My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
17.positif


__ADS_3

Sepuluh tespack sudah Naraya pakai. Namun naas, hasilnya tetap menunjukkan garis dua. Yang artinya, dia benar-benar telah hamil.


Hamil biji kedelai bar-bar dari Elang.


"Gue harus gimana?”"


Puluhan kali kalimat itu sudah terlontar dari mulut Nara. Membuat Ghea yang lemas jadi semakin lemah saja. "Lo harus ngomong sama Elang, Nara! Percaya sama gue. Cuma dia yang bisa ngasih solusi sama jalan keluar!" Kesal Ghea pada akhirnya.


"Tapi-"


"Ah lo dari tadi tapi-tapi terus deh Ra! Ini tuh menyangkut janin yang sedang lo kandung dan masa depan lo!" tukas Ghea dengan cepat memotong ucapan Nara.


Gadis yang masih duduk klesotan di atas lantai dengan tespack saling berjejer seperti ikan pindang di depan lututnya itu akhirnya mengangguk pasrah.


Mungkin yang di katakan Ghea ada benarnya juga. Elang kan memang pelakunya yang telah membuatnya berbadan dua. Jadi dia pula yang harus bertanggung jawab atas semuanya. Ya, hanya Elang yang harus bertanggung jawab. Bukan yang lainnya.


"Lo bener Ghe. Cuma Elang yang patut tanggung jawab atas semua penderitaan gue ini!"


Ghea mendengus sebal. Lalu mendekati sahabatnya itu untuk memberikan dekapan hangatnya.


"Gak mungkin juga Jonathan yang tanggung jawab Ra! Kan lo main tarik tambangnya sama Elang!" Ceplos Ghea, benar-benar gemas.


"Ghea!"


"Realita zeyenk! Sekarang hubungi Elang. Langsung aja kasih bukti sama foto-foto tespack dua garis ini. Kalau dia gak mau tanggung jawab. Entar gue bantu ngaduin ke akun emak-emak lambe ember! Biar viral dia." Seloroh Ghea menggebu-gebu. Nara menegakkan duduknya lalu menoyor kepala sahabatnya.


"Maksud looh?!" Tanyanya sewot.


Ghea nyengir kemudian mengusap lengan Nara dengan lembut. "Canda! Biar lo gak tegang, hehe.." si Ghea memang paling bisa kalau buat Nara naik tensi. Dasar sahabat lucknut!


Nara beranjak berdiri setelah itu mengambil ponselnya yang ada di atas ranjang. Berniat memberitahu Elang kalau hasil dari kerja kerasnya sebulan yang lalu telah membuahkan hasil.


Ahay!


Namun, sebelum niat itu terlaksana. Mata Nara di kejutkan oleh sebuah nomor baru yang masuk ke dalam ponselnya. Dan mengirim sebuah ancaman juga rekaman video interaksi antara dirinya dan Elang siang tadi di taman belakang sekolah.


+62 8567*** ***


:Jauhi Elang! Atau video kamu akan saya kirim ke Jerman sekarang. Dan saya sebarkan ke seluruh kolega bisnis Tuan Zain.


Nara meremas ponselnya, siapa yang sudah mengancam dan merekam percakapannya dengan Elang di belakang sekolah tadi. Argh! Sekarang, Nara benar-benar pusing harus berbuat apa.

__ADS_1


'Apa Silvi? Tapi gak mungkin! gue lihat dia ada di kantin.' Tadi Batin Nara menduga-duga.


"Ra.. Buruan gih!"


Menghela napas, bukannya Nara memberitahu Elang. Gadis itu malah naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya disana sembari menatap langit-langit kamar.


"Si ogeb! Kok malah tiduran sih? Gak jadi ngasih tau Elangnya ?" Tanya Ghea dibuat gemas. yang kembali


"Nanti dulu lah Ghe. Gampang," ujar Nara dengan nada yang terdengar malas.


Ghea menaikkan sebelah alisnya kemudian ikut naik ke atas ranjang. Tidur menyamping demi bisa berhadapan dengan Nara. “ Ada masalah lagi?"


Tidak mau berbohong Nara pun mengangguk. “Ada yang rekam percakapan gue sama Elang tadi di belakang sekolah," tutur Nara.


"Terus?"


"Lo baca sendiri deh! Gue pusing," suruh Nara sembari menyodorkan ponselnya pada Ghea.


Dengan sigap Ghea langsung menangkap ponsel Nara, menjurus pada isi chat yang masuk pada aplikasi WhatsApp Nara.


Ghea membaca dengan seksama ancaman yang dikirim dari nomor tidak di kenal itu kemudian mendengarkan rekaman yang di dalamnya terdapat Nara dan Elang saling adu mulut di belakang sekolahan.


"Lo curiga sama siapa Ghe?" Tanya Nara setelah Ghea selesai melihat video berdurasi kurang lebih dua menit itu dari ponselnya.


"Kenapa lo bisa langsung nuduh dia? Yang gak suka sama gue kan banyak?"


"Ck! Lo bodoh apa naif sih Ra? Yang gak suka sama lo itu kan kebanyakan fans alay Elang. Tapi kalau yang bener-bener suka jahatin lo itu cuma satu gak ada lagi saingannya. Silpi Azkoreng doang!"


Nara mencibik bisa bisanya nama marga dari keluarganya di ganti 'Azkoreng' terkadang ini anak kalau bicara gak pernah di saring dulu memang.


