Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
6. Guru


__ADS_3

Suara air yang mendarat deras itu mewarnai suasana dikala anak bernama Suluh berdiam membeku di atas batu. Dia duduk bersila--bermeditasi--mencoba kembali ritual yang menarik unsur Prana merasuk ke dalam tubuh. Namun, di dalam hatinya masih tersimpan kemelut kericuhan. Antara dia telah menerima Prana atau tidak.


Suluh sendiri tak bisa merasakan eksistensi mereka, tak sekali-kali berinteraksi. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan untuk sekadar membuktikan, berkutat dengan keraguan. Terlebih fakta yang diutarakan ayahnya semalam yang membuktikan bahwa benda buatan itu tak serta merta dapat dioperasikan tanpa adanya Prana.


Selepas Arnadi dan Sekar kembali ke kediaman, malam itu mereka membahas apa yang diceritakan. Di bawah sinar lentera, mereka menikmati makan malam tanpa ada usikan. Lauk ikan hasil balas kasih tamu terhormat tersebut terlihat menggoda, menggugah selera makan. Terlebih dengan campuran sambal itu tak dapat meredakan kerakusan Sabrina.


"Sabrina, makannya pelan-pelan," suara lembut dari Arumi itu tak diindahkan sama sekali. "Kamu bisa tersedak nanti."


"Ibu! Jarang sekali kita makan seperti ini!" Sesuatu mulai melompat keluar dari mulut Sabrina yang masih mengunyah sambil berbicara. "Masakan ibu memang terbaik!"


Arumi mencoba menenangkan putri kesayangannya sementara Suluh hanya tertawa cekikikan. Tapi hal itu tak dapat dibantah disebabkan mereka memakan ikan laut mungkin sekali dua kali dalam setahun, rasa lezat yang tiada tara tak heran membuat Sabrina kehilangan kendali. Suluh yang dibuat tenggorakannya sesak tak dapat menahan diri, dengan sekelebatan memakan masakan di hadapan.


"Kalian kelaparan sekali," cibir Bara yang semarak memperhatikan anak-anaknya. "Berterima kasihlah kepada Tuan Arnadi."


Sabrina tiba-tiba berteriak, "Kak Sekar! Sering-seringlah ke sini!"


Seisi rumah dibuat terbahak-bahak melihat tingkah Sabrina yang kocak. Bara kemudian berseru, "Kebaikan mereka sudah terlalu banyak, ayah hanya dapat membalas itu dengan sedikit ilmu."


"Apa itu, Ayah?" sahut Suluh penasaran sambil melalap ikan yang ditumpuk nasi dengan sendok.


"Kau tau, kalau beliau terobsesi dengan alat bantumu?" kata Bara dibalas anggukan oleh Suluh. "Ayah memberitahu cara merakitnya sedikit demi sedikit."


Suluh yang hendak melahap makanan itu urung, meletakkan kembali di atas piring. Dia teringat obrolan Rahayu tentang tangan dan kaki buatan miliknya tak akan berfungsi bila tak ada faktor lain. "Ayah, aku sempat berbicara dengan mereka, terutama ibu Sekar."


Ruangan makan itu mendadak serius, semuanya memasang telinga membiarkan Suluh menuntaskan kalimat. "Dia berkata bahwa ada sesuatu yang membantuku dalam memakai alat-alat ini. Apakah itu benar?"


Bara melirik sekilas kepada Arumi yang sama-sama bertukar netra. Istrinya seakan memberikan kode, memaksa Bara kembali menatap Suluh yang duduk di depannya. "Ya, kemungkinan besar seperti itu."


Suluh terhentak, kelopak mata terbuka lebar. "Apa ... apakah itu Prana?"


Pria itu tak langsung membalas, masih bertanya-tanya. "Ayah masih belum tahu."

__ADS_1


"Saat kau berusia dua tahun," sela Bara memamah sedikit makanan yang ada di piringnya. "Ayah mencoba membuat benda itu dan tak ada hasil yang memuaskan."


"Tapi, entah bagaimana, ketika ayah menambahkan kawat-kawat tembaga di tangan buatanmu," sorotan mata itu kini sepenuhnya melihat ke arah Suluh. "Alat itu bergerak. Kau memberikan efek."


Pemuda itu hanya membisu, makanan yang semula menggiurkan tak dapat lagi menarik rasa lapar Suluh. Bara kembali berucap, "Ayah dan ibu tak memikirkan sebab apa yang membuatmu berhasil memakai alat bantu itu."


"Kami hanya tahu bahwa kau adalah anak yang luar biasa." Senyuman Bara merekah yang di atas bibirnya tumbuh kumis tipis.


"Bila itu adalah Prana," kata Bara kembali memakan makanannya. "Maka kau mungkin harus mencari tahu bukti eksistensinya?"


Mata hazel itu terbuka, terlihat merefleksikan lingkungan di sekitar. Suluh mengatur deru napas, mencoba berkonsentrasi. Namun saat dia hendak bermeditasi kembali, suara entah dari siapa mengacaukan itu semua. Pemuda itu buru-buru menoleh ke arah manusia yang tampak sudah tua, membawa tas rotan serta sebuah kail.


