My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
22.elang semakin berani


__ADS_3

Setelah kejadian di parkiran sekolah tadi. Nara begitu keki dengan tatapan semua teman-teman kelasnya. Banyak yang terang-terangan menanyakan hubungan keduanya. Dan lebih terangnya lagi si tengik Elang itu malah menjawab kalau mereka berdua memiliki hubungan yang spesial.


Rasanya Nara ingin menangis dan sembunyi di dalam kolom mejanya saja karena tingkah Elang yang semakin menjadi-jadi.


"Lo harusnya bersyukur. Setelah ini gak bakalan ada lagi cowok-cowok yang berani gangguin lo!" bisik Ghea.


Nara mendengus. Bukan karena itu Nara bad mood. Tetapi bagaimana dengan fans gila Elang diluaran sana nantinya jika mengetahui berita meresahkan ini keluar dari mulut Elang sendiri.


Nara bukanlah gadis yang tidak peka dengan situasi di sekitar sekolah. Ia sudah sering mendengar berita siswi/adik kelasnya yang menjadi korban bullyan fans fanatik Elang.


Terkadang Nara heran, mengapa cewek-cewek cabai keriting itu bisa segitu tergila-gilanya pada sosok Elang. Kalau dipikir-pikir cowok itu tidak pintar-pintar amat. Menang di jago basket dan sepak bola saja. Ah ya, satu lagi jago tawuran! Itu sisi mencolok dari Elang Bimantara yang tak lain adalah suami sahnya.


Nara tidak sadar saja! Dibalik sikap berandalan Elang, ada sisi manis yang selalu membuat para fansnya begitu mengidolakan cowok itu. Mungkin, saat ini Nara belum tahu. Tetapi nanti, saat Nara benar-benar sudah menyadari betapa istimewanya seorang Elang Bimantara. Ia akan benar-benar jatuh! Jatuh dalam sejuta sisi positif dan kebaikan yang ada pada suami tampannya itu.


Dari arah pintu kelas, terlihat Silvi baru memasuk kelas. Gadis itu berjalan santai seolah tidak memiliki masalah apapun dengan Nara. Bahkan, pagi ini wajahnya tampak cerah bersinar seperti tersorot lampu neon.


"Lang! Ini ada titipan dari anak sekolahan Pancaloka. Sherinda." ucap Silvi sembari menyodorkan sebuah kartu undangan ulang tahun.


Elang melirik tipis Silvi lalu kembali fokus pada game di ponselnya. "Titip buangin!" singkatnya, nyaris membuat Jonathan yang ada di sebelahnya terbahak.


"Loh! Kok dibuang sih Lang. Ini kan undangan ke pesta. Dia masih ada di depan gerbang, apa perlu gue kembaliin ke dia aja?"


Elang berdecak lidah, kemudian mengambil kartu undangan itu dengan kasar. “ Udah kan? Lo boleh pergi sekarang!" usir Elang tanpa melihat lawan bicaranya.


'Sialan! Sekarang lo boleh sok jual mahal Lang! Tapi lihat aja nanti malam.' Batinnya penuh dengan rencana picik.


Melihat Elang menerima kartu itu dari tangan Silvi sebenarnya muncul rasa kesal dan sedikit tidak terima di hati Nara. Aneh sekali! Padahal biasanya ia tidak pernah peduli dengan apa yang akan di lakukan Silvi pada Elang. Tapi kali ini rasanya sedikit berbeda. Bukannya Nara cemburu, tapi perasaannya tidak terima saja!


"Ra! Kenapa semalem lo gak pulang? Nginep dimana? Bukannya lo udah gak tidur di rumah Kakek Nenek lagi, ya? Mama khawatir tauk!" Tanya Silvi. Sengaja, ingin mempermalukan Nara.


"Sejak kapan lo mulai peduli dengan gue?" Tanya Nara sinis.


"Busyet! Lo makin arrogant banget sekarang. Padahal kan gue cuma nanya baik-baik. Takutnya nih lo gak pulang karena kerja jadi simpenan Om-om! Secara Papa kan udah gak kasih lo jatah uang belanja sekarang. Mama juga denger loh berita miring dari orang luar sana. Katanya lo lagi hamil. Bener gak sih?" Tanya Silvi kali ini dengan tersenyum iblis.


Deg


Deg


Deg


Detak jantung Nara seakan lepas dari sarangnya. Ucapan Silvi barusan membuatnya benar-benar kaku. Bukannya Nara takut dengan sindiran Silvi. Dia tidak takut! Yang membuatnya jantungan saat ini adalah tindakan Elang.


