
Gadis berambut hitam yang melambai-lambai tatkala dia berlari menerobos hutan itu tampak buru-buru. Membelah semak-semak sampai berhenti tepat di tepian sungai yang terdapat Guru Mahendra duduk bersantai. Sadar bahwa dia telat membawakan makanan sebagaimana mestinya, Indira membungkuk dalam-dalam serta meminta ampunan.
"Maafkan aku, Guru!" tutur Indira berkali-kali menaik-turunkan kepala. "Aku hampir lupa membawa bekal kemari."
Kakek itu tak terlihat kecewa maupun kesal, dia dengan senyuman merekah berkata, "Tak masalah. Tugasmu terlalu sesak untuk bisa kau atur waktu, seharusnya aku tak membebanimu lebih dari ini."
Guru Mahendra lantas berkutat ke arah Suluh di sana dan berseru, "Duduklah, Indira."
Perempuan itu menuruti, duduk sambil menata makanan disaat kakek itu kembali berujar, "Bagaimana dengan latihannya?"
Indira terdiam sebentar, mengingat-ingat sesuatu. "Belum ada yang berkultivasi, Guru. Kecuali anak bernama Samudra."
"Seperti itu, kah?" kata kakek Mahendra yang tampak tak heran. "Tak aneh, sebab di hari kelima dia sudah merasakan Prana."
Indira mengangguk menanggapinya, mencurahkan apa yang ada di benak. "Disaat yang lain belum sampai tahap pertama, dia sudah mampu menerima Prana dengan waktu yang relatif singkat."
Perempuan itu mempersiapkan nasi dan lauk-pauk di sebuah wadah, memberikannya kepada Guru Mahendra. "Ini untukmu, Guru."
"Terima kasih, anakku," kata kakek tersebut bernada lirih, menerima wadah rotan yang di atasnya terdapat daun pisang. "Itulah anugerah, di antara manusia mendapatkan kelebihan tersebut. Pasti ada maksud di balik ketentuan itu."
"Tapi, Guru, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," Indira memamah makanannya sedikit demi sedikit. "Menurut Guru, mungkinkah Suluh memiliki Prana di dalam tubuhnya?"
"Karena menurutku, memakai alat bantu selincah itu mustahil bisa dilakukan bahkan untuk anak dari usia empat tahun," racau Indira yang sadar bahwa dia diabaikan oleh Guru Mahendra. "Guru?"
Kakek itu meletakkan kembali wadah tersebut di atas matras, kedua kelopak mata terbelalak, terpaku ke arah Suluh. "Mungkinkah itu?"
__ADS_1
Indira merasa aneh dengan Guru Mahendra, ikut serta menilik anak yang bermeditasi di sana. Tak ada yang mencurigakan, Suluh masih terdiam di tempat. "Guru, ada apa?"
Gadis itu tak dapat merasakan maupun melihat sesuatu yang tampak dari kedua mata Guru Mahendra. Suatu aura yang berkobar-kobar dari sukma Suluh, memanas dan terus memancarkan sinar yang semakin lama semakin cerah. Tubuh anak itu, tidak diragukan bahwa terdapat Prana dengan skala yang luar biasa. Bahkan bisa dikatakan tak terbatas.
"Apakah manusia biasa dapat menyamai Makhluk Mistis?" bisik Guru Mahendra tanpa sadar.
Anak itu larut ke dalam dunia spiritual, tempat di mana semua Prana terkumpul. Benda-benda bak butiran debu yang berterbangan itu satu per satu mulai mendekati Suluh, menempel dan merasuk ke dalam tubuh. Namun hal yang tak diketahui anak tersebut bahwa sinar yang sama telah berada di dalam diri Suluh, terlalu banyak sampai-sampai kumpulan titik tersebut memenuhi jiwa.
Tak terkecuali kedua tangan dan kaki, mereka menampakkan tanda-tanda Prana yang berbeda. Seakan-akan mengikuti arus serat tembaga dari alat-alat bantu itu, memberikan sebuah energi yang ternyata adalah alasan di balik kemampuan Suluh memakai benda-benda tersebut. Hal yang tak terkira adalah, semakin Prana dari luar masuk ke dalam, sinar yang menjalar itu memudar, lama kelamaan tak memancarkan apapun. Hanya kekosongan.
Selama itu pula, badan Suluh merilis suatu hawa yang tak bersuhu. Seperti embusan angin yang teramat kuat, busana hitam Cenderawasih tersebut melambai-lambai ke atas. Rambut hitam Suluh berkibar-kibar akibat atmosfer yang dihasilkan. Bahkan aliran air yang semula baik-baik saja, berubah bergemuruh, menciptakan gelombang yang tak beraturan memutari batu yang diduduki Suluh.