"Apa yang kau lakukan di sana?" seru kakek itu seperti terusik.


Suluh kelabakan merespons seadanya, "Ah, aku latihan, Kek."


"Latihan apa duduk-duduk seperti itu?" timpal kakek itu melangkah ke tepian sungai. "Bila kau ingin mandi jangan di sini. Cari tempat lain!"


"Oh?" Dia menaruh kursi kecil itu kemudian duduk, siap-siap memancing dengan umpan berupa cacing tanah. "Maksudmu tenaga Prana?"


"Benar, Kek!" sahut Suluh yang masih berada di tempat. "Tapi ... aku masih belum yakin."


Kakek itu sempat menoleh, sadar bahwa anak itu memakai alat bantu. "Kau tak tahu cara merasakan mereka bukankah begitu?"


Suluh sontak terpenjat, dia berdiri secepat kilat. "Bagaimana Kakek tahu?"


Pria tua itu melempar kail ke sebuah air yang kalem, tak sesekali menoleh kepada Suluh. "Itu karena Prana memerlukan konsentrasi terpusat."


"Aku tidak mengerti, Kek," kata Suluh sambil mengernyitkan dahi. "Selama ini aku berusaha berkonsentrasi semaksimal mungkin tapi tiada hasil."


"Benarkah?" kakek itu menoleh, sorotan mata yang tampak masih berkharisma itu menusuk iris Suluh. "Lantas kenapa kau masih bisa bergerak?"

__ADS_1


Suluh membeku, benar-benar tersesat dan tak bisa memahami. Pria tua itu lantas berseru, "Kosongkan semua indra, termasuk aksesmu kepada mesin-mesin itu."


Suluh terpantik, baru mencerna maksud kakek itu. "Ta-tapi Kek, bagaimana caraku melakukannya?"


"Apa pentingnya Prana untukmu?" dia masih fokus kepada Suluh, melalaikan kail yang belum ada korban.


Suluh yang mendengar itu sedikit tersakiti. Tangannya mengepal, ambisinya membara seketika. "Aku ingin bersekolah di Padepokan Cenderawasih dan membuktikan bahwa aku tidaklah lemah."


Melihat tatapan serius Suluh, kakek itu beralih ke depan, melepas napas dalam-dalam. "Menerima Prana tidaklah hal krusial untuk dapat masuk di Cenderawasih. Pertama, kau harus tahu bela diri."


Suluh mulai curiga dengan identitas kakek itu. Dia terlalu banyak tahu sesuatu bahkan sekelas Perguruan Cenderawasih. "Siapa kakek sebenarnya?"


Dia terdiam beberapa saat sebelum membuka suara. "Aku pernah melatih di sana."


Suluh mendengar rumor yang telah beredar bahwa ada salah satu sesepuh berbakat yang memutuskan keluar dari Padepokan Cenderawasih dikarenakan sebuah konflik internal. Dan dari berewok tua sedada itu memberikan kepastian ciri-ciri khas sesepuh Cenderawasih. Manusia hebat itu ada di depan mata Suluh.


"Apakah Kakek adalah Guru Madiarta?" kata anak itu mencoba memastikan.


Tak ada respons dari kakek itu, tak menimpali. Suluh melompat ke bawah dari batu ke batu lain, mendekati Madiarta yang sibuk membetulkan kail tanpa buruan. Tanpa disadari, Suluh membungkuk dalam-dalam, memejamkan mata sambil melontarkan permintaan, "Guru, kumohon didik aku!"


Madiarta terdiam, memaksa Suluh meneruskan kalimat, "Aku tak ingin selamanya menjadi lemah, aku ingin bisa melawan! Dapat melindungi orang-orang yang aku cintai dan mereka yang bernasib sama sepertiku!"


"Tapi," kini tundukan berubah bersimpuh, lalu bersujud dengan isakan tangis. "Untuk merasakan Prana saja aku tak mampu, tak ada keterampilan bela diri sama sekali! Bagaimana impianku dapat terwujud bila aku masih lemah seperti ini?"


"Aku tak tahu lagi caranya, sudah kehilangan arah," tangisan itu semakin tak terkendali, putus asa dengan semua usaha yang dikerahkan. "Kumohon, Guru Madiarta, angkat aku sebagai muridmu."


Kakek itu tiba-tiba berkemas, melangkah sedikit lalu berhenti tepat di depan Suluh. Tatapan nanar itu melihat ke bawah, merasa iba. "Berdirilah!"


Mendengar itu Suluh bangkit seraya menyeka air mata yang masih merembes. Tatapan mereka kini tertaut, iris hitam Madiarta tampak masih bersinar akan kehebatannya seakan membius Suluh saat itu. Aura yang dipancarkan masih terasa mengintimidasi. Suluh dibuat ketakutan.


"Kuatkan hati dan ambisi yang berkobar dalam dirimu," kata Madiarta yang melangkah mendahului Suluh. "Mari kita lihat sejauh mana kemampuanmu."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2