Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
17. Dunia Spiritual


__ADS_3

Suluh duduk bersila, kedua telapak tangan diletakkan tepat di atas lutut dengan memejamkan mata. Suara aliran air itu terdengar berisik mengacaukan konsentrasi Suluh, mau tak mau harus dapat mengatasinya. Inilah tantangan yang mesti ditaklukkan, mempertajam indra supaya lebih terpusat ke dalam benak.


Berada di atas batu yang tak terlalu besar di tengah-tengah sungai, air hampir menyentuh kakinya. Suluh kali ini tak serisau dulu dikarenakan menurut Guru Mahendra, merasakan Prana memang membutuhkan waktu. Rata-rata anak seusianya baru menyadari unsur itu dalam seminggu lebih, terlama bahkan sampai berbulan-bulan.


Kali ini dia sendirian, Guru Mahendra tak lama yang lalu kembali ke padepokan sekadar mengambil sesuatu. Satu hal yang perlu Suluh fokuskan untuk saat ini adalah membuka jiwanya, mengosongkan pikirannya, menjernihkan hati yang dilanda gundah gulana. Berusaha tak acuh dengan urusan lain.


Dia menarik napas kuat-kuat, mengembuskan secara berkala. Tiap dia melakukan itu, wajahnya berubah berseri, tenang dan tentram. Hatinya merasakan kenikmatan akan kedamaian yang dicari-cari semua orang. Kicauan burung yang hinggap di dahan pohon semakin memberikan rintangan kepadanya, walaupun sebenarnya itulah yang membuat situasi di sana semakin berwarna.


Terik sang surya lambat laun memanggang kulit akan tetapi entah kenapa Suluh tak merasakan radiasi tersebut. Mungkin karena sungai ini diapit oleh dua hutan rimbun yang kaya akan oksigen serta derasnya air yang segar. Saking jernihnya, dasar-dasar sungai itu sampai terlihat. Ikan-ikan kecil sibuk berlalu lalang mencari makanan. Sayang sekali Suluh harus mengesampingkan godaan itu demi satu tujuan.


Semakin tenggelam dalam pikiran, Suluh perlahan-lahan merasakan dampak yang signifikan. Pendengarannya mulai melemah, suara-suara memudar, dia mendadak tuli. Awalnya dia panik serta kebingungan, tapi dia tak boleh berhenti sampai di situ. Dia harus terus melanjutkan. Entah kenapa, Suluh mulai merasakan atmosfer itu kembali. Suatu hawa panas yang membuat dadanya berdegup kencang.


Meski mata itu tertutup, Suluh dapat melihat sesuatu di hadapannya. Sesuatu yang teramat mengerikan. Sosok itu lagi-lagi muncul. Siluet hitam dengan kobaran api yang meliuk-liuk di sekitarnya. Bola api raksasa terbentuk, meluncur sangat cepat ke arahnya. Suluh yang terbawa suasana, sontak berlindung di balik kedua tangan. Sesaat ketika si jago merah itu melibasnya, Suluh tersentak dari meditasi hingga terjungkal ke sungai.


"Ketakutan adalah hal yang merusak pikiran," suara itu berasal dari kakek Mahendra yang entah sejak kapan berdiri di tepi sungai. "Dia akan memanipulasimu hingga di suatu titik kau tak berdaya."


Suluh seketika bergegas berdiri, membenahi diri dengan mengibas-kibaskan celana longgar itu yang sepenuhnya basah. "Maafkan aku, Guru! Aku terlalu lalai dalam bereaksi."


"Kau harus bisa menghadapi ketakutanmu," seru Guru Mahendra yang meletakkan kedua tangan di belakang. "Dengan begitu, tak ada lagi penghalang yang mencegahmu."

__ADS_1


"Baik, Guru!" teriak Suluh penuh keyakinan. "Aku akan berusaha semaksimal mungkin."


Kakek itu malah berbalik badan, berjalan menjauhinya. "Mari istirahat dulu, ini sudah waktunya."


Suluh mengernyit, sempat dibuat kelabakan. "Maksud Guru, ini sudah jam makan siang?"


"Ya," dia berhenti, menyempatkan menoleh ke anak itu. "Apakah kau tak menyadarinya?"


Dia tak dapat merespons apa-apa, benar-benar dibuat kalang kabut. Padahal Suluh mulai bermeditasi dikala masih pagi, mentari bahkan baru serong ke atas. Namun, sekelebatan bayangan yang dia lihat tadi, serta telinga yang tiba-tiba tak dapat mendengar, seolah-olah memakan waktu selama berjam-jam. Hal itu dibuktikan tatkala sang surya sudah bertengger di atas kepala yang tampak telah tergelincir ke Barat.


Guru Mahendra duduk di bawah pohon rindang, ditemani Suluh dengan lahap memakan makanan yang telah dibawakan oleh asisten kakek itu. Bila ditilik lebih lanjut, para asisten guru di Cenderawasih juga bukan sembarang orang. Paling tidak mereka sudah sangat mahir dalam bela diri serta pengendalian Prana, paling minimal dalam tahapan Tingkat Raga. Suluh tahu hal tersebut tatkala dia berempat mata dengannya, senior Indira.