Namun pemuda itu masih berkonsentrasi, memusatkan semua kesadaran di dalam sanubari. Demikian selama dia berada di alam bawah sadar, indra yang semula tuli kembali dihiasi suara-suara aneh. Suara manusia bercengkrama entah apa, sebuah teriakan, isakan, serta suara lembut Sekar. Semula apa yang dikatakan perempuan itu masih samar-samar, sampai dia melihat sendiri muka dambaan hati tersebut dari dekat.
Lumpur, debu, bahkan darah memenuhi paras elok Sekar. Mata sembab yang telah memerah seperti terisak sekian lama, memaksa tersenyum lalu berseru lirih, "Sampai bertemu kembali, Suluh."
"Bagaimana dengan kultivasimu, anak muda?" seru kakek itu terdengar parau.
"Tetua?" Suluh masih terbelalak, tak terkira bahwa Kepala Cenderawasih sendiri mau repot-repot membesuknya sendirian. "Kenapa Tetua berada di sini?"
Dia terkekeh lalu bertutur, "Sekadar memeriksa apakah yang dikatakan Mahendra bukan bualan semata."
"Dan dia tidaklah salah," imbuh Tetua Mustari tak sesekali mengalihkan sorotan mata selain ke arah Suluh.
Dia tak tahu maksud kakek itu akan tetapi kehadirannya di sini terlalu beralasan dan aneh. Terlebih ketika Suluh hendak berdiri, dia tak bisa merasakan kedua kaki buatan tersebut. Bahkan kedua tangan yang selalu dapat dimainkan, secara mendadak kaku. Dia lumpuh, memantik kerisauan Suluh secepat kilat. Panik karena dia benar-benar tak dapat melakukan sesuatu yang berarti.
__ADS_1
"Tetua, apa yang terjadi?" Suluh kelabakan, ketakutan. "Aku tak dapat menggerakkan kedua tangan dan kakiku seperti biasanya."
"Anak muda, kontrol emosimu," seru kakek tersebut masih duduk bersila, tak seperti keheranan. "Tenangkanlah dirimu, terapkan semua ilmu yang kau dapat dari latihanmu dulu-dulu."
Suluh menurut, mencoba untuk rileks dan menarik napas dalam-dalam. Peristiwa ini tak pernah terjadi sebelumnya. Pastilah Suluh akan sangat was-was dan tidak terbiasa bila dia tak merasakan alat-alat bantu itu. Namun, setelah dia berusaha untuk kembali berselancar ke dalam alam bawah sadar, titik-titik yang semula tak dapat dirasakan kini terpulihkan.
Tangan buatan yang berada di atas lutut tersebut secara perlahan bergerak, diikuti oleh kaki Suluh yang sudah dapat dioperasikan. Saat semua dirasa kembali normal, anak muda itu membuka mata dan menoleh ke Tetua Mustari dengan keadaan suka cita. Meski air muka Suluh masih belum sirna dari kekhawatiran.
"Tetua, apa yang kualami barusan?" kata Suluh mencari tahu.
"Seperti asumsiku sebelumnya, bahwa alat-alatmu itu terkoneksi oleh Prana yang ada di dalam tubuhmu," seru Tetua Mustari mulai berdiri. "Saat kau berkultivasi, indramu terpusat ke dalam satu kesadaran yang membuat aksesmu ke mesin-mesin itu terputus sementara."
"Oleh sebab itu saat kau terbangun, kesadaran Pranamu belum kembali ke tempat semula, ke titik yang seharusnya," tutur kakek tersebut mencurahkan senyuman. "Cobalah untuk atur kembali Pranamu setelah berkultivasi."
"Maksud Tetua, aku telah berhasil menerima Prana, begitu?" Nada Suluh terdengar ceria dan sedikit ada keraguan.
"Ya, itu benar," sahut Tetua Mustari lalu mendongak ke atas. "Dalam skala yang lebih besar dari yang kukira. Bahkan mungkin setara dengan Makhluk Mistis."
Entah Suluh harus bahagia atau tidak, mimik Tetua Mustari malah terlihat cemas. Kakek itu kembali berucap, "Seharusnya aku tak ragu sesaat setelah kau hadir di Cenderawasih. Kalian sama-sama memiliki aura yang sama."
Suluh benar-benar kehilangan arah kali ini, tak memahami uraian kalimat tetua. Namun setelah ditilik lebih dalam, dia teringat akan sosok siluet hitam tersebut. "Akankah itu Mukhalis, Tetua?"
Kakek Mustari sontak menoleh tepat ke arah Suluh yang semula memperhatikan antariksa yang berubah semakin suram. "Kalian berdua tertaut satu sama lain. Kemungkinan besar setelah kultivasimu ini, dia merasakan kehadiranmu."
"Suluh, bilamana takdir telah mencatat alur kehidupanmu," Tetua Mustari semakin menepi, terompah yang dikenakan hampir basah terkena air. "Kau tak akan bisa keluar melarikan diri."
__ADS_1
"Kau harus menerima dan melakukan yang terbaik," imbuh kakek tersebut. "Kami mendoakan keberhasilanmu."
...----------------...