Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
8. Latihan


__ADS_3

Suara las karbit yang menyatukan dua benda padat itu terdengar di bilik cilik yang tampak kumuh. Di sana berserakan mesin-mesin yang berbentuk tangan, terlihat rusak tak karuan. Pria yang memakai helm khusus itu terbuka setelah selesai melakukan kegiatan, Bara menilik secara rinci dengan mengangkat benda itu ke atas yang disinari celah-celah baskara.


"Ini, Yah," suara merdu itu berasal dari Sabrina yang datang membawa minuman berwarna kecokelatan. "Sabrina buatkan teh."


"Wah tepat sekali," Bara meletakkan kembali alat itu di atas meja yang dipenuhi peralatan mekanik. "Ayah kehausan."


Pria itu menerima dan secara bersamaan Sabrina bersuara, "Kakak kemana, Yah? Sabrina tak melihat kakak sama sekali."


Bara menyeruput minuman itu sebelum berseru, "Kakakmu sedang meniti cita-citanya."


"Maksud Ayah?" timpal Sabrina yang kelabakan.


Pria itu menaruh minuman tersebut dan kembali berkutat dengan mesin di hadapannya. "Dia berlatih keras untuk bisa diterima di sekolah Cenderawasih."


Sabrina menilik mendengarkan, mempersilahkan Bara untuk melanjutkan penjelasan. "Kakakmu meminta ayah untuk membuatkan tangan buatan dengan lapisan kayu. Mungkin besi tak dibolehkan dalam tes."


Sabrina memiringkan kepala sedikit kebingungan. Pertanyaannya yang masih belum terjawab lantas berkata, "Tapi Ayah, sebenarnya kakak berada di mana?"


"Rahasia," seru Bara dengan nada bercanda.


"Ayah!" Sabrina memanyunkan bibir kecil itu dengan sebal sambil menghentakkan kaki.


Namun Bara malah terkekeh melihat respons anaknya. Saat semua dirasa mereda, dia berujar, "Apakah adik tahu Kakek Madiarta?"


Sabrina menoleh ke kanan dan kiri, tanda ketidaktahuan. Sambil membenarkan alat mekanik, Bara bertutur, "Dia adalah mantan mentor di sekolah tersebut. Dan sekarang, kakakmu berada dalam bimbingannya."


"Wah, bukankah itu bagus?" tukas Sabrina dengan muka berseri-seri. "Pasti kakek itu orang luar biasa."

__ADS_1


Bara lantas tersenyum sambil mengangguk. Dia kemudian menoleh ke arah Sabrina dan berkata, "Benar, dia sangat luar biasa. Dan ayah yakin bahwa kakakmu akan berhasil suatu saat."


"Meski dengan kekurangan itu, kelebihannya amatlah besar."


Suara benda bersentuhan itu terdengar merembet ke semua arah. Benturan demi benturan dikerahkan oleh kedua tangan yang dibalut kayu itu, memukul-mukul boneka yang terbuat dari bahan yang sama. Di badan boneka tersebut ada dahan-dahan yang bila disentuh, dahan lain akan bergerak. Jadi selama Suluh menumbuknya, dia harus selalu fokus dengan dahan-dahan lain agar tidak terkena serangan balik.


Namun saat ini, sudah berkali-kali dia menerima hantaman dari boneka itu dikarenakan kurangnya konsentrasi. Saat Suluh melabrak dengan kaki, dahan sebelah atas berputar dan hampir mengenai wajahnya bila tak dia tepis dengan tangan. Begitu berlaku sebaliknya. Ini seperti yang disebut oleh Madiarta sebagai latihan kepekaan. Sebagai murid bela diri, kepekaan adalah hal yang harus dikuasai.


"Bila kau tak awas dengan keadaan di sekitarmu," seru Madiarta yang menyilangkan tangan di depan dada. "Maka seberapa kuat seranganmu, itu tak lagi relevan."


"Kau akan selalu kalah bila hanya terpusat ke satu titik ketika musuh bahkan tidak hanya satu," cetus kakek itu sambil melangkah sedikit demi sedikit mendekati Suluh yang kesusahan. "Dengan menguasai ini, kau akan bisa melawan mereka."


"Ingatlah, Suluh," kini Madiarta berada di sebelah muridnya. "Disaat kau menyerang, ada titik lemah yang terbuka. Oleh sebab itu kau harus tahu cara bertahan sebelum melakukan hal tersebut."


Keringat mengalir dari dahi anak muda itu dan berseru, "Baik, Guru!"


"Guru!" Suluh membungkuk dalam-dalam sebelum Madiarta keluar dan menutup pintu depan yang berdecit keras, menggema ke segala penjuru ruangan.


Tempat itu terlihat luas dengan matras yang besar di atas lantai tengah. Meski terlihat tidak ada apa-apa kecuali alat di hadapan Suluh dan karung samsak, tempat itu bersih dari debu. Itu dikarenakan Suluh telah membersihkannya, tak sampai hati membiarkan dojo tua ini terbengkalai.


