
Tidak akan pernah ada yang tahu jalan hidup seseorang kedepannya seperti apa. Terkadang seseorang akan berpura-pura merasa bahagia dan baik-baik saja di depan orang lain hanya untuk menutupi suatu drama yang besar.
Hati manusia tidak akan ada yang tahu, kecuali manusianya sendiri dan sang pencipta. “Pah, kamu beneran mau ke luar kota lagi?" Soraya mengusap lembut dada bidang Zain.
Zain menyingkirkan tangan Soraya dengan gerakan lembut, kemudian mengangguk pelan.
"Iya Ma. Ada tander yang harus aku urusi di Bandung." Soraya mendesah kesal, padahal dia sangat ingin bermanja-manja dengan Zain.
Sudah 6 bulan ini Zain pulang pergi ke luar negeri dan luar kota tanpa jeda. Meninggalkan Soraya yang selalu haus akan belaian tangan nakal laki-laki itu.
“Kamu gak kangen aku Pah?” Soraya yang hanya memakai kain tipis kekurangan bahan berputar-putar mengelilingi tubuh Zain seperti cacing kepanasan.
"Lain kali ya, Ma. Papa udah di tunggu Jimy di depan," tolak Zain dengan lembut. Soraya mau tak mau akhirnya menyingkir dari hadapan Zain.
“Kapan kamu bisa ada waktu buat aku lagi? Kamu udah berubah Mas Zain!" Zain melirik tipis Soraya yang sedang merajuk di tepian ranjang.
"Semoga tander ini cepat selesai. Sebagai gantinya aku transfer kamu buat belanja," Soraya yang mendengar kata ' transfer' sontak membulatkan matanya dengan wajah berseri-seri.
"Udah masuk Ma. Papa transfer 20." Soraya berjalan dengan anggun mendekati Zain kembali, berniat untuk mencium laki-laki yang semakin umur semakin membuat Soraya tergila-gila.
"Papa berangkat dulu, udah telat. Mama hati-hati di rumah." Gagal! Bibir Soraya hanya mendarat di udara tidak sampai menempel pada bibir Zain.
“Ish, kamu nyebelin banget Mas." Kesal Soraya dengan menghentakkan kedua kakinya.
Jimy segera membukakan pintu mobil ketika bosnya itu keluar dari rumah. "Kamu sudah baca pesan saya kan Jim?" Tanya Zain.
"Sudah Bos." Jawab Jimy datar. Kemudian memakai kacamata hitamnya dan duduk di kursi kemudi.
Jimy membawa kuda besi milik Zain ke lokasi tujuan yang tadi sudah Bosnya kirim. Sebuah hotel mewah bintang 5 yang tak lain adalah milik keluarga mertua Naraya.
Lama Jimy dan Zain menunggu di parkiran hotel yang ada di tengah-tengah ibukota tersebut. Sampai atensinya tersita oleh kedatangan seorang wanita berbaju sexy yang baru saja turun dari mobil sedan mewah putih bersama laki-laki berjenggot lebat.
"Saya bilang juga apa Bos!" Celetuk Jimy membuat Zain terdiam.
Zain masih mengamati dua manusia terkutuk yang tampak berjalan sambil mesra-mesraan itu ke dalam hotel. Sebenarnya Zain sudah mendengar perselingkuhan Soraya 6 bulan yang lalu dari Jimy, asisten setianya. Tetapi karena Zain terlalu sibuk, jadinya baru sekarang ini Zain ada waktu untuk membuntuti sang istri.
"Kita ikuti mereka Jim," ajak Zain yang langsung di angguki Jimy.
Sementara sang pelaku yang saat ini sedang bermesraan dengan pria berbadan dempal itu tampak tertawa-tawa dan bergelayut manja.
"Ya ampun Mbak ***** ketemu di sini rupanya!" Cibir Helena yang baru keluar dari lift, wanita itu baru selesai melakukan meeting bersama klient di lantai atas.
"Siapa dia sayang?" Tanya si pria berjenggot lebat yang malam ini sedang menggandeng Soraya.
"Dia itu janda gatel Mas Bimo ." Mendengar jawaban Soraya, pria hidung belang di sampingnya langsung memasang wajah genit pada Helena.
Bimo memandang name tag yang ada di pakaian formal Helena dengan jeli. Lalu tersenyum penuh arti.
'Helena.. sepertinya aku pernah mendengar namanya.'
"Kenalkan saya Bimo, pengusaha tambang batu bara!"
Helena berdecih, lalu menatap pria yang tak lebih tampan dari grandong di depannya itu dengan sinis.
