
Geovano mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia menggenggam erat setir mobil dan berhenti mendadak di tepi jalan.
"Argh..!!" Geovano berteriak memukul setir mobil. Dia tidak tahu apa yang ibunya pikirkan. Apa hanya karena tidak bersama maka mereka sudah putus? Pikiran macam apa itu?
Itulah kenapa dia membenci dunia hiburan. Mereka para wartawan terlalu melebih-lebihkan dan suka menyimpulkan sendiri tanpa mencari tahu kebenarannya.
Dia muak dengan semua ini. Ingin rasanya dia mendatangi kantor mereka dan mengatakan jika dia adalah Geovano, kekasih Anna Lee dan menghancurkan satu persatu kantor mereka agar tidak menyebarkan berita murahan itu lagi.
"Sial!!" umpat Geo. "Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus menemui Anna dan minta kejelasan tentang hubungan kami." Geo menginjak pedal gas dan kembali melaju kencang ke mansion Anna.
Dia tidak perduli walaupun hari sudah malam. Malam ini juga dia harus bertemu dengan Anna dan membahas tentang hubungan mereka.
Ini sudah beberapa hari setelah pengakuannya tentang siapa dirinya. Dia sengaja memberi Anna waktu dan dia rasa sekarang sudah cukup. Dia akan berbicara dengan wanita itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Geo terparkir sempurna di depan pagar mansion Anna.
Dia turun dari mobil dan melirik sekilas orang yang menghampirinya.
"Tuan!!" sapa pria itu. Dia adalah bodyguard yang dia perintahkan untuk menjaga Anna selama dia tidak berada di dekatnya.
"Nona Anna ada di mansion sejak tadi sore. Dan tidak ada siapapun di dalam." ucapnya
Geovano hanya berdehem. Dia masuk ke mansion menggunakan kunci duplikat yang dia miliki.
Tap
Tap
Tap
__ADS_1
Suara langkahnya terdengar begitu nyaring di mansion Anna yang terlihat sepi. Dia bisa menebak jika wanita itu pasti sudah tidur. Tapi saat dia membuka pintu kamar Anna, dia di kejutkan dengan benda yang melayang kearahnya.
Prang
Pyaaar
Geovano berhasil menghindari benda tersebut. Tapi lagi-lagi benda lain melayang kearahnya. Geovano menunduk dan berlari untuk menghindari benda tersebut. Dia mendorong Anna jatuh keatas tempat tidur dan mengunci pergerakannya.
"Sambutan yang mengejutkan." seru Geovano
"Maaf tuan. Aku tidak tahu jika itu kau. Kau masuk diam-diam ke mansion ku, jadi aku kira kau adalah pencuri." Ucapan Anna berhasil membuat hati Geo berdenyut. Dia segera berdiri dan membenarkan jasnya.
"Aku minta maaf karena masuk tanpa ijin. Tapi ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." seru Geo
"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, tuan." Anna bangun dan berdiri tepat di depan Geovano. "Aku sudah memaafkan mu, jadi kau tidak perlu lagi merasa bersalah." ucapnya lagi
Anna tersenyum tipis dan berkata, "Memangnya apa yang kau harapkan dari hubungan kita, hm? Hubungan yang di awali dengan kebohongan, apa akan berakhir bahagia?"
"Kau belum memaafkan ku, kan? Kenapa Ann? Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu? Setiap hari aku mengirimkan pesan padamu. Tapi kau tidak pernah membalasnya. Kau juga tidak mengangkat telepon ku."
"Aku sangat ingin menemui mu. Tapi melihatmu yang tidak memperdulikan pesanku, membuatku berfikir jika kau masih marah padaku."
"Dan sekarang muncul gosip murahan jika kita sudah putus. Tapi kau diam saja dan tidak berkomentar apapun. Apa kau benar-benar sudah tidak menganggap ku, hah?" teriak Geo. Dia tahu dia salah. Dia mencoba mengalah tapi hatinya sudah lelah.
Setiap hari dia mengirim pesan hanya sekedar menanyakan kabar tapi Anna tidak pernah membalasnya sekalipun. Dan saat dia menjelaskan semuanya, wanita itu juga tidak memberikan responnya. Apa dia memang berniat mengakhiri hubungan mereka?
"Maaf membuatmu kecewa tuan. Tapi jika kau merasa tidak nyaman dengan gosip itu, kau bisa klarifikasi sendiri. Kau bisa mengatakan siapa kau sebenarnya." seru Anna
"Jika aku melakukannya, apa kau akan memaafkan ku dan mau memulainya dari awal denganku?"
__ADS_1
Anna terdiam. Jujur dia tidak tahu apa yang sekarang dia rasakan. Dia sangat ingin memeluk pria yang saat ini berdiri di depannya. Tapi dia masih kecewa dengan kebohongan yang pria ini lakukan. Apa dia sudah berlebihan?
"Kenapa kau diam, Ann? Aku butuh jawaban mu sekarang." lanjut Geo
Anna tersenyum sinis dan membalikkan badannya. "Membutuhkan jawaban ku? Memangnya itu penting untuk mu? Bukankah kau biasa mengambil keputusan sendiri yang menurut mu itu benar? Lalu untuk apa kau menunggu.....
"Aku akan di jodohkan." potong GEO
Deg
"Karena berita di televisi, ibuku menganggap jika kita sudah tidak mempunyai hubungan dan beliau ingin menjodohkan ku dengan putri sahabatnya." lanjut Geo
Anna mengepalkan tangannya. Hatinya berdenyut sakit. Dadanya terasa sesak dan kedua matanya mulai memanas.
"Itu sebabnya aku datang kemari. Aku ingin mendengar darimu langsung mengenai hubungan kita. Aku tidak keberatan mengatakan pada dunia siapa aku, siapa kita? Tapi apa itu masih berguna jika kau tidak mau menerimaku lagi?"
Anna mendongak keatas dan mengedip-kedipkan matanya menghalau air matanya yang siap menetes. "Jika itu yang terbaik, lebih baik kau menerimanya." seru Anna dengan suara yang parau
"Jadi hubungan kita hanya sampai disini?" lirih Geo. Dia menghela nafas panjang dan kembali berkata, "padahal aku berharap kau mengatakan jika kau ingin aku tetap di samping mu dengan begitu aku akan membawamu menemui ibuku dan mengatakan jika aku menolak perjodohan itu. Tapi ternyata....."
Geovano tidak bisa melanjutkan ucapannya. Lidahnya kelu, hatinya sakit menerima kenyataan jika hubungan mereka sudah berakhir.
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu." Geo pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Dia pergi dengan hati yang hancur. Jika itu yang Anna inginkan itu artinya besok dia harus melupakan Anna Karena dia setuju dengan perjodohan yang ibunya lakukan. Walaupun sakit, tapi akan lebih menyakitkan jika memaksakan perasaan orang lain.
Brukh
Anna melorotkan tubuhnya kelantai. Air mata menetes tidak tertahankan. Dia menangis menyesali dengan apa yang sudah dia perbuat. Tapi semua sudah terlambat. Karena keegoisannya, dia kehilangan orang yang dia cintai. Tapi dia tidak mungkin menghalangi kebahagiaan ibu Geo yang ingin menjodohkannya dengan wanita lain.
"Semoga kau selalu bahagia, Vano."
__ADS_1