Brak!


"Udah pernah gue peringatin kan sama lo? Berurusan dengan dia- sama aja lo cari masalah sama gue!" Bentak Elang dengan tatapan membunuh.


Bukan hanya geram yang Elang rasakan!


Mendengar cacian yang terlontar dari mulut beracun Silvi pada Nara, darah Elang seakan mendidih.


Melihat iblis tampan SMA Cakrawala saat ini sedang kalap, sontak semua siswa/siswi menjadi riuh. "Gila sih! Yang di bilang sama tuh anak masa bener? Gak mungkin kan Nara hamil sama om-om?"


"Lo jangan percaya sama mulut si Silvi. Yang keluar itu cuma comberan murahan!"


"Tapi gak mungkin kan dia tiba-tiba bilang kayak gitu? Biasanya berantemnya juga gak sampai menjurus ke arah sana deh!"


"DIAM!" Bentak Elang dengan nada penuh amarah.


Sunyi. Kali ini semua teman-teman satu kelasnya langsung bungkam mendengar teriakan Elang. yang terlontar dari bibir


“Kenapa lo jadi marah sama gue sih Lang? Kan gue cuma nyampein pesan dari Mama. Temen arisannya tuh rame bahas soal Nara hamil duluan."


"Nara sama gue semalam! Lo ada masalah? Kalau Mama lo bilang Nara sekarang jadi simpenan om-om. Orang itu berarti adalah gue! Puas?" Nara dan Ghea melotot mendengar jawaban luar biasah dari mulut Elang.


Tak hanya Nara dan Ghea. Semua anak-anak di kelas pun langsung sibuk berbisik-bisik kembali.


"Udah puas belum nyari jawabannya? Kalau udah, mending lo sekarang pergi deh Silpong! Gue enek lihat mata lo yang banyak beleknya!" Ganti! Kini Jonathan yang balik menyerang Silvi dengan bergidik jijik.


"Haha..." Suara tawa dari seluruh anak-anak di kelas membuat Silvi mati gaya. Dan dengan bodohnya ia malah meraba sudut matanya, yang ternyata memang benar adanya sebuah belek yang lumayan besar di sebelah kanan.


'Aaaaa gue malu! Jonathan sialan!' geram Silvi yang hanya bisa membatin.


"Cih! Jorok banget lo jadi cewek. Pasti tadi lo gak mandi ya pas mau sekolah? Atau jangan-jangan lo juga gak gosok gigi lagi? Jigong lo kerasa bau ****** banget masalahnya sampek ke meja gue!" Tambah Ghea yang ikut-ikutan julid sepeti Jonathan.


"Haha .. Anjay!"


Silvi mengepalkan tangannya


kuat. Rencananya untuk mempermalukan Nara gagal total. Yang ada kini malah dia yang merah padam karena harus menahan malu akibat bullyan dari sepasang kekasih yang bermulut julid itu. "Awas kalian!" sentak Silvi sembari menghentak-hentakkan kakinya keluar kelas.


Bertepatan saat ia akan keluar, Pak Heru yang akan mengajar ke dalam kelas datang.


"Kamu mau ke mana Silvi?"


"NUMPANG MANDI DI TOILET SEKOLAH PAK! EMAKNYA LUPA BELOM BAYAR AIR PDAM! AIR DI RUMAHNYA MATI! GUYS GUYS! KALIAN KE SEKOLAH ADA YANG KAGAK MANDI JUGA GAK?!" Heboh Reyhan cowok paling urakan di kelas Nara.


"HUUUW!!!"


"Diam kamu Reyhan!"


"Gak bisa diem pak. Karena Rehan terlalu baik. BEGITU SYULIT DIEMIN REYHAN.. KARENA REYHAN EMANG JULIIID! BEGITU SYULIT CARI GANTINYA.. CUKUP REYHAN YANG INI SAJA!! BORAS!!"

__ADS_1


"HUWAHAHA..."


Pak Heru tepuk jidat, muridnya yang ada di dalam kelas ini tidak ada yang seratus persen waras. Hanya beberapa saja yang bisa menenangkan jiwanya.


"Ya sudah kamu keluar Silvi. Cepat balik."


"Ya Pak."


Jelas Silvi tidak akan pergi ke toilet, ia akan lebih memilih untuk pulang. Begitu malu Silvi melupakan aksi Reyhan. Karena Reyhan terlalu tidak sopan padanya. 'Awas lo Reyhan!'


