
Suara roda itu berhenti tepat di depan rumah sederhana di saat mentari baru memancarkan sinar dari ufuk timur. Di halaman tersebut ada pria duduk-duduk membaca koran, teralihkan kepada gadis kecil yang keluar dari kereta kuda. Dia berlari cepat masuk ke halaman, disambut cinta dan kasih. Dia adalah Sabrina, memberitahukan semua yang dialami kakaknya dengan antusias.
Suluh tak dapat pulang ke rumah dikarenakan hari ini dia sudah harus masuk sekolah. Oleh karena itu Sabrina kembali akan tetapi tak sendiri. Di latar yang masih berserakan dedaunan, berdirilah Sekar menyaksikan dengan senyuman. Arumi yang baru mencuat dari dalam bilik tamu, ikut melompat bahagia mendengar berita yang disampaikan anak itu.
Mereka dengan perasaan berbunga-bunga, menuntun Sekar masuk ke dalam dan dilayani bak ratu. Meski dengan sekuat tenaga anak itu menolak akan perilaku mereka yang terlampau berlebihan, secara tak diduga-duga memberikan Sekar kenyamanan. Kenyamanan yang telah lama sirna. Dia merasa berterima kasih sebab telah merasakan hal itu kembali.
Sementara di aula luas yang sudah tertata murid-murid berbaris, ada laki-laki bertubuh sehat dan botak mondar mandir di hadapan mereka. Guru Safiudin, seperti itu dia memperkenalkan diri. Pria itu memberikan ilmu-ilmu kepada murid baru untuk selalu menahan amarah, kendalikan emosi dan senantiasa memakai akal sebelum bertindak. Sebab pendekar harus bisa mengetahui baik dan buruk suatu konsekuensi dari setiap aksi yang dilakukan.
Tidak hanya itu, dengan kepala dingin, mereka mendapatkan akes Prana lebih lancar dari orang yang kepalanya diisi oleh kekhawatiran. Penuh hiruk-pikuk duniawi yang melelahkan. Fungsi utama Prana adalah melibas itu semua. Membiarkan mereka menikmati kenikmatan dalam hati sanubari bila semua dirasa damai. Kunci manusia melaksanakan kehidupan.
Guru Safiudin tak berhenti di sana, dia membeberkan tingkatan Prana yang dapat diolah lebih dalam. Pertama adalah Tingkat Batin, hal mendasar yang harus bisa dikuasai sebelum ke ranah lebih besar. Yaitu membuka kesadaran batin rohani untuk dapat merasakan kehadiran unsur tersebut, merasakan Prana merasuk ke dalam tubuh. Mereka tahu bila itu berhasil tatkala Prana memenuhi sukma.
Kedua adalah Tingkat Raga, memaksimalkan kekuatan Prana untuk meningkatkan daya tahan tubuh baik secara internal maupun eksternal. Sebagian besar orang yang mendalami unsur alam akan berada dalam tingkatan ini, membuat mereka kebal akan sebuah penyakit maupun benda-benda yang berpotensi merusak tubuh. Masyarakat awam menamakan mereka dengan sebutan wong-sakti.
Semakin dalam tingkatan Prana, hanya secuil yang berada dalam Tingkat Mandraguna. Biasa diketahui dari kalangan tokoh-tokoh berpengaruh di Bentala serta tetua-tetua sekte yang telah berusia ratusan tahun. Di Cenderawasih sendiri, Tetua Mustari secara eksplisit memberikan contoh bagaimana kengerian kekuatan Prana tatkala dia meluluh lantakkan sebuah rumah secara instan.
Besar kemungkinan bahwa hampir tak ada yang berada dalam tingkatan keempat, Tingkat Alam. Mereka yang melewati ratusan tahun demi mencapai tingkatan ini bahkan hanya dapat berada di ilmu dasar tingkatan tersebut. Belum ada dalam riwayat selama ini manusia mampu mengendalikan keempat unsur alam secara bersamaan. Kecuali mereka yang terpilih dan Makhluk Mistis. Di antara unsur itu adalah api, air, angin, dan bebatuan.
Terakhir adalah Tingkat Keabadian. Ranah ini sudah di luar kemampuan manusia. Ada suatu batas antara mereka dengan sesuatu seperti roh. Mereka--roh-roh itu--adalah suatu keabadian, turun dari Surga tanpa ada campur tangan unsur fana di dunia. Mereka yang diketahui memiliki keabadian hanyalah Makhluk Mistis dan Dewata itu sendiri. Namun, konon katanya, manusia mampu "meminjam" keabadian melalui kontak di antara mereka.
Semua murid di sana tak berkomentar, kebanyakan mendengarkan dan memahami. Tak terkecuali Suluh yang dari dulu sudah teramat penasaran dengan Prana dan apa yang bisa dilakukan melalui unsur tersebut. Mereka yang lama berdiri disuruh untuk duduk bersila, materi kali ini berbeda. Guru Safiudin tak terkira memerintahkan asistennya mendekat, membawa bantalan empuk lalu mengarahkan tangannya searah jarum jam sembilan.
__ADS_1
"Kali ini aku akan memberikan contoh teknik serangan kaki memutar dua kali," kata lali-laki itu menguatkan kuda-kuda. "Lihat serta tiru baik-baik."
