My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
15.tanda-tanda


__ADS_3

"Banget Nenek. Nara tuh kangen banget sama masakan Nenek. Apalagi ini nih! Oseng bunga pepaya. Ini kan tumis sayur kesukaan Nara sama Mama. Ah, ya ampun.. cacing-cacing di perut Nara udah gak sabar!" cerocos gadis itu dengan menggebu-gebu.


Nenek Mayang memandang sendu juga rindu cucu cantiknya versi sekarang. Beliau begitu merindukan Naraya yang seperti ini. Andai saja Nara bisa terus ceria dan cerewet seperti sekarang. Betapa bahagianya Nenek Mayang melihatnya.


Begitupun dengan laki-laki sepuh yang sedang mematung di bawah tangga. Beliau sampai menyeka sudut matanya yang tiba-tiba berair.


"Maafin Kakek Nara. Kakek cuma ingin yang terbaik untuk kamu Nak. Kakek terlalu takut, kamu sendiri tanpa kami suatu saat nanti." Gumam Kakek Malik dengan tatapan sedih.


"Ehem!"


Suara deheman dari belakang sana membuat Nara yang sedang fokus menyendok lauk pauk dari atas meja menghentikan aktivitasnya.


Wajah yang semula ceria kini berubah menjadi kaku. Nara meremas sendok sayur di tangannya dengan perasaan yang begitu rumit.


"Kakek hanya mau numpang makan. Lanjutin! Anggap saja Kakek seolah seekor lalat terbang."


Nara masih diam sembari mengamati gerak gerik Kakek Malik. Tumben sekali pria tua itu tidak mencari gara-gara dengannya. Biasanya saat baru bertemu yang dibahas selalu hal-hal menyebalkan di telinga Nara.


"Bu. Ambilin Ayah rendang hati yang banyak. Lidah tua ini rasanya sudah lama tidak pernah merasakan nikmatnya makanan bersantan."


Nara melotot. Buru-buru menjauhkan rendang hati sapi itu dari jangkauan Neneknya.


"No! Kakek makan sama sayur-sayuran saja." Suruhnya galak.


Kakek Malik berdecak kesal. " Kamu jangan jadi cucu durhaka Nara. Kakek sudah lama tidak makan dengan yang bersantan. Memangnya kamu pikir Kakek ini kambing. Setiap hari disuruh makan daun-daunan terus!" keluh Kakek Malik.


Nara mencebik. Bisa saja orang tua ini kalau menjawab. “ Dikit aja. Sini piringnya!" Kakek Malik menahan senyum, kemudian menyodorkan piring di depannya kepada Naraya.

__ADS_1


"Dua potong Ara. Masa cuma sepotong! Bumbunya yang banyak dong. Ah kamu itu! Pelit sekali,” omel Kakek Malik yang tak di hiraukan oleh Nara.


"Sepotong atau tidak sama sekali." Nenek Mayang terkekeh. Pemandangan manis di depannya itu membuat hatinya damai. Andai saja ada putranya Zain disini. Pasti suasana semakin indah untuk di pandang mata.


"Menurut saja. Daripada kolestrol Ayah nanti meronta-ronta." Ledek Nenek Mayang.


"Ya.. ya.. ya, terserah kalian saja Si tua bangka ini tidak akan membangkang lagi!" Ujar Kakek Malik pasrah.


Nara tertawa pelan. Sejenak, gadis yang diselimuti banyak luka itu melupakan masalahnya. Tingkah Kakek dan Neneknya mampu mereda rasa sakit dan kecewa pada takdir yang baru saja merenggut masa depannya.


'Sehat-sehat Kakek, Nenek. Ara sayang kalian.' Batin Naraya dengan hati yang begitu tulus.


Satu bulan telah berlalu. Nara menjalani hari-harinya seperti hidup di neraka. Ia hanya akan mendapat angin kebebasan setelah berada di rumah Kakek dan Neneknya.


Bagaimana tidak? Kalau setiap hari si begundal Elang itu selalu mencari gara-gara dengannya di sekolah.


