
Buah berwarna merah dengan bulu-bulu mencuat itu mendarat tepat di sebuah wadah rotan yang dibawa oleh anak kecil. Dia terlihat manis dan lucu, berusaha menempatkan diri ketika buah rambutan turun dari atas. Terus memperhatikan seseorang yang tengah berada di salah satu dahan. Dengan aksi lincah itu, laki-laki tersebut tak kesusahan memetik buah-buahan yang telah masak.
"Bagaimana keadaan di sana?" seru insan yang tengah berpindah tempat dari satu dahan ke dahan lain. "Apakah kau berhasil mendapatkan semuanya?"
Sementara bocah itu mencoba untuk fokus ke atas sana, sesekali buah tersebut tak masuk ke dalam rotan sehingga dia harus memungut dari dalam rumput yang tebal. Dia merengek lalu berkata, "Ayah ... apakah aku boleh memakannya?"
"Jangan dulu," sahut pria itu memetik beberapa buah sekaligus. "Kita kumpulkan lalu kita nikmati bersama-sama."
"Bahkan hanya satu butir?" tutur anak tersebut yang tanpa sadar hendak membuka kulit rambutan.
"Suluh, ini adalah tantangan yang harus bisa kau tuntaskan, Nak." Dia terdiam di atas, sambil melihat ke sana kemari. "Bagaimana bila kau berhasil menahan, aku mengizinkanmu makan sebanyak sepuluh buah?"
Suluh yang cemberut secepat kilat berubah ekspresi. "Benarkah itu, Ayah?"
"Tentu, apakah kau sepakat?" Pria bernama Bara itu meluncurkan sebuah rambutan yang tepat masuk ke dalam wadah rotan.
Suluh terpesona dengan keakuratan Bara lantas membalas, "Ya, itu mudah sekali bagiku, Ayah."
Pohon yang berbuah manis itu lama kelamaan terkuras. Suluh harus bolak balik mengosongkan rotan tersebut untuk bisa kembali digunakan, mengikat tangkai demi tangkai untuk memisahkan. Suluh berbunga-bunga kali ini, dia sudah habis empat rambutan sekaligus dan sukses dalam mentaati larangan. Dia yang sibuk makan memperhatikan laki-laki di sebelah, meletakkan rambutan secara berbeda.
"Ini untuk apa, Ayah?" Suluh berdiri lalu menarik setangkai yang penuh dengan buah berwarna merah.
"Itu untuk tetangga kita, Nak." Pria itu tak menoleh, masih berkutat dengan rambutan yang belum diikat.
"Siapa? Apakah Ibu Ratna?" tutur Suluh sedikit tak sudi.
"Benar," timpal Bara menoleh ke arah Suluh. "Dan, Suluh, tolong nanti kau kasihkan itu kepada beliau."
Anak itu terdiam, menaruh kembali buah-buahan tersebut di atas rumput. "Tapi, Ayah, bukankah dia wanita yang suka mencela kita?"
__ADS_1
"Kenapa musti kita berikan?" Suluh meneruskan sambil menunduk. "Bukankah masih banyak dari tetangga kita yang berbuat baik?"
Bara tercekat, berhenti melakukan aktivitas seketika. Dia kemudian berdiri, membawa tangkai rambutan tersebut dan berhenti di depan Suluh. Dia bersimpuh mencoba melaraskan tubuh dan berseru, "Kita tak boleh bersikap seperti itu."
"Untuk memberi sesuatu, tak elok memastikan dia manusia yang baik atau tidak." Pria itu mendaratkan kedua tangan di bahu Suluh. "Pilih kasih dalam berbuat kebaikan itu tidak diperkenankan. Selalu berbuat baiklah kepada sesama tanpa menilai keburukan mereka, Nak."
"Tapi, Ayah," sela Suluh masih belum terpuaskan dengan respons Bara. "Mengapa kita harus melakukan itu? Bukankah dia menyakiti kita? Kenapa kita tak membalas dengan setimpal?"
