Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
24. Agresi


__ADS_3

Aura yang berkobar-kobar semakin kuat itu membelalakkan mata Savian. Dia dapat merasakan kekuatan besar bersemayam dalam tubuh Raka, anak yang sudah dalam Tingkat Raga ke atas sudah dipastikan bisa merasakan hal tersebut. Bahkan dengan Prana sekuat itu, dia mungkin mampu menghancurkan arena dan menciderai mereka yang antusias menonton.


Alhasil, konsentrasi Savian memburuk. Pikirannya tersebar akan keselamatan manusia-manusia yang berada di tribun. Sesaat dia menoleh dan kembali terarah ke Raka, anak muda itu lantas sudah berada di hadapan dengan sekelebatan mata. Refleks, kedua tangan Savian ditempatkan di depan muka sebelum hantaman keras dia terima. Terpental berkali-kali tatkala menghantam matras.


Dengan cekatan dia berhasil menahan laju tubuhnya dengan menumpu kedua kaki serta tangan, menahan keluar dari area. Dia kembali mencoba fokus ke depan, menghadapi Raka yang tampak telah kehilangan kendali. Dia sedikit merasa ketakutan melihat Prana secara masif mencuat ke berbagai arah dari dalam tubuh anak itu, seperti di luar kapasitas manusia biasa.


"Kenapa? Apakah kau khawatir dengan mereka?" seru Raka lalu terbahak-bahak. "Seharusnya kau khawatir dengan keadaanmu sendiri!"


Pemuda berambut keemasan lantas melesat cepat dan memberikan sepakan dengan lutut. Namun, Savian melompat salto, melewati Raka dari atas dan saat itu kedua mata mereka bertemu. Yang satu terpancarkan amarah, yang satu dilanda kecamuk kecemasan. Tepat ketika kedua kaki Savian menapak daratan, Raka melakukan tendangan memutar yang mendarat di kedua tangan Savian, menyebabkan laki-laki tersebut terdorong ke belakang.


Setelah itu, mereka sama-sama mencoba memainkan serangan demi serangan. Meski Raka berada di fase entah apa, Savian masih bisa mengimbanginya, memberikan sedikit balasan. Bila terus seperti ini, Savian akan sangat kewalahan. Dia harus memanfaatkan Prana kali ini demi memberikan ruang untuk bernapas sejenak, memulihkan stamina yang lama kelamaan terkuras.


Saat Raka dengan menggebu melancarkan serbuan telapak tangan, Savian menghindar dengan membungkuk, memaksimalkan kesempatan dengan memberikan hantaman kuat yang sudah dialiri Prana. Dia mengarahkan tepat ke perut Raka, hanya dengan sekali hentakan, laki-laki itu terpelanting tak karuan yang masih dapat dihalau. Menciptakan jarak di antara mereka.


Semua penonton tak dapat berkata apa-apa, melongo takjub dengan keahlian kontestan semifinal tersebut. Suluh merasa ada yang salah kali ini, tidak sepatutnya pertandingan ini terus berlangsung, harus dihentikan demi menghindari hal yang tak diharapkan. Namun dia sama sekali tidak tahu bahwa peraturan arena sendiri berkata, siapapun yang sudah tak dapat melawan atau sengaja menyerah, serta pihak tak sadarkan diri, itulah yang kalah. Selama mereka sama-sama dapat bertarung, kompetisi masih terus berjalan.


Benar, turnamen kali ini tak ada rasa iba sama sekali.


Raja Reswara tak memberikan komentar apa-apa, menilik lebih cermat gerak-gerik wira yang menemani Raja Mandala. Memperhatikan lebih dalam air muka mereka, meneliti setiap gerutan di wajah melalui sisi samping dia duduk bersebelahan. Seumur-umur Reswara mengikuti ajang kompetisi bergengsi ini, dia tak pernah melihat wasit sebebas itu, tak ada keketatan dari pihak penyelenggara. Seakan para kontestan dibiarkan melakukan aksi yang bahkan mungkin dapat membunuh satu sama lain.


"Yang Mulia, bukankah hal ini sedikit berlebihan untuk ranah anak-anak yang baru berusia belasan tahun?" tutur Tuan Reswara tanpa menoleh, memperhatikan ke dalam arena.

__ADS_1


Raja Mandala tak merespons, gelagatnya juga terdengar aneh ketika dia berkata, "Bukankah Yang Mulia ingin melihat anak-anak kita tumbuh menjadi yang terkuat?"


"Apakah itu dengan membuat anak kita lumpuh serta merenggang nyawa?" sahut Raja Niskala dengan nada yang sedikit meninggi.


"Raja Reswara tak perlu cemas," tiba-tiba wira yang memakai busana serba hitam bersuara. "Kami tahu murid-murid berbakat itu tak mudah dikalahkan."


Di titik ini, situasi perlahan-lahan mulai tersingkap. Normalnya para wira tak akan berani mencampuri urusan, tak punya wewenang maupun kuasa untuk berbicara bila tidak diperkenankan. Namun, sudah jelas bahwa wira misterius yang bersama Mandala sedikit berbeda. Dia terlalu blak-blakan dan sikapnya tak mencerminkan para wira sedikit pun. Raja Reswara tetap tenang, seolah-olah dia sudah mempersiapkan sesuatu.


"Ya, saya tahu," kata Tuan Reswara yang tiba-tiba didekati oleh wiranya, membisikkan sesuatu. "Oleh sebab itu mereka mengikuti kompetisi ini."