"Sorry Bapak Bimoli tapi saya tidak tanya tuh!" Bimo selaku kekasih gelap Soraya langsung tersentil menohok mendengar jawaban Helena.
Bukannya Bimo sakit hati, yang ada pria itu malah semakin tertantang untuk mendekati Helena.
"Ayo Mas." Ajak Soraya manja.
Bimo mengusap jenggotnya dengan tatapan nakal, lalu pergi meninggalkan Helena dengan sejuta rencana.
"Yang begitu kenapa bisa di pelihara sama si Zain coba?" Gumam Helena dengan gelengan kecil di kepala.
"Kamu ngomongin siapa Na?"
Deg
__ADS_1
Helena melotot lalu segera berbalik badan. "Zain?" Panggil Helena dengan tatapan kebingungan.
"Hm.. ngapain kamu di sini?" Tanya Zain menyelidik. Helena berdehem kemudian memasang wajah angkuhnya.
"Terserah aku lah! Ini kan bukan hotel Kakek moyang kamu? Kamu sendiri ngapain di sini? Jangan-jangan mau gerebek istri yang lagi selingkuh ya?” Ledek Helena seketika membuat Jimy yang ada di belakang Zain garuk-garuk kepala.
Sudah bukan rahasia lagi jika Zain dan Helena bertemu keduanya akan beradu mulut. Kedua manusia yang hampir pernah menikah itu bagaikan tikus dan kucing. Selalu meributkan hal-hal yang tidak penting.
"Awas kamu janda karatan!" geram Zain dengan tatapan sengit pada Helena.
"Dih, siap-siap aja kamu habis ini jadi Duda garing lagi. Memangnya enak!” Zain mengeram rendah dengan langkah kaki yang semakin lebar.
"Rubah beracun!" Desis Zain dengan wajah merah padam.
"Cih, sok kecakepan sih, akhirnya di selingkuhin juga kan?" Ledek Helena yang setelah itu melenggang pergi meninggalkan Bima hotel.
Sementara Zain - dengan degup jantung yang berpacu tak karuan. Tengah berdiri tegap menatap kamar hotel yang Soraya masuki bersama pria berjenggot tebal tadi, lamat.
"Buka!" Perintah Zain pada akhirnya pada Jimy.
"Bos beneran sudah siap?"
"Saya bilang buka Jim!"
Jimy segera membuka pintu di depannya dengan gerakan tak terbaca. Tak menunggu lama, pintu hotel pun terbuka dan ..
"Ah Mas! Cepetin dong! Enak banget tauk .."
"Kamu nikmat sekali Soraya!"
"Tentu Mas. Ayo dong lebih keras lagi!"
"Dasar ******!" Gumam Zain, langkah tegapnya langsung bergerak cepat, menelanjangi Soraya dan pria perut buncit itu menggunakan mata tajamnya.
Prok
Prok
Soraya melotot langsung mendorong tubuh Bimo yang ada di atasnya dengan kasar.
"Mas Zain.. Mas aku bisa jelasin!" Zain tersenyum sinis, menatap tubuh Soraya yang sudah tertutupi selimut dengan tatapan jijik.
"Kenapa? Lanjutin! Aku ingin melihat bagaimana murahannya kamu merintih di bawah tubuh laki-laki itu Soraya."
"Mas.." Soraya menatap Zain ketakutan. Soraya benar-benar takut kehilangan pria setampan dan sekaya Zain.
"Kamu tidak perlu kembali ke rumah! Semua barang-barang kamu sudah berpindah ke apartemen! Jangan pernah mencoba kembali Soraya atau kamu tidak akan pernah mendapat sepeserpun uang tanda perpisahan!"
Deg
Jantung Soraya seakan lepas dari sarangnya. Tidak! Saat ini pasti Soraya sedang mengalami mimpi buruk. Soraya tidak mau berpisah dengan Zain. Soraya terlanjur betah hidup mewah, dirinya tidak mau kembali hidup pas-pasan bersama Silvi.
"Mas maafin aku, aku khilaf Mas."
Jimy yang mendengar bualan mulut busuk Soraya rasanya ingin muntah saat ini juga di depan pintu.
"Mana ada khilaf tapi keterusan,” cibirnya sinis.
"Terimakasih untuk kerja samanya Tuan Bimo. Saya permisi !" Bimo tertawa dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi kamu?" Tunjuk Soraya pada Bimo dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa? Ayo, kita lanjutkan !" Bimo segera menerkam tubuh Soraya kembali. Memakannya sampai pagi. Zain sudah membayarnya mahal, tidak akan mungkin Bimo sia-siakan.
