
Di lokasi syuting, Anna melakukan adegan demi adegan di serial film yang di bintanginya. Dan dari kejauhan, Vano menatap tak berkedip Anna Lee yang terlihat sangat cantik.
Ini pertama kalinya dia mengagumi seorang wanita. Apalagi wanita itu adalah seorang artis. Dia tidak menyangka jika dirinya yang dulu membenci sesuatu yang berhubungan dengan dunia hiburan, kini justru hatinya jatuh pada seorang artis.
Ya, Vano mengakui jika dia mulai merasakan adanya getaran aneh di dalam dirinya. Apalagi saat Anna mengakui dirinya sebagai kekasihnya di depan mantan kekasih Anna.
Dia sadar jika hanya di jadikan tameng saja. Tapi itu tidak menjadi masalah, dia justru akan membuat Anna Lee jatuh cinta padanya.
"Apa kau menyukai Ai?"
Vano mengalihkan pandangannya pada Anthony saat pria itu melontarkan pertanyaan padanya. "Bukan urusanmu." Jawabnya ketus
"Itu memang bukan urusanku. Tapi aku tidak akan membiarkan Ai terluka untuk kedua kalinya."
"Apa kau tahu jika Ai sangat tidak suka dengan orang asing?" Lanjut Anthony
"Yah. Aku tahu itu. Dia selalu bilang pada Justin kalau dia tidak suka dengan orang asing."
"Apa kau tahu alasannya?" Tanya Anthony yang di jawab gelengan oleh Vano
"Waktu kecil dia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari orang asing. Karena itu, sampai sekarang dia tidak suka berada di tengah-tengah orang asing. Bisa di bilang dia tidak mudah bergaul." Anthony menatap Vano dan kembali berkata, "Kau beruntung karena Ai mengakui mu."
"Apa maksudmu?"
"Kalian baru tinggal semalam tapi Ai sudah menerima kehadiran mu. Bahkan tanpa ragu dia mengatakan pada orang-orang jika kau adalah kekasihnya. Ya walaupun aku tahu itu hanya akal-akalan nya saja. Tapi tidak biasanya Ai melakukan hal ini. Biasanya dia akan menyelesaikan masalahnya tanpa melibatkan orang luar."
Vano terdiam sejenak mencerna ucapan Anthony. Memang benar dia juga merasa jika Anna mulai menerimanya. Tapi dia tidak mau berbangga hati dulu. Karena apa yang dia rasakan belum tentu sama dengan apa yang dia lihat.
Saat ini dia hanya menganggap jika apa yang Anna lakukan hanya sekedar membuat Jayden cemburu saja.
"O iya, apa ada yang mengirim teror lagi pada Ai?" Tanya Anthony
"Iya. Semalam Anna hampir saja terbunuh karena jebakan yang di pasang seseorang."
"WHAT?? JEBAKAN??"
"Ssstt..!! Jangan keras-keras bodoh!!" Geram Vano pelan. Dia melihat kesana kemari dan mulai menceritakan pada Anthony tentang kejadian semalam.
"Apa kau sudah memeriksa cctv?" Tanyanya yang di jawab anggukan oleh Vano.
"Aku sudah memeriksa rekaman cctv-nya. Tapi wajah orang itu tidak terlihat karena dia memakai penutup kepala. Tapi Dengan begini, kita jadi tahu jika ini bukan lagi peringatan, tapi memang ada orang yang ingin membuat Anna celaka." Terang Vano
"Lalu, apa rencanamu?"
"Tidak ada." Jawab Vano singkat
"A_apa? Tidak ada? Kau sudah gila ya? Ai dalam bahaya tapi kau tidak mempunyai rencana apapun?"
"Untuk saat ini memang aku tidak mempunyai rencana. Aku akan memberi kesempatan pada orang itu untuk mencelakai Anna sekali lagi. Baru aku akan menangkapnya. Jika aku meningkatkan penjagaan secara tiba-tiba, dia akan waspada dan aku akan kesulitan menangkap nya."
"Tenang saja. Aku akan melindungi Anna. Justin juga sudah mempercayakan Anna padaku. Jadi kau tidak perlu khawatir." Lanjut Vano
Anthony menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya. Memang apa yang di katakan Vano ada benarnya. Untuk mengetahui siapa yang berniat mencelakai Anna, mereka harus menangkap salah satu dari mereka. Jika Anna di jaga dengan ketat, mereka akan berfikir dua kali untuk melancarkan aksinya. Jadi untuk sekarang tidak ada pilihan lain selain mempercayai Vano.
"Cut!!" Teriak sang sutradara. "Good job. Kita break dulu."