Ghea tak henti-hentinya terpingkal-pingkal. Entah setan apa yang merasukinya. Gadis itu sedari tadi hanya bisa tertawa ngakak melihat aksi gila teman satu kelasnya.


"Ra! Lo udah amit-amit belum?" Tanya Ghea di sela-sela tawanya.


"Udah! Terutama lihat tawa lo yang kayak setan.” Ghea melotot, tapi juga masih belum bisa menghentikan tawanya.


"Begitu syuuulit .. lupakan Elang. Karena bambank Elang gyaanteng! Begitu syuuulit cari gantinya .."


"Ghea!" Kesal Nara kali ini membuat dua cowok tampan yang ada di bangku depannya tertawa cekikikan.


***


Memasang wajah dengan sebal, Nara tak henti-hentinya menggerutu sejak jam istirahat terdengar berbunyi. Si Elang benar-benar tidak bisa jauh dari pandangannya. Dan hal itu semakin membuat siswa/siswi curiga kalau mereka berdua memang mempunyai hubungan yang spesial.


"Nanti malem ikut gue!"


"Ogah! Gue gak kenal, lagian lo mau jadiin gue obat nyamuk disana?" Tolak Nara dengan tatapan jutek.


"Jonathan pasti juga bakalan dateng kalau gue dateng. Biar Ghea ikut," Ghea yang sedang melahap bakso pedas sontak terbatuk-batuk.


"Minum yank!" Dengan tergesa-gesa Ghea segera meraih es jeruk dari tangan Jonathan.


"Sialan! Panas banget." Ghea menepuk-nepuk dadanya, lalu menatap Elang dengan kesal. "Itu kan pesta anak sekolah Pancaloka. Gak mau lah gue, nanti disana gak ada yang gue kenal sama Nara."


"Lo sengaja ngajak Nara karena mau mamerin ke Sherin kalau sekarang lo udah punya cewek? Ya kan?" Si Jo memang paling bisa membuat Elang kesal juga gemas dalam waktu bersamaan.


"Nara bukan ceweknya si Elang kali By. Tapi ist- emph!" Sebelum Ghea kebabalas, Nara segera membekap mulut gadis itu dengan telapak tangannya.


"Hehe.. sorry kelepasan." cengir Ghea.


"Sialan lo!"


"Gak papa sih kita ikutan Ra. Itung-itung nyari udara malem deh! Gimana?" celetuk Ghea.


Nara merotasikan bola matanya malas, lalu menarik botol yang berisi cabai tumis di atas meja. "Dasar plin-plan! Gue gak suka pergi ke acara begituan!" Jawabnya sembari menekan botol itu ke atas mangkuk baksonya.


"Stop Ra!" cegah Elang dengan tatapan tajam. "Paan? Gue gak bisa kalau makan bakso gak pedes!" Balasnya ketus.


"Siniin dulu itu bakso lo!" Nara mendelik saat mangkuk baksonya bergeser ke depan meja Elang. "Mau lo apain itu bakso gue?" Tanyanya yang di sambut omelan dari si tampan Elang.


"Anjing! Lo mau makan bakso atau makan kuah racun Ra?" Nara mencebik, Elang itu sangat lebay dan berlebihan sekali. "Gak usah sok nyicipin kalau gak suka pedes!" ketusnya sembari menyodorkan es teh manis pada Elang.


Tak tahan dengan lidahnya yang terasa terbakar, Elang segera meraih gelas berisi es teh dari tangan Nara. Lalu menegaknya sampai tandas.


"Awas sampai lo makan!"


"Apaan sih? Gue gak selemah lo Elang!"


"Gak gak! Lo bisa bikin lidah anak gue kebakaran!" Nara melotot, kakinya langsung menendang sesuatu di bawah sana.


"Gue gak peduli! Ganti makan yang lain!” tekan Elang membuat Nara tak berani melawan karena takut mulut Elang semakin celometan mengatakan yang tidak-tidak.


Nara pun akhirnya hanya bisa menurut dengan wajah di tekuk.


"Gila! Anak-anak pada lihat ke meja kita bego!" Bisik Ghea seketika membuat Nara membeku. Sementara Jonathan dan Elang. Kedua cowok itu langsung menoleh ke sekitar dan melayangkan tatapan setan.


Siapa yang berani melawan Elang? Mereka jelas tidak akan berani memperpanjang rasa penasaran mereka dengan mencari gara-gara pada iblis jahanam yang tak pernah segan-segan main tangan pada seseorang yang berani mengusik kedamaiannya.


"Apa lo lihat-lihat!" Tantang Jonathan.


"Mendadak gue jadi kenyang. Gue mau balik ke kelas duluan."


Nara segera bangkit dari duduknya lalu ngacir, meninggalkan area kantin dengan hati tak tenang.


"Awas kalian!" Elang melempar tatapan tajam sebagai ancaman pada siswa/i di kantin lalu segera pergi menyusul Naraya.


Langkah yang terayun gontai terlihat menggemaskan dari sudut mata Elang yang sedang mengamati dari belakang. Seulas senyum lagi-lagi terus terpancar pada wajah tampannya ketika ia melihat Nara tidak pergi ke kelas melainkan taman belakang sekolah.


"Dasar!"


Dibawah pohon yang lumayan rindang untuk berteduh, Nara mendudukkan bokongnya pada bangku panjang yang ada di bawah pohon tersebut.


"Mama.. Ara harus gimana?"


Deg


Niat hati Elang ingin mendekati Nara terhenti. Dia memilih untuk berdiam diri di belakang Nara sembari memperhatikan punggung Nara yang beberapa kali tampak bergerak naik turun.


"Jangan kecewa sama Ara ya Ma. Kalau nantinya Ara bakalan putus sekolah," lanjut Nara tersenyum getir. Matanya mulai bergelombang dengan tatapan lurus pada kolam kecil yang ada ujung taman.


"Maafin Ara. Kemarin sempet mau lenyapin dia. Ara takut Mama. Ara belum siap jadi yang terbaik buat dia!" Kali ini punggung Nara terlihat bergetar pelan.

__ADS_1


Pandangan Naraya semakin menggenang, ini kali pertama dia merasa frustasi akan masalah yang terjadi. Sesungguhnya, Nara hanyalah gadis biasa. Tidak setangguh yang seperti Ghea pernah bilang. Nara juga punya sisi lemah dan titik dimana ia bisa lelah.


"Tapi Ara janji Ma. Setelah ini Ara bakalan mertahanin dia. Apapun yang terjadi." Imbuhnya sembari menyeka sudut matanya yang tak sengaja berembun. Lalu tersenyum tipis.


"Lo gak sendiri Nara. Ada gue


Deg!


Degup jantung Nara terpompa dengan cepat saat mendengar suara yang Nara ketahui pemilknya adalah Elang.


"Hish! Kenapa ada dia sih?"


Perlahan Nara memutar kepalanya untuk menoleh kebelakang. Dan benar saja, suaminya itu sudah berdiri di belakang sana dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku celana.


"Sejak kapan lo ada disini?"


Tanyanya.


"Sejak lo duduk di bangku itu mungkin? Kenapa?" Elang berjalan dengan gaya slow motionnya mendekati Nara. Kemudian duduk di sebelah gadis itu sembari mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya.


"Makan ini!" Nara mengamati si imut bernama cup a cup yang Elang sodorkan padanya. "Ambil Ra." Nara mencebik, namun juga mengambil permen rasa strawberry itu dari tangan Elang.


Dalam hati Nara bertanya-tanya. Tahu dari mana Elang kalau dia suka sekali mengkonsumsi permen sunduk bernama cup a cup itu! "Apapun tentang lo gue pasti tahu Ra!" Celetuk Elang seolah-olah bisa membaca pikiran Nara saat ini.


“Lo cenayang ya?” Elang terkekeh lalu mengacak pucuk poni Nara dengan gemas.


"Gue suami lo!" Nara mencebik, kemudian kembali menyuarakan isi hatinya. "Bisa nggak kalau di sekolah jangan pakai embel-embel suami-istri. Gue gak nyaman Elang." Elang mengangguk lalu sedikit menyerongkan duduknya.


“Bisa .. Asal lo mau janji satu hal sama gue." Nara menaikkan sebelah alisnya sembari memainkan permen dengan lidahnya. "Janji apaan?" Tanyanya. “Jangan pernah merasa sedih dan sendiri lagi. Lo punya gue!"


Jlep


Nara membisu, mendadak pipinya jadi memanas. Salah tingkah.


"Lo nguping?" Elang terkekeh, kembali mengacak rambut Nara dengan gemas.


"Apapun itu percaya sama gue. Gue bakalan selalu ada buat lo Ra. Lo tanggung jawab gue mulai sekarang!"


Sialan! Bisa-bisanya Nara malah blussing dengan gombalan receh Elang barusan. Dan ini apa? Kenapa jantungnya mendadak riuh seperti ombak yang sedang pasang.


"Rayuan lo gak bakalan mempan!" Ketus Nara yang langsung di sambut tarikan lembut dari tangan Elang.


Keduanya pun kini saling berhadapan dan beradu pandang dengan tatapan yang begitu dalam. "Apa di mata lo selama ini gue pernah main-main dengan ucapan gue Ra?" Tanya Elang dengan nada yang terdengar lembut tapi penuh penekanan.


Nara masih diam, mendadak tubuhnya jadi kaku untuk di gerakkan. Lidahnya pun juga terasa kelu hanya untuk sekedar berucap 'tidak'.


"Lo prioritas gue mulai sekarang dan sampai kapan pun Naraya Bimantara–” jeda Elang yang kian memperdalam tatapannya pada manik mata indah milik Nara. "Lo perlu bukti ?" Nara mengangguk, entah mengapa dia jadi ikut-ikutan terbawa suasa yang mulai terasa berkabut.


Menyunggingkan sudut bibir dengan kepala yang mulai miring, Elang pun dengan senang hati menyatukan bibirnya pada bibir Nara yang terasa manis dan pas di lumatannya. Dan entah sejak kapan si manis cup a cup itu terjatuh. Anehnya lagi, Nara malah mengalungkan tangannya, dan ikut terhanyut oleh permainan yang Elang lakukan siang ini di taman belakang sekolah. Walau terasa kaku, Nara mencoba mengimbanginya.


Elang merasa puas karena pada akhirnya Nara mau membalas ciumannya. Namun baru mereka mulai memanggut dengan menggunakan perasaan, tiba-tiba suara laknat menjerit dengan tak tahu waktu dan tempat!


Kring!


Kring!


Kring!


"Bangsat!" umpat Elang saat mendengar bel masuk sudah berbunyi. "Sorry. Nanti kita lanjutin di rumah." Goda Elang terkekeh sembari mengusap sudut bibir Nara yang basah karena ulahnya.


What? Nara tercengang mendengar ucapan Elang barusan, pipinya pun kembali bersemu merah. Elang benar-benar sudah membuat perasaan Nara tercampur aduk tak karuan.


'Enggak .. enggak! Ini tadi pasti bukan gue!'


Dengan langkah yang sejejar dengan langkah Elang. Nara terus beragumentasi dengan batinnya. Sampai-sampai gadis itu tidak sadar kalau saat ini tangannya sedang di genggam erat oleng Elang.


"Udah go publik nih Kak Elang sama Kak Nara? Cie.. cie!"


"Hayo habis ngapain dari taman belakang?"


"Kak Nara! Gue tandai lo ya! Calon imam gue kenapa di embat ??" Riuh yang terlontar dari mulut-mulut adik kelas Nara dan Elang membuat Nara jadi salah tingkah.


"Mereka kenapa sih?" Tanya Nara dengan wajah merah padam juga kebingungan.


Elang menggedikkan bahunya, acuh. Lalu mengangkat jemari lentik Nara yang ada di genggamannya. Sengaja menciumnya dengan kecupan yang sangat lembut.


Mata Nara terbelalak sempurna, ia segera menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Elang.


"Elang lo bikin gue malu!" Kesalnya seraya memukul-mukul bahu dan dada bidang Elang, gemas. Sementara yang sedang mendapat pukulan dari istrinya itu hanya terkekeh geli.


Bisa-bisanya Nara tidak sadar kalau tangannya sedari tadi di genggam oleh si begundal tampan junjungan sejuta umat bernama perempuan itu di depan anak-anak sekolah.


"Lo kenapa sih yank?"


"Yank .. yank! Kepala lo peyang!" Amuk Nara yang terus menghajar cowok tengil itu sampai menuju kelasnya.


“Nara .. lo jahat!” teriak fans alay Elang dengan menghentak-hentakkan kakinya.


Mereka merasa cemburu. Dalam hati kecilnya ingin sekali di perlakukan seperti Nara oleh Elang. Tapi semua itu tidak akan mungkin, mengingat wajah Nara dan wajah mereka bagaikan perumpamaan rembulan dan remahan rengginang.


Kasta dan tahta mereka dengan Nara tak akan pernah sama di mata Elang besti!

__ADS_1


__ADS_2