"Merasakan Prana tentu bukanlah hal yang mudah," kata perempuan itu melihat Guru Mahendra yang melakukan suatu gerakan di depan sana. Indira berkulit putih, semurni susu tatkala cahaya menerpa. Rambut hitam pendek sebahu itu meliuk-liuk mengikuti embusan angin, sesekali iris kecokelatan lentiknya melirik ke arah Suluh. "Aku dulu hampir sebulan. Belum lagi cara menerima mereka ke dalam tubuh."


"Bukankah secara mutlak semua hal buruk harus ditiadakan di dalam hati sanubari?" Perempuan itu menoleh, tersenyum lebar hendak menyemangati Suluh. "Kau pasti bisa melakukannya."


"Te-terima kasih senior Indira," tutur Suluh setelah menghabiskan makanan yang berada dalam mangkok. "Sebenarnya aku juga sama sepertimu."


Indira sedikit memicingkan mata, membiarkan Suluh melanjutkan, "Aku terlalu khawatir bila tak diterima oleh Prana, takut tak akan bisa berkultivasi. Karena keterbatasan fisikku ini, aku semakin pesimis dan putus asa."

__ADS_1


"Namun, berkat orang-orang yang mempercayaiku, termasuk akses ilmu dari Guru Mahendra dan dirimu," Suluh ikut merekahkan sudut-sudut bibirnya. "Aku semakin bersemangat dan yakin atas diriku sendiri."


"Bagus, jangan sampai kau kehilangannya," sahut Indira, auranya memancarkan rasa positif yang tak dapat ditolak. "Percaya diri itu penting!"


Tak lama setelah itu, Guru Mahendra berseru, "Suluh, kemarilah."


Sekonyong-konyong Suluh berdiri, memberikan isyarat kepada Indira yang dibalas anggukan kecil dari perempuan tersebut. Anak laki-laki itu berlari secepat mungkin, lekas-lekas berada di belakang kakek yang tengah melakukan suatu tarian. Benar, gerakan Guru Mahendra laiknya sebuah tarian yang mengalir begitu saja, sinkron satu sama lain. Hal yang baru Suluh sadari adalah aliran air itu, seakan-akan mengikuti tiap lantunan tubuh dari Guru Mahendra.


"Prana adalah kedamaian," ujar kakek tersebut dengan konsentrasi penuh nan tampak tenang. "Bila kau tak mendapatkan kedamaian itu, mustahil kau merasakan mereka."


Ketika kedua tangan terbentang ke atas, gelombang air itu mencuat menirukan sedemikian rupa dengan durasi yang singkat, menyemburkan percikan air di udara. Suluh melongo takjub, begitu pula Indira dari kejauhan. Selama bertahun-tahun menjadi asistennya, baru kali ini Indira menyaksikan secara langsung Guru Mahendra menunjukkan kemampuannya dalam Tingkat Alam, mengendalikan unsur air.


Kala itu, Suluh termotivasi. Hari demi hari terlewati, menempa kemampuan bela diri diikuti latihan bermeditasi, Suluh tumbuh menjadi murid yang sangat dihargai. Bukan hanya karena dedikasi serta kegigihan itu yang membuat Savian menaruh empati, kenyataan bahwa dengan tubuh tersebutlah yang mengesankan anak berambut merah itu. Menurutnya, embel-embel anak istimewa yang disematkan kepadanya bukan isapan jempol belaka.


Genap enam belas hari berlalu, Suluh kembali berada di tempat yang sama. Kali ini dia dengan persiapan penuh dengan tubuh fit, mencoba membuka sukma untuk merasakan kehadiran Prana. Tak membutuhkan waktu lama seperti sedia kala, dia kehilangan indra pendengarannya, semua mulai senyap dan kejadian yang sama menghantuinya. Api berkobar menghancurkan segalanya bersama sosok Mukhalis yang hendak menerjangnya.


Namun, alih-alih mundur, Suluh melangkah mendekati bola api di hadapan mata. Dengan cekatan dia berlindung di balik kedua tangan, mendorong sekuat tenaga tubuhnya menerobos rasa panas yang terasa nyata. Bahkan tangan buatannya itu secara sedikit demi sedikit berubah menghitam menahan sengatan suhu yang ekstrem. Akan tetapi, keyakinan membara dalam diri Suluh jauh lebih kuat untuk dikalahkan.


Dia mati-matian mendobrak ketakutannya, dengan usaha keras menghempaskan api itu dan dalam sekejap mata, semuanya sirna. Si jago merah tersebut menghilang seakan terpecah, berpendar menjadi butiran debu yang bertebaran di udara. Lama kelamaan setiap titik mengeluarkan cahaya, Suluh sadar bahwa jumlah mereka ada banyak. Ratusan, ribuan, milyaran. Tidak, tak terhingga. Suluh merasakan kehadiran Prana, mengelilingi anak tersebut yang masih bermeditasi di atas batu.

__ADS_1


Ketika momen itu, dia berkultivasi.


...----------------...


__ADS_2