"Lo jangan baper, gue sengaja ganti nama belakang dia karena gue merasa dia emang gak pantes bawa-bawa nama keluarga lo! Silpi sama emaknya kan sama-sama kayak kutu koreng yang rusuh-rusuhin citra baik Azkara. Hehe.. ya nggak?” Cerocos Ghea panjang lebar.


Menggelengkan kepala dengan kelakuan Ghea. "Mau heran tapi orang itu lo Ghea!"


Bukannya membalas cibiran Nara, Ghea malah tertawa-tawa. Seoalah gadis itu tak pernah punya beban.


Ya emang kenyataannya Ghea gak ada beban. Cuma Nara doang yang ditakdirkan berbeban berat. Menyebalkan sekali bukan? Yang kayak gini katanya besti until old forever? Ah, rasanya sangat tidak adil sekali untuk Naraya Azkara.


"Kalau menurut gue nih Beb. Mending lo cerita aja deh sama Elang. Lo ngerti sendiri kan peran dia di sekolah kayak apa? Kalau kasus receh begituan, kayaknya Elang cuma sekali tepuk doang langsung kelar!"


Lama Nara memikirkan ucapan Ghea, meresapi setiap usul yang sahabat karibnya itu berikan untuknya. Tetapi memang kalau di pikir-pikir banyak benarnya juga saran dari Ghea. Elang itu adalah cowok paling berkuasa di sekolahnya. Mungkin, dengan bantuan Elang.. Nara bisa menemukan titik terang dari semua masalahnya yang seberat gunung Himalaya saat ini.

__ADS_1


"Besok bakalan finish ghe gue coba,"


Ghea memutar bola matanya dengan jengah.


"Sekarang Naraya! Kenapa harus nunggu besok?" Gemas Ghea membuat Nara mencebik.


"Gue perlu siapin mental Ghe! Lo pikir ini masalah sepele?"


"Kebanyakan mikir gak baik Ra. Jalanin aja deh yang udah ada di depan mata. Tinggal bilang Elang apa susahnya coba? Makin cepet makin baik!"


Heran sekali Ghea dengan gadis keras kepala di sebelahnya saat ini. Tinggal telpon Elang apa susahnya coba? Tadi saja sok tegar, sekarang malah melempem kayak kerupuk yang tersiram air es.


"Gue- Aa! Pokoknya besok aja deh! Mental gue belum siap.” Keukeh Nara.


Akhirnya dengan menatap malas sahabatnya yang 'ku hamil duluan' itu Ghea pun ikutan pasrah. Yang terpenting Nara mau membicarakan hal ini dengan Elang saja itusudah cukup bagi Ghea.


Bicara tentang Nara yang hamil duluan, Ghea jadi meringis sendiri membayangkan. Apakah sahabatnya itu setalah ini akan putus sekolah. Tatapan iba pun tak luput menyorot wajah cantik Nara yang sedang termenung dengan pandangan kosong ke atas langit kamar.


"Takdir gak adil banget buat lo Ra! Semoga dengan masalah yang Tuhan kasih saat ini. Bahagia lo akan semakin dekat.'


***


Malam hari di kediaman Bimantara.


"Bocah itu tidak ikut makan malam lagi?" Tanya Oma Gayatri dengan nada yang terdengar ketus.


Mama Naya menunduk." Elang kurang enak badan, Bu." Jawab Mama Naya lirih.


Oma Gayatri berdecih. “ Alasan saja! Bilang saja kalau dia menghindari pembahasan perjodohan," Mama Naya meremas ujung dressnya kemudian memberanikan diri mengangkat wajahnya.


"Kayaknya Elang sedang terkena kehamilan simpatik, Bu." Mendengar ucapan menantunya, Oma Gayatri langsung melotot. Beliau begitu terkejut, begitu pun dengan Kakek Damar, sup kentang yang hampir masuk ke dalam kerongkongannya harus keluar lagi alias tersembur. Kakek Damar tersedak, terbatuk-batuk.


"Hubungi Om Malik sekarang juga Alam! Besok siang kita adakan pertemuan. Perjodohan ini harus segera dilaksanakan. Ayah tidak ingin ada bantahan!" Perintah Kakek Damar mutlak.


Papa Alam mengusap wajahnya kasar. Tidak ingin berdebat dan menimbulkan kegaduhan di meja makan, Papa Alam segera bangkit dari kursinya dan berniat menghubungi sahabat Ayahnya.


"Pa! Kalau gadis itu hamil bagaimana?" Mama Naya mencekal pergelangan tangan suaminya, walau bagaimanapun Mama Naya masih mencemaskan gadis yang Elang ambil kehormatannya satu bulan yang lalu.


"Alam!" tergur Kakek Damar membuat cekalan di tangan Papa Alam mengendur. Dengan tatapan nanar, Mama Naya pun akhirnya hanya bisa mengalah.


Mama Naya tidak memiliki kuasa yang besar di dalam rumah ini. Semua keputusan ada di tangan Kakek Damar dan Oma Gayatri.

__ADS_1


Setelah berbincang-bincang di sambungan telepon dengan waktu yang cukup lama bersama sahabatnya. Akhirnya Kakek Damar mengambil keputusan untuk mengadakan pertemuan besok di Bima hotel pukul 10 pagi.


__ADS_2