
Di dalam hutan antah berantah yang dihiasi bukit-bukit, terdapat sebuah rumah kayu yang di depannya terparkir kereta kencana. Merpati yang sempat mampir ke manusia terhormat di Niskala tampak mendarat di salah satu tangan kanan seseorang di sana, memakai seragam wira Asarania yang berwarna hitam serta corak keabu-abuan. Dia mengelus-elus lembut burung tersebut sambil memberikan beras merah, masuk ke dalam kemudian.
"Maafkan hamba menginterupsi, Yang Mulia Permaisuri," seru laki-laki itu sambil membungkuk dalam. "Hamba ada surat untuk Anda."
Penasihat Permaisuri Indraswari mendekat, rambut cokelat yang dikepang sampai ke punggung itu melambai-lambai tatkala dia melangkah. Mata risau tersebut sempat tercetak dari wanita berambut keemasan, meraba-raba liontin mencoba menenangkan diri. Situasi di istana sama-sama merusuhkan, cepat atau lambat musuh akan meluncur ke sana. Oleh karena itu, keluarga kerajaan kini telah mengungsi ke tempat terpencil yang terbebas dari hingar bingar kota.
"Kau boleh kembali bertugas," kata wanita yang diberi nama kesukaan Yang Mulia dengan sebutan Saras. "Terima kasih."
Dia lantas berbalik memperhatikan Permaisuri Indraswari yang tengah terduduk, ditemani anak-anaknya yang tampan dan cantik. Mereka terlihat lelah dikarenakan harus terbangun dari tidur yang belum semestinya, berkelana dengan kereta kuda membuat mereka semakin kesulitan beristirahat. Namun, ditengah kerisauan akan keselamatan buah hati, Indraswari sangat menantikan kabar baik dari suami yang tengah berada di sana, di lini terdepan kekacauan.
"Apakah Anda ingin membacanya sekarang, Yang Mulia?" kata Saras lirih yang tak lekas direspons Indraswari. "Ini dari Raja Reswara."
Wanita itu menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri bilamana mendapati informasi yang tidak didambakan. "Jika waktuku tak terbatas, daku tak ingin membaca maupun melihat isi surat itu, Saras."
"Hatiku sedari di istana terasa tidak enak, firasatku tak sesekali berbuah manis," rintih permaisuri sembari membelai rambut anak bungsunya yang bernama Arunika. "Aku tahu suatu saat ada masanya hal ini benar-benar akan tiba."
"Yang Mulia, Anda tak perlu memaksakan diri," seru Saras berlutut tatkala berada di hadapan Indraswari. "Hamba dan Hendrik selalu menemani Anda."
Kedua mata mereka terkoneksi, iris cokelat itu memancarkan kesetiaan kepada manik biru milik Indraswari. Permaisuri lantas memejamkan mata, terbuka dengan kesiapan lalu berkata, "Berikan itu Saras."
"Tapi, Yang Mulia, apakah Anda--"
"Apapun berita yang hendak disampaikan kepadaku, daku akan menerimanya," sahut Indraswari memotong kalimat penasihatnya. "Meski itu berita baik maupun buruk."
Ada kekhawatiran dalam raut Saras, memberikan surat tersebut. Permaisuri tidak terburu-buru, secara berhati-hati membuka dan mulai menilik kata-kata itu. Sewaktu kali membaca, dia sangat mengenali tulisan tersebut, tulisan buruk yang sulit dibaca namun tersampaikan dengan baik kepadanya. Sontak sesekali Indraswari sedikit terbatuk, napasnya mulai tak beraturan, dan kedua mata itu sembab diisi oleh cairan. Hal itu diketahui oleh Saras secepat mungkin dia mendekat.
"Yang Mulia, apa Anda tidak apa-apa?" Intonasi wanita tersebut terdengar resah dan gelisah ketika Indraswari mulai terisak dengan suara yang memilukan.
Permaisuri Niskala itu tak berdaya, lemah, dan berserah. Dia berusaha keras untuk menahan aliran air mata yang terus menetes, sempat menakuti keturunannya. Dia secara bersamaan memeluk Renan dan Arunika, mencium rambut mereka yang sama-sama berwarna keemasan. Anak laki-laki itu mencoba memeluk balik ibundanya sedangkan Arunika ikut merintih. Siapapun yang memperhatikan keadaan Indraswari hanya dapat terdiam dengan hati yang terluka.