"Namun, aturan ini sudah tak sama dari yang dulu," ucap pria tersebut menoleh kepada Mandala berserta wiranya bergantian. "Murid-murid hanya boleh memaksimalkan Prana dalam hal kekebalan tubuh, tidak untuk hal lain."


"Terlebih, saya baru mendapatkan informasi bahwa wira-wira Anda tak bisa kondusif serta kooperatif," lanjut Raja Reswara mencibir. "Bahkan ada yang sangat lancang berbicara."


"Maka, Niskala tak ada pilihan lain selain mendepak Anda dari sini." keseriusan dalam intonasi Raja Reswara menimbulkan ketegangan di tempat itu.


Entah kenapa, sosok misterius itu malah tertawa keras sekali, memecah keheningan yang tercipta. Suara terbahak-bahak itu sampai terdengar ke arena, membuat semua mata terarahkan termasuk Savian dan Raka. Wira tersebut melangkah ke depan, tepat di pembatas kemudian secara perlahan membuka tudung yang dikenakan. Rambut putih ikal tersebut melambai-lambai tersapu angin, mendongak ke atas lalu ke bawah, memperhatikan khalayak umum di sana.


"Kau lucu sekali, Reswara," suara serak terdengar mencekam itu tak awam di telinga Penguasa Niskala. "Terakhir aku bertemu denganmu saat kau masih muda."


"Tapi lihatlah dirimu sekarang," wira itu berbalik, menampakkan muka yang terlihat sudah dewasa, dengan iris sedingin es berwarna abu-abu. "Kau bahkan memimpin Niskala dengan semua kebodohan ini."

__ADS_1


Tuan Reswara tak dapat menemukan kata yang tepat, lidahnya berkelit tergagap-gagap. "Ka-kau?"


"Sangat disayangkan aku tak berada di sini ketika kau memutuskan menciptakan mesin-mesin omong kosong ini," racau wira tersebut sambil mengangkat tangan sedada, membuka telapak tangan. "Sekarang, akan kutuntaskan apa yang ingin aku lakukan waktu itu."


Percikan api lambat laun hadir di atas telapak tangannya, semakin lama semakin besar dan berkobar. Namun, sebelum unsur tersebut berubah warna biru seutuhnya, wira dari Reswara secara buru-buru merecokinya. Api itu secara cepat sirna, mereka berduel hebat akan tetapi laki-laki misterius tersebut tak membutuhkan usaha berarti melumpuhkannya. Gerakan bela diri sosok itu benar-benar luar biasa, dapat secara instan membuat wira tingkat tinggi ambruk setelah menerima hantaman.


Ketika dia kembali hendak meluncurkan api tersebut, dia menoleh kepada Reswara yang ternyata laki-laki itu melesat tepat ke arahnya. Alhasil, ledakan hebat terlaksana dengan skala yang luar biasa. Suara itu sampai terdengar ratusan meter dari sana. Menimbulkan kepanikan masyarakat di tribun yang berbondong-bondong keluar, menyelamatkan diri.


Savian dan Raka kelabakan satu sama lain, tak dapat mencerna apa yang terjadi sekaligus menunda pertarungan mereka. Suluh cepat-cepat melompat ke area mencoba menarik sahabatnya keluar dari sana akan tetapi sesuatu mendarat tepat di tengah-tengah arena dengan dahsyat. Menimbulkan debu dan asap yang membutakan mata serta puing-puing yang terlontar ke berbagai arah.


Di balik siluet itu, muncul sosok Raja Reswara dan dua kakek yang berada tepat sebelahnya. Mereka adalah Tetua Mustari dan Tetua Ardiyasa. Sontak hal itu mencengangkan dua murid Cenderawasih, Savian dan Suluh, yang terkapar di atas matras. Tepat di hadapan mereka ada sosok yang ditakuti. Suluh saat melihat wajah wira tersebut, dia seketika sakit kepala. Terbesit kembali mimpi buruk yang sudah lama dia taklukkan.


"Kalian kembalilah secepat mungkin!" teriak Tetua Ardiyasa menoleh ke anak-anaknya.


"Ba-baik, Guru!" seru Savian dan Suluh bersamaan. Mereka bergegas lari dari sana begitu pula dengan Raka yang mencoba kabur.


Namun, sebelum terlalu jauh dia melangkah dan hampir masuk ke dalam koridor stadion, Raka melihat guru-gurunya pergi begitu saja. Tak menghiraukan sama sekali. Sibuk menyelamatkan dirinya sendiri. Raka yang berusaha keras untuk membuat mereka sadar bahwa dia mampu, bahwa dia adalah murid berprestasi, serta bangga memilikinya, sama sekali tak menjemput maupun berteriak kepadanya. Ditinggalkan bagaikan seonggok sampah yang tak dianggap.


Suluh yang sadar bahwa anak itu tak lagi ikut malah terdiam di tempat, tak dapat kembali. Sementara tetua-tetua dan Tuan Reswara mempersiapkan diri melawan wira berbahaya tersebut. Mereka tahu betul siapa dia, manusia yang telah mencetak riwayat yang tak dapat dilupakan.


"Ini adalah hari keberuntunganku," serunya sambil tersenyum lebar. "Guru Mustari bahkan hadir untuk memberikan sambutan hangat."

__ADS_1


Sementara kakek Mustari memicingkan mata, suara parau itu berucap penuh penekanan, "Candra."


...----------------...


__ADS_2