
Matahari bersinar cerah ditemani awan-awan yang melintas di cakrawala. Kereta kuda berlalu lintas serta manusia yang mondar-mandir dengan urusannya mewarnai kepadatan kota. Saat ini Suluh berada di tempat dia babak belur, Kota Asarania, daerah utama dari Rumah Akbar Niskala.
Rumah Akbar itu sendiri ada lima dan mewakili daerah masing-masing di benua Bentala. Di Utara ada Rumah Akbar Ganendra, Barat dikelola oleh Rumah Akbar Darsana, Selatan ditempati Rumah Akbar Arnawama, Timur tempat Suluh berada, Rumah Akbar Niskala, dan yang berada di tengah adalah Rumah Akbar Indrayana; menyatukan mereka semua dalam bendera kekaisaran.
Sabrina sangat antusias melihat-lihat apa yang dilalui, sesekali Suluh harus menasehatinya untuk selalu berhati-hati tidak berlebihan bila bereaksi. Saat ini mereka berada di dalam dokar yang terbuka, hendak bertamu di rumah Sekar.
"Wah, lihat orang itu!" teriak Sekar sampai insan yang memakai pakaian aneh dan rias wajah yang semula memainkan atraksi menoleh. "Hi, badut!"
Sekar melambaikan tangan dengan semangat, dibalas serupa oleh badut tersebut. Ekspresi Sabrina memancarkan keceriaan membuat Suluh turut semringah. Kereta itu terus membawa mereka masuk ke dalam kota, sesekali melewati kemacetan yang tak bisa dihindarkan. Terlebih sudah maraknya kendaraan automobil yang tengah dikembangkan menambah suasana semakin ramai.
Suluh tiba-tiba sadar akan tempat mereka berhenti, berbicara kemudian, "Pak, kami turun di sini."
"Eh?" Sabrina terperangah, tak mengira bahwa akan secepat ini. "Apakah sudah sampai di rumah Kak Sekar?"
"Belum," Suluh turun terlebih dahulu lalu mengulurkan tangan yang dibalut lengan panjang, menuntun adiknya. "Tapi ini sudah dekat."
Perempuan itu memegangi tangan buatan kakaknya, melompat tepat dalam pelukan Suluh kemudian menapak daratan. Satu hal yang tidak memberikan kenyamanan saat Sabrina turun adalah kesesakan trotoar itu. Banyak sekali orang berlalu lalang tak sesekali memedulikan sekitar. Sementara anak laki-laki itu membayar dan menarik Sabrina ke suatu tempat. Ke tempat makanan favorit mereka.
"Sabrina belum tahu, bukan, tempat kue kukus kesukaan Sabrina?" kata Suluh antusias.
Adiknya lantas mengangguk cepat dan merespons, "Apa kita ke sana, Kak?"
Suluh tersenyum sambil memberitahu letak toko itu dengan arahan kepala, "Ya, kita bisa melihatnya dari sini."
Tampak di tempat itu ada satu pembeli yang mengantri, Bu Sahira dengan semangat melayani. Aroma kue menyebar di udara membuat orang-orang yang melewatinya menelan ludah. Tak terkecuali Sabrina yang tak sabar untuk memesan, berkali-kali melihat menu yang tertempel di toko tersebut. Wanita berbadan tambun yang semula fokus membuat adonan kue sontak histeris tatkala menyadari kehadiran Suluh.
"Wah, Nak Suluh," kata Bu Sahira sembari memberikan kue dan menerima koin dari orang bertubuh jangkung di hadapan Suluh. "Uang pas ya, terima kasih!"
"Nah, ini Ibu Sahira," seru Suluh memperkenalkan ibu itu kepada Sabrina.
"Kau kah Nak Sabrina itu?" dari intonasinya, Bu Sahira terdengar ceria. "Kau manis sekali!"
Sabrina yang dipuji seperti itu malah menjadi, "Terima kasih, Ibu juga cantik!"
Bu Sahira tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Sabrina, anak itu pun mengikuti suasana. Sedangkan Suluh membuka suara, "Mau beli yang mana?"
__ADS_1
Perempuan itu buru-buru memilih, memikirkan mana sekiranya rasa yang paling enak. Dia kemudian berujar, "Dua kue kukus rasa cokelat dan pandan, Bu!"
