
Perempuan itu mencoba mencakar-cakar tangan Sihan yang masih mencekik sedemikian kasar, tak sesekali reda maupun melepaskan. Sampai Savira mulai melemah, tangan dan kaki tak bergerak sama sekali, dan kedua iris mata yang semakin suram. Bibir merah mudanya secara lambat laun berubah kebiruan kemudian kucam tak berbicara, terbuka kaku. Kesadaran kian terkikis, semua memudar akan tetapi rasa sakit di lehernya entah kenapa berakhir, melancarkan sistem inhalasi.
Sebelum dia sepenuhnya menyelam ke dalam alam bawah sadar, dia sempat melihat bahwa Sihan terbentur oleh sesuatu yang teramat kuat, terpental beberapa meter. Pria itu memakai topi rotan serta berbusana serba hitam, tidak lain dan tidak bukan adalah Suluh sendiri. Sihan yang terlempar buru-buru bangun dengan ekspresi murka, terkejut dengan serangan anak laki-laki tersebut. Namun, dikala dia menilik Suluh lebih dalam, ada sesuatu yang menimbulkan Sihan seketika terbelalak membisu.
Entah kenapa anak yang ada di hadapannya kali ini memancarkan suatu Prana yang teramat masif, esensi yang luar biasa sampai membuat Sihan menelan saliva berkali-kali. Lawannya kali ini bukanlah manusia biasa akan tetapi insan terlatih dengan kemampuan Prana di atas rata-rata. Namun dengan keangkuhan, dia tersenyum sinis lantas berdiri tegak memamerkan kekekaran tubuh, mencoba menakuti Suluh yang bahkan tak memedulikan barang sedikit.
"Siapa kau, bocah?" teriak Sihan menautkan dahi. "Berani-beraninya kau mencampuri urusanku!"
Suluh cepat-cepat memeriksa Savira, dia masih bernapas akan tetapi kondisinya teramat kritis. Pemuda itu lantas membuka ramuan berwarna kemerahan dan memasukkan cairan tersebut ke bibir Savira yang membiru. Suluh menoleh, terpusat kepada Sihan yang sudah mempersiapkan diri untuk beradu.
Semua warga berhamburan tak tentu arah, mewarnai lingkungan sekitar dengan kegaduhan. Belum lagi wira-wira yang berlarian ke sana kemari berusaha mengamankan situasi, memburu berandalan. Suluh tanpa rasa was-was sama sekali, membuat kuda-kuda serta meluruskan kedua tangan, bersedia melawan.
"Kau bisu, kah?" seru Sihan melangkah mendekat, melihat tubuh kekar yang terdapat banyak bekas irisan itu membuat manusia biasa lari tanpa berpikir dua kali. "Siapa kau dan apa arti sundal itu bagimu?"
Anak muda yang mendengar kalimat tersebut memicingkan mata, bahasa kasar itu hanya berarti satu hal. Prostitusi yang masih marak dibolehkan oleh beberapa daerah, tersebar cepat di dalam sudut-sudut kota. Selama dua tahun tatkala Niskala berada dalam naungan Ganendra, banyak dari kaum hawa diberlakukan tidak semestinya dan lebih bobroknya, berakhir sebagai budak. Budak yang tak ada harga diri serta martabat, bebas "dinikmati" asal mereka mempunyai hak milik dengan tebusan materi.
"Hanya manusia yang daku rela mengorbankan nyawa," kata Suluh lekas berlari secepat kilat ke arah Sihan.
Pria berotot dengan berewok tebal tertegun hampir melompat, kecepatan luar biasa itu nyaris tak kasat mata. Tak dapat memprediksi serangan, dengan cerdas Sihan menghantam tanah sekuat tenaga menyebabkan lantai-lantai itu retak sampai bergemetar. Serpihan yang ada di bawah terangkat, menghancurkan semua yang ada di sekitar. Merobohkan tumbuhan dan orang-orang yang berlarian. Tak terkecuali Suluh yang kehilangan momentum, harus berhenti di tengah retakan karena kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
Namun, ketika Suluh dibutakan oleh kemelut asap yang dihasilkan dari kekuatan Sihan, anak muda tersebut sadar bahwa berandalan itu tak berada di tempat semula. Dia mencoba menilik dalam-dalam, bayangan di bawah Suluh entah kenapa semakin lama semakin membesar. Firasat memaksa Suluh mendongak, disambut oleh badan besar Sihan yang sudah berapi-api hendak kembali memukul.
