
Mengusap air matanya kasar, Nara tidak henti-hentinya mengomeli cowok yang sedang ada di hadapannya, dengan sesenggukan.
"Udah dong Ra, jangan mewek terus. Gue frustasi lihatnya," Nara mencubit kecil lengan Elang. Lalu menatapnya dengan sebal.
"Kenapa lo malah minta di aniaya sama Kakek, Elang? Emangnya lo udah siap ketemu sama penghuni neraka?" Elang terkekeh, dengan gerakan lembut menarik tubuh Nara.
"Gak usah peluk-peluk gue!"
Mendengus pasrah, terus maunya Nara apa coba? Elang tidak sanggup kalau harus melihat air mata istrinya itu terbuang sia-sia. Tadi kan niatnya hanya menggoda Nara saja, siapa tahu malah gadis itu ketakutan dan menangis histeris.
"Gue udah biasa di giniin sama Kakek. Bagi gue rasa sakit ini gak lebih kayak di gigit semut, Nara." jelas Elang, dengan menghapus jejak air mata Naraya.
Sejenak Nara tertegun, kemudian menggeser sedikit bokongnya untuk mendekati Elang.
"Maksudnya gimana?" Tanya gadis itu dengan suara melemah, nyaris tak terdengar.
Elang tersenyum, lalu melipat kedua tangannya di belakang kepala, bersandar pada punggung sofa kamar.
"Udah dari kecil gue nerima hukuman cambuk dari Kakek. Jadinya udah kebal. Lo gak perlu khawatir."
Nara memandang sendu Elang, kemudian kembali bertanya. "Kakek keras banget ya, sama lo?"
Elang mengangguk juga menggeleng, "sebenarnya Kakek tua itu gak seburuk kayak yang ada di dalam isi kepala lo. Dia pria yang lembut, hanya saja mencoba menjadi keras karena peraturan-peraturan aneh di keluarga ini yang udah berjalan dari jaman purba!" Jelas Elang jenaka, masih dengan menatap wajah teduh Nara.
"Termasuk Oma juga?" Kepo Nara yang mulai penasaran dengan cerita Elang.
"Apa lagi wanita cerewet itu. Aslinya mah dia cengeng dan lemah banget." Kekeh Elang dengan gelengan kecil di kepalanya.
"Masa sih? Tapi kok Oma kelihatan galak banget kalau di depan kita?" Desak Nara.
Elang bangkit dari sandarannya lalu mencubit gemas pipi Nara. “ Seperti lo! Depannya doang kelihatan sangar. Aslinya enggak kan?" ledek Elang kali ini tersenyum miring.
Nara mendelik, melipat bibirnya dengan tatapan kesal. “ Enak aja! Ngapain lo bawa-bawa gue.”
"Nah, kan? Sama kayak Oma." Ledek Elang lagi, kali ini berhasil membuat Nara menghadiahi cowok itu dengan pukulan-pukulan kecilnya. Yang bagi Elang malah seperti belaian penuh cinta.
"Ngeselin!"
Elang terkekeh. Dia sengaja lari menuju ranjang dan melempar tubuhnya untuk tiduran terlentang di sana.
"Sini Ra!" suruh Elang sembari menepuk ranjang kosong di sebelahnya.
"Ogah!" Tolak Nara dengan pipi yang mendadak jadi bersemu merah.
__ADS_1
Entahlah, sejak kejadian tadi malam dan tadi pagi. Nara jadi malu sendiri setiap kali melihat ranjang tidur milik Elang. Ingatannya jadi kembali berputar-putar pada adegan panas yang ia lalui bersama Elang.
“Sini Nara. Janji gue gak bakalan macem-macem." Pinta Elang sekali lagi.
Nara mencebik, lalu duduk di sisi ranjang.
"Apa?" Ketusnya.
Elang menyeringai, lalu menarik tangan Nara dengan jahil, membuat si galak tapi penurut itu terguling ke sampingnya dan memekik sebal.
"Diem Ra. Gue cuma mau meluk doang, gak lebih." Nara akhirnya terdiam. Membiarkan Elang memeluknya. Lama pelukan itu menghangatkan tubuh Nara sampai panggilan lembut itu kembali terdengar dari bibir Elang.
"Ra?" Nara mendongak lalu sedikit mengangkat kepalanya, seoalah bertanya apa pada Elang.
"Lo nyesel gak nikah sama gue?" Pertanyaan itu akhirnya lolos dari bibir Elang. Membuat Nara jadi bungkam.
Bagaimana pun Elang ingin menanyakan hal ini pada Nara. Meskipun nanti jawabannya akan menyakitkan untuk ia dengar. Sejujurnya Elang hanya ingin memperbaiki keadaan.
Nara menundukkan kembali pandangannya dengan pemandangan dada bidang Elang yang tebungkus kaos tipis.
Seulas senyum tipis membingkai bibir Elang, dengan diamnya Nara. Elang sudah paham, kalau gadis itu memang menyesal menikah dengannya.
Wajar semua ini terjadi, mengingat Elang adalah laki-laki nekat yang telah mengambil kesucian Nara. Tetapi dia tidak akan pernah menyesali semua perbuatannya itu. Ya, walaupun semua itu berawal dari kesalahpahaman yang sebenarnya sangat konyol jika di ingat-ingat.
Mungkin, jika mereka menikah dengan jalur perjodohan tanpa adanya kecelakaan terlebih dahulu, Nara tidak akan kecewa sedalam ini dengan Elang. “Benci ?" Tanya Elang lagi.
Nara mengangguk, dia tidak akan naif.
Pelukan Elang seketika merenggang dengan hembusan napas yang terdengar berat.
Cowok seperti dirinya memang pantas mendapatkan itu semua dari gadis sepolos Nara. Elang sangat-sangat menyadarinya!
"Gimana caranya gue bisa nebus semua rasa benci di hati lo itu Ra?" Nara tersenyum tipis, mendengar pernyataan Elang kali ini.
"Hanya dengan waktu dan keseriusan lo Elang."
"Gue serius sama lo Nara. I am swear!"
"Buktiin! Gue mau lo bisa wujudin mimpi yang mungkin gak akan pernah lagi bisa gue gapai," nyeri, itu yang Elang rasakan ketika mendengar kalimat menohok dari Nara.
"Gue mau lo gantiin gue jadi yang terbaik lulusan tahun ini. Itu janji gue sama almarhum Mama, Elang. Lo bisa kan wujudin?"
Elang menelan ludah, menggantikan posisi Nara sebagai juara umum di sekolah? Rasanya Elang tak mampu. Mengingat otaknya yang sangat pas-pasan.
__ADS_1
"Pasti bisa kalau ada kemauan." Imbuh Nara yang seolah tahu dengan isi pikiran suaminya itu.
"Bantu gue, bisa?"
Nara mengangguk, jelas dia mau membantu cowok itu untuk mendapatkan prestasi yang baik tahun ini. Setidaknya Nara ingin mengubah Elang menjadi laki-laki yang lebih baik lagi.
"Pasti gue bantu, Elang. Asal lo ada niat." Elang mengangguk, kembali memeluk tubuh Nara dengan erat, lalu mengecup kening gadis itu dengan spontan.
Cup!
"Bisa gak? Lo gak cium-cium gue!" Ketus Nara kali ini sudah mode galak lagi. Elang terkekeh kecil sembari berdecak.
"Semalem juga udah lebih dari sekedar ciuman Ra." Goda Elang yang di sambut cubitan maut oleh Nara di dada bidang cowok itu. "Argh! Lo suka banget sih nyubitin gue? Sekali-kali peluk kek! Gak ada lembut-lembutnya lo jadi istri," keluh Elang.
"Lebay! Tadi aja di cambuk Kakek lo biasa aja tuh!" Sindir Nara yang kini sudah duduk dengan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Beda lah! Kalau Kakek nyambuknya pakai perasaan. Lo enggak!" Jawab si tengil Elang ngawur.
Nara membulatkan bibirnya dengan tatapan cengo. "Dasar gaje"
"Disir gaje!" tiru Elang,
kemudian kembali menarik tubuh Nara dan menggelitik pinggangnya dengan gemas.
"Kyaa! Lepasin! Geli Elang!"
Oma Gayatri yang tak sengaja sedang berjalan di depan pintu kamar Elang sontak menghentikan langkahnya, beliau menatap pintu kamar Elang dengan intens lalu celingukan ke kanan dan ke kiri. Merasa aman, wanita tua itu segera mendekatkan telinganya pada daun pintu kamar cucunya.
"Hish, siang-siang bolong begini main geli-gelian. Dasar anak baru gede!" desis Oma Gayatri sembari mengibaskan tangannya, lalu melenggang pergi dari depan kamar Elang dengan senyam-senyum tidak jelas.
Bertepatan saat beliau ingin menuruni anak tangga, Mama Naya terlihat sedang menuju ke lantai atas.
"Nay kamu mau ke mana?" Tanya Oma Gayatri saat melihat Mama Naya tampak berpenampilan rapi dengan tas jinjingnya.
"Mau ngajak Nara periksa ke Dokter kandungan Bu.”
"Nanti saja ke Dokternya. Sekarang ikut Ibu ke bawah dulu, ada berita penting!"
Oma Gayatri dengan gesit menarik tangan Mama Naya, mengajaknya pergi begitu saja.
“Tapi Naya udah janjian sama Dok-"
"Halah! Kayak di dunia ini hanya ada satu Dokter kandungan saja!" Potong Oma Gayatri dengan cepat, saat Mama Naya ingin protes.
__ADS_1
Dengan berat hati Mama Naya akhirnya hanya bisa pasrah, mengikuti langkah Oma Gayatri yang entah akan membawanya kemana.