Asisten itu bersedia setelah menerima aba-aba dari Guru Safiudin. Pria botak tersebut lantas dengan cepat dan cekatan berputar sambil mengulurkan kaki kanan sementara kaki kiri bertumpu menapak matras. Setelah dia berhasil memberikan sentuhan dengan kaki kanan, kaki kiri kini terarahkan ke bantalan yang ada di atas. Gerakan itu terarah cepat dan dia sukses mendemonstrasikan tanpa ada masalah.
"Ini adalah latihan awal kalian," seru Guru Safiudin sambil merapikan busana hitam khas Cenderawasih. Namun yang membedakan dia dengan murid adalah sabuk merah yang melilit tubuh kurus itu. "Carilah relasi dan lakukanlah secara bergantian. Aku akan memeriksa kalian satu-satu."
Suluh kalang kabut seketika, dia bahkan belum mengenal kawan-kawan sekelasnya. Dia menoleh ke sana kemari, tampak mereka bercengkrama satu sama lain. Ini situasi darurat, Suluh benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Dia cuma kenal Satia akan tetapi anak itu sudah satu tim dengan Samudra yang notabene adalah sahabat dekat. Dia kemudian menengok ke belakang, terdapat laki-laki berambut cokelat kemerahan yang tampak tak kelesah.
Suluh yang dibuat cemas sontak berbicara, "Apa kau belum bersama siapa-siapa?"
Kedua sorotan dia yang terlihat santai itu merespons, "Ya, apa kau mau menawariku?"
"Tentu?" seru Suluh merasa kikuk sekali. "Itupun bila kau mau."
Suluh mengernyitkan dahi lalu bertutur, "Siapa namamu?"
"Savian," cetus anak itu sedikit mencondongkan badan ke depan.
Suluh teringat akan urutan murid baru yang berprestasi, Savian berada tepat di bawah Satia yang menduduki nomor satu. Tak heran dia dapat dengan mudah menguasai teknik yang baru Suluh atau bahkan murid lain tahu. Bakat alami adalah hal yang istimewa, namun berkat itu harus terus diasah biar tak memudar lalu sirna. Suluh mengulurkan tangan, mencoba memperkenalkan diri.
"Aku Suluh," seru laki-laki berambut hitam bergelombang tersebut.
__ADS_1
"Aku tahu," celetuk Savian sambil tersenyum sinis menerima sambutan tangan Suluh. "Tak terkira aku sampai tertarik dan penasaran dengan kemampuanmu memakai alat bantu itu."
"Terlebih daya tahan tubuhmu," dia seketika berdiri, menarik Suluh melakukan tindakan yang sama. "Kebanyakan manusia dengan Tetra Amelia akan mati dengan kondisi seperti ini."
Suluh tak berdaya melainkan terbelalak mendengar betapa seriusnya sindrom yang dia derita. Selama ini Suluh tak sadar bahwa eksistensinya sendiri adalah suatu anugerah. Tak tahu bahwa apa yang dikatakan Tuan Arnadi hari-hari lalu bermakna mendalam dari yang terkira. Suatu keajaiban yang belum ada di masa-masa lampau.
"Mari kita lakukan," timpal Savian yang kembali membawakan bantalan empuk tersebut dan memberikan benda itu kepada Suluh. "Biarkan aku mencobanya dulu."
Suluh mengangguk sembari memasang tumpukan kapas itu di kedua tangan, memperagakan sikap yang sama seperti asisten Guru Safiudin. Kedua mata Savian mendadak serius, iris berwarna kebiruan itu seakan-akan memancarkan dedikasi yang besar. Dia dengan hitungan detik, melakukan teknik Guru Safiudin tanpa ada kesalahan. Kedua kaki itu berhasil menendang bantalan dengan cara memutar dua kali, membuat Suluh terkesan bukan main.
"Luar biasa!" seru Suluh masih dalam suasana terpesona dengan keahlian Savian.
"Bila kau meneliti lebih rinci dari teknik itu, kau akan cepat beradaptasi," kata Savian yang kini memakai benda empuk tersebut. "Aku beri bocoran bahwa teknik ini tak berbeda dari sepakanmu melawan Satia kemarin."
"Hanya saja, tumpuan kaki kali ini sama dengan kaki yang kau lakukan untuk beraksi," tutur Savian membuat kuda-kuda. "Aku yakin teknik ini mudah untukmu."
Kepercayaan itu menambah Suluh kekuatan. Dia dengan semangat membara, bertindak sesuai yang dicontohkan Guru Safiudin. Dia memutar badan, kaki kanan itu mengenai bantalan tersebut dan saat dia landas, kaki kiri terentangkan ke atas. Meski tak sempurna menghantam benda tersebut, setidaknya kaki buatan Suluh dapat sekadar mencolek walau sedikit.
"Mengesankan, Suluh," tukas laki-laki berambut kemerahan tersebut. "Terlepas dari kekuranganmu itu, kau sudah sangat bagus."
"Terima kasih, Savian," Suluh tersenyum penuh kemenangan. Kesuksesan awal yang sudah sangat membahagiakan. "Mari kita lanjutkan."
__ADS_1
Sebagian siswa baru ada yang berada di sana dan ada di suatu tempat lain dengan mentor yang berbeda. Padepokan itu terlihat sibuk akan aktivitas di cuaca cerah dengan terik yang belum memanas. Menempa mereka yang berambisi kuat untuk menempuh cita-cita impian, melatih emosi untuk selalu terkendali.
...----------------...