Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
33. Kompas Moral


__ADS_3

Suluh tercekat mendengar desa yang sama yang hendak dia hampiri, berseru sekadar ingin tahu, "Dikau ada rencana?"


"Oh, tentu, apa kau tidak melihat aku mencatat ide brilian ini?" Savira menarik secarik tersebut dan menaruh tepat di depan muka Suluh.


"Baiklah, daku menantikan eksplanasimu," kata Suluh menepis tangan Savira dari hadapannya.


"Tapi aku ingin memastikan sesuatu," kata Savira meletakkan kembali kertas tersebut di atas meja yang terbuat dari kayu mahoni. "Apa kau bersedia membantu kami sampai kembali ke sini?"


Suluh menunduk ke bawah, memikirkan hal yang seharusnya dia lakukan. "Sebenarnya daku berkelana untuk mencari informasi tentang keberadaan Tuan Arnadi dan berusaha memastikan keselamatan mereka."


"Tuan Arnadi?" Savira serasa tak aneh mendengar nama itu. "Apa yang kau maksud Arnadi yang memiliki Perusahaan Automobil di Asarania?"


"Ya, benar!" Laki-laki tersebut lantas berubah bersemangat. "Apa dikau tahu dia di mana?"


"Tidak," sahut Savira menggelengkan kepala, melirik ke arah lain. "Tapi aku mungkin memiliki informan yang menuntunmu kepadanya."


"Hey, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan," imbuh perempuan tersebut sambil tersenyum lebar. "Kau ikut dalam operasi kami, maka kau mendapatkan informasi tersebut."


"Ya, daku tahu kau akan berkata demikian," seru Suluh duduk di hadapan Savira. "Baiklah, daku bersedia."


Perempuan itu masih merekahkan senyuman, merasa sukses meyakinkan laki-laki yang dilanda rasa penasaran. Operasi "berburu" itu sudah sangat sering dilakukan ke beberapa desa maupun kota sebelumnya, mereka akan mengambil sebagian dari makanan untuk dibawa kembali ke hutan. Untuk melaksanakan hal itu, setidaknya membutuhkan dua kereta kuda dengan skala gerobak yang relatif lebih luas.


Rencana mereka bervariatif, selalu berubah-ubah menurut kondisi di lapangan. Karena Desa Sinambu ada suatu acara besar yang akan dihadiri banyak pedagang, itu adalah kesempatan bagi mereka untuk masuk. Namun, dikarenakan acara tersebut, wira-wira Ganendra akan semakin memperketat situasi sekaligus mempersulit operasi mereka kali ini. Tetap saja, Savira dengan kepercayaan diri yang kuat, sangat yakin bahwa idenya akan berhasil.


"Kita tak bisa lagi merampas saat mereka telah berada di desa," seru Savira yang disimak oleh Suluh, Alan, dan Intan. Beberapa dari sukarelawan ikut berkumpul mendengarkan. "Sebab acara ini kemungkinan besar akan diserbu warga, tak ada celah sama sekali dalam berkamuflase. Kita akan ketahuan dengan mudah."


"Jadi kita harus membuntuti kereta kuda tersebut sebelum sampai di desa dan berbaur seolah-olah kita salah satu dari mereka," timpal Savira masih mencerocos. "Saat mereka sadar akan kehadiran kita, bersikaplah ramah sambil tarik secara berhati-hati dengan kail tatkala mereka melintasi bebatuan."


"Ah, cerdas, untuk menutupi efek hentakannya," sahut Alan menginterupsi. "Suara kereta juga sudah sangat berisik saat melintasi jalanan yang tak rata."


"Benar sekali, Alan!" Savira mencoba berkonsentrasi kembali. "Setelah itu mereka pasti merasakan bahwa kereta mereka melambat dari yang lain. Maka kita akan memberitahu bahwa ada sesuatu yang salah."


"Tawarkan bantuan, hentikan mereka saat itu," kata Savira bernada serius. "Setiap kereta setidaknya ada dua wira yang ikut, kita harus menyingkirkan mereka secepat mungkin dan mengambil alih kemudi."

__ADS_1


"Suluh dan Alan," seru Savira menoleh secara bergantian ke arah laki-laki itu. "Ini adalah peran kalian, lakukanlah dengan mulus dan tanpa kecacatan. Pakai busana mereka dan cepat naiklah ke dalam kereta."


"Bila ini tak ada hambatan, Intan, Reno, dan Riki akan melakukan hal yang sama di kereta kuda kedua," celetuk Savira sambil mengatur napas. "Tentu, semua ini tidak serta merta dalam kepalaku, realita mungkin bisa lebih dari apa yang diekspektasikan."


"Oleh karena itu, saat situasi tak terkendali dan mulai kacau," imbuh Savira mengedarkan pandangan. "Prioritaskan satu kereta untuk dibawa kembali."


"Tunggu," sahut Suluh membuat semua insan terperangah kepadanya. "Daku tak bisa melakukan hal semacam itu."


"Apa maksudmu?" Savira menautkan alis, sedikit merasa aneh dan kebingungan.


"Tindakan itu tidak dibenarkan," kata laki-laki yang kini berdiri. "Kalian berbicara merampas hak orang lain dan membiarkan mereka kekurangan makanan, tak ada bedanya dengan keadaan di sini."


"Kami melakukan hal yang menurut kami benar untuk kalangan kami," cela Savira membela diri.


"Tidak, kalian salah!" Suluh sedikit berteriak. "Dikau hanya terus menambah masalah demi masalah yang tak akan berakhir!"


"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" Savira kian tersulut emosi, berteriak secara tiba-tiba. "Membiarkan kalanganku sendiri mati kelaparan? Kenapa aku mesti memedulikan orang lain yang bahkan telah memulai keadaan seperti ini!"


Semua terasa hening dan diam, Suluh hanya membisu di tempat. Membiarkan Savira menuturkan kalimat, "Kau berpikir kami orang buruk yang tidak berperikemanusiaan, bukan?"


"Kita memiliki kompas moral yang berbeda." Savira beranjak, memalingkan wajah dari Suluh. "Putuskanlah sebelum besok, kau bebas untuk keluar dari sini."


Perempuan itu melangkah menjauh dari sana, membuat suasana semakin suram. Mereka sama-sama terfokuskan ke Suluh yang menunduk masih menimbang-nimbang, harus memilih. Namun satu hal yang Suluh tahu bahwa dia tak berutang budi apa-apa kepada kalangan ini, salah satu dari mereka bahkan hendak mencelakainya. Informan yang dikatakan Savira belum tentu memberikan data akurat tentang keberadaan Tuan Arnadi, misi yang dia emban tak berhenti di sini.


"Suluh ... apakah kau pergi?" Intan cepat-cepat mendekat.


"Maafkan daku," timpal laki-laki itu lirih. "Daku ada sesuatu yang harus dilakukan. Dikau seharusnya kembali ke Desa Baturia, mereka lebih membutuhkanmu."


"Apa kau berpikir kalangan kami tidak lebih berharga daripada mereka?" Sekarang Alan yang meracau.


"Tidak, daku berpikir seharusnya kalian kembali ke desa dan membangun apa yang menjadi milik kalian," ujar Suluh dengan serius. "Daripada bersembunyi seperti ini, daku yakin mereka yang berada di Sinambu juga korban dari malapetaka dua tahun silam."


"Tapi mereka bertahan dengan terang-terangan, tanpa harus berbuat kerusakan," lanjut laki-laki tersebut semakin membuat situasi memanas.

__ADS_1


"Itu karena mereka tunduk dengan kekuasaan Ganendra!" Alan kehilangan kendali, secara kasar mencengkram pakaian Suluh yang berwarna kecokelatan. "Apakah kau salah satu dari kerajaan?"


"Alan, lepaskan!" Intan berusaha melerai keduanya. "Ini tak akan memecahkan masalah."


"Tidak, daku juga tak sudi tunduk kepada mereka yang membantai desa dan orang tuaku," ujar Suluh memejamkan mata tak tersulut amarah. "Tapi sampai kapan kalian terus hidup dalam bayang-bayang mereka?"


Alan tertampar dalam hati, melepaskan kedua tangannya dalam diam. Suluh meneruskan kalimatnya, "Daku akan membantu dalam operasi kali ini. Tapi, daku tak akan ikut campur dengan urusan kalian setelah itu. Aku ada urusan yang belum terselesaikan."


Tak ada yang membantah keputusan Suluh bahkan menolak bantuan darinya. Mereka tak banyak kesempatan kali ini, semakin banyak yang berpartisipasi, semakin baik dalam beroperasi. Terlebih mereka tahu bahwa Suluh bukanlah insan biasa sebab berhasil selamat berduel dengan Savira, secara keseluruhan mampu menghindari semua serangannya. Dengan keahlian bela diri tersebut, bisa dikatakan mereka memerlukannya untuk membuat rencana itu berhasil.


"Kau ingin menahannya, bukankah begitu, Savira?" ucap laki-laki berambut cokelat yang tengah memakan sebuah apel. "Tapi dia menolak untuk menetap di sini."


"Dia seorang musafir, tentu saja dia tak bisa berdiam diri di sini," timpal perempuan yang memakai pakaian santai sembari duduk bersandar di atas dahan menikmati suasana malam. "Terlebih lagi, dia memiliki pandangan yang berbeda. Akan sangat sulit membuatnya menjadi kalangan kita."


Alan menunduk, sesekali menggigit buah tersebut. "Ya, aku yakin kau juga pernah memikirkan hal tersebut."


"Tentang apa?" sahut Savira teralihkan, menoleh secepat kilat.


"Sampai kapan kita akan melakukan hal seperti ini?" Alan ikut memperhatikan Savira, kedua mata mereka tertaut. "Kita buronan di Niskala setelah semua yang kita lakukan."


"Apa?" pekik perempuan itu sampai bangkit dari sandaran. "Apa kau terpengaruh olehnya?"


"Yang dia katakan tak sepenuhnya salah, kau tahu?" Alan berdiri, membuang sisa apel tersebut di atas tanah. "Kenapa kita tidak kembali ke desa dan mengumpulkan orang-orang untuk melawan daripada merampas hak-hak dari saudara kita sendiri?"


"Dengan begitu kita tak harus melakukan rencana seminggu sekali yang berpotensi besar membuat kita tertangkap," sambung Alan mempersiapkan kalimat. "Dan dieksekusi dengan kejam."


"Lalu, apa bedanya bila kita melawan bersama warga desa setempat?" Savira yang temperamental meninggikan suara. "Bukankah hasilnya sama saja?"


"Aku tahu itu," kata Alan lirih kembali menoleh kepada Savira yang sebelumnya menunduk. "Namun setidaknya aku melakukan hal yang benar dan tidak terhina seperti ini."


Savira terbelalak mendengar respons dari laki-laki di sebelahnya, tak terkira Alan yang menemaninya selama ini kini berubah drastis. Perempuan itu lalu kembali bersandar, menekuk lutut dan memeluknya erat-erat. "Kita tidak bisa, kita tidak bisa kembali."


"Sudah terlambat untuk berubah, ini adalah cara kehidupan kita yang harus kita emban."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2