__ADS_1
"Andaikata daku tak meragukanmu kala itu, Kakanda," sesal Indraswari sambil terus menangis. "Dikau mungkin ada kesempatan untuk selamat dari malapetaka ini."
Tubuh remuk tersebut masih dapat bergerak, bahkan hendak berdiri meski dia sudah terlampau lemah. Pakaian lusuh itu menempel kotoran serta bekas terbakar, bahkan di balik robekan tersebut tercetak darah di beberapa bagian tubuhnya. Tak lekas menerima kekalahan. Dia tak akan tunduk oleh kebatilan, tak menyerah sampai menuntaskan apa yang menjadi kewajibannya. Sebab karena diri sendiri, dia menciptakan monster yang kembali membalaskan dendam.
"Aku terkesan, Pak Tua," kelakar Candra yang mulai melangkah ke depan. "Kau merawat Cenderawasih dengan baik."
Dia berhenti tepat di hadapan Tetua Mustari yang kesusahan berdiri, berjongkok sambil berseru, "Murid-muridmu tak terlalu buruk di kompetisi, meski kau masih tak mau mendidik mereka ke ranah alam."
"Lihat apa yang membentuk Tingkat Alam kepadamu," sahut tetua sesekali batuk darah. "Terutama elemen api itu."
Candra lantas tertawa memutar kepala. "Apa yang kau katakan Pak Tua? Apa kau tak ingin murid-muridmu melampauimu?"
"Kekuatan elemen adalah yang terbaik, hampir tak ada yang dapat menguasai unsur ini," imbuh Candra lalu beranjak. "Tapi kau malah membatasi potensi anak-anak itu, tak memberikan mereka kesempatan mendalami kemampuannya."
"Kau benar-benar mentor terburuk," racau anak berambut abu-abu yang berubah putih tatkala disinari cahaya malam. "Aku kasihan kepada mereka yang berambisi kuat sepertiku."
Dengan sekali hentakan, dia menghantam kakek Mustari sampai dia menembus pintu depan rumah itu, menabrak furnitur-furnitur yang berada di sana serta memecahkan vas antik nan berkulit tebal. Dia berhenti setelah menerobos empat ruangan, berakhir di tembok yang retak bercucuran cairan merah kental merembes di dahinya. Namun, kali ini dia sudah dapat berdiri setelah menelan sebuah pil, mencoba membuat kuda-kuda hendak melawan. Walaupun dia tahu tak banyak yang bisa dilakukan.
"Katakan di mana bocah itu!" Siluet yang berada di sana terus melangkah mendekat, terlihat muka Candra yang naik darah tersinari rembulan dari sela-sela ventilasi ruangan luas tersebut. "Maka aku tak akan membunuhmu, Guru."
Namun, Tetua Mustari masih sempat terkekeh terlepas kondisinya sudah sangat memprihatinkan. "Tak ada yang tersisa dariku saat ini, muridku."
"Kau tak akan menemukan informasi apa-apa," kata kakek tersebut lalu membuat suatu gerakan dengan memutar kedua tangan berlawanan. "Anak itu akan menghentikanmu."
"Apa yang terjadi dengan kepalamu, Pak Tua?" Candra mendapati sebuah belati yang tertata rapi di sana lalu mengambil satu. "Aku adalah Mukhalis, aku yang akan membuat Bentala kembali ke era keemasannya."
"Kau hanya membuat Bentala tercekik dan musnah!" Suara Tetua Mustari terdengar marah, menekankan kalimatnya.
"Oh?" Laki-laki tersebut malah tersenyum simpul, semakin mendekati kakek yang terlihat bersedia. "Tapi kau tak tahu kebenaran di balik alasanku melakukan ini, bukan?"
__ADS_1
"Kau tahu, Pak Tua, bahwa Prana semakin terkikis karena anak bodoh yang bernama Reswara itu mulai membuat tumpukan rongsokan," keluh Candra menghunus belati tersebut. "Dan kau tahu yang menyedihkan? Kekaisaran mendukungnya!"