Bara membisu, tak terkira anak laki-laki itu akan berkata demikian. Dia menghela napas, tersenyum tulus sebelum berucap, "Itu karena bila kita membalas keburukan dengan keburukan, kita tak akan menemui titik kebaikan."
Suluh memicingkan mata, tak dapat memahami. "Aku tidak mengerti."
"Baiklah," celetuk Bara sambil menoleh ke kanan-kiri, seolah-olah mencari sesuatu. "Ibarat buah ini. Bila kita memberikan buah busuk lantas yang diberikan memberikan buah busuk serupa, apakah kita akan menemukan titik terang?"
Suluh yang mengikuti perumpamaan ayahnya menggelengkan kepala. Membiarkan Bara meneruskan, "Tepat sekali. Seperti itulah kira-kira."
"Lantas bagaimana cara kita menemukan titik kebaikan tersebut?" Pria itu mengambil setangkai rambutan dan diletakkan tepat di antara mereka. "Adalah dengan memutus tali itu sendiri."
Namun, Ayah, aku tak dapat menerima itu semua. Aku takkan membiarkan mereka lolos. Keburukan mereka harus dibalas dengan hukuman yang sama. Itu adalah sebuah keadilan.
Suara teriakan insan-insan yang ditusuk tanpa ampunan memenuhi suasana Baturia. Terlepas tak ada apa-apanya melawan wira-wira Ganendra, warga terus berusaha keras melawan, bunuh diri demi mempertahankan keluarga dan martabat. Jaali tertawa kecil menikmati eksekusi yang dilakoni, merasa bangga melakukan hal keji tak berkemanusiaan.
Namun, dia masih belum terpuaskan. Dia kembali terarah kepada Suluh yang menunduk lesu, tak memberontak maupun bergerak. Sekilas kekecewaan tercetak di air muka Jaali, bocah itu dinanti-nantikan untuk membuktikan semua kekuatannya tapi ternyata dia malah tak melawan. Menyerah dan menerima kekalahan. Pria kekar itu mendekat, memeriksa keadaan Suluh dengan ledekan tepat di hadapan mata.
"Lihatlah dirimu, sepertinya kau ingin menyusul mereka," kelakar Jaali tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh wira lain yang berada di sana. "Biarkan aku membantumu."
Pria kekar itu mulai mencerca dan memukuli Suluh tanpa ampun, mulai dari perut sampai wajah yang lama kelamaan melebam. Darah mengalir deras dari mulut dan hidung anak nahas itu, masih bergeming. Hantaman keras tersebut semakin lama membuat kepala Suluh pening, telinganya terisi oleh suara dengungan yang memekakkan, tak mau berhenti maupun mengecilkan volume. Pandangannya mulai kabur, semakin lama semakin meredup, gelap dan tak tampak apa-apa.
Bertahanlah, Suluh. Bertahanlah untuk adikmu, Sabrina, dan untuk Sekar yang menantikan keselamatanmu di sana.
__ADS_1
Bukankah kau hidup untuk mereka yang menyayangimu? Setelah kau kehilangan orang tuamu, apakah kau rela kehilangan mereka juga?
Bangkitlah, lawanlah mereka yang merenggut semua harta tak ternilai dalam kehidupanmu. Balaskan kematian mereka.
Hanguskan mereka sampai tak tersisa, sampai menjadi abu yang bertebaran di udara. Mereka tak layak diberikan ampunan.
Entah kenapa hawa di sekitar Suluh memanas, dua wira yang mencekalnya tak kuasa menahan sampai mereka harus melepaskan anak itu. Jaali mundur beberapa langkah, tak mampu berada dekat-dekat. Sampai dia sadar bahwa Suluh memperhatikan dirinya dengan sorot mata menusuk, tak teralihkan walau sedikit. Dengan teriakan dan sekali hentakan, kobaran api muncul di sekitar tubuh Suluh, memancar membakar semua yang dilalui.
