
Semua tampak hitam nan tak ada apa-apa kecuali kekosongan. Tidak ada suara maupun kehidupan, benar-benar sirna. Sesaat sebelum dia memutuskan untuk mencari sesuatu, benda yang mencuat dari ketidakadaan itu membentuk suatu cermin. Cermin besar berbentuk oval dengan hiasan tekstur yang ciamik. Terefleksikan Suluh yang berbeda.
Bayangan itu adalah Suluh dengan tubuh sempurna, tidak ada lagi alat-alat bantu yang melekat. Entah kenapa dia merasa tertarik, memastikan apakah itu benar dirinya sendiri. Dengan langkah perlahan-lahan semakin mendekat, sosok itu tersenyum tanpa ada beban. Suluh tak hanya menilik suatu muka yang sama melainkan tangan tersebut, menempelkannya di kaca.
Jari jemari mereka bertemu, yang satu dengan tangan buatan sedangkan yang lain tangan asli, keinginan yang sangat diidam-idamkan. Berandai-andai bila dia terlahir normal, mungkin penderitaan selama ini takkan pernah terjadi. Dia berkaca-kaca, berlinang air mata. Mengasihani dirinya sendiri yang terlampau berbeda apabila dia tak mengidap sindrom Tetra Amelia.
Namun di sela-sela itu, muncul kedua orang tuanya di belakang, lambat laun terlihat jelas. Wajah ketulusan mereka terpancarkan tak sesekali ada raut muka kecewa. Sabrina tiba-tiba berada di sebelah, menggenggam erat tangan Suluh tak mau terlepaskan. Keutuhan yang tidak ingin Suluh kecewakan, memberikan kenyamanan tiada tara. Momen ini sendiri adalah kedamaian dari dunia yang membencinya.
Tak lama setelah itu, kaca di hadapan Suluh mulai retak. Suhu di sana terasa memanas dan api mulai berkobar di sekitarnya. Cermin itu lama kelamaan pecah dan si jago merah melahap semuanya, keluarga yang semula menemani lebur seketika. Tatkala dia kembali menatap ke depan, ada sesosok manusia berdiri di tengah kebakaran. Siluet hitam yang membuat Suluh bergidik ngeri.
Dia, dengan mengacungkan tangan ke arah anak itu, meluncurkan suatu kekuatan teramat besar berupa bola api yang menerjang Suluh. Respons dia berlindung di balik tangan sekaligus membangunkannya dalam keadaan kacau. Napas pemuda itu tersendat-sendat, perutnya kembang kempis secara tak normal. Dengan mata terbelalak mencoba merilekskan diri, Suluh duduk di sebuah sofa merah yang empuk.
Saat ini dia berada di ruang belakang yang penuh peralatan mekanik, diterangi oleh cahaya bulan yang menyusup masuk dari sela-sela atap rumah. Suluh mengambil jam saku berbentuk bulat tersebut di atas meja, terhias motif indah berwarna perak. Dia lantas membukanya secara perlahan, menunjukkan pukul tiga pagi. Masih terlalu dini untuk melakukan sesuatu dan terlalu larut untuk tidur kembali.
Kejadian itu, setidaknya sudah seminggu lebih Suluh mengalami hal serupa dan selalu bisa membuatnya ketakutan. Bukan hanya karena sosok tersebut begitu nyata, tetapi bukti bahwa penglihatannya sama persis yang telah diramalkan oleh buku Bahari. Siluet tersebut sudah dipastikan adalah Mukhalis, manusia yang nantinya ditakdirkan bertemu dengan pemahaman yang bertolak belakang.
Waktu berjalan cepat dan suara ayam mulai berkokok, memberikan isyarat mentari akan segera menggantikan singgasana. Dari ufuk timur cahayanya membelah langit-langit, menembus awan yang beraneka bentuk. Memaksa manusia beraktivitas. Untuk Padepokan Cenderawasih sendiri, materi latihan kali ini berbeda dari kemarin. Mata pelajaran yang sangat dinantikan Suluh.
Ilmu Tingkat Batin, menerima unsur alam Prana.
"Baik anak muda sekalian," seru pria itu dengan rambut gondrong menjulur sampai ke pundak, memperhatikan murid-murid yang duduk bersila di hadapan mata. "Aku Guru Mahendra yang akan membimbing kalian dalam latihan merasakan kekuatan Prana."
"Sebelum ke tahapan itu, yang perlu dipersiapkan adalah menjernihkan pikiran dari semua hal. Termasuk baik dan buruk," tutur Guru Mahendra berlalu lalang, berjalan di sebelah siswa. "Prana tak akan tertarik bila kalian masih berkutat dengan hal-hal semacam itu."
__ADS_1
"Prana tak berbentuk dan tak terlihat, unsur itu berdiri sendiri bersama semesta," lanjut kakek tersebut berhenti tepat di sebelah Satia. "Kekuatan spiritual hanya dapat dirasakan apabila jiwa bersih dari esensi duniawi."
"Biarkan semuanya pergi," lirikannya berpendar ke segala arah, melihat ke murid-muridnya. "Itu adalah hal mendasar semua orang ingin mengenal Prana. Melibas keresahan dan berdamai dengan keadaan."
"Oleh karena itu, latihan kali ini kalian harus bisa mengubur semua hal yang berkaitan dengan hati," Guru Mahendra kembali ke depan. "Serahkan seluruh rasa yang membuat hati tak harmonis "
"Relakan semua hal yang terkait dengan dunia."
Para siswa duduk bersila, memejamkan mata. Kedua tangan diletakkan di kedua lutut dengan telapak tangan yang terbuka ke atas. Mereka serentak menuruti seruan Guru Mahendra, melibas rasa was-was. Air muka anak-anak itu secara bertahap terlihat berseri seiring waktu, mulai dapat berbaikan dengan situasi yang mengusik jiwa.
Sedangkan Suluh tak selancar seperti yang lain. Kesulitan membebaskan rasa yang bersarang di hati. Anak itu saja sudah banyak pikiran, gelisah dengan masa depan yang akan segera datang. Terlalu khawatir oleh kehidupannya setelah ini. Di satu sisi secara bersamaan, Suluh harus bisa merasakan Prana, harus dapat menjadi kuat. Ketidakmampuannya mensterilkan sukma akan sangat menghambat untuk ke tingkatan lebih dalam.
Guru Mahendra yang melangkah memeriksa satu-satu dari mereka, sadar ada sesuatu tak beres dari Suluh yang berkeringat. Mimik anak itu tak santai, lebih terlihat ketakutan. Kakek tersebut memutuskan untuk mendekati, bersimpuh di sebelahnya yang semakin tampak bahwa dia tidak baik-baik saja. Suluh memiliki masalah yang teramat sulit dilepaskan, kekek tersebut dapat merasakan hanya dengan sekadar memperhatikan.
"Suluh," kata Guru Mahendra secara lemah lembut akan tetapi masih sanggup membuat anak itu terpenjat. "Apa yang berada di hatimu?"
Murid-murid seketika membuka kedua kelopak mata, menaruh rasa penasaran dengan apa yang mereka interaksikan. Savian yang tepat berada di sebelah memicingkan mata, kedua alis tertaut, menilik Suluh lamat-lamat. Tak pernah dia melihat temannya mencurahkan ekspresi semacam itu, seperti tengah diteror oleh sesuatu yang teramat mengerikan.
"Aku ... aku melihat Niskala, Guru," kelit Suluh belum bisa rileks. "Aku melihat Niskala dalam lautan api."
Guru Mahendra tak sesekali tersentak, masih dalam posisi yang sama menatap dalam-dalam iris hazel Suluh. "Apa ada hal lain selain itu?"
Pemuda tersebut lantas mengangguk lemah, "Suatu siluet laki-laki, di antara kekacauan yang merusak segalanya."
__ADS_1
Beberapa menit setelah kakek itu terus mengarahkan sorotan kepada Suluh, dia berdiri. "Suluh, ikuti aku dan yang lain teruskan bermeditasi. Asistenku akan menemani kalian."
"Baik, Guru!" teriak semua murid yang ada di ruangan itu kompak.
Sementara Suluh harus mengikuti ke arah mana Guru Mahendra berlalu, keluar dari tempat yang berbeda dari yang lain. Letaknya seperti dikucilkan, berada sangat jauh dari wilayah sekolah dan dikelilingi oleh hutan rimbun yang daunnya berguguran. Sekilas mirip dengan tempat Guru Madiarta berada. Hanya saja kali ini atmosfernya berbeda.
"Kapan kau melihat peristiwa itu?" ujar Guru Mahendra secara tiba-tiba selagi berjalan.
"Di dalam mimpiku, Guru," ungkap Suluh masih terdengar gemetar dengan nada lirih.
"Pertama kali?" kata kakek itu ingin tahu tanpa berhenti maupun menoleh sedikit pun ke belakang.
"Sudah berkali-kali," tutur Suluh tanpa keraguan.
"Ini akan sulit," Guru Mahendra menaiki setapak demi setapak. "Batinmu tak dapat fokus membaca hal-hal yang menantimu."
"Aku tak mau berasumsi lebih dalam," mereka melewati arah yang entah kemana dan lambat laun Suluh mendengar aliran air. "Tapi mimpimu seolah-olah memberikan suatu makna."
"Kau yang kesusahan dalam berkonsentrasi," Guru Mahendra membabat semak-semak dengan tangan, terlihat suatu sungai yang mengalir deras. "Maka latihan Tingkat Batinmu harus berbeda dari yang lain."
"Kau mungkin akan sedikit lebih cepat atau terlampau lambat dalam merasakan Prana," timpal kakek itu melangkah ke tepian. "Tergantung seberapa besar kemampuanmu dalam menghadapi masalah, menerima takdir yang dibebankan olehmu."
Suluh sontak menoleh kepada Guru Mahendra. Dengan kedua mata keriput yang masih melontarkan sorotan ke depan, dia melanjutkan, "Karena kau, aku, dan kita semua terkadang hidup tak sesuai apa yang diinginkan. Tak mengharapkan kondisi seperti ini. Namun, bila kau menerima dengan tulus dan berdamai dengan itu, kau akan menemukan alasan di balik kehidupanmu."
__ADS_1
Suluh tak dapat bertutur apa-apa kecuali terpana, menusuk hati anak itu sedalam-dalamnya. Semua yang dikatakan Guru Mahendra tidak salah, tepat sasaran. Selama ini Suluh terus menyesali bagaimana dia hidup secara tak normal, lelah dengan semua caci makian dan suatu ramalan besar yang membebaninya. Tapi saat ini, Suluh enggan untuk mundur dan menyerah.
...----------------...