Semua pemain kembali ke tempat nya masing-masing untuk beristirahat. Apalagi sebentar lagi waktunya makan siang.
__ADS_1
"Ah.. lelahnya." Anna duduk di sebelah Vano dan memejamkan matanya sejenak
"Ini minumlah." Vano memberikan segelas orange juice untuk Anna.
"Te_terimakasih." Anna menerima orange juice pemberian Vano dan meminumnya. Dia terlihat canggung pada pria itu. Apalagi tanpa meminta persetujuan Vano, dia mengakui vano sebagai kekasihnya. Entah apa yang ada di pikiran pria itu saat ini. Sepertinya dia harus meminta maaf setelah ini. Dia tidak ingin memberi harapan palsu pada vano. Tapi melihat reaksi Vano, sepertinya pria itu tidak terlalu ambil pusing dengan ucapannya saat rapat tadi.
"O iya Thon. Kau sudah mendengar tentang kejadian kemarin kan dari Vano. Aku harap kau tidak memberitahu Justin dan Javier mengenai hal itu. Aku tidak mau mendengar ceramah mereka."
"Lagipula ada Vano yang akan menjagaku. Jadi kalian tidak perlu khawatir." Lanjutnya
"Baiklah. Tapi jika terjadi apa-apa, kabari aku." Seru Anthony yang di jawab anggukan oleh Anna.
Mereka terdiam sejenak. Hingga dering ponsel Anna membuat mereka semua menoleh kearah Anna yang berdecak kesal saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Aku malas menjawabnya." Anna melempar ponselnya pada Anthony. "Kau saja yang jawab." Lanjutnya
"Siapa?" Tanya Anthony
"Kau bisa melihatnya kan?"
Anthony mendengus dan melihat nama yang tertera di ponsel Anna. "My lovely?" Anthony mengerutkan keningnya dan menatap Anna.
"Ck... Si mantan brengsek." Jawab Anna malas
"Oh..!!" Anthony menggeser tombol hijau keatas dan menempelkan ponsel tersebut di telinganya. "Halo!!"
"Halo thon, apa Anna ada?" Tanya Jayden di seberang sana.
"Eng... Anna..."Anthony melihat kearah Anna yang memberi kode untuk tidak mengatakan jika Anna ada di sana. "A_anna sedang syuting. Makanya aku yang mengangkat teleponmu. Ada apa? Nanti biar aku sampaikan padanya."
"Baiklah. Nanti akan aku sampai kan pada Anna."
"Terimakasih." Ucap Jayden
"Sama-sama." Anthony mematikan sambungan telepon dan memberikan ponsel itu pada Anna. "Dia mengajakmu bertemu di tempat biasa untuk yang terakhir kalinya." Seru Anthony
"Memangnya dia mau kemana? Mati?" Tanya Anna asal
"Hussh... Kau ini. Dia pasti ingin memberi penjelasan padamu. Jadi lebih baik kau datang dan mendengarkan penjelasan darinya. Jika memang hubungan kalian masih bisa di perbaiki, kenapa tidak." Ucap Anthony menasehati
"Lalu apa kau pikir aku akan percaya begitu saja pada ucapannya? Asal kau tahu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri perbuatan mereka." Nafas Anna tercekat. Dia memejamkan matanya mengingat pengkhianatan Jayden. Bayang-bayang pemandangan menjijikan yang dia lihat saat itu tiba-tiba muncul diingatkannya.
"A_apa maksud mu, Ai?" Tanya Anthony penasaran. Begitu juga dengan Vano. Dia memasang baik-baik telinganya mendengarkan cerita dari Anna Lee.
"Malam itu, setelah acara selesai. Aku datang ke apartemen Jayden dengan maksud ingin merayakan ulangtahun nya dan juga keberhasilanku. Tapi ternyata, dia sedang bercinta dengan Youra."
Deg
Anna mengepalkan tangannya. Air matanya tanpa terasa menetes. Anna yang terlihat tegar kini memperlihatkan sisi rapuhnya. Dia menghapus kasar air matanya dan kembali berkata, "Aku merekamnya. Aku juga yang menyebarkan video itu menggunakan akun palsu. Ya, aku yang melakukannya. Aku pelakunya." lirih Anna
"Oh my God. Maaf Ai, aku tidak tahu jika kau....
"Tidak masalah. Dari awal aku memang tidak menceritakan semua ini pada siapapun." Anna menghela nafas panjang kembali berkata, "katakan padanya aku akan menemuinya untuk yang terakhir kalinya."