Kata Madiarta, dulu tempat itu adalah Padepokan Mawarhitam yang reputasinya menurun, diambil alih oleh Cenderawasih. Nama baik tersebut lambat laun ditelan oleh Bentala selama hampir setengah abad berlalu. Sebab mungkin tempat ini berada di tengah hutan beserta arah yang rumit berkelit. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa untuk sampai ke Padepokan Mawarhitam itu sudah merupakan tes masuk.


Suluh terus meneruskan aksi yang semakin lama semakin memahami. Aliran serangan dan cara bertahan sedikit demi sedikit mulai beradaptasi. Mereka berlaku seirama. Gerakan tangan dan kaki harus sinkron, tiap serangan terkoneksi dengan pertahanan. Senyuman semringah tersuguhkan, semakin optimis bahwa dia dapat melakukan latihan yang diemban.


Terlepas teknik itu untuk menghadapi musuh lebih dari satu, bila dapat menguasainya, dia mungkin tak akan tersentuh ketika berduel. Madiarta memberitahukan bahwa latihan tersebut membuat lawan kesulitan menemukan titik lemah, disaat bersamaan tingkatan serangan tak terlalu mematikan. Jadi kuncinya terletak di ketahanan, membiarkan mereka menguras banyak tenaga dan dikala mereka mulai lengah, saat itulah kesempatan tiba.


Setelah berjam-jam terlewati, Suluh memutuskan untuk rehat sembari keluar sekadar mencari udara segar. Semilir menyambutnya, mengibaskan pakaian putih dan rambut hitamnya. Tubuh berkeringat yang awalnya gerah berubah adem ayem, mencurahkan semringah disaat menarik napas dalam-dalam. Dia sempat mengedarkan pandangan, memperhatikan rumah-rumah yang berjejer di halaman.

__ADS_1


Padepokan Mawarhitam terdiri dari beberapa bangunan. Rumah bela diri, rumah pengetahuan, aula informasi, dan rumah para mentor. Sebagian besar padepokan di belahan Bentala harus memiliki empat unsur bangunan tersebut. Suluh menuruni tangga kecil itu dan melangkah ke aula di tengah-tengah halaman yang luas. Sekadar melihat-lihat. Terutama sebuah vas aneh yang ditumbuhi hanya satu bunga matahari, mencuri daya tarik anak itu.


Belum sempat Suluh meraba tanaman di depannya, suara serak sontak membuatnya terperanjat. Dia adalah Madiarta, membawa tas rotan yang penuh dengan ikan tawar. "Bagaimana latihanmu?"


"Ah, Guru!" sahut Suluh buru-buru memberi hormat. "Aku mulai dapat mengimbangi alirannya."


"Bagus," Madiarta mendekati Suluh akan tetapi sorotan mata itu masih terpusat kepada tanaman cantik di sana. "Mari kita lihat hasilnya."


"Guru," kata Suluh ketika Madiarta menyandarkan tas itu di sebelah vas. "Mengapa ada bunga di sini?"


Madiarta lak lekas merespons, dia terdiam beberapa detik sesekali menoleh ke arah anak itu. Dari kedua mata yang di sudut-sudutnya mengeriput, Suluh dapat melihat ada rasa sedih di dari sana. Mimik kakek itu seketika berubah suram, Suluh merasa bersalah dikarenakan telah menanyakan. Madiarta kemudian hanya tersenyum simpul, meraba-raba bunga indah itu dengan lemah lembut.


"Ini untuk manusia istimewa yang tak lagi disisiku," lirih kakek itu membelai tenaman di hadapannya. "Representasi sebagai kenangan agar aku selalu mengingatnya."


Madiarta kemudian mengangkat wadah yang terbuat dari kayu dan menyiram bunga matahari tersebut secara hati-hati. Dia meneruskan, "Dan merawat memori itu."


"Maafkan aku, Guru." sesal Suluh sambil menunduk.


Sementara kakek itu kini terpusat kepada murid satu-satunya yang dia miliki, mendekati Suluh hingga keberadaan mereka hanya terpaut dua langkah. "Lindungi dan bahagiakanlah mereka yang kau sayangi sebelum kau menyesalinya di kemudian hari."


Suluh terbelalak mendengarkan kalimat kakek itu. Dada Suluh terasa sesak, dia pun tercekat. Amanat itu merasuk ke dalam sanubari Suluh, tersimpan rapat dan tak membiarkan itu keluar dengan selamat. Kedua mata anak tersebut berubah serius, mengangguk mantap dengan keyakinan yang meningkat. Itulah ambisi sebenarnya dia ingin bersekolah di Cenderawasih dan menjadi kuat.


"Kalau begitu, mari kita lihat hasil latihanmu tadi," Madiarta berjalan mendahului Suluh ke halaman luas.


"Baik, Guru!" cepat-cepat anak itu membuntuti Madiarta, membuktikan usaha yang dikerahkan.


Mereka kini berada di hamparan yang ditumbuhi rumput liar, saling memberikan jarak satu sama lain bersama ancang-ancang yang tengah dipersiapkan. Kali ini Suluh merasa percaya diri, yakin dengan kemampuannya. Dia harus menunjukkan bahwa dia bisa.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2