
Panas mulai membakar kulit tatkala mentari berada tepat di atas kepala. Murid-murid berhamburan di sekitar area sekolah, bersantai dan membeli makanan. Latihan awal itu masih belum dikuasai oleh sebagian besar siswa di kelas Suluh, 1-A. Mereka yang berhasil hanyalah Satia dan Savian dengan langkah sempurna, sementara Suluh harus terus berlatih lebih keras untuk itu.
Mereka kali ini memilih menuruti rasa lapar yang sedari tadi berdemo, menuntut keadilan. Berkali-kali Suluh melewati siswi yang bersekolah di sini, sedikit dibuat terheran-heran bahwa mereka lebih memilih menimba ilmu bela diri daripada ke bidang lain. Sudut bibir Savian terkerah ke atas, sadar bahwa Suluh terus memperhatikan kaum hawa yang rutin mondar-mandir di sekitar.
"Apa sudah menemukan yang cocok?" celetuk anak laki-laki itu sambil mencurahkan mimik bercanda.
Suluh terkekeh merespons kalimat Savian lalu berkata, "Ya, dia tidak di sini."
"Oh?" Savian menautkan dahi terperangah. "Kau membuatku iri."
Mereka berhenti di antrian, Suluh meneruskan, "Tapi aku tak tahu dia merasakan hal yang sama atau tidak."
"Jadi begitu," seru Savian sambil melangkah ke depan. "Itu mudah sekali, kau hanya butuh satu hal."
Suluh tiba-tiba menoleh secepat kilat ke anak laki-laki berambut kemerahan di sebelah, berceletuk, "Sungguh? Apa?"
"Tanyakan secara langsung!" Savian tertawa, sesekali menepuk bahu kawan berambut hitam itu kemudian memesan makanan. Walaupun Suluh sedikit kesal akan tetapi saran Savian tepat sasaran.
Mereka memesan dan mencari tempat duduk yang belum ditempati, menemukan di antara kerumunan laki-laki. Mereka seperti satu kelompok, sekelompok senior yang tampak tak ramah. Air muka mereka menebarkan rasa was-was, macam berandalan berseragam sekolah. Tak heran murid-murid baru berusaha mencari tempat lain.
Namun, entah kenapa Savian malah memilih tempat itu. Tak sesekali merasa takut maupun menaruh kekhawatiran. Dia tanpa beban melewati sekumpulan senior itu yang tentu mendapatkan sorotan melawan, merasa tak menaruh rasa hormat. Suluh berusaha untuk tidak memedulikan, duduk manis tak sabar menikmati masakan. Mereka seakan-akan murid naif yang tak tahu masalah di hadapan mata.
"Isi staminamu, kau masih harus berlatih teknik itu, bukan?" tutur Savian mulai memakan kuah yang berwarna hitam tersebut.
Suara kursi tiba-tiba terdengar berdecit, senior berbadan besar berdiri mendekati mereka yang masih sibuk memamah. Dia sambil tersenyum sinis berkata, "Oh, lihat ke sini. Anak cacat tampak kelaparan."
__ADS_1
Suluh sontak terdiam, memaksa makanan yang berada di mulut itu tertelan. Suluh menoleh ke sebelah yang sudah ditempati laki-laki dengan rambut hitam dikuncir kuda, tanpa aba-aba menyandarkan tangan di bahu Suluh. Bersama ekspresi mencemooh, dia mencibir, "Tentu, dia harus memenuhi bahan bakar mesin ini."
Mereka tertawa terbahak-bahak, Suluh memilih diam dan hendak keluar dari sana. Namun Savian mencerocos, "Ah, sial udah habis. Suluh, apa kau mau nambah?"
Karena merasa tak diacuhkan, manusia berbadan kekar itu sontak menarik busana Savian secara kasar. "Kau berani bermain-main dengan kami, anak baru?"
Pria berambut merah malah cekikikan mencoba terlihat kikuk, "Apa yang senior katakan? Kami hanya ingin makan bukan bermain."
Kakak kelas tersebut kembali dibuat ketawa, secara cepat mengibaskan makanan Suluh dan Savian hanya dengan tangan kanan, memecahkan wadah yang menarik khalayak umum. "Acara sudah selesai. Mari bermain."
"Edo, santailah sedikit, apa kau tak tahu bahwa dia adalah salah satu murid baru yang berbakat?" tukas laki-laki yang rambutnya dikuncir. "Taruhlah sedikit respek kepadanya. Kemampuan dia mungkin setara denganmu."
"Lebih dari itu, anak cacat ini yang mendapatkan sorotan," sambung pemuda tersebut menoleh ke arah Suluh yang membisu. "Siapa sangka bila anak ini ternyata mahir dalam teknik pertahanan."
"Siapa yang melatihmu?" imbuhnya penasaran.
"Lelucon yang bagus," dia mendekatkan muka beringas tersebut di hadapan Suluh sambil mencerocos. "Aku tahu anak lemah sepertimu tak dapat melakukan apa-apa tanpa teknik itu."
