
Savira tak membalas masih mencoba mencerna keadaan. Sorotan beriris hazel itu terpusat kepada alas kulit yang ditempati, membelai secara lemah lembut. Terasa mulus ketika membelai kulit, sangat nyaman bila tidur di atasnya dengan mencurahkan seluruh rasa lelah. Selimut yang membungkus sebagian besar tubuhnya berasal dari bahan yang sama, seperti sudah satu setel berkesinambungan.
"Dari mana kau mendapatkan ini semua?" Savira tak sesekali menoleh kepada Suluh yang sibuk memanaskan ikan-ikan tersebut.
"Itu dari insan yang kukenal," tutur Suluh membolak-balikkan tusukan yang ada di kedua tangan. "Bila dikau tidak berbicara tentang kayu bakar dan makanan ini."
Perempuan itu tersenyum simpul lalu berkata, "Tapi kenapa kau tidak meneruskan berkelanamu daripada repot-repot membantuku?"
Suluh membisu sesaat, tatapan hampa tersebut terperangah ke arah Savira. "Pilihan diberikan dan daku memilih satu."
Savira menunduk, kedua tangan yang dibalut kain kasa itu mencengkeram erat-erat selimutnya. "Tapi aku adalah makhluk yang buruk, kau sendiri yang mencetuskan kalimat tersebut."
Percikan kobaran api melengkapi kesunyian malam, Suluh lantas berseru, "Maafkan daku, daku masih terlalu dini menilai sesuatu."
"Padahal Guru Madiarta senantiasa memberi siasat bahwa kita tak boleh memvonis seenaknya," ucap Suluh kemudian berdiri, membawa dua tusukan ikan yang terlihat kehitaman mendekati Savira. "Karena kita tak bisa tahu niat hati manusia yang sebenarnya dan apa yang mereka usahakan."
Savira memperhatikan kedua mata Suluh yang tepat di bawah sinar rembulan, tak dapat terus menerus tertaut lalu mengambil ikan tersebut. "Terima kasih."
"Bagaimana keadaanmu?" Suluh bersimpuh di sebelahnya, duduk bersila di atas rerumputan.
"Lebih baik dari sebelumnya," kata Savira sambil mencoba merentangkan tangan. "Apa kau memberi sesuatu kepadaku?"
"Ya, suatu ramuan yang aku kuasai." Suluh merogoh sesuatu dari balik busana, terlihat botol kecil yang terbuat dari kaca dengan warna kehitaman.
"Tampak menakutkan untuk dikonsumsi," seru Savira bergidik, memasang wajah masam. "Pasti rasanya sungguh luar biasa."
Suluh terkekeh kecil kemudian membalas, "Pahit tak tertahankan, namun, khasiat tak dapat diremehkan."
"Kalimat itu terdengar familier di telingaku," kata Savira menarik sudut-sudut bibirnya yang kini kembali ranum. "Bukankah itu dari buku Alkimia dari Tanah Surga?"
"Kau tahu?" Suluh sedikit tersentak dan terheran-heran, tidak terkira.
Perempuan berambut hitam tersebut lantas mengangguk cepat sambil merespons, "Aku suka membaca sedari kecil, buku itu adalah favoritku."
"Demikian pula dengan dia," sahut Suluh mendongak ke atas, memperhatikan langit yang dicemari oleh bintang-bintang berkilauan. "Daku hanya meneruskan kalimatnya."
__ADS_1
"Apakah dia adalah alasan di balik musafirmu?" Savira menoleh, menilik Suluh yang sedikit demi sedikit mencerna ikan bakar.
"Namanya Sekar, anak dari Tuan Arnadi." Laki-laki itu meneruskan makan, terdiam ketika mengunyah. "Mereka adalah keluargaku yang tersisa."
Savira menautkan alis, sedikit merasa aneh dengan yang dikatakan Suluh. "Tersisa?"
Anak muda berbusana serba hitam tersenyum kecut. "Daku dan Intan berasal dari desa yang sama, Desa Baturia."
"Dua tahun berlalu, memori itu masih belum dapat kuterima dengan tulus." Suluh membalikkan ikan tersebut yang telah habis sebagian. Sedangkan Savira merasa bersalah telah menanyakan.
