My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
1.kerenggangan yang terjadi


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Nara harus menahan kesal karena ulah ibu tiri dan saudari tirinya , Silvi . Semenjak Papanya menikah lagi dengan mantan sekertarisnya itu , hidup Nara jadi berubah total . Yang biasanya Nara selalu bertegur sapa dengan Papanya sebelum sekolah , kini tak pernah lagi terjadi . Semua itu karena keberadaan ibu tirinya , Soraya yang selalu membuatnya terlihat nakal di mata Papa Zain .


" Nara , selama Papa berangkat ke Jerman . Papa harap kamu tidak merepotkan Mama , " tegas Papa Zain tanpa memperdulikan Nara yang saat ini sedang mengunyah sarapan di dalam mulutnya . " Dengar tidak ? "


" Hem , " jawab Nara tanpa memandang sang Papa yang sedang menatapnya , geram .


Papa Zain sontak menaruh sendok dan garpunya dengan kasar , hingga bunyi dari pantulan sendok dan garpu itu membuat riuh suasana di meja makan .


"Kalau kamu seperti ini terus , Papa bisa mengirim kamu ke rumah Nenek ! "


" Nara udah kenyang , " gadis manis dengan seragam sekolah putih abu - abu itu bergegas berdiri dari tempat duduknya , ia benar - benar muak dengan perlakuan Papa Zain padanya .


" Duduk " titah Papa Zain yang tak di gubris oleh Nara .


" Udah Pah , kamu gak usah emosi kayak gitu , nanti biar Mama yang nasehatin Nara ",dengan nada penuh kelembutan yang di buat - buat mengusap dada Zain , lembut .


" Gimana aku bisa tenang Ma , kalau tingkah Nara makin lama makin bikin kepalaku sakit , " ujar Zain , mengusap wajahnya kasar .


Silvi tersenyum menyeringai di kursi paling ujung , ia sangat senang jika Papa tirinya itu semakin marah dengan Nara . Bukan tanpa alasan , Nara itu adalah saingannya terberat Silvi sedari dulu . Selain wajahnya yang lebih unggul dari dirinya , otaknya juga sangat cerdas . Dan yang membuat Silvi semakin tidak suka dengan Nara , gadis itu selalu di perebutkan banyak cowok di sekolah . Bahkan , termasuk Elang . Cowok tertampan di sekolahnya .


" Silvi berangkat dulu , Pa , Ma . " Silvi segera meraih tasnya lalu berpamitan pada Papa Zain dan Mama Soraya .


" Andai Nara bisa seperti kamu , Nak . " Ujar Papa Zain membuat Silvi tersenyum manis .


" Silvi coba deketin Nara ya , Pa . Semoga Nara mau menerima Silvi suatu saat nanti , "


Dasar ibu dan anak suka sekali mencari muka . Sampai kapan pun Zain tidak akan pernah tahu apa yang telah mereka lakukan kepada Nara , kalau Zain terus - menerus menutup mata .


Sementara di dalam mobil , Nara sudah memukuli dadanya yang kembali dibuat sesak . Setahun ini Papanya sudah tak seperti dulu . Ada pembatas tebal yang membuat mereka berdua jadi jauh . " Ma , Nara capek , " lirihnya dengan air mata yang lolos di kelopak mata indahnya . Takdir begitu mempermainkan hidup Nara .


Lima tahun yang lalu Mama Dinara , ibu kandung dari Nara harus meninggalkan dirinya untuk selama - lamanya akibat serangan jantung dadakan yang beliau alami . Nara yang selalu di limpahi dengan kasih sayang oleh Mama Dinara , jelas saja merasa depresi berat waktu itu . Tetapi , karena Papa Zain selalu memberikan kasih sayang yang lebih , akhirnya Nara perlahan - lahan bisa melewati semua masa sulit itu bersama Papa Zain .


Tapi kenyamanan yang ia rasakan ternyata tak bertahan lama . Dimana saat itu , Tante Soraya selalu sekertaris Papanya masuk ke dalam rumahnya dan berganti status menjadi ibu tirinya . Dari awal , Nara sudah menolak atas permintaan Papa Zain yang ingin menikahi Tante Soraya . Namun , Papa Zain kekeh ingin mencarikan Nara seorang Mama . Padahal Nara tidak butuh semua itu , yang Nara butuhkan hanyalah Papa Zain saja .


Dari situlah awal hubungan Papa Zain dan Nara merenggang . Nara yang mulai berubah menjadi dingin dan tak banyak bicara . Dan Papa Zain yang selalu menyalahkan Nara tanpa alasan yang nyata .


decak Nara dengan menambah kecepatan pada mobilnya . " Lo bukan cewek lemah Nara , " Sekitar dua puluh menit , mobil mewah milik Nara akhirnya masuk ke dalam pelataran sekolah . Seperti biasa , Ghea satu - satunya sahabat dekat Nara menunggu gadis itu dengan setia di parkiran sekolah bersama cowoknya Jonathan .


" Aelah Ra , kenapa wajahnya pagi - pagi udah di tekuk kek gitu ? " Celetuk Jo membuat Nara mencebik .


" Bukan urusan lo ! "


" Busyet ! Temen lo By , " adu Jonathan pada kekasihnya Ghea .


" Napa sayangkuh , berantem lagi sama nenek sihir ? " Ghea merangkul pundak Nara dengan erat , membuat sang empu mengeluh sembari menggedikkan bahunya kesal .


" Berat sialan ! " umpat Nara membuat Jonathan mengelus dada . Sumpah , Nara itu memang sangat kelewatan cantiknya , tapi judasnya itu loh juga gak nguatin .


Masih asyik - asyiknya menggoda Nara , dari arah gerbang sekolah terlihat ada satu mobil merah mewah keluaran terbaru masuk . Semua anak - anak jelas saja langsung berbisik - bisik , terutama yang suka bergosip pasti langsung bergerumbul di depan koridor kelas .


Mobil berlogo kuda jingkrak itu melesat dengan apik di sebelah mobil milik Nara . Dahi Nara berkerut tipis , penasaran dengan siapa yang ada di dalam sana .


" OMG ! Elang guys ! " pekik siswi - siswi yang mengidolakan sang bad boy itu layaknya cacing kepanasan .

__ADS_1


"damagenya , ya ampoon ! "


" Imam gue makin gak ngotak "


" Badas ! " Ya , yang baru keluar dari mobil keluaran terbaru itu adalah Elang Bimantara . Cucu dari pemilik sekolahan elite yang Nara tempati saat ini .


" Lebay , " gumam Nara .


" Wey mobil baru , " seloroh Jonathan dengan bersedekap dada .


" Norak lo , " jawab Elang dengan menyugar rambutnya kasar . Seperti biasa , Elang akan melangkah dengan gaya bak slow motionnya . Rambut acak - acakan , dasi miring dan ujung seragam sedikit keluar adalah ciri khasnya . Cowok itu memang tidak pernah gagal dalam membius mata para kaum hawa yang memandang wujudnya .


" Urakan ! " Komen Nara lirih .


Tapi tidak dengan siswi - siswi yang melihatnya , bagi mereka Elang sangat terlihat keren . Wajahnya yang datar di tambah tampilannya acak - acakan , selalu mampu mencuri perhatian mereka .


" Nungguin gue ya ? " Nara melotot dengan wajah galaknya .


" Najis ! " jawabnya yang setelah itu menarik lengan Ghea , di ajaknya pergi .


" Pelan Nara , astoge lo tuh kebiasaan deh ! " dumel Ghea .


Elang terkekeh , entah mengapa melihat wajah galak Nara , membuatnya jadi gemas sendiri . Gadis itu terlalu langka dan sulit di gapai .


“ Gue nikahin lama - lama lo Ra , " gumam Elang menggeleng pelan .


" Move on , Lang ! Move on ! " cibir Jonathan yang di sambut tatapan tajam dari Elang .


" Ke kelas bareng , yuk ! " Ajaknya tak tahu malu . berani menyentuh tangannya . Elang melirik tajam Silvi .


" Singkirin tangan lo ! " sentaknya dengan menepis tangan Silvi kasar .


" Elang , ya ampun . Kasar banget sih ? " keluh Silvi mengusap tangannya yang terasa kebas .


" Lagian lo ngapain sih nempel mulu kayak lintah , gak malu apa di tolak ribuan kali sama Elang , " cibir Jonathan membuat Silvi mencebik .


" Gue gak lagi ngomong sama lo " Jonathan menatap jengah Silvi . Sepertinya urat malu gadis itu benar - benar sudah putus .


Tidak ada lelah - lelahnya mendapat penolakan dari Elang . " Cabut ! " Ajak Elang pada Jonathan .


" Kuy lah , sepet mata gue lihat yang menor beginian " jawab Jonathan sembari melirik sinis Silvi


"Apa lo ! " tantang Silvia dengan mata mendelik .


" Hih , muka lo gak usah di jelek - jelekin gitu Sil . Makin ancur yang ada , sumpah ! " Jonathan bergidik jijik lalu berlari kecil , menyusul Elang yang sudah melangkah terlebih dahulu .


dengan wajah merah padam . " Jonathan sialan ! ” teriak Silvi Elang geleng - geleng kepala , lalu menjotos kepala Jonathan pelan .