"Brengsek kamu Bimo!" Teriak Soraya frustasi.
Hancur! Hancur sudah setelah ini hidup Soraya karena kehilangan ATM berjalan seperti Zain Azkara. 'Awas kamu Helena! Ini semua pasti gara-gara kamu!' dendam Soraya pada Helena.
__ADS_1
"""""
Sudah satu jam lamanya Nara tidak bisa memejamkan matanya. Mulai tidur terlentang, miring ke kanan miring ke kiri. Rasanya tidak nyaman. Bukan tubuhnya – melainkan hatinya.
Elang yang tidur di samping Nara sampai bingung sendiri. Pelukannya terlepas setiap kali berusaha mendekap tubuh Nara.
"Mau gue bikinin minuman panas?" Nara menggeleng, dia tidak butuh minuman panas ataupun dingin saat ini.
Mendesah dengan pelan, Elang akhirnya duduk dan bersandar pada hardboard ranjangnya.
"Terus maunya apa? Ngomong sama gue Ra." Ucap Elang sembari menepuk-nepuk kepala Nara lembut.
"Gue kepikiran Papa, Elang. Perasaan gue mendadak gak enak.”
Elang melihat jam yang menggantung di dindingnya - pukul 11 malam. Kemudian menatap Nara dengan lamat.
"Ayo!"
"Ha? Ke mana?" tanya Nara bingung.
"Katanya kepikiran Papa.. mau gue anter jalan-jalan keliling komplek rumah lo gak?"
Senyum Nara perlahan terbit, gadis itu langsung mengangguk antusias.
"Mau Elang." Bukan tanpa alasan Nara mencemaskan Papa Zain.
Tadi Papa Zain tiba-tiba membuat status pemandangan pemakaman Mama Dinara dengan caption yang begitu menyentil hati. Nara sudah menghubungi nomor Papanya berulang kali tetapi tidak kunjung juga mendapatkan respon.
"Kita lewat pintu belakang.” Bisik Elang seraya menggenggam tangan Nara dengan erat saat berada di lantai bawah.
Nara mengangguk, mengikuti interupsi Elang. "Kita gak bakalan kena masalah kan nanti? Gue takut Kakek sama Oma marah." Lirih Nara yang ikut berbisik.
"Aman. Lo tenang aja." Elang menoleh ke arah Nara, sekilas. Tersenyum tampan.
Keduanya sudah keluar melewati pintu belakang yang langsung terhubung pada garasi mobil. Nara sempat tertegun, sebelum akhirnya tersenyum tipis saat melihat Elang sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Awas." Ucap Elang sembari meletakkan tangannya pada atap pintu mobil.
"Thank's." Nara sedikit terkesan dengan perhatian kecil yang Elang berikan.
"Gitu dong senyum. Kan adem gue lihatnya.” Goda Elang yang masih sempat-sempatnya mencuri ciuman pada pipi Nara.
"Lang!" lirih Nara dengan wajah yang terlihat gerah.
Elang terkekeh lalu segera masuk ke dalam mobil. " Pulangnya mau nginep di apartemen gak Ra?” Nara membuang muka mendengar tawaran menyebalkan Elang.
"Gak!"
"Nginep!"
"Enggak Elang!"
"Okey. Nginep!"
"Elaaaang!" kesal Nara dengan mencubit gemas lengan Elang.
"Oke.. oke.. berangkat." Ucap Elang meringis ngilu.
Mobil yang Elang kemudikan akhirnya keluar dari pelataran luas kediaman Bimantara.
Nara bernapas lega setelah Elang berhasil memberi uang tutup mulut pada satpam rumah yang tadinya begitu sulit membukakan gerbang karena takut di marahi Oma Gayatri. Untung saja suaminya itu pintar sekali mengancam. Kalau tidak! Sudah bisa di pastikan mereka berdua akan masuk kembali ke dalam rumah.
Lima belas menit waktu yang Elang perlukan untuk sampai ke sebuah perumahan elite yang di antaranya adalah rumah mewah milik Papa Zain. Sesampainya di depan rumah, Elang dan Nara tampak terdiam dengan mengamati pagar besar menjulang tinggi tempat tinggal Nara dulu.
"Kita nunggu di sini aja.” Elang mengangguk. Elang mah terserah Nara.
Setengah jam sudah berlalu, Nara masih betah menatap bangunan mewah di depannya. Membuat Elang jadi gemas sendiri.
__ADS_1
"Mau masuk?" tanya Elang lembut.