My Hot Bodyguard

My Hot Bodyguard
Target


__ADS_3

"Apa anda mempunyai musuh, nona?" Jebakan yang Vano temukan membuatnya curiga jika ada yang berusaha membunuh Anna. Dan itu bisa saja dilakukan oleh orang yang membenci Anna, atau saingan Anna di dunia entertainment.


"Kenapa kau juga bertanya seperti itu? Aku ini orang yang baik dan tidak sombong. Jadi bagaimana mungkin aku mempunyai musuh." Gerutu Anna


"Aku hanya bertanya. Di dunia hiburan pasti banyak persaingan untuk menjadi yang terpopuler dan terkenal. Jadi bisa saja ada teman anda yang diam-diam iri pada anda." Seru Vano


Anna tampak berfikir. Memang mereka berlomba-lomba untuk tetap eksis di dunia hiburan. Tapi dia merasa tidak ada teman sesama artis yang menjadikannya musuh. Kecuali Youra. Tapi bukankah harusnya dia yang meneror Youra karena sudah merebut kekasihnya?


"Anda bisa memikirkan nya sambil duduk di ruang tamu. Aku akan mengecek mansion anda terlebih dahulu dan memastikan semuanya aman."


"Kenapa jadi dia yang mengatur?" Gerutu Anna yang melihat punggung Vano yang semakin menjauh. Dia mengikuti ucapan Vano yang menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu. Sedangkan Vano mulai mengecek satu persatu ruangan yang ada di mansion tersebut. walaupun tidak terlalu besar, tapi banyak ruang yang bisa saja di jadikan tempat persembunyian atau mungkin ada jebakan lainnya.


Tapi masalahnya, bagaimana orang itu memasang jebakan sedangkan di luar sana banyak bodyguard Justin yang berjaga.


"Semua sudah aman nona." Ucap vano setelah selesai mengecek setiap sudut mansion Anna


"Thanks." Anna berdiri dan langsung menuju kamarnya. Dia sudah tidak sabar untuk membersihkan diri. Seluruh tubuhnya terasa lengket. Mungkin akan menyenangkan jika dia berendam menggunakan aromaterapi.


Dia melempar tas nya di tempat tidur. Lalu dia mengambil jubah mandi di lemari. Tapi saat dia membalikkan badannya di dikejutkan dengan keberadaan Vano di kamarnya.


"Apa yang kau lakukan di sini, hah?" Pekik Anna


"Aku di perintahkan untuk menjaga anda 24 jam. Jadi....


"Tapi bukan berarti kau harus masuk ke kamarku, bukan? Aku mau mandi, apa kau juga akan ikut masuk ke kamar mandi, hah?" Teriak Anna


"Aku tidak akan keberatan jika harus ikut masuk ke kamar mandi."


Anna melebarkan kedua matanya. Dia mengepalkan tangannya dan menginjak keras kaki Vano.


"Akh... apa yang kau lakukan nona?" Pekik Vano. Dia membungkuk memegang kaki nya yang diinjak keras oleh Anna.

__ADS_1


"Kau pantas mendapatkannya, dasar mesum. Hmmph." Anna memalingkan wajahnya dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan Vano duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap kakinya yang sakit.


"Gila, ternyata dia kuat juga." Vano meringis pelan memijat kakinya yang diinjak Anna. Sejenak dia melihat isi kamar Anna. Sangat sederhana untuk ukuran putri dari keluarga besar Alexander. Bahkan dia sekarang adalah seorang superstar. Tapi dia tidak mendekorasi kamarnya agar terkesan mewah.


"Wanita yang sederhana. I like it."


Sementara itu, Anna berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Dia menatap dirinya di pantulan cermin wastafel. Membayangkan saat Vano menolongnya membuat kedua pipi Anna memerah. Dia memegang kedua pipinya merasakan kembali tubuh Vano yang begitu dekat dengannya. Tidak hanya dekat, tapi mereka seperti berpelukan.


"Astaga, ada apa dengan ku?" Anna memegang dadanya dan merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang.


"Apa aku mempunyai penyakit jantung? Tidak!! Ini tidak benar!! Apa aku akan mati muda?" Tiba-tiba bayangan Vano muncul di cermin wastafel dan membuat Anna terpekik. Dia mundur beberapa langkah dan menoleh kebelakang. "Ti_tidak ada siapa-siapa."


"Aish... Ini semua gara-gara Justin mengirim orang asing itu. Pertama bertemu saja sudah membuatku terserang penyakit jantung dadakan. Bagaimana jika aku terus bersamanya setiap hari?" Anna menghela nafas panjang dan mulai mengisi bathtub dengan air hangat. "Sepertinya besok aku harus menemui dokter spesialis jantung."


Anna masuk ke bathtub dan memejamkan matanya sejenak. "Ah.. nikmatnya." Tapi lagi-lagi bayangan wajah Vano yang begitu dekat dengannya kembali muncul.


"Astaga!! Lama-lama aku bisa gila." Ucapnya frustasi


"Ng.. kenapa kau masih disini?" Tanyanya saat melihat Vano Duduk di tepi tempat tidur nya


"Sepertinya anda lupa. Aku di tugaskan tuan Justin untuk menjaga anda 24 jam."


"Aku tahu. Tapi apa kau juga akan tidur di sini?"


"Aku tidak keberatan." Jawab Vano santai


Anna melototkan matanya yang membuat Vano terkekeh dan berkata, "aku akan tetap tidur disini. Jika anda keberatan, aku akan mengatakan pada tuan besar jika....


"Kenapa kau sama menyebalkannya dengan Justin, hah?" Teriak Anna


"Aku hanya menjalankan tugasku, nona."

__ADS_1


"Dasar menyebalkan!!" Sungut Anna


Vano terkekeh. Dia berdiri dan mengambil laptop milik Anna


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Anna


"Apa di mansion ini di pasang Cctv?" Tanya Vano yang di jawab anggukan oleh Anna.


Vano mulai mengotak-atik laptop Anna dan melihat rekaman cctv di mansion Anna. Dia penasaran bagaimana orang itu memasang jebakan di dalam mansion Anna sedangkan di luar banyak bodyguard yang berjaga. Apa mungkin semua itu perbuatan orang dalam?


"Ada apa? Apa ada yang mencurigakan?" Tanya Anna


"Aku hanya penasaran dengan orang yang memasang jebakan di mansion anda, nona. Mungkin saja dia terekam cctv saat melancarkan aksinya." Dan benar saja, terlihat seseorang yang menggunakan penutup kepala tengah memasang jebakan dengan mengikat pisau menggunakan tali tipis dan di hubungkan dengan pintu utama.


Vano mengecek cctv lainnya dan bagaimana cara orang itu masuk terekam jelas di sana.


Orang itu menyemprotkan semacam chloroform yang membuat semua bodyguard yang berjaga tidak sadarkan diri. Dan setelahnya orang itu masuk ke mansion Anna dan memasang jebakan.


" Sayang sekali wajahnya tidak terlihat."


Mendengar ucapan Vano, Anna jadi penasaran. Dia mendekat dan duduk di sebelah Vano untuk melihat rekaman cctv di mansion nya.


"Siapa dia?" Tanya Anna


"Anda bertanya padaku?" Bukannya menjawab, Vano justru melontarkan pertanyaan yang membuat Anna mendengus kesal.


"Melihat postur tubuhnya, sepertinya dia seorang pria. Mungkin saja dia di perintahkan oleh seseorang untuk mencelakai anda."


"Apa? Mencelakai?"


"Ya, ini bukan lagi gertakan. Tapi anda sudah menjadi target seseorang."

__ADS_1


Deg


__ADS_2