"Saat aku kembali dan tahu bahwa duniaku telah berubah ... aku benar-benar kecewa dengan semua ini!" Candra mulai menyerang dengan lincah. Tidak hanya mahir dalam ranah bela diri tangan kosong, teknik pedang yang dia kuasai pun sangat mempuni.
Namun Tetua Mustari kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya. Dia kembali segar bugar dengan kecepatan yang mampu menahan semua serbuan Candra. Laki-laki itu sempat terheran-heran, bahkan kakek tersebut sempat memberikan hantaman balik beberapa kali, mengacaukan aksi Candra. Oleh karena itu dia mulai sebal, emosi tak terkendali mengacaukan arah belati tersebut. Alhasil tetua berhasil melemparkan benda itu dari tangan Candra dan menumbuk badannya dengan kedua telapak tangan.
Candra terpental dan menabrak tembok yang terbuat dari kayu, bangkit seketika sambil berseru, "Sialan kau, Pak Tua! Kupikir kau ingin mati!"
"Aku tak akan membiarkanmu berkeliaran di Bentala meski sukmaku sebagai taruhan." Kini kakek itu yang memulai serangan, teknik serbuan beruntun tersebut sama sekali tak dapat dielak oleh Candra.
"Apa-apaan dengannya?" Candra sampai harus memakai teknik bayangan demi terbebas dari hantaman tetua yang menghancurkan tembok tersebut, mundur beberapa langkah. "Apa kau menipuku sedari tadi dan mulai serius sekarang?"
"Tidak," sahut kakek Mustari merespons. "Tapi kaulah yang menahan diri."
Candra terbelalak serta terdiam untuk sesaat, tetua tahu bahwa dia masih menunda-nunda. Raut muka Candra sekilas berubah tanpa emosi, kedua mata kembali dingin seakan tak ada belas kasih. Dia lantas membuka kedua kaki, mempersiapkan kuda-kuda sambil merapatkan buku-buku tangan. "Baiklah, Guru Mustari, bila itu yang kau mau."
"Aku akan memastikan bahwa ini adalah tempat terakhirmu," kata laki-laki tersebut sedikit ada rasa segan. "Tempat yang sudah seperti rumah sendiri."
"Kau adalah murid terbaikku, Candra," tutur kakek Mustari, air muka itu terlukiskan kehampaan. "Ini adalah bentuk hukuman yang setimpal untukku."
Dengan kecepatan luar biasa hanya sekelabatan mata, Candra melesat ke depan tetua. Mustari bisa membaca langkah lantas memberikan bogeman mentah yang dapat dihindari Candra. Telapak tangan kanan itu tepat mendarat di dada kekek tersebut, membuat tubuhnya terhempas seketika. Namun, sebelum dia menabrak sesuatu yang dilalui, Candra dengan kecepatan bak cahaya menyambutnya. Menghantam Tetua Mustari ke atas menembus beberapa lantai sampai keluar rumah.
Saat dia berada di udara sana, kakek itu tersadar bahwa Candra sudah di atas, hendak memberikan serangan terakhir. Dia menutup mata dengan lembut setelah mencermati murid yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Sebelum dia melancarkan bogeman tersebut, Candra berkata lirih hampir berbisik, "Selamat tinggal, Guru."
Saat tangan tersebut menyentuh tetua, kekuatan yang hebat membahana membawanya turun ke bawah. Menembus rumah tersebut sampai membuat dentuman bergemuruh hingga mengakibatkan tanah bergetar menakutkan lalu meruntuhkan Padepokan Cenderawasih. Menghancurkan sekolah itu menimbun semua yang ada di bawahnya. Tidak hanya itu, bangunan-bangunan dan pepohonan di sekitarnya ikutan ambruk menciptakan asap debu yang berterbaran, membutakan mata melihat sesuatu di baliknya.
Sementara Candra tampak mendarat di salah satu batu besar di bukit tersebut, memperhatikan sekolah yang kini hanya sebuah kenangan yang ingin dilupakan untuk selamanya.
...----------------...
__ADS_1