"Baik, totalnya empat, ya," tutur Bu Sahira hanya memastikan. "Segera ibu buatkan."
Mereka sempat berbicara suatu hal, terutama rasa duka Bu Sahira yang menimpa Suluh. Berita itu menebar cepat ke kota Asarania dan mereka mulai mempertanyakan anak istimewa yang dapat memainkan empat alat bantu di tubuhnya. Mungkin bila Suluh tidak membalut semua mesin-mesin itu, orang-orang akan mencurigainya dan menaruh daya tarik masyarakat setempat.
Seusai itu, Suluh dan Sabrina berpamitan dan kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Sekar yang hanya terpaut beberapa meter di depan. Berpapasan gang sempit yang kumuh nan gelap di sana, Suluh terdiam sejenak menatap memori suram yang menghantui benak. Kenangan dan perasaan kuat membuat anak itu sekilas dapat merasakan kedua tangan buatannya diinjak-injak, dihancurkan. Sampai kapanpun tak akan dilupakan.
"Kakak kenapa?" ucap Sabrina menyadarkan Suluh dari lamunan.
"Tidak ada apa-apa," sahut Suluh menoleh ke rumah besar yang ada di depan sana. "Itu rumah Kak Sekar, kita sudah hampir sampai."
Selepas beberapa langkah, di hadapan mereka tersuguhkan rumah mewah yang mempesona. Sabrina yang takjub langsung berteriak, "Wah, indah sekali! Kak Sekar ternyata dari kalangan berada, ya! Pantas saja pakaiannya bagus-bagus."
"Kalian mau apa berada di situ?" Tiba-tiba suara yang terdengar sedikit kasar mendekati mereka dari dalam gerbang. "Ada keperluan?"
"Ya, Tuan," timpal Suluh dengan sigap sambil mengeluarkan sepucuk surat dari pakaian putihnya. "Kami sebenarnya diundang oleh Sekar untuk sebuah keperluan."
Surat itu masuk ke sela-sela pagar besi, diterima oleh penjaga bertubuh kekar secepat mungkin memeriksa keasliannya. Dari mimik wajahnya itu sedikit ragu lalu berseru, "Baiklah, silahkan masuk. Aku akan memanggilkan nyonya."
"Bagaimana perjalanannya?" suara merdu itu mengagetkan adik dan kakak di sana, menoleh bersamaan. "Apa menyenangkan?"
Di ambang pintu kaca itu tampak Sekar berdiri dengan pakaian terusan berwarna putih sampai di bawah lutut, terlihat kasual yang hanya terdapat sabuk cokelat melilit perut. Sabrina tanpa aba-aba langsung berlari memeluk Sekar, mencurahkan semua kegembiraannya.
"Kak Sekar! Aku tadi melihat badut di jalan! Ada banyak kendaraan keren-keren! Dan, dan aku membawa kue ini untuk Kakak!" seru Sabrina tanpa rehat.
"Wah, terima kasih ya, Sabrina," Sekar melingkarkan tangannya ke bahu anak berusia sepuluh tahun itu, membimbingnya ke dalam. "Ayo masuk. Mama telah menunggumu, Suluh."
Sedari awal surat itu adalah permintaan orang tua Sekar untuk kemari, membahas sesuatu yang teramat penting. Saking pentingnya hal itu mungkin akan menyangkut masa depan Suluh. Mau tak mau dia harus pergi, mencari tahu apa yang sebenarnya hendak mereka beritahu.
Sabrina dan Sekar tak membutuhkan waktu lama bermain satu sama lain. Berbagi cerita dan pengalaman, bahkan belajar alkimia serta obat-obatan. Sabrina yang tahu sedikit-sedikit semakin tertarik dengan penemuan-penemuan Sekar, takjub akan kemampuannya. Sementara Suluh duduk dari kejauhan hanya memperhatikan, sampai suara lembut itu membuatnya terkesiap.
"Suami saya tidak berada di rumah saat ini," seru Rahayu dengan pakaian anggun berwarna merah duduk di sebelah Suluh sambil membawakan minuman. "Bagaimana bekal yang ibu berikan, apa itu cukup?"