Orang-oramg yang berada di sana tak berbuat apa-apa kecuali menonton dari kejauhan, tak berani melawan salah satu murid terkenal, Himdal. Meski setelah mereka tahu bahwa Suluh ditarik dan diluncurkan sampai terjerembab di atas lantai kantin, semua tak berkutik kecuali Savian yang meronta. Berusaha mencegah namun ditahan oleh laki-laki berbadan besar.
"Seharusnya kau tak berada di sini," usul Himdal tersenyum sinis dan mencela. "Kau hanya hama yang menodai Prana."
Sebutan itu, kalimat itu, sama seperti yang dikatakan Rehan waktu itu. Tatkala dia diberlakukan bak sampah yang lumrah untuk disakiti, tak memiliki nilai berarti. Saat dia melihat sosok Himdal seketika trauma itu kembali mencuat, Suluh reflek bersembunyi di balik kedua tangan buatan tersebut meski Himdal dan kawan-kawan tak melakukan kekerasan.
"Lihatlah dia," cela Himdal tertawa bersama kawannya. "Tak heran kalau kau lemah!"
__ADS_1
Suluh membeku, teringat kalimat Guru Madiarta bahwa dia harus sesekali membela diri. Membela martabat, melawan mereka yang berusaha merendahkan kehormatan. Dia melepaskan kedua tangan dari hadapan muka dengan ekspresi yang berubah. Mata hazel itu tak sesekali terlihat resah, tampak lebih berani menusuk ke arah mata Himdal.
"Kenapa denganmu?" pemuda tersebut sedikit merasa tersinggung dengan tatapan Suluh, mendekati laki-laki yang semula terduduk di lantai bangkit kembali. "Kau berani macam-macam dengan senior, huh?"
Suluh tak diam begitu saja. Dia lantas mempersiapkan kuda-kuda secara matang, hendak memberikan serangan. Melihat itu, Himdal semakin kegirangan. "Oh, kau ingin membuktikan bahwa kau mampu bersaing?"
"Baiklah, akan kuturuti kemauanmu!" Haimdal masih dengan ekspresi remeh, memberikan gerakan tangan untuk segera melawannya. "Ini pasti berjalan sangat seru."
Suluh yang telah termakan oleh amarah menggebu, tak dapat menjernihkan pikirannya. Secara cepat dia menerjang akan tetapi Savian yang berada tepat di depannya mencekal. Melerai Suluh untuk tidak berbuat hal yang akan merugikan dirinya sendiri. Kedua mata itu bertemu, mata biru miliknya berusaha untuk menenangkan Suluh, memboikot tubuh temannya yang meronta-ronta.
"Kendalikan dirimu, Suluh!" teriak Savian sambil membekukan anak tersebut. "Apa kau lupa bahwa menahan emosi sama pentingnya dengan berlatih bela diri?"
Suluh melemah, dia tak lagi agresif dan perlahan tunduk. Kali ini dia telah kelewatan, tak mengindahkan tata krama sampai membuat seisi murid di kantin gaduh tak karuan. Savian yang ada di antara mereka berseru, "Apa ini contoh senior di Padepokan Cenderawasih?"
"Bila kalian mahir dalam bela diri, malulah bila kalah dalam kompetisi melawan kami!" kata Savian menyulut harga diri Himdal, melangkah mendekat.
"Baiklah, kau berdua yang akan jadi sasaranku." suara mencekam penuh penekanan di kata terakhir itu tak sekecil pun membuat Savian bergetar, anak itu malah tersenyum tak takut.
"Apa keseharian kalian hanya berbuat masalah?" suara itu membuat semua siswa berhamburan, tercekat dan memberi salam dengan membungkuk dalam-dalam. Dia adalah Tetua Ardiyasa, langsung tahu dalang di area kantin tersebut. "Sudah berkali-kali aku menegur kalian. Bila aku berkenan, kalian bisa angkat kaki dari sekolah ini setelah aku melihat tindakan itu sekali lagi."
Sekelompok itu tak dapat mengabaikan ancaman Tetua Ardiyasa, bersekolah di Cenderawasih bagaimana pun adalah impian mereka. Tak sesekali ingin dikeluarkan. Kakek itu mendekati mereka, berjalan santai tanpa ada halangan. "Ikuti aku ke Tetua Mustari dan berhati-hatilah dalam memilih lawan kompetisi."
Tetua Ardiyasa sempat melirik ke Suluh dan Savian sebelum mendarat ke arah Himdal. "Potensi mereka kemungkinan lebih besar darimu."
Sesaat setelah kalimat itu tersampaikan, Himdal dan kawan-kawan tak berkutik selain mengokor di belakang tetua. Area kantin mencair, tak lagi penuh ketegangan yang menyita perhatian. Suluh saat itu hanya menunduk, tak dapat menjaga didikan Guru Madiarta yang selalu mengedepankan pengendalian emosi. Dia menarik napas dalam-dalam, mengusir aura negatif perusak sukma.
__ADS_1
...----------------...