"Maafkan aku," bisik Savira menunduk, mendadak sendu. "Aku mendengar sedikit dari Alan bahwa kau adalah anak istimewa itu."
Suluh terdiam, tak merespons apa-apa membiarkan Savira melanjutkan, "Anak berkebutuhan khusus dengan mesin-mesin yang menempel di tubuhnya. Apakah dia benar-benar kau?"
Laki-laki tersebut menaruh makanan yang telah habis di atas rumput, memperlihatkan tangan yang secara bersamaan membelalakkan mata Savira. Tak hanya itu, tanpa rasa malu maupun risih, dia menarik lengan pakaiannya sehingga tampak sangat jelas alat buatan berwarna keperakan. "Apakah ini cukup meyakinkanmu?"
Perempuan dengan rambut terurai berwarna hitam hanya manggut-manggut melongo lalu memalingkan muka. Suaranya berubah lirih saat berbisik, "Kau pasti telah melewati banyak kesulitan."
Hal itu sukses membuat Suluh menoleh kepadanya, melihat ke arah Savira. Gadis itu didapati menitihkan air mata, mencoba menahan untuk tidak terisak. "Dunia, mengapa sekejam itu?"
"Kau sudah tahu masa laluku dari berandalan itu, bukankah begitu, Suluh?" Savira meneruskan, masih memilih menyembunyikan kesedihan. "Aku tidak hanya makhluk buruk di matamu, akan tetapi makhluk hina!"
"Aku dibesarkan tanpa tahu kedua orang tuaku, diasuh oleh mereka yang kukira menyayangiku tapi ternyata tidak demikian," seru Savira mulai tersedak-sedak. "Mereka malah membawaku ke tempat kotor nan tak beradab itu! Tanpa harga diri yang tersemat dalam diriku."
"Aku tidak diinginkan siapa-siapa, seperti hewan yang tak bernilai apa-apa. Aku bahkan lebih nista daripada sampah. Mereka yang tahu masa laluku tidak lain melihat bahwa aku hanyalah bahan, tak lebih baik daripada itu."
"Sundal yang tak patut dikasihani bahkan diberi rasa simpati. Hanya suatu objek tanpa perasaan yang tak berarti kecuali pemuas nafsu birahi!"
Savira dengan cepat menoleh, menatap iris hazel Suluh dalam-dalam dengan ekspresi yang kacau. Penuh kesedihan. "Suluh, selama dua tahun ini, apakah usahaku untuk berubah memperbaiki diri masih layak dimaafkan?"
Sungai yang mengalir lembut tak memunculkan suara berisik, kobaran api telah usai meliuk-liuk liar menenangkan suasana tanpa ada suara apapun kecuali Savira. Suluh merasa tersentuh, sanubarinya berdetak semakin cepat kesakitan. Dia meluruskan duduk, kembali bersimpuh di sebelah Savira dan secara lemah lembut membelai kedua tangannya. Mata Suluh tak dapat berdusta bahwa dia berkaca-kaca, memaksakan senyuman.
"Masa lalu adalah renungan, bila dikau tahu bahwa harus berubah di kemudian hari, maka usahamu tidaklah sia-sia." Tangan robotik itu *******-***** telapak tangan Savira, kiranya dapat membuatnya lebih baik. "Menyesali hal yang menurut kita buruk adalah suatu keharusan dan dapat dimaafkan."
"Daku yakin, kalanganmu tak memikirkan masa lalumu sama sekali," ucap Suluh meneruskan dengan bibir yang masih merekah. "Karena mereka tahu dirimu saat ini, bukan yang dulu."
__ADS_1
Tangisan Savira semakin deras nan keras, secara tak sadar memeluk Suluh erat-erat, tenggelam dalam dekapan anak muda tersebut. Suluh tak bereaksi, terbelalak dengan air yang hendak merembes keluar. Mengerjapkan mata berkali-kali lalu terpejam, larut dalam momen sesaat yang menusuk hati. Semua manusia memiliki masa lalu buruk di antara mereka dalam situasi yang berbeda. Di setiap masalah itu, mereka diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri serta berubah dengan caranya sendiri.