" Gak usah lo ladenin , nanti suka lagi . " Jonathan mendelik . Apa kata Elang ? Suka ? Dengan Silvi ?


" Cih , lo pikir mata gue katarak gak bisa bedain mana lelembut mana manusia , gitu ? " tanyanya , sengak .


" Bagus deh kalau lo sadar , "

__ADS_1


" Maksud loh ?! " Elang tak lagi menjawab , cowok itu segera masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku yang ada di depan Nara .


" Ra , gak mau tukeran sama Jo ? " tanya Elang , masih terus menggoda Nara yang sudah mode lion , fire .


" Sekali lagi lo ngebacot , gue colok mata lo pakai ini ! ” ancam Nara sembari menuding mata Elang menggunakan pensil .


" JANGAN ! " teriak teman - teman Nara , memekik histeris . Yang kebanyakan adalah cewek alay .


" Lo apa - apaan sih Nara . Bahaya tauk ! " Silvi menurunkan pensil yang ada di tangan Nara dengan wajah sok polos .


" Apa ? Atau jangan - jangan lo yang mau gue colok ? Iya ! " pelotot Nara membuat semua teman - temannya bergidik ngeri tapi tidak dengan elang malah asyik menikmati wajah cantik Nara .


" Beautiful . " Lirih Elang dengan sudut bibir yang tersungging tipis .


" Ya ampun Nara , gue gak habis pikir gimana caranya ngomong sama lo . Pantes Papa selalu marah - marah sama lo . Tingkah lo makin mirip alien sih ! " dramatis Silvi .


Nara memutar bola matanya dengan jengah . " Gak nyambung ! " ujarnya sembari melempar pensil ke rambut Silvia . Bertepatan dengan itu , Bu Merry masuk ke dalam kelas . Sontak saja Silvia langsung melakukan perannya menjadi bawang putih yang teraniaya .


" Awh ! Lo apa - apaan sih Nara . Gue kan Cuma berusaha jadi saudara yang baik buat lo ! Kenapa lo malah lempar pensil itu ke kepala gue ? " wajah Silvia memerah seperti orang yang sedang menahan tangis .


" Gak usah drama deh , Sil ! " Ghea yang melihat pensil itu tersangkut di rambut Silvia ,ghea sontak menariknya , lalu menunjukkan di depan muka Silvia ,


" nih , pensilnya gak kena kepala lo ! Nyangkut di rambut . Gak usah alay ! " ujar Ghea yang jelas sudah jengah dengan drama murahan Silvi .


" Gue bilangain Papa lo ! " sulut Silvia dengan tatapan penuh ancaman .


Brak


Nara menggebrak meja di depannya , lalu bangkit dari duduknya . " Aduin ! Gue gak pernah takut sama ancaman lo dan emak lo yang mirip lampir itu ! Fu * k ! " umpat Nara membuat Bu Merry mendelik .


" YA JAMILAH YANG TAK PERNAH AKUR DENGAN MBAK MAIA ESTIANTY ! Nara kamu keluar kelas ! Bersihin toilet sekarang ! " perintah Bu Merry sontak membuat Silvia menyeringai , senang .


" Bentar Bu . " Ujar Nara masih sempat - sempatnya mengambil Snack dari dalam tasnya .


Elang terus memperhatikan tingkah Nara yang semakin menggemaskan di matanya .


" Mau gue temenin gak Ra ? " tawar Elang serius . Bukannya jawaban yang Elang dapatkan , namun geplakan dari Nara di atas kepalanya .


Bruk


" Allahuakbar Naraaa ! " histeris siswi - siswi alay di kelasnya dengan mata terpejam . Bisa - bisanya Nara menodai lukisan mahal mereka dengan kejam .


" Ini anak gak ada takut - takutnya 100 sama gue ! " gumam Elang menatap punggung Nara yang sudah hilang dari balik pintu .


" Awas lo gadis nakal , " imbuhnya dengan smirk penuh misteri .


" Sumpah ! Tobat gue , itu anak galaknya kayak macan betina . " Seloroh Jonathan yang langsung di hadiahi tatapan tajam oleh Elang .


Benar saja , mendapat tatapan membunuh dari seorang Elang . Sontak Jonathan langsung garuk - garuk kepalanya yang tak gatal . " Padahal , gue belain lo loh ini , brother . " Cicit Jo .


" Sekali lagi lo ngomongin Nara , tau sendiri akibatnya ! " ancam Elang sontak membuat Ghea bergidik ngeri .


" Udah diem aja , By ! " bisik Ghea yang di angguki Jonathan .

__ADS_1


__ADS_2