My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
5.mengobati luka elang


__ADS_3

Karena terlalu lama menunggu deretan para cowok tampan yang sedang menyelesaikan misinya entah di mana .


Ghea , Nara dan Jia akhirnya memilih untuk mengisi perut mereka dengan cara menikmati makanan yang telah tersaji di atas meja kafe . Grill dan ramen adalah pilihan menu untuk ketiga gadis cantik itu siang ini .


Mereka seolah masa bodoh pada kegiatan berbahaya , yang para cowok berandalan itu lakukan di luar sana . Terutama Nara , gadis itu mana peduli dengan apa yang sedang terjadi dengan cowok - cowok nakal itu . Mau mereka tawuran kek , tonjok - tonjokan kek , masa bodoh sekali . Yang penting perutnya kenyang .


Menurut Nara , malah enak nongkrong begini , tanpa adanya para kaum berandalan tadi .


" Ghea , lo Minggu mau ikut ke villa gak ? " Tanya Jia di sela - sela aktivitasnya mengunyah makanannya . Ghea yang juga tengah menikmati samyang di atas meja menoleh sejenak , lalu memicingkan matanya , berfikir .


" Belum izin sama nyokap . Gue usahain , " jawab Ghea pada akhirnya . Jia mengangguk - anggukkan kepala lalu beralih menatap Nara .


" Kalau lo Ra ? " Nara mengangkat kedua bahunya , tak tahu .


" Kayaknya enggak ! Gue gak kenal sama mereka - mereka . " jawabnya membuat Jia menahan tawa .


Benar kata Elang , Nara itu angkuh dan tak pernah tertarik dengan apapun di sekitarnya . Tapi Jia seolah bisa merasakan sisi lain dari seorang Nara , gadis itu sepertinya perempuan yang sangat baik .


" Hehe .. Nara emang rada - rada rese kalau belum kenal Jia , jangan di ambil hati ya ? " ujar Ghea sembari mencubit pipi Nara gemas .


" Ghe ! Tangan lo bau amis ! " sentak Nara membuat Ghea mengendus - endus tangannya , sebelum akhirnya terbahak , mendadak tawanya pecah .


" Lupa , tadi abis nyomot telur asin ra "seru Ghea Sementara Nara , gadis itu sudah memelototkan matanya garang . lalu bangkit dari duduknya , berlari kecil menuju wastafel yang ada di sudut kafe .


" Sialan lo ! " Nara bergegas yang di sambut gelak tawa dari bibir Jia .


Melihat Nara sedang sibuk membersihkan wajahnya , Jia buru - buru bertanya pada Ghea .


"Nara udah punya cowok belum sih ? " Tanya Jia lirih . Ghea menggeleng dengan mulut penuh mie di dalamnya .


"Enggak , Nara gak pernah pacaran ! " balas Ghea .


" Masa sih ? Cantik banget gitu masa gak pernah punya pacar ? " Ghea kembali menggeleng , kali ini dengan tatapan serius .


" Hidup dia udah rumit , mana sempat dia mikirin pacar . Yang deketin dia emang kayak antrian sembako , tapi gak pernah di respon ! " jelas Ghea membuat Jia semakin penasaran dengan diri seorang Nara .


" Gitu ya , gue boleh gak minta nomor lo ghea ?


" Boleh dong ! " Kedua gadis cantik itu pun akhirnya saling bertukar nomor ponsel .


Jia benar - benar kepo dengan gadis yang sering di ceritakan sepupu dari suaminya itu . Lewat bantuan Ghea , siapa tahu Jia bisa menjadi Mak comblang untuk Elang dan Nara .


" Cuci tangan Ghe ! Sumpah itu tangan lo bau busuk banget , ” suruh Nara ketika sudah kembali duduk di tempatnya .


Gadis itu mengambil tisu di atas meja lalu mengelap pipinya sampai bersih .


" Nanggung Beb . Nanti kalau udah selesai baru cuci tangan , " jawab Ghea nyengir .