Api itu melesat cepat sekali sampai-sampai tak dapat dielak oleh wira-wira Ganendra, tertelan oleh api. Namun Jaali melompat saat itu, mampu bertahan dari semburan yang membakar habis desa tersebut. Teriakan kesengsaraan terdengar dari anak buahnya, meminta untuk dipadamkan yang sudah membakar kulit-kulit mereka. Jaali cemas kali ini, tak dapat melakukan usaha berarti karena saat ini dia berkonsentrasi akan sosok monster di depan muka.
Untuk tingkat Prana miliknya, dia sudah dapat merasakan Prana Suluh yang teramat menakutkan. Dari dua mata terbelalak lebar itu, Jaali menyaksikan sesuatu dari dalam sukma Suluh. Suatu sosok monster, atau sesuatu yang tak dapat dilukiskan. Meneror laki-laki itu sampai membuat kedua kakinya lesu tak berkutik sama sekali. Pria berotot kekar berbadan besar tersebut ketakutan bukan kepalang.
Dia bahkan tak sadar bahwa Suluh telah berada tepat di hadapan, terpaut beberapa inchi dengan kedua tangan buatan yang terbakar hebat. Hanya dengan mendekati tubuh itu, Jaali meringis karena hawa panas yang tak tertahankan. Dia dengan aksi bodoh mencoba melawan, memberikan bogeman mentah yang tentu sia-sia belaka. Malahan, dia menarik maut itu sendiri.
Suluh menahan tangan kanan Jaali, menyebarkan api yang merangkak ke lengan lalu ke tubuhnya. Pria itu berteriak keras-keras, tak dapat dilepaskan. Air mata sampai menetes dari Jaali, tak kuasa meredam rasa sakit yang luar biasa membakar kulit. Tubuhnya melepuh, meleleh secara perlahan-lahan dengan terus mengerang sekeras mungkin memohon untuk dihentikan. Namun dia sudah terlambat.
Tak ada ampunan untuk mereka yang merampas kehidupanmu.
Langkah kaki yang berlari cepat itu menerobos hutan tanpa berhenti. Raut muka tampak khawatir tatkala dia melihat kebakaran hebat di desa Baturia, Guru Madiarta cepat-cepat turun gunung demi memastikan murid satu-satunya itu tidak kenapa-kenapa. Tak lama kemudian, dia terdiam membeku di tempat, melotot dengan mulut yang terbuka tatkala berada tepat di pintu masuk desa.
Gapura yang tersusun dari batu bata merah tersebut sudah setengah hancur, di dalamnya justru lebih mengenaskan. Hampir tiap sudut-sudut rumah hangus dilahap si jago merah, bahkan sebagian dari tempat itu telah menjadi debu dan rata dengan tanah. Madiarta yang melangkah lambat mendapati mayat bergelimpangan di mana-mana dengan keadaan melepuh, bahkan tengkorak mereka sampai terlihat. Pada saat itulah dia terperangah oleh sesosok laki-laki yang berdiri sendirian, di depan anak itu terdapat tumpukan abu dan tulang belulang.
"Suluh?" seru Madiarta lirih sekali, masih belum percaya bahwa itu muridnya.
Suluh dengan mimik linglung seperti baru bangun tidur sontak menoleh kelabakan. "Gu-Guru?"
"Apa yang telah terjadi di sini?" kata kakek tersebut mulai mendekati sampai akhirnya tersendat. Sadar bahwa bangkai dua manusia yang tergeletak itu tak asing baginya. "Mungkinkah?"
"Guru Madiarta ...." Suluh entah kenapa secara tiba-tiba ambruk bersimpuh, matanya sembab dan mulai terisak. "Orang tuaku telah tiada. Mereka telah dibunuh oleh mereka. Tapi setelah itu aku benar-benar tak tahu sampai aku tersadar bahwa semuanya telah musnah."
__ADS_1
...----------------...