Saat menyentuh daratan, kali ini daya rusak yang dihasilkan lebih berbahaya dari sebelumnya. Area retakan sampai memporak-porandakan air mancur serta beberapa rumah warga, menarik semua mata yang kebetulan lewat. Terutama wira yang baru sampai. Kericuhan tersebut mendadak terdiam, dibuat membisu akan kekuatan menakutkan Sihan yang tengah berdiri kembali. Siluet itu lambat laun tersibak, tersenyum lebar melirik kepada wira-wira yang mengumpulkan keberanian.
"Sial, bukankah dia Sihan? Ketua berandalan Tengkorak Simitar?"
Salah satu dari mereka berkoar, beberapa mulai melangkah mundur tahu bahwa mereka tak dapat menghentikannya. Mereka mulai kehilangan kepercayaan diri, diambil alih oleh keraguan. Catatan kriminal Sihan sudah terkenal di seantero Niskala, membawa bendera Tengkorak Simitar untuk memalak sesuka hatinya. Namun, belum ada yang bisa menangkap maupun memenjarakan, dikalahkan saja sudah sangat sulit. Keringat bercucuran deras mendapati Sihan sepenuhnya terarahkan kepada mereka, wira-wira yang memiliki kewajiban menumpas kebatilan.
"Waktu yang tepat, aku sudah sangat bersemangat membunuh kalian!"
Tubuh Sihan entah kenapa memancarkan suatu uap, memanas seketika. Tiap langkah yang dilakukan, berat badannya seakan naik drastis sampai-sampai membuat lantai retak. Berlari tepat ke arah mereka yang membeku tak tahu harus melakukan apa. Menerima kemalangan. Sesaat sebelum Sihan belompat dengan bogeman tangan, dia menerima sepakan Suluh yang melesat dari sebelah, tepat mendarat di mukanya yang tak karuan.
Akibat serangan itu pria berbadan kekar terpental beberapa meter sampai menembus suatu toko, membiarkan wira-wira itu terkesima. Suluh tak berhenti di situ, dia berlari menyusul Sihan yang demikian pula keluar dengan tubuh yang semakin lama semakin berbeda. Berubah lebih kurus dan berurat, seperti menguat akan tetapi secara bersamaan terkikis. Asap yang keluar dari tubuhnya tak berhenti menguar di udara, menambah aura mencekam serta keganasannya. Namun, Suluh yang acuh tak acuh akan hal itu, tanpa beban serta keraguan maju tak berhenti sama sekali.
Namun tanpa diduga-duga, anak muda itu dengan mudah menahan dan bahkan melesetkan serangan Sihan. Gerakan tangan Suluh yang terasa mengalir dengan irama itu adalah kunci keselamatannya, teknik andalan turun temurun dari Guru Madiarta. Alhasil, sekian kali Sihan tak mengenai sasaran dan menghantam tanah, mengakibatkan kerusakan yang menghamburkan area.
Kesempatan besar ini dimanfaatkan oleh Suluh melakukan serangan balik, melancarkan serbuan kombinasi yang teramat kuat sampai membuat Sihan mundur beberapa langkah, tampak kesakitan. Di sela-sela itu, Suluh memberikan tumbukan ke atas yang membuat Sihan meluncur di udara, sempat memuntahkan cairan kemerahan. Dengan kecepatan luar biasa, anak muda berambut hitam itu sudah berada tepat di hadapan Sihan, menuntaskan dengan pukulan telapak tangan yang spektakuler. Mengirim berandalan itu turun menghantam lantai sekeras-kerasnya.
Area yang semula adalah sebuah taman terlihat indah, kini tak berbentuk dan hanya tampak kerusakan dengan debu-debu berterbangan; kacau-balau. Semua terdiam sembari memendam kepalanya di balik kedua tangan dari serbuan debu yang terlontar, lambat laun memeriksa. Di sana hanya terkapar Sihan tak berdaya, tak berkutik maupun memberikan tanda-tanda kehidupan. Sementara Suluh telah sirna entah kemana bersamaan dengan eksistensi Savira, membiarkan berandalan tersebut di tangan wira.