" Jorok banget lo ! " Nara dengan sengaja melempar tisu yang basah bekas pipinya ke arah Ghea . Membuat sang empu mendelik dan berteriak heboh .


"Naraaa ! Kebiasaan ! " sentak Ghea , jengkel . Niat hati Ghea ingin membalas perbuatan Nara dengan kembali melempar tisu itu ke wajah Nara .


Tapi yang ada Ghea malah tidak sengaja menyenggol tempat sendok di sebelahnya , membuat isi dari dalamnya keluar dan sebagian masuk ke dalam kuah mie samyangnya .


Plung ! Pantulan sendok yang masuk ke dalam kuah pedas itu tanpa sengaja mengenai pipi Ghea , membuat gadis itu memejamkan mata . Nara memekik pelan , buru - buru menarik tisu dengan tatapan khawatir .


" Diem Ghe ! Merem dulu ! " Nara lari secepat kilat untuk membasahi tisu kering yang tadi ia ambil . Bertepatan saat Nara ingin lari ke arah mejanya kembali , Elang datang bersama komplotannya , jelas dengan tampilan acak - acakan .


Langkah Nara sempat tertahan , menatap sekilas wajah Elang yang lebam . “ Itu- ” tunjuk Nara , sebelum akhirnya pergi meninggalkan Elang yang berjalan dengan kening berkerut , bingung .

__ADS_1


" Diem ya Ghe ! Diem . Ini nanti masuk mata lo ! ” titah Nara dengan lembut mengusap pipi Ghea yang terdapat kuah pedas samyang .


" Iya , ini udah diem bawel ! " jawab Ghea .


" By , kenapa ? " Jonathan menarik kursi di sebelah Ghea lalu duduk dan mengamati tangan Nara yang sedang membersihkan pipi mulus kekasihnya .


" Jo , ambilin tisu lagi , terus basahin ! Cepetan ! " perintah Nara .


" Kok panas ya , pipi gue , ” keluh Ghea .


" Wait ! " Jonathan segera meraih tisu segenggam lalu membawanya ke wastafel .


" Ra , nih coba olesi salep , gue takutnya nanti merah - merah muka Ghea . " Nara mendongak , menatap Jia yang tengah menyodorkan salep ke arahnya .


" Thank's ! " ucapnya sembari meraih salep itu dari tangan Jia .


" udah boleh melek belum nih gue ? Pengen cuci muka , Ra ! " rengek Ghea .


" Belum boleh ! " Nara dengan gemas menyentil jidat Ghea , membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya , sebal .


" Gue udah teraniaya malah lo siksa sih bege ! " Protes Ghea.


" Ceroboh ! " omel Nara membuat Elang terkekeh .


" Nih , Ra . " Jonathan menyodorkan kepalan tisu yang sudah berbentuk seperti bola bekel kepada Nara .


" Oh God ! Gak gini juga sotoy "


" Pakai tisu basah aja , nih , punya anak gue kebetulan ada di tas . ” Jia lagi - lagi memberikan bala bantuan di saat yang tepat .


" Astaga , ini lebih efektif ! " Nara segera mengambil tisu basah dari tempatnya lalu membersihkan kuah sambal yang ada di berbagai titik muka Ghea .


" Ikh , gue gak sengaja tadi , lo tega amat sih ! Jahat lo makin lama kayak Silpi deh Ra ! " gerutu Ghea .


" Bodo ! " ketus Nara .Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal , ia bingung mau bicara apa . Takut salah ngomong malah berakhir kena omel si Naraya nantinya .


" Wuih , ada apa nih ? ” Tanya Galuh yang baru datang dengan Bayu . melihat meja Jia berantakan seperti kapal pecah . Alisnya terangkat tinggi .


" Yank muka lo ! Kenapa bisa lebam - lebam gitu ? " Jia langsung bangkit dari duduknya , memegang sudut bibir Galuh yang sedikit sobek .


" insiden kecil Aaa- perih yank , " keluhnya .