"Ra lo yakin gak hamil?" tanya Elang dengan toplesnya.


Nara sontak melotot . Buru-buru membekap mulut Elang dengan perasaan resah. “Lo gila! Ini sekolah Elang. Kalau sampai ada yang denger gimana?" Lirih Nara sembari celingukan, menatap sekitar taman, takut saja tiba-tiba ada yang mengikutinya dan Elang sampai ke belakang sekolah.


Setelah dirasa aman. Nara segera melepas bekapannya. Menatap Elang kali ini dengan tatapan membunuh. "Gue gak hamil. Dan gak akan pernah hamil. Jadi lo gak usah ngaco kalau ngomong sialan!" Mendengar jawaban Nara, Elang jadi lemas seketika.


“Jadi benih gue gak berkembang gitu?” tanya Elang masam.


"Elaaang!" Nara mengangkat kedua tangannya, seakan ingin mencabik-cabik wajah cowok tampan di depannya saat ini.


"Ra, tapi gue tiap hari kesiksa, muntah, lemes. Mama gue bilang lo pasti lagi hamil. Mending lo periksa deh. Gue anter!" Huhuhu- rasanya Nara ingin menjerit dan meraung-raung mendengar ocehan Elang yang membuat dunianya seakan karam di tengah lautan saja!

__ADS_1


"Kenapa gak lo aja yang periksa!" bentak Nara dengan dada naik turun. Sungguh, kesabaran gadis cantik itu sudah hampir habis.


"Ck! Lo jangan mulai deh Ra. Gue yakin lo pasti lagi bawa benih-benih unggul gue." Ucap Elang dengan tatapan serius. Sudah seminggu ini Elang tersiksa. Ia tidak bisa mencium makan-makanan berbau amis. Dan lebih suka memakan buah-buahan yang rasanya asam. Anehnya, mual itu akan mereda dan hilang sendirinya jika berdekatan dengan Naraya.


Kata Mama Naya, benih super milik Elang saat ini tengah berproses menjadi berudu kecebong. Dan artinya tak lama lagi dia akan berubah bentuk menjadi bayi manusia yang bisa bergerak-gerak.


"Tapi gue emang enggak lagi hamil Elang! Lo ngeyelan banget jadi cowok."


"Please Ra! Kalau lo gak mau ke Dokter. Seenggaknya tespen dulu lah!"


"Tespen .. Tespen! Lo pikir gue tukang reparasi listrik?!” jengkel Nara dengan membuang muka.


Elang menggaruk lehernya yang tak gatal. Kemudian kembali berucap. "Iya sorry salah. Mau ya, Ra! Please.." mohon Elang.


"Kalau emang hasilnya negatif gue janji gak bakalan ganggu lo lagi. Mungkin rasa sakit yang gue alami minggu-minggu ini emang gejala penyakit langka." Kata si Elang sok teraniaya.


Nara *******-***** kedua tangannya, memikirkan ucapan Elang berkali-kali. Sebenarnya Nara juga takut, karena akibat ulah Elang satu bulan yang lalu. Ia tak kunjung kedatangan tamu bulanannya.


"Bakalan gue pikir-pikir lagi. Sekarang jangan ganggu gue dulu! Risih banget gue dilihatin fans fanatik lo!" ketus Nara.


"Ck! Iya."


Setelah perdebatan runyam belakang sekolah tadi. Keduanya saling jalan ke arah kantin dengan di jarak yang lumayan jauh. Nara melangkah acuh, seoalah tidak pernah terjadi apa-apa di antara dirinya dan Elang.


Namun, tanpa Naraya sadari. Ada sepasang mata dan telinga yang diam-diam telah merekam semua pembicaraan Elang dan Nara tadi di taman belakang sekolahan.


Seseorang itu saat ini tengah berada di belakang Nara dan Elang. Berjalan sembari menatap keduanya dengan hati yang panas bak tersulut bara api yang membara. Teruntuk Naraya Azkara. Rasanya ia benar-benar jijik dan semakin membencinya!

__ADS_1


"Dasar pelacur!"


__ADS_2