"Baiklah." Anthony menghubungi Jayden dan mengatakan jika Anna setuju untuk bertemu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sesuai yang telah di janjikan. Setelah Anna selesai syuting, dia pergi untuk menemui Jayden di tempat favorit mereka di temani oleh Vano. Sedangkan Anthony, dia memilih untuk pulang terlebih dahulu dan mempercayakan Anna pada Vano.
"Apa tidak apa-apa aku ikut?" Tanya Vano
"Kau keberatan?"
"Tidak, bukan begitu. Aku takut mengganggu kalian."
"Mengganggu? Heh.. aku justru berharap kau mengacau acara malam ini."
Vano tidak lagi berbicara. Dia menepikan mobilnya saat sampai di tempat yang di maksud.
"Kau ingat, kan? Tadi siang aku baru saja mengklaim dirimu sebagai kekasihku. Jadi aku harap kau lakukan peranmu dengan baik." Setelah mengatakan hal itu, Anna turun dari mobil diikuti Vano. Mereka berjalan beriringan ke tempat di mana Jayden berada.
"Ann, kau sudah datang?" Jayden begitu senang Anna datang tapi saat melihat pria di samping Anna, raut wajahnya berubah seketika. "Kenapa dia ikut?" Tanyanya menunjuk Vano
"Dia kekasihku. Tentu saja dia harus ikut." Jawaban Anna membuat Jayden mendengus kesal. Niatnya ingin meminta maaf pada Anna dan membuat Anna terkesan dengan apa yang sudah dia siapkan, tapi semua berantakan karena ada pria lain.
"Jadi, ada apa anda memintaku kemari, tuan Jayden?" Tanya Anna dia menatap meja yang sudah dihias sedemikian rupa dan juga banyak hiasan indah di sana. Dia hanya tersenyum sinis dan kembali menatap Jayden
"Ann, aku ingin meminta maaf padamu tentang semua yang terjadi. Tapi percayalah, semua itu tidak benar."
Vano berdecih pelan mendengar ucapan Jayden. Mungkin jika dia tidak tahu jika Anna sendiri yang merekam dan menyebarkan video itu, dia akan memilih mundur. Karena bagaimana pun dia tidak ingin menghalangi mereka jika memang masih ada cinta di antara mereka.
Tapi setelah mendengar kebenarannya, dia tidak akan melepaskan Anna begitu saja. Dia akan memainkan perannya dengan epik sampai Jayden menyerah untuk mengejar Anna lagi.
"Aku ingin kita seperti dulu lagi ann. Aku masih mencintaimu." Seru Jayden
"Maaf tuan Jayden. Tapi aku sudah tidak mencintaimu lagi. Lagipula," Anna memeluk lengan Vano dan kembali berkata, "Aku sudah mempunyai kekasih. Jadi kau tidak perlu membuang-buang tenaga untuk menjelaskannya padaku apalagi kembali menjalin hubungan denganku." Ucapnya lagi
Jayden mengepalkan tangannya. Dia sudah merendah, tapi Anna masih saja menolaknya. "Aku tidak tahu kenapa kau cepat sekali mendapatkan penggantiku, Ann. Atau jangan-jangan, semua ini hanya akal-akalan mu saja. Dia bukan kekasihmu, kan?" Teriak Jayden
"Dia memang benar kekasihku, tuan Jayden."
"AKU TIDAK PERCAYA!!" teriak Jayden
Anna terdiam sejenak. Jika seperti ini terus, Jayden akan terus mengejarnya. Tidak ada cara lain. Dia menghela nafas dan menatap Vano.
Sejenak kedua mata mereka bertemu. Dan perlahan, Anna berjinjit dan mencium mesra bibir Vano.
Deg
Jayden melebarkan kedua matanya. Begitu juga dengan Vano yang mendapatkan serangan mendadak. Dia terkejut dengan perbuatan berani Anna Lee. Tapi dia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia menekan tengkuk Anna dan memperdalam ciuman mereka.
Terdengar decapan bibir keduanya membuat Jayden naik pitam.
Brakh
Jayden memukul meja yang membuat keduanya menghentikan kegiatan mereka. "Ck.. dasar pengganggu." Batin Vano
"Sekarang kau sudah percaya kan, tuan." Seru Anna
"Kau.." Jayden menunjuk Anna dengan raut wajah penuh amarah. "Kau bahkan tidak mengijinkan ku untuk mencium bibir mu. Tapi sekarang?"
"Jika tidak ada yang ingin anda bicarakan lagi, kami pergi dulu tuan." Anna menarik tangan Vano untuk pergi dari sana.
"BRENGSEK!! Awas kau Anna Lee. Aku pasti akan membalas mu." teriak Jayden
__ADS_1