Suluh dan Savira bermalam di tempat antah berantah, tanpa tahu nasib rekan-rekan yang terlibat dalam aksi merampas makanan. Di sisi lain, di ruangan yang hanya disinari cahaya dari lentera minyak yang menempel di langit-langit rumah, terlihat sekelompok orang berkumpul dengan berdiri. Perawakan mereka angkuh dan congkak, beberapa ada yang melipat tangan di dada tengah mendengarkan ceramah dari insan yang ada di depan sana.
Seragam rompi kehitaman itu tercetak tengkorak dengan dua bilah simitar, otot-otot kekar menembus busana yang dia kenakan. Muka dengan ekspresi marah tersebut mencerocos penuh teriakan kasar, sampai urat-urat lehernya mencuat. Pria itu masih kesal karena rencana mereka dirusak oleh kelompok Savira, terlebih lagi kekalahannya melawan Suluh dan berhasil kabur dari cengkeramannya. Dia tidak lain adalah Sihan.
Namun, di tengah-tengah orasinya, salah satu bawahannya tiba di sebelah Sihan lalu berkata, "Boss, Tuan Handoko berada di sini."
Mendengar itu Sihan bungkam, melirik dengan serius. "Izinkan dia masuk."
Titah tersebut segera dilaksanakan bawahannya, buru-buru melangkah ke arah luar ruangan. Timbul pria dengan keriput menghias muka setelah pintu terbuka, kedua alisnya tertaut rapat, menumbuhkan kerutan yang tampak serius. Aura yang dikeluarkan mencurahkan kewibawaan dan ketegasan, melepaskan topi kotak tersebut sehingga tampaklah rambut memutih yang dicukur tipis.
"Berita tersebar cepat sampai ke Sawarinda bahwa Sinambu terjadi kekacauan," seru Handoko, berjalan santai sambil mengedarkan lirikan ke arah sekelompok itu. "Apakah kau tahu bahwa kegagalanmu membawa kerugian besar kepadaku?"
Tanpa rasa takut sama sekali, dia mendekati Sihan diikuti dua wira setianya, memakai seragam khas Niskala. Pria berbadan besar itu ternyata yang menciut, adabnya berubah menghamba dengan horor menunduk dalam-dalam tatkala orang tua yang lebih kecil darinya tepat di hadapan mata. Memohon ampunan dengan suara kecil, menghilangkan semua kengerian yang diandalkan Sihan.
"Saya minta ampunan, Tuan Handoko," tutur Sihan terdengar terbata-bata. "Rencana kami dirusak oleh kelompok lain dengan tujuan yang sama."
"Siapa?" sahut Handoko semakin mendekat dengan suara menyentak.
"Tuan masih ingat dengan Savira? Dia sepertinya memiliki kalangan tersendiri." Sihan sempat melihat ke arah mata Handoko yang menatap tajam.
"Jangan katakan bila kau kalah dengan lacur itu!" Tanpa aba-aba dan secara tiba-tiba kedua iris Handoko menyala keunguan, buku-buku tangannya terbuka lebar membuat Sihan bersimpuh menahan rasa sakit. Walaupun tangan kanan itu tak menyentuh Sihan sama sekali, namun, laki-laki tersebut merasakan bahwa lehernya tercekik dengan keras. Tak berkutik melawan sihir hitam tingkat tinggi.
"Ti-tidak Tuan," rintih Sihan berusaha keras bertahan. "Tapi ada orang lain dengan unsur Prana yang teramat mengerikan."
Handoko terdiam mencoba memikirkan siapa insan yang dimaksud. "Apa dia bersama sundal itu?"
"Ya ... di-dia sangatlah kuat, Tuan." Saat itu Handoko melepaskan mantranya, membiarkan Sihan terkapar di atas lantai yang tak ada satu pun bawahannya membela. "Saat aku melawannya, ada ciri-ciri yang kuingat darinya."
Pria berusia lima puluhan itu lantas terfokus kepada Sihan. Memperhatikan secara rinci apa yang akan dikatakan kaki tangannya. Laki-laki berbadan besar tersebut berlutut lalu berseru, "Dia memiliki tangan buatan."
Sekilas ekspresi Handoko terkejut, membuka lebar kedua matanya. Tentu sebagai salah satu Adipati Padiluhur yang memerintah atas beberapa daerah termasuk desa Sawarinda, hal ini adalah masalah serius untuk bisnisnya. Terutama manusia yang diceritakan Sihan adalah sosok yang dikenal di Niskala.
...----------------...
__ADS_1