
Matahari bersinar dari ufuk timur. Memberikan kehangatan di pagi yang dingin. Pagi? Tidak!! Bahkan sekarang matahari hampir berada di atas kepala. Tapi seorang wanita masih terlelap dalam tidurnya dan meringkuk di bawah selimut tebalnya. Dia adalah Anna Lee.
Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela, nyatanya tidak mengganggu tidurnya sedikitpun.
Hingga dering ponsel yang begitu nyaring membangunkannya.
"Engh.. Siapa sih? Mengganggu saja." Anna meraba-raba nakas mencari letak ponselnya dengan mata yang terpejam. Dan setelah mendapatkan ponselnya, dia membuka mata dengan malas untuk melihat siapa yang menelepon.
"Mommy? Untuk apa pagi-pagi menelepon?" gumam Anna. Dia menggeser tombol hijau dan menempatkan ponsel di telinganya.
"Ya mom, ada apa pagi-pagi menelepon ku?" tanya Anna
"WHAT?? PAGI??" teriakan Aretha berhasil membuat Anna membuka matanya lebar. Bahkan karena terkejut, Anna sampai melemparkan ponselnya begitu saja.
"Astaga!! Untung aku tidak mempunyai penyakit jantung." Anna mengelus dadanya dan menghela nafas panjang. Dia mengambil ponselnya kembali karena terdengar suara Aretha yang terus memanggilnya.
"Iya mom, ada apa?" tanya Anna
"Apa kau baru bangun, hah? Kau ini seorang gadis. Mau jadi apa jam segini baru bangun? Oh my god!!" keluh Aretha
"Aku libur hari ini mom. Makanya aku bangun siang."
__ADS_1
"Apa kau akan menghabiskan waktumu dengan tidur seharian, hah?" seru Aretha
Anna menjauhkan ponselnya. Gendang telinganya rasanya mau pecah mendengar teriakkan ibunya. Dia melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 11 siang. "Tidak biasanya mommy seperti ini. Biasanya aku mau bangun jam berapapun, dia akan diam saja." gerutunya dalam hati
"Halo Ai!! Kau mendengar mommy, kan?" seru Aretha
"Iya mom. Aku dengar. Jadi ada apa mommy meneleponku siang-siang begini?"
"Akan ada acara nanti malam. Jadi mommy harap, kau akan datang." seru Aretha
"Acara apa?" tanya Anna
"Nanti kau juga akan tahu. Pokoknya kau harus datang. Karena ini adalah acara penting. Jika kau tidak datang, jangan harap kau bisa hidup tenang." Aretha memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Aku akan di jodohkan."
"Di jodohkan? Apa benar dia akan di jodohkan?"
"Heh.. Pasti itu hanya akal-akalannya saja agar aku memaafkannya." Anna beranjak dan pergi ke kamar mandi.
Anna berdiri di depan cermin wastafel. Dia mendekatkan wajahnya dan melihat lingkaran hitam dimatanya. "Ini pasti gara-gara aku tidak bisa tidur." gumamnya bermonolog. Karena ucapan Geo, Anna tidak bisa tidur. Bahkan dia menghabiskan waktu semalaman dengan menangis. Sampai dia tertidur dengan sendirinya.
__ADS_1
"Aku bodoh sekali menangisinya semalaman. Pasti dia hanya mengerjai ku saja. Laki-laki memang sama saja." Anna mengisi bathtub dengan air hangat. Dia melepas satu persatu bajunya dan masuk ke bathtub untuk berendam.
"Hah... Nyamannya." cukup lama Anna berendam. Rasanya seluruh tubuhnya sangat lelah karena masalah yang dia hadapi.
Baru selesai masalah dengan Jayden, kini dia harus menerima kenyataan jika Vano telah membohonginya. Vano yang selama ini menjadi bodyguard nya ternyata adalah Geovano.
"Come on Ai!! Kau bisa melewati ini semua." Anna menyelesaikan ritual mandinya dan memakai baju santai.
Hari sudah siang, dan dia melewatkan sarapannya. Untuk itu dia berniat membuat makanan instan karena dia sudah sangat lapar.
"Akhirnya makanannya sudah siap." Anna membawa makanannya ke ruang santai. Hari ini dia ingin merilekskan tubuh dan pikirannya sebelum pulang ke mansion orangtuanya.
Sebenarnya dia malas datang saat ini. Dia lebih suka menyendiri. Tapi mau tidak mau dia harus pulang atau jika tidak, nyonya besar akan marah.
"Sebenarnya ada acara apa di sana? Kenapa mendadak sekali?" gumam Anna. Dia menyalakan televisi untuk menonton drama kesukaannya. Tapi tubuhnya mendadak kaku. Kedua matanya tidak berkedip dan bibirnya mulai bergetar.
Di televisi, di beritakan jika putra satu-satunya Tuan Vincent akan melangsungkan pertunangannya. Tapi untuk siapa wanita yang akan menjadi istri Geovano Ethan Vincent, belum di ketahui identitasnya.
"Ja_jadi itu benar? Di_dia di jodohkan. Dia... Dia akan bertunangan dengan wanita pilihan ibunya." lirih Anna. Air mata Anna menetes tanpa ijin. Lidahnya terasa kelu. Dadanya terasa sesak. "Ada apa denganku? Bukannya itu bagus?" Anna tertawa tapi lama kelamaan tawanya berubah menjadi isakan. Dia menutup mulutnya, menyembunyikan suara tangisannya.
Ada rasa tidak rela. Tapi semua sudah terlambat. Karena keegoisannya, dia membiarkan orang yang dia cintai pergi begitu saja.
__ADS_1
"Kau bodoh Ai, hiks.. Hiks... Kau bodoh!!" teriak Anna. Sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa melihat pria yang dia cintai bersanding dengan wanita lain suatu hari nanti.
"Maafkan aku, Van. Maaf!!"