Semua ongkos perjalanan kemari adalah hasil pemberian Rahayu yang disisipkan di dalam surat. Mereka sampai repot-repot membiayai semua yang dibutuhkan, Suluh tak mampu berkata kecuali, "Terima kasih, Nyonya. Itu lebih dari cukup."
__ADS_1
"Silahkan diminum," kata Rahayu menoleh ke dua anak perempuan yang tengah asyik bereksperimen. "Mereka ternyata sangat akrab dari yang saya kira."
"Benar, Nyonya," timpal Suluh setelah menyeruput teh yang kali ini lebih manis dari yang dulu. "Saya juga terkejut mereka cepat beradaptasi satu sama lain."
Rahayu tersenyum beralih kepada Suluh. "Saya dengar dari Sekar bahwa kamu ingin bersekolah di Padepokan Cenderawasih, apa itu benar?"
Suluh sontak menyahut, "Iya, Nyonya! Saya akan mendaftar minggu ini dan mengikuti serangkaian tesnya."
"Kalau begitu saya ada sesuatu untukmu," Rahayu mengeluarkan benda dari dalam saku busananya, memberikan amplop tersebut kepada Suluh. "Bukalah."
Dengan berhati-hati anak itu membuka kertas yang ternyata berisi sebuah serifikat. Tercetak tulisan surat rekomendasi dan di bawahnya ada nama Suluh. Anak tersebut kelabakan lalu berkata, "Apa ini maksudnya, Nyonya?"
"Itu adalah surat rekomendasi," Rahayu menyeruput minuman yang tersuguhkan sebelum meneruskan. "Berikan itu saat pendaftaran di Cenderawasih, kamu akan diutamakan dan terbebas biaya sekolah selama mereka tidak mencabutnya."
"Ta-tapi, Nyonya," Suluh masih tak mengerti maksud Rahayu memberikan kertas tersebut. "Mengapa Nyonya begitu baik? Saya bahkan tak melakukan apa-apa kepada keluarga Nyonya?"
"Masih belum," timpal wanita itu menaruh kembali cangkir tersebut di atas meja. "Apa kamu tahu sesuatu tentang Mukhalis?"
Anak laki-laki berambut hitam itu lantas menggeleng kikuk, membuat Rahayu menjelaskan detailnya. "Kamu tahu, bahwa kelima Rumah Akbar sedang tidak baik-baik saja. Hubungan mereka merenggang, tak lagi akur."
Rahayu menjeda lalu melanjutkan, "Saya mendapat informasi bahwa Ganendra telah menduduki Indrayana. Dengan begitu mereka akan lebih mudah mendapat akses dan mengeksploitasi Niskala dan Arnawama. Sebab kedua Rumah Akbar itu industrinya sangat dibutuhkan."
Suluh mencoba mencerna, sama sekali tak tahu tentang konflik yang tengah terjadi. Rahayu berseru, "Cepat atau lambat mereka akan mengeruk sumber daya alam kita dan kemungkinan besar raja tak akan tinggal diam."
"Kalau sudah seperti itu, peperangan mungkin tak akan terhindarkan dan bila itu terjadi," cetus Rahayu sesekali menghela napas dalam-dalam. "Tempat ini, kota ini, nantinya akan menjadi lautan api."
"Namun, menurut ramalan kuno, Mukhalis akan tiba," wanita itu kini menatap tajam ke arah Suluh. "Dia tiba dengan kekurangan yang menyulitkannya bergerak akan tetapi secara bersamaan membawa kekuatan besar dalam tubuhnya."
"Dengan demikian, dia menghentikan kerusakan di Bentala dan selama itu namanya akan terus terkenang," ungkap Rahayu dengan serius, tak pernah dia memancarkan mimik seperti itu. "Apa mata saya salah menilaimu, Suluh?"
"Hanya ada satu cara membuktikannya," wanita itu kembali mengambil cangkirnya. "Dengan kamu bersekolah di Cenderawasih, kamu akan lebih cepat mengenal Prana. Lebih cepat menguasainya."
"Dan bila kamu telah merasakan kehadiran mereka," Rahayu meminum tehnya beberapa tegukan. "Kamu tahu bahwa kamu bukan anak biasa."
"Karena saya yakin bahwa kamu adalah Mukhalis itu."
__ADS_1
...----------------...