" Lo tawuran sama siapa sebenarnya ? Gak mungkin kalau sama Pak Erik . Ngaku ! " Jia memukul bahu Galuh dengan kesal .


Lalu di perhatikannya semua teman - teman suaminya . Sama mereka juga mendapat luka lebam di berbagai titik wajahnya .


" Tadi niatnya mau ngasih pelajaran sama Erik . Gak taunya ketemu sama anak - anak Panca di gang depan , war lah ! " jelas David . Ghea mengerjapkan matanya , melirik Jo yang juga babak belur .


" Muka lo juga lebam - lebam By ? " Ghea meraba luka di pipi Jonathan , lalu menekannya .


" Argh ! Anjeng ! " umpatnya .


" Ikh , kok gue di katain anjing sih " Kesalnya dengan mimik muka masam.


" tauk ! Lo teken lukanya By ! " keluh Jonathan .


" Udah gue salepin , masih panas gak ? " Tanya Nara sembari membersihkan tisu - tisu yang berserakan di atas meja .


" Udah gak begitu , thank's Ra . " Nara tak menjawab , gadis itu segere membuang sampah - sampah di atas meja ke dalam tempat sampah .

__ADS_1


" Sini gue obatin yank , " Jia menepuk kursi kosong di depannya , menyuruh Galuh menghadap ke arahnya .


" Pelan - pelan . "


" Iya . " Jika Jia sedang mengobati luka Galuh maka Ghea pun juga dengan telaten mengobati luka Jonathan .


Sementara Elang dengan santainya menghisap rokok di kursi paling ujung , sesekali menyruput susu soda yang ada di atas mejanya .


" Ra , lo bisa kasih obat ke Elang gak ? " Nara membisu , tatapannya yang datar pada Jia membuat gadis itu tersenyum tipis .


" Sorry , kalau gue ngrepotin . Nanti biar gue aja yang ngobatin , " ujar Jia .


" Mana obatnya , " ucap Nara membuat Ghea nyaris tersedak ludahnya sendiri . Jia tersenyum manis lalu memberikan kotak p3k pada Nara .


" Tolong ya , Ra ! Sekali lagi sorry ngrepotin , ” Nara meraih kotak p3k itu dari tangan Jia tanpa banyak bicara , lalu melangkah menuju meja Elang .


" Kenapa dia pendiem banget ? " Tanya Galuh pada Jonathan .


" Udah dari sononya ! " tutur Jonathan .


" Aslinya baik banget tauk ! Keadaan aja yang bikin Nara jadi pendiem dan kaku , ” timpal Ghea , antusias membela sahabatnya .


" Oh ya ? Kok lo gak pernah cerita sama gue By ? " Cecar Jonathan .


" Yee .. kan lo gak pernah tanya By ! " telak Ghea membuat Jonathan mencebik .


Sementara di lain tempat , Elang dibuat bingung dengan kedatangan Nara . " Kenapa Ra ? " Tanya Elang langsung mematikan putung pada rokoknya .


" Sini gue obatin ! " Elang membeku , di tatapnya manik mata Nara dengan lekat . Cukup lama . Sebelum akhirnya , seulas senyum tipis terbit dari bibir Elang melihat gadis itu ternyata membawa alat p3k .


" Gue gak perlu begituan Ra . Ini cuma luka kecil , " ujar Elang .


"Gak usah bawel ! " ketus Nara . Sudut bibir cowok itu tersungging tipis , menatap lebih dalam lagi wajah cantik Nara yang sedang menajam pada luka di bibirnya .


" Tahan Lang , " dengan sedikit meringis Nara mulia membersihkan luka di sudut bibir Elang .


" Ssh- pelan - pelan , " Nara mencebik , mencibir cowok sok kuat di depannya itu dengan tatapan meremehkan .


" Tahan ini cuma luka kecil , " sindir Nara membuat Elang tertawa pelan melihat senyum Elang Nara terdiam , terpaku beberapa saat ternyata begitu manis . Jika di pandang dari jarak dekat .


" Ra ! " Elang mengernyitkan alisnya tak mendapