
Vano berkutat dengan peralatan dapur. Dia begitu ahli meracik bumbu dan memotong sayuran. Dan dalam hitungan menit, semua masakannya tertata rapi di meja makan.
"Finish. Waktunya membangunkan Anna Lee." Vano bergegas ke kamar Anna dan berniat untuk mengajaknya sarapan. Tapi saat dia membuka pintu, dia tidak sengaja melihat Anna yang tengah memakai baju.
Glek
Vano menelan Saliva nya kasar. "Indah sekali." gumam Vano. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan melihat pemandangan di depannya. Tapi saat Anna berbalik, Vano buru-buru keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan agar tidak ketahuan.
Dia menyandarkan tubuhnya di dinding dan memegang dadanya. "Rasanya jantungku mau meledak. Tadi itu sangat...." wajah Vano memerah mengingat apa yang baru saja dia lihat. Sampai-sampai dia membayangkan bisa menikmati pemandangan indah tersebut.
"Anna Lee...." gumam Vano.
Pikirannya mulai menjelajah entah kemana. Sampai-sampai panggilan seseorang pun tidak dia gubris. Alhasil, orang itu memegang bahunya secara tiba-tiba dan membuatnya tersentak kaget.
PLUK
"Kodok lu!!" sentak Vano kaget. "Astaga Nona, kau mengagetkanku saja." gerutu Vano
"Habisnya, aku memanggilmu dari tadi tapi kau tidak menyahut." gerutu Anna
"Itu karena....." ucapannya terhenti. Dia menatap Anna yang sudah rapi menggunakan bajunya. Sejenak terlintas bayangan Anna Lee yang tidak memakai apapun dan hal itu membuat wajah Vano memerah bak kepiting rebus.
"Ng? Kau sakit? Kenapa wajahmu merah?" Anna menempelkan tangannya di kening Vano. "Tidak panas." gumam Anna
"A_aku tidak apa-apa. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu. Ayo kita makan!!" Vano berjalan terlebih dahulu. dia sangat malu dengan apa yang dia pikirkan. "Bisa-bisanya kau berfikiran mesum, Ge." batinnya.
Mereka menikmati sarapan mereka dengan tenang. Tapi tiba-tiba, bel berbunyi membuat mereka menghentikan aktivitas mereka.
"Siapa pagi-pagi bertamu? Tidak mungkin Anthony, kan?" tanya nya pada Vano.
"Biar aku lihat." Vano membukakan pintu dan terlihat seorang wanita yang masih muda dengan berpakaian seperti jasa kebersihan menyapa Vano.
"Permisi Tuan. Saya Ina. Saya menggantikan Bi Tati sementara untuk membersihkan mansion Nona Anna." seru Bi Ina
Vano menatap wanita itu dengan selidik. Tapi kemudian, dia mempersilakan wanita itu masuk untuk mengerjakan tugasnya.
"Siapa yang datang Van?" tanya Anna saat Vano kembali ke meja makan.
"Bi Ina. Dia bilang menggantikan Bi Tati sementara waktu." jawab Vano
Anna hanya mengangguk kepalanya pelan. Dia memang biasa menggunakan jasa kebersihan yang akan datang dua hari sekali. Jadi dia tidak menaruh curiga sama sekali.
Berbeda dengan Vano yang terus menatap gerak-gerik Bi Ina. Dia curiga dengan wanita itu. Untuk itu, diam-diam dia mengirim pesan pada James untuk mencari tahu wanita yang bernama Ina.
"Hari ini, anda libur bukan? Apa yang akan anda lakukan, nona?" tanya Vano
"Entahlah. Setiap libur, aku hanya menghabiskan waktuku di rumah."
"Bagaimana jika kita jalan-jalan? Ke mall mungkin." usul Vano
"Ide yang bagus. Kalau begitu aku siap-siap dulu." Anna beranjak dari tempat duduknya. sudah lama dia tidak berbelanja. Dan hari ini dia akan membeli semua yang dia inginkan untuk menyenangkan hatinya.
Sementara Vano, dia menatap Bi Ina yang sedang membersihkan dapur. Dia sengaja mengajak Anna keluar karena ingin tahu, apa yang akan di lakukan wanita itu. Jika mereka berada di rumah, mungkin wanita itu akan bertindak hati-hati atau mungkin membatalkan rencananya. Tapi dengan dia pergi dengan Anna, akan memberi kesempatan wanita itu jika memang dia berniat mencelakai Anna. Dan dia sudah mengirim foto wajah wanita itu pada James untuk di awasi.
"Aku sudah siap. Ayo kita berangkat!!" ajak Anna yang di jawab anggukan oleh Vano.
__ADS_1
"Bi, aku pergi dulu ya." pamit Anna pada bi Ina
"Iya non, hati-hati!!''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di pusat perbelanjaan, Anna dan Vano berjalan dengan bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Anna dan Vano menggunakan masker, kacamata hitam dan topi untuk menutupi wajah mereka. Tapi sepertinya mata pengunjung lebih jeli dan mengenali mereka berdua.
"Kenapa mereka terus menatapku seperti itu? Bukannya aku sudah menyamar?" batin Anna . Dia merasa risih dengan tatapan para pengunjung. Tapi dia tidak menggubrisnya.
Itu karena Anna belum tahu jika ada gosip tentang dirinya.
"Aku ingin kesana, Van." ucap Anna menunjuk sebuah toko baju.
"Ayo kita kesana!!"
"Tunggu sebentar!! Biar aku saja yang masuk. Kau tunggu di sini saja." cegah Anna
Vano menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya kenapa?
"A_aku mau membeli pakaian...." Anna menunduk malu. Bahkan wajahnya terlihat memerah. Melihat hal itu, Vano mulai paham maksud Anna. "Ba_baiklah. Aku akan menunggu di luar."
Anna mengangguk dan masuknke toko tersebut. Dia ingin membeli pakaian dalam makanya dia meminta Vano untuk menunggu di luar. Tapi saat dia memilih, tanpa sengaja seorang wanita menabraknya hingga barang belanjaannya terjatuh.
Brukh
"Astaga!! Maafkan aku." Wanita itu membungkuk dan membantu Anna memunguti paper bag nya.
"Tidak apa-apa nyonya." Seru Anna
"A_ada apa nyonya?" Tanya Anna terbata
"Anna Lee?"
Anna melebarkan kedua matanya, "ba_bagaimana anda bisa tahu?"
"Jadi benar? Kya.... Anna Lee!!" Wanita itu memeluk Anna Lee. Dan tentu saja mereka menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
"Nyo_nyonya jangan seperti ini!!" Anna mencoba melepaskan pelukan wanita itu. Dia berdehem pelan dan tersenyum pada wanita itu. "Iya aku memang Anna Lee. Tapi bagaimana anda bisa tahu jika ini aku?"
"Itu mudah. Aku yakin semua pengunjung juga tahu jika itu kau."
"Kau memakai topi dan kacamata artis. Dan lagi, tas yang kau pakai ini adalah tas yang kau bangga kan karena ini adalah pemberian kakak mu, kan." Seru wanita itu
Anna meringis pelan. Dia lupa jika dia memakai tas yang biasa dia bawa. Pantas saja semua orang tahu jika itu adalah dirinya. Karena identitas nya sudah terbongkar, dia melepas kacamata hitam dan maskernya. Dan hal itu kembali membuat wanita itu histeris.
"Apa kau tahu, aku ini penggemar beratmu. Namaku Ellysa." Ucap wanita itu memperkenalkan diri.
"O ya, kau datang dengan siapa?" Tanyanya lagi
"Aku dengan Vano." Jawab Anna singkat.
"Vano?" Gumam Ellysa
Sementara itu, Vano yang menunggu di luar, melihat Anna tengah berbincang dengan seorang wanita. Dia menjadi was-was. Matanya tidak lepas dari keduanya. Apalagi saat wanita itu memeluk Anna. Hal itu membuat Vano langsung masuk ke toko tersebut karena takut Anna terluka.
__ADS_1
"Anda tidak apa-apa nona?" Tanya Vano. Dia menatap tajam wanita yang berdiri membelakanginya. Tapi saat wanita itu membalikkan tubuhnya tiba-tiba....
Deg
"Mommy!!" Lirih Vano terkejut melihat ibunya ada di sana.
Ellysa juga tidak kalah terkejut. Dia tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan putranya di sana dengan penampilan yang berbeda.
"Geo??"
"Namanya Vano, nyonya. Dia bodyguard ku." Seru Anna
"A_apa?"
...*******************...
"Jelaskan pada mommy!! Apa maksud semua ini?" tanya Ellysa. Dengan alasan permintaan maaf nya karena sudah menabrak Anna, Ellysa mengajak Anna dan Vano untuk makan siang bersama di restoran yang berada di pusat perbelanjaan tersebut.
Awalnya mereka menolak. Tapi karena desakan dan tatapan mematikan yang dia berikan pada Vano, akhirnya mereka setuju . Terutama Vano. Dia menelan Saliva nya kasar karena saat ini Ellysa menatapnya tajam dan mulai menginterogasinya saat Anna pamit ke toilet.
"A_aku sudah bilang kan jika aku sedang menjalankan misi. Dan inilah misiku. Aku menjadi bodyguard sekaligus kekasih Anna Lee."
"WHAT? ARE YOU KIDDING ME?" teriak Ellysa
"Sstt !!! Jangan teriak mom!!" Vano melihat kesana kemari dan mulai menceritakan semuanya pada Ibunya.
"Jadi wanita yang kau maksud itu Anna Lee. Dan.... " Ellysa melihat penampilan putranya dan menggelengkan kepalanya.
"Ada apa? Kenapa mommy menatapku seperti itu?"
"Kau tahu, mommy adalah penggemar berat Anna Lee. Bahkan mommy ingin dia menjadi menantu mommy. Dan di luar dugaan, kau justru bergerak cepat. Tapi sekarang mommy tidak tahu, mommy harus senang atau tidak."
"Apa maksud mommy?"
"Apa kau belum melihat berita hari ini?" Tanyanya yang di jawab gelengan oleh Vano. Dia mengambil ponselnya dan memperlihatkan berita yang menjadi perbincangan hangat publik. Walaupun bukan berita utama, tapi berita itu cukup menarik perhatian publik.
"Lihat!! Berita kalian ada di mana-mana. Anna Lee di gosip kan berkencan dengan preman, berandalan, dan ada juga yang menyebutmu anggota gangster."
Vano mengambil ponsel Ellysa dan membaca artikel tentang mereka berdua. "Lalu apa masalahnya mom?"
"Astaga!! Kau ini benar-benar bodoh ya. Anna itu artis yang sedang naik daun. Keberadaan mu hanya akan membuat karir Anna hancur. Sekarang saja banyak yang menghujatnya."
"Dan satu hal lagi, dia pasti akan mempertahankan popularitasnya daripada hubungan kalian."
Deg
"Jangan menakut-nakuti ku, mom!!" Gerutu Vano
"Siapa yang menakut-nakuti mu, Ge? Kalaupun Anna mengakui mu, apa kau tega melihat Anna menjadi bulan-bulanan hatersnya?"
"Lagipula, kenapa juga kau berpenampilan seperti ini, hah? Kau ini seorang CEO. Kau putra Jonathan Vincent. Tapi..." Ucapan Ellysa terhenti. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Lagi-lagi kesempatan itu harus kandas. Padahal semua sudah di depan mata. Dan dia hanya bisa berharap mereka bisa mengambil jalan tengah untuk kelanjutan hubungan mereka. Karena bagaimanapun, dia sangat senang Geovano menjalin hubungan dengan Anna Lee.
"Tapi semua akan berbeda jika kau mengaku pada publik siapa kau sebenarnya."
__ADS_1