
Tampak dua insan yang ada di sana sibuk melakukan aktivitas, memenuhi kuburan itu dengan tanah. Di bawah pohon rindang yang berada di bukit tempat favorit Suluh menghempaskan keluh kesah, mereka memendam mayat kedua orang tuanya di sana. Memupuk semua harapan besar bersama dengan mereka, dunia Suluh runtuh seketika. Dia berlutut di antara dua gundukan tanah, tak dapat menahan air mata yang sedari tadi ditahan. Terisak tak memedulikan apapun di sekitar.
Guru Madiarta yang menemaninya ikut bersimpuh, menyentuh bahu Suluh yang kini bersujud dengan tubuh bergetar hebat. Kedua mata kakek itu ikut sendu, mereka manusia yang teramat baik dan selalu rutin hadir di Padepokan Mawarhitam sekadar menemani bercerita. Mengisi kehampaan yang tak ternilai. Terlebih ketika melihat Suluh hancur berantakan, dia tahu betul rasanya kehilangan orang yang sangat berarti.
"Kuatkan hatimu, anakku," kata kakek itu lirih, mencoba menenangkan Suluh.
"Guru," timpal anak itu di sela-sela isakan. "Hari-hariku kacau!"
"Aku tak menemukan keberadaan adikku dan keluarga Tuan Arnadi," Suluh meneruskan tanpa beranjak barang sedikit. "Sekarang aku kehilangan orang tuaku!"
"Semua itu hanya dalam sehari saja!" Suara Suluh seperti frustrasi, tak dapat menerima takdir yang kelewat tak berbelas kasih. "Kenapa harus secepat ini?"
"Semua ada nasihat yang dapat dipetik, Suluh," seru Guru Madiarta sambil mendongak ke atas. "Semua hal yang kita alami adalah sesuatu untuk membuat kita lebih baik."
"Jiwa akan selalu kembali ke 'Segara' tempat kita semua berasal," tutur kakek tersebut sembari memicit bahu Suluh. "Seperti aliran sungai yang berasal dari samudra dan akan selalu kembali ke sana."
"Kesedihan adalah bentuk emosi manusia yang tak buruk sama sekali," imbuh Guru Madiarta semakin lama semakin lirih. "Tanpanya, manusia mungkin akan menjadi makhluk yang bengis dan tak tak berperikemanusiaan."
"Namun, Suluh." Anak itu sontak terduduk, menoleh ke kakek yang tengah berdiri di tempat. "Jangan sampai kau dikuasai dan melebur dengan emosi itu. Dia akan membuat dirimu lemah maupun kehilangan kendali."
Kakek dengan rambut yang sudah menua itu kemudian memetik suatu bunga berwarna biru dari rerumputan liar, menaruhnya di atas kuburun. "Selalu ingat untuk merelakan dan menahan diri."
Suluh sontak teringat kalimat Sekar tatkala mereka berempat mata di balkon rumah Tuan Arnadi. Anak itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur suasana hati yang masih dilanda awan kelabu. Dia berdiri, ikut memberikan bunga bermekaran kepada kedua orang tuanya yang tenang di alam sana. Meski Suluh berusaha tegar, bibir itu masih bergetar, belum kuat menahan tangisan.
"Aku diberikan amanah oleh ibu sebelum tiada," seru anak tersebut dengan suara serak sambil sesekali menarik cairan yang merembes di indera penciuman. "Aku harus menemukan adikku, Guru, memastikan keselamatannya."
__ADS_1
"Kalau tidak salah, mereka menawariku liburan ke suatu tempat," lanjut anak laki-laki itu terpikirkan sesuatu. "Tapi aku sama sekali tak tahu ke mana."
"Bila seperti itu kasusnya," sahut Guru Madiarta menepuk-nepuk tangan yang terdapat tanah. "Aku yakin dia bertahan di suatu kota bersama mereka."
Suluh mengangguk cemas. "Aku berharap demikian."
"Yang utama saat ini adalah bersembunyi," kata kakek tersebut masih menunduk, memperhatikan makam. "Tak banyak yang bisa kita lakukan. Cepat atau lambat wira-wira Ganendra akan memenuhi Niskala."
"Tapi, Guru, aku tak bisa tinggal diam. Aku tak bisa menerima orang tuaku berkorban dengan sia-sia." Suluh merekatkan giginya, tangan buatan itu mengepal kuat-kuat. "Aku harus menghentikan orang itu sebelum dia menghancurkan Bentala!"
"Aku tahu, muridku," seru Guru Madiarta menoleh ke arah anak tersebut. "Tapi kemampuanmu masih belum maksimal untuk melawan mereka dengan kekuatan yang bahkan setara dengan Makhluk Mistis."
"Kau butuh waktu," imbuh kakek Madiarta kemudian berbalik, memperhatikan desa yang telah rata dengan tanah. "Dan coba kendalikan kekuatanmu itu."