__ADS_1
Sebelum mereka sekadar memeriksa Sihan lebih dekat, laki-laki itu lantas bergerak secara tiba-tiba, mencoba berdiri dengan tubuh yang terasa remuk. Dengan instan wira-wira itu menghunus belati mereka, tangannya bergemetar ketika mendapati Sihan dengan tubuh kekar nan besar bangkit dari keterpurukan. Namun anehnya, dia malah tersenyum lebar meski darah merembes dari mulutnya, menyeka cairan tersebut lalu tertawa.
"Sialan sekali ... aku hampir saja mati!"
Di tepian aliran air yang terdengar ramai memenuhi telinga, ada dua insan yang terkapar dan yang lain sibuk meracik obat-obatan. Wanita itu dililit kasa di area tertentu, lebam di muka tembem nan manis itu kini terkompres seutas kain. Di bawah pohon teduh mereka berhasil melarikan diri, bersembunyi di antah berantah asalkan terhindar dari hiruk pikuk kekacauan. Suluh saat itu hanya merasa bahwa batinnya kelabakan, bergelut satu sama lain.
Pada awalnya dia sudah tak mau ikut campur dengan urusan mereka, menentukan kembali berkelana untuk mencari Sekar dan keluarga. Tatkala dia melihat bahwa Savira babak belur seperti itu, hati sanubari terketuk untuk membantu. Meski telah bertentangan dengan tujuan awal, dia hanya tak dapat abai dengan situasi sebrutal itu menimpa orang-orang yang dikenal. Merasa bersalah karena telah membiarkan Intan dan Alan sendirian.
Saat ini Suluh membuatkan ramuan herbal yang diracik sendiri oleh Sekar, laki-laki tersebut sempat diberikan tata cara yang sesuai dan konkrit. Tak boleh ada yang kelewat walau satu langkah sebab berpotensi meracuni. Bahan-bahan yang diperlukan demikian tak semudah dicari, spesifik ditemukan di daerah-daerah tertentu di belahan Bentala. Kebetulan sekali waktu itu Sekar dengan berbaik hati memberikan banyak sekali bumbu-bumbu yang dibutuhkan kepada orang tua Suluh.
Saat semua telah usai, Suluh mendekati Savira dan bersimpuh di sebelahnya. Terdiam sebentar tatkala menelusuri muka wanita yang tak sadarkan diri tersebut, tak tega bila harus meninggalkan sendirian. Dengan berhati-hati serta kelembutan, Suluh sedikit mengangkat kepala Savira kemudian memasukkan cairan kehitaman tersebut ke mulutnya, sekilas mencurahkan ekspresi masam. Obat ini dikenal ampuh dalam memulihkan semua macam luka fisik, memberikan tenaga serta kekebalan tubuh.
Mentari lama kelamaan mulai bergeser ke barat sekaligus menurunkan suhu sinarnya. Langit mulai berubah jingga keunguan, suara percikan api terdengar samar-samar berkobar tengah menelan habis kayu bakar. Suluh tampak membakar makanan yang telah ditusuk, mendekatkan ke bara menghanguskan sedikit demi sedikit. Dikala itu, sungai-sungai mulai melunak, kicauan burung mulai terlelap, dan rintihan Savira adalah bentuk bukti kesadarannya.
Perempuan itu terbangun dengan mata silau, sadar bahwa dia berada entah di mana. Baru berapa detik menelisik sekitar, Savira tahu bahwa laki-laki itu adalah insan yang dikenali. Berseru lirih masih dengan keadaan lemah, "Su-Suluh?"
Laki-laki tersebut sontak menoleh, sedikit terhentak akan tetapi sesaat kemudian memberikan senyuman hangat. "Kebetulan sekali, daku telah mempersiapkan makan malam."
"Bagaimana aku ada di sini? Kenapa kita berada di tempat seperti ini?"
__ADS_1
"Aku akan memberitahumu sembari kau makan dan beristirahat."
...----------------...