_1
Kereta-kereta kencana mulai melewati gegap gempita di sana, di sebelahnya lengkap wira-wira dengan kemampuan bela diri yang di atas rata-rata. Mereka semua sudah sangat terlatih akan segala macam serangan, kedua mata aktif melirik ke sana kemari, menganalisis potensi yang membahayakan. Sementara di belakangnya terjejer wira-wira biasa berbaris khidmat, di depan sendiri terdapat arak-arakan inovasi dari Niskala.
Kendaraan modifikasi yang berbahan bakar gas itu tampil memukau. Tentu di antara banyaknya macam-macam otomotif tersebut, Tuan Arnadi turut serta unjuk gigi dengan mahakaryanya. Dia beserta anak buahnya membawakan suatu petasan yang akan meluncur secara otomatis tatkala menekan tombol bel di kendaraan tersebut. Hal itu sangat efektif menarik banyak orang melihat sebab kemeriahan yang tersuguhkan terlampau spektakuler.
Hampir satu jam mereka diberikan sambutan hangat, Raja Mandala terlihat sangat jelas ketika keluar dari kereta, dibuntuti oleh beberapa menteri serta pengawalnya. Pakaian Indrayana menuruti alam di sana yang gersang dan penuh padang pasir, memakai kain-kain kuning tak terlalu tebal namun berlapis serta penutup rambut yang terlilit sedemikian rupa. Muka Raja Mandala saja sudah sangat berbeda dari penduduk lokal, ras-ras di Bentala tentu sangatlah bervariasi.
Mereka menaiki tangga ke istana yang mencuri banyak perhatian terutama dari kalangan Indrayana. Modern nan mewah, begitulah dua kata yang cocok melukiskan daya tarik yang disebarkan. Sedang di ambang pintu besar tersebut berdirilah Raja Reswara beserta anggota kerajaan lainnya, menantikan kehadirannya. Mereka bersapa senyum lantas berjabat tangan, menemani sekaligus memandu Raja Mandala masuk ke dalam istana.
"Bagaimana kesan Anda kemari, Yang Mulia Mandala?" kata Raja Reswara mencoba sesopan mungkin.
"Menakjubkan, Yang Mulia Reswara, inovasi Niskala dalam hal ini sungguh luar biasa," seru laki-laki itu tak dapat menyembunyikan bibir yang merekah karena terpana dengan keindahan ruangan luas tersebut.
"Senang bila Anda menikmati lingkungan Niskala yang teramat singkat tersebut," tutur Raja Rewana berhenti, merapikan setelan beskap hitam dengan corak emas itu. "Namun masih ada waktu, Anda hadir untuk menyaksikan kompetisi, bukan?"
"Anda benar," timpal pria bertubuh sedikit buntal tersebut. "Dan masalah kekaisaran."
Raja Reswara terdiam, membiarkan Raja Mandala melanjutkan, "Kabar burung tersebar cepat, Yang Mulia. Kita harus membersihkan hal itu demi kedamaian yang sudah terjalin selama ratusan tahun."
Alis Raja Reswara mengernyit lalu membalas, "Dengan cara seperti apa kita membersihkan hal itu, Yang Mulia? Kerajaan lain mungkin tak akan diam berlarut begitu saja apabila mereka mendapati bahwa, Ganendra berani menaklukkan Anda."
Kali ini Raja Mandala membisu. Raja Reswara mendekatkan diri lalu berbisik, "Proposal yang sudah saya tawarkan kepada Anda adalah solusi kedamaian. Kita tak harus melukai satu sama lain bila negosiasi tak ada kendala."
"Apakah dengan mengeruk sumber daya alam satu sama lain?" Ada keraguan dari intonasi Raja Mandala.
"Tak hanya itu," sahut laki-laki kurus berambut hitam yang sudah terlihat beruban. "Kami akan memperkuat arsenal Anda demi merebut kembali kekaisaran. Tentu kita tak tahu apa yang direncanakan Darsana dan Arnawama. Mereka menunggu waktu yang tepat supaya tak salah sasaran."
"Setidaknya dengan begitu, kita bisa bersatu walaupun yang lain memperebutkan tahta," sambung Raja Reswara dengan serius. "Mereka akan berpikir dua kali bila armada udara Niskala mewarnai langit-langit Indrayana. Bukankah itu kesepakatan yang menjanjikan?"
__ADS_1
...----------------...