Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
12. Murid


__ADS_3

Mata berkeriput dengan tatapan lemah beriris keemasan itu menengok ke bawah, ke area luas yang dikelilingi murid-murid Cenderawasih. Dia menilik secara dalam, merasakan sesuatu yang membeludak di dalam tubuh Suluh. Suatu kuantitas Prana yang teramat masif, terus menerus memberikan kekuatan.


Para tetua mungkin telah menyadari akan aura yang dipancarkan oleh anak itu, tak mau mengomentari untuk sementara waktu. Sedangkan Satia tahu bahwa Suluh saat ini berbeda dari sebelumnya. Dapat terlihat dari kedua iris hazel yang menusuk mata Satia dengan determinasi tinggi. Sesekali menelan ludah, keringat dingin perlahan mengalir dari dahi Satia; kembali bersedia.


"Beritahu kepada kami," seru Tetua Ardiyasa bernada rendah. "Apa sebenarnya yang kau cari di sini?"


Suluh kini memberikan sapuan tangan terlebih dahulu, sempat membuat Satia tersentak lantas menghindarinya sesegera mungkin. Kecepatan dan ketangkasan Suluh menaik drastis dan ketika Satia mencoba melancarkan serangan balik, anak berambut hitam itu dapat membaca semua hantaman. Namun Suluh tak membalas, dia malah memilih mendekam di balik kedua tangan.


Kali ini Satia dibuat kebingungan, tak tahu harus melakukan apa untuk menembus pertahanan. Sudah berkali-kali dia mencoba memberikan sepakan, pukulan, dan bahkan sebuah keahlian yang Satia kuasai. Hal itu tak memberikan hasil memuaskan. Suluh seolah tahu semua aliran gerakan yang akan Satia laksanakan, memblokir secara cermat nan sempurna.


Benar-benar teknik bertahan tanpa celah.


Penonton dibuat ketar-ketir memilih untuk diam meneliti. Baru kali ini mereka melihat Suluh bermain secantik itu. Tak terkira dia dapat membuat Satia yang secara statistika lebih berbakat dari murid-murid baru. Bahkan untuk Samudra, dia membisu mengetahui temannya kini kesulitan melawan Suluh. Sulit menerima fakta sebab sudah tertimbun oleh urat malu.


Tak ada cara lain selain terus mencari titik lemah anak istimewa di hadapan, walau tahu Satia tak bisa menemukan. Suatu hal yang dapat menembus teknik itu adalah suatu kekuatan yang teramat kuat. Sangat kuat sampai dapat memecah kuda-kuda yang teramat kokoh. Ya, Satia hendak mencoba teknik itu untuk terakhir kali.


Terlalu lama berada dalam spekulasi yang ada di benak, Satia sedikit terhentak akan sebuah aksi Suluh secara tiba-tiba. Dia kelabakan tak menerka bahwa anak itu akan melakukan serangan. Sebuah sepakan memutar yang sedikit lambat. Mudah sekali dibaca oleh Satia. Anak berambut cokelat itu tanpa usaha lebih membekuk kaki buatan tersebut, merasa berhasil.


Namun sesaat setelah itu, kaki yang ditahan Satia malah sebagai titik tumpuan Suluh dan seketika dia kembali memutar badan, meluncurkan tendangan kedua. Semua insan di sana terbelalak, Satia sudah tak ada kesempatan kecuali menerima serangan tersebut. Entah kenapa Suluh seperti menahan diri, sepakan itu terasa lemah akan tetapi tepat mengenai bahu kanan Satia. Seketika membuat anak itu bergeser beberapa meter menerima benturan tersebut.


Suasana yang semula tak bersuara tiba-tiba kembali ricuh bersorak. Mereka terkesan dengan kemampuan Suluh yang luar biasa, hampir tak sesekali dirasa. Bahkan tetua-tetua di sana memberikan tepuk tangan untuk Satia dan Suluh, tak terkecuali mereka yang berada di balkon rumah. Tes latihan tersebut barangkali adalah satu dari sekian banyak tes yang menarik dari tahun-tahun kemarin.


"Selamat untuk kalian berdua," kata Tetua Ardiyasa berseri-seri. "Kemarilah."


Suluh dan Satia lantas menoleh, memperhatikan satu sama lain. Anak berambut cokelat itu tiba-tiba tersenyum, tak merasa kesal maupun memupuk dendam. Dia lantas menaik-turunkan kepala seakan meminta Suluh untuk bersama-sama menuruti titah tetua, cepat-cepat mendekati kakek tersebut kemudian menunduk dalam-dalam.

__ADS_1


"Satia," tutur tetua dengan suara sedikit serak. "Tidak hanya kau adalah murid baru dengan keterampilan di atas rata-rata, keahlian bela dirimu sangat dapat diandalkan. Kau luar biasa."


Satia merasa bahagia mendengar itu secepat mungkin merespons, "Terima kasih, Tetua!"


"Sedangkan kau, Suluh," kini mata keripuan tersebut beralih kepada anak berambut hitam. "Kau telah membuktikan bahwa surat rekomendasimu bukan bualan semata. Seperti yang mereka katakan, mustahil manusia biasa dapat melakukan hal seperti itu dengan alat bantu. Kau benar-benar anak istimewa."


"Mulai saat ini, kau adalah murid Padepokan Cenderawasih."


Mata anak itu berbinar-binar tak kuasa menahan rasa suka cita yang teramat menyentuh hati sanubari. Dia cepat-cepat kembali membungkuk berusaha menyembunyikan rasa haru yang tak terelakkan. "Terima kasih, Guru!"


Impian semasa kecil itu terkabul, usaha keras tak akan melepaskan hasil dengan sia-sia. Meski seberapa besar sebuah kekurangan, manusia dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin.


Pemilihan siswa baru telah berakhir. Setidaknya ada seratus insan yang diterima setelah melalui serangkaian tes bela diri. Matahari mulai bersemayam ke arah Barat, hari tak kembali cerah dialihkan oleh malam temaram. Lentera dan obor mulai mewarnai taman serta setapak di antara kerimbunan bambu, di sana ada dua insan yang berbicara satu sama lain. Dia yang menunduk bernama Tetua Ardiyasa, sedangkan di depan ada kakek-kakek yang terlihat lebih tua.


"Ya, Guru Mustari," timpal laki-laki itu masih terus melihat ke bebatuan yang bercampur tanah. "Gerangan aku merasa aneh dengan teknik yang dia laksanakan, seperti telah melihatnya di suatu tempat."


"Itu milik Madiarta," sahut Tetua Mustari sama sekali tak melihat ke belakang. Mata keemasan itu masih terfokuskan ke benda-benda bercahaya di angkasa yang gelap gulita. "Anak itu berada dalam bimbingannya."


"Jadi itu sebab dia sangat sulit ditembus," kata kakek Ardiyasa menaikkan kepala, memperhatikan Tetua Mustari. "Lalu, apa yang harus kita waspadai, Guru?"


Dia tak lekas merespons, membiarkan semilir melintas. "Aku khawatir kalbu dia tak stabil dan tak terkendali."


"Kau tahu bahwa Madiarta terlalu kecewa dengan keadaan, membuat dia lebih dapat merasakan emosi serta memanipulasi Prana ke dalam api," imbuh Tetua Mustari memutar badan, menatap kepada Ardiyasa. "Kita harus berhati-hati, kadar Prana dalam tubuh anak itu terlalu banyak untuk dapat ditadah."


"Fenomena semacam itu hanya terbukti dalam ratusan tahun sekali," kakek tersebut tertatih-tatih melewati murid kepercayaannya. "Aku tahu betul manusia seperti dia di masa lalu."

__ADS_1


"Dan mereka selalu terhasut dalam kekelaman dunia akan kekuatan yang teramat besar."


Utaran kata itu memberikan memori di kepala Tetua Ardiyasa atas sebuah ramalan kuno. Sebutan yang dinantikan oleh umat manusia untuk memakmurkan dunia akan tetapi berubah malapetaka. Dia tak lain dan tak bukan adalah Mukhalis. Pahlawan yang seharusnya memberikan kedamaian tersebut, kini sirna ditelan Bentala.


Lampu-lampu indah memeriahkan malam di sudut-sudut kota. Rumah besar bercat keabu-abuan serta hitam itu tampak elok menawan. Di taman tersebut terparkir kendaraan automobil keluaran terbaru, sangat keren dan modis. Saat ini Suluh berada di rumah Sekar, sekadar menemani Sabrina sembari memberitahukan informasi.


"Wah Kakak diterima?" seru Sabrina dengan air muka bersemangat.


Suluh mengangguk sambil tersenyum lebar yang sontak membuat seisi rumah riuh. Sabrina cepat-cepat memeluk Suluh dengan sangat ceria. Arnadi memberikan tepuk tangan sedangkan Rahayu mendekati Suluh lalu bersimpuh, membuka lebar kedua tangan seakan memberikan kehangatan. Suluh tanpa aba-aba menuruti Rahayu dengan berada dalam dekapan wanita itu.


"Terima kasih, Nyonya." suara Suluh terdengar haru, mata tersebut kemudian tak mampu menahan air yang merembes keluar.


"Suluh," kali ini suara yang dinanti-nanti anak itu terdengar, suara merdu dari Sekar. "Selamat atas keberhasilanmu."


Tatapan mereka beradu, tersalurkan senyuman satu sama lain. Sekar tampil cantik malam ini meski dengan busana santai di dalam rumah. Rambut cokelat itu terikat kuda, semakin membuat laki-laki itu tak berkutik. Kalau bukan karena seruan Arnadi, Suluh mungkin akan terus berada dalam lamunan. "Baiklah, mari kita makan."


"Wah, asyik!" teriak Sabrina melompat-lompat. "A-aku akan membantu membuat hidangannya!"


"Boleh," respons Rahayu sembari menuntun Sabrina ke arah dapur.


"Kau pasti lapar, bukan?" Sekar secara tiba-tiba menarik tangan Suluh. "Seharian di sana mesti melelahkan."


Bibir merah muda yang merekah tulus itu sangat manis, turut dibalas serupa oleh Suluh. Waktu itu, mereka bersama-sama memeriahkan acara keberhasilan Suluh diterima di Cenderawasih. Dengan nuansa ketentraman dan kedamaian di bawah sinar cerah rembulan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2