Suluh membisu, tak berkutik menerima fakta yang dilontarkan Guru Madiarta. Kekuatan yang bersemayam dalam dirinya itu amatlah berbahaya dan mengerikan. Bila dia tak mampu mengendalikan emosi seperti yang telah diperbuat melawan wira-wira Ganendra sebelumnya, kemungkinan besar dia dapat menciderai insan-insan terdekatnya. Secara bersamaan, kekuatan yang luar biasa akan lebih condong ke dalam kerusakan, memperkeruh hati sampai akhirnya terlena dengan kebobrokan.
Pertama yang harus dilakukan anak itu adalah memurnikan kembali sukma serta benak yang ada di kepala. Kematian orang tuanya masih menempel sisa-sisa dendam kesumat, merelakan adalah satu-satunya cara agar Suluh dapat terbebas dari dorongan tersebut. Namun, itu tak akan mudah, butuh niatan yang lebih besar dan usaha sungguh-sungguh. Maka kakek Madiarta mulai memberikan suatu adicita yang akan mengubah cara Suluh memandang dunia.
Adicita ini adalah cara manusia melihat suatu keburukan yang dialami sebagai hal yang tak dapat diubah. Kematian, kekecewaan, serta hal-hal yang di luar kontrol manusia, mereka harus menerima dengan lapang dada. Tidak boleh mencemooh maupun bersilat lidah. Memilih berdamai daripada kericuhan bila dapat diusahakan. Terus merawat hati agar selalu murni dan suci, terbebas dari kotoran yang meracuni manusia membuat suatu kebusukan.
"Karena untuk terus berbuat baik adalah kekuatan yang luar biasa," kata Guru Madiarta yang duduk bersila di atas matras rotan. "Kemampuan untuk menahan dari keburukan itu sangat sulit dilakukan bila kau tak memiliki apa-apa."
"Hatimu akan mengutuk sesuatu yang bahkan di luar kehendakmu." Kakek itu menuangkan minuman dari teko tersebut ke dalam kedua cangkir. "Mempertanyakan keadilan tolak ukur dari sudut pandang kita sendiri."
"Bukankah kita, selalu memiliki kecenderungan melihat sesuatu dengan satu arah?" Guru Madiarta terlihat semakin kurus, keriput di mukanya semakin kentara dan mulai meminum teh tersebut. "Aku telah mendidikmu selama dua tahun ini, muridku. Kau menjadi anak muda yang kuat serta mampu mengendalikan emosi dengan baik."
__ADS_1
"Sekarang, aku ada tugas untukmu," seru kakek Madiarta menaruh seonggok kantong kain yang berisikan koin di hadapannya, berniat memberikan semuanya kepada Suluh. "Semua ilmuku telah merasuk ke dalam dirimu, tak ada lagi yang tersisa dariku. Pergilah, kenalilah dunia Bentala yang kau tempati ini. Pengalamanlah yang kini menantikanmu."
Suluh terbelalak, anak muda yang sudah berumur enam belas tahun itu berubah banyak. Rambutnya memulur sampai harus diikat 'ekor kuda', muka rupawan tersebut tak sesekali sirna dari ekspresi yang lebih rileks, terkendali, dan dewasa. Dia tak tahu harus membalas apa, tapi ini sudah merupakan keputusan Guru Madiarta serta tugas yang harus diemban. Untuk memahami dunia, kita harus melihat dunia sembari memahami keanekaragaman yang bervariasi.
"Tapi, Guru, bagaimana bila mereka menemukan dikau di sini?" ucap Suluh yang mencemaskan keadaan kakek itu.
"Maka aku akan melawan bila diperlukan," balas Guru Madiarta dengan senyuman. "Kau tak usah mengkhawatirkan aku, anakku, mereka tak akan bergerak untuk sementara waktu."
Suluh menunduk lama, memikirkan semua konsekuensi yang ada. Dia lalu mengangguk, kembali menatap kakek di hadapannya dan berkata, "Baiklah, Guru. Aku akan mampir ke sini bila kembali ke Niskala."
Madiarta tersenyum lebar sambil menarik napas dalam-dalam. "Aku tak apa sendirian. Lagipula, aku sudah berada di sini selama bertahun-tahun dan tak ada siapa pun sebelum kau hadir di sungai itu."
"Aku melihat bocah naif yang merisaukan dunia tak mau menerima karena dia lemah," sambung Guru Madiarta melirik ke arah Suluh. "Sekarang anak itu tumbuh menjadi pemuda yang menerima dirinya sendiri tanpa harus membuktikan apa-apa."
"Terima kasih, Guru," laki-laki tersebut lantas membungkuk, bersujud seketika. "Tanpamu, aku tak akan sampai sejauh ini."
"Bawalah ini untuk bekal berkelanamu." Madiarta meletakkan benda itu di antara mereka.
Suluh kelabakan, tak terkira kakek tersebut akan mewariskan benda bernilai kepadanya. "Ini?"
"Pusaka Keris Ratihramata," tutur Guru Madiarta memperkenalkan. "Di dalamnya terdapat kekuatan yang istimewa. Gunakan alat itu hanya dalam keadaan terdesak, anakku."
"Semoga Prana selalu bersamamu."
...----------------...
__ADS_1