
Di dalam ruangan yang bernuansa mewah disertai benda-benda mahal tersebut, ada wanita yang duduk di tepian kasur. Dia terlihat memakai busana tidur dengan kain yang teramat tipis, menata rambut keemasannya yang disampirkan di sebelah kanan leher. Perhiasan berkilauan masih melekat di sana, bersamaan liontin berwarna kebiruan memancarkan sinar dari refleksi lentera.
Tak lama kemudian, tiba laki-laki dewasa tak memakai atasan sama sekali yang memakai sarung bermotif batik dengan taburan emas. Pria itu sesekali memicit kepala, rambut cokelat yang memutih tersebut berantakan akibat aksi yang dia lakukan, meminum cairan yang sudah disediakan di atas nakas. Turut duduk di sebelah wanita yang mencoba menenangkan, tangan kirinya dengan lembut mengelus-elus area bahu laki-laki tersebut.
"Ada apa, kakanda?" suara maharani itu terdengar lembut, khawatir dengan muka masam suaminya. "Kulihat dikau selalu risau tak karuan akhir-akhir ini."
Pria itu terdiam tak lekas membalas. Menarik napas dalam-dalam sebelum berseru, "Bagaimana tidak, adinda. Daku merasa bahwa Indrayana melakukan sesuatu di balik indraku."
"Kenapa kakanda sampai berpikir demikian?" kini wanita itu mendekati muka Tuan Reswara dengan teramat cemas.
"Masih samar-samar, akan tetapi rasa itu terus berkecamuk di dalam sanubariku," tutur laki-laki tersebut menoleh kepada istri yang terlihat cantik mempesona. "Saat kompetisi, daku sedikit aneh dengan salah satu wira yang membuntuti Mandala."
"Dia berusaha untuk terlihat misterius, selalu membenamkan raut dengan tudung yang dikenakan," kelakar Reswara sambil meraba-raba berewok tebal yang sudah memutih. "Daku tahu mereka merencanakan sesuatu."
"Kakanda, ketakutan semacam apa yang dikau maksud?" kini Permaisuri Niskala mencoba melipur hati kepala negeri. "Bukankah Tuan Mandala telah menandatangani kesepakatan dengan darahnya sendiri?"
Raja Reswara tak bersuara, memilih diam membiarkan istri bernama Indraswari meneruskan, "Dia tak akan berkhianat selama berada di Niskala."
Pria itu masih belum memberikan tanda-tanda membalas, terus menunduk berselancar dalam benak. Dia sesekali kembali menoleh, menorehkan senyuman yang berusaha untuk tidak membuat situasi semakin memanas. "Dikau benar, mungkin daku terlalu berhati-hati."
Sorotan mata sendu itu kemudian berlalu ke liontin Permaisuri Indraswari, menuturkan sesuatu, "Tapi bilamana kondisi tiba-tiba berbalik, keluar dan larilah dari istana."
__ADS_1
"Penduduk akan selalu setia kepadamu," seru laki-laki itu sambil membelai kalung yang dikenakan Indraswari. "Jangan sampai adinda kehilangan warisan ini."
"Kakanda, apa yang dikau katakan?" akibat kalimat yang diutarakan Penguasa Niskala, dia semakin was-was.
"Andai kita ada banyak waktu, adinda" sesal laki-laki dewasa tersebut dengan nada lirih. "Sebab musuh telah lama melakukan aksi dalam ketidaktahuan kita."
Malam temaram itu terlewati begitu cepat, kompetisi semakin hari semakin semarak dikarenakan kandidat Turuwara Merah tersebut tak dapat dikalahkan. Sudah beberapa babak terlewati, Raka selalu mampu menumpas murid-murid dari sekolah lain. Bahkan Himdal yang mendambakan bisa berkontribusi di kompetisi ini, harus rela menerima kekalahan melawan Raka.
Kini babak semifinal telah tiba. Peserta kali ini lagi-lagi berasal dari Cenderawasih yang mendominasi. Sedangkan Tuturawa Merah hanya tersisa Raka yang sedari awal memapah nama sekolah sendirian. Dengan kehebatan tersebut, tak heran dia sampai bisa berada di babak tersebut meski menurut kebanyakan dari fans Cenderawasih, Raka melakukan kecurangan dengan memanfaatkan unsur Prana melawan mereka yang belum bisa memaksimalkan.
Lawan Raka kali ini adalah Savian, anak muda bertalenta yang lincah serta cekatan. Statistik berbicara bahwa Savian diuntungkan sebab Raka kerap tampil tergesa-gesa dan tak efisien. Sementara Savian kebalikannya. Anak itu sudah tercatat dapat membaca serangan, menemukan titik lemah lebih akurat dari kebanyakan kontestan, serta ahli dalam menumpas musuh dengan cepat.
Namun, Raka ada wasit yang selalu membela, berada di sisi mereka. Rumor beredar cepat bahwa ada konspirasi antara Kerajaan Indrayana dengan Padepokan Turuwara Merah. Sebab, kompetisi diadakan di Cenderawasih adalah karena usulan dari kekaisaran itu sendiri. Terlebih, desa-desa kecil di daerah Cenderawasih mulai tersebar wira-wira tak dikenal yang mengaku sebagai utusan istana. Menumbuhkan firasat tak aman.
Toh, itu semua hanya sebuah asumsi belaka. Namun Sabrina turut ikut bersama mereka, menemani Sekar dan Suluh yang mana laki-laki itu malah menolak keluar kota. Suluh bersikukuh menyaksikan kompetisi sebab yang tampil adalah sahabat dekatnya, tak mungkin dia liburan disaat Savian berusaha keras mencapai kemenangan. Karena keputusan itu, Tuan Arnadi menunda keberangkatannya dan memilih malam hari.
Suasana di sekitar arena semakin ramai dari biasanya, lebih antusias dan bersemangat. Ini barangkali adalah babak yang dinanti-nantikan. Antara Raka dan Savian, dua murid berbakat dengan kemampuan luar biasa. Sama-sama dapat memanfaatkan Prana ke ranah destruktif, setara dalam hal kekuatan. Tak sabar seberapa heboh yang bisa mereka keluarkan. Salah satu murid dengan bakat alami yang mampu berada di Tingkat Raga dengan umur yang terlampau muda.
"Sedia?" seru wasit sambil bergantian menoleh kepada Raka dan Savian, membuat kuda-kuda. "Mulai!"
Kali ini Raka tidak buru-buru melakukan serangan seperti sebelumnya, dia lebih berhati-hati. Mereka berdua melangkah memutar, lirikan mata terkonsentrasi satu sama lain. Satia di satu sisi, tidak serisau Raka, dia masih dalam keadaan tentram. Menilik semua kemungkinan yang akan dilancarkan anak tersebut. Ini adalah kunci seperti yang telah dikatakan Suluh, memprediksi langkah dengan tepat dan akurat. Selama dia memikirkan itu, Raka melesat dengan tiba-tiba, tak sekali-kali membuat Savian kalang kabut.
__ADS_1
Kecepatan Raka memang tidak diragukan lagi, namun Savian berada di level berbeda. Ketika hantaman itu terpat beberapa inchi dari muka Savian, dia mampu menghindar hanya dengan memiringkan kepala. Sudah menyiapkan bogeman mentah yang terarahkan ke perut, tereksekusi mulus nan tak ada kendala berarti. Raka yang menerima serangan itu tentu terpental, harus dapat menahan keseimbangan tubuh tatkala mendarat.
Disaat dia kembali terarah kepada Savian, laki-laki berambut merah tersebut melakukan serbuan kombinasi. Mulai dari serangan di dada dengan kedua telapak tangan, memutar badan kemudian mengayunkan tangan kanan yang sudah diantisipasi oleh Raka sebelumnya. Namun, hal tersebut tak terlalu berguna, sebab kedua tangan yang disilangkan di depan muka Raka itu runtuh tatkala Savian mengayunkan hantaman dari bawah, menghancurkan pertahanan anak tersebut.
Tak berhenti di sana, Savian terus membombardir aksi dengan sebuah sepakan kuat yang kembali memaksa Raka terpelanting tak karuan. Dia buru-buru bangkit, memperhatikan Savian yang sudah melompat tepat ke arahnya dengan kecepatan luar biasa. Raka cepat-cepat mengelak, kekuatan Savian yang mendarat di atas matras menimbulkan kerusakan yang mengerikan sampai-sampai menyebabkan keretakan yang teramat besar.
Kali ini Raka diberi napas untuk mencerna serta merencanakan aksi yang akan dilakukan. Di balik kemelut tabun itu tercetak siluet laki-laki, kemunculan Savian sempat membuat Raka sedikit ketakutan. Namun hal itu malah mencetak senyuman sinis, semangatnya membara secara tiba-tiba. Gelora mencapai kemenangan semakin mendebarkan akan tetapi itulah yang membuat Raka semakin buas. Bahan bakar amarah lambat laun terisi, memperkuat ambisi.
Suluh sedikit tersentak ketika merasakan aura itu kembali mencuat dari sukma Raka, tak terkecuali Savian yang berada tepat di hadapan anak tersebut. Dia merasakan ada sesuatu yang berada dalam tubuh Raka, sesuatu teramat mengerikan. Presensi anak berambut keemasan itu sudah sangat berbahaya bila dia tak dapat mengendalikan emosi, berlaku sesuai nafsu yang merusak sekitar.
"Aku terkesan," seru Raka yang masih berdiri di sana dengan kedua kaki yang terbuka lebar. "Aku sama sekali tak melihat celah untuk dapat melancarkan teknikku."
"Oleh sebab itu kau tak ada pilihan lain selain memanfaatkan unsur Prana, bukankah begitu?" sahut Savian mendekat secara berhati-hati.
"Kompetisi ini menentukan siapa yang terkuat di antara kita," Raka merekahkan senyuman lebar, terlihat menakutkan. "Dan kupikir, mereka yang tak bisa menerima Prana adalah sampah."
"Bagaimana kau bisa tak mampu menerima Prana bilamana keberadaan mereka selalu ada di sekitar kita?" dalih Raka dengan suara yang semakin keras. "Bagiku, manusia seperti itu tidak berguna dan sangat memalukan!"
"Aku muak dengan manusia lemah!" dia kemudian tertawa kecil, seolah-olah menertawakan sesuatu. "Benar, manusia lemah yang selalu ditindas dan tak bisa melakukan apa-apa."
"Maka di saat-saat seperti ini, aku tak akan mundur. Tak akan bersimpuh bertekuk lutut. Ini adalah bukti aku bukanlah manusia lemah seperti mereka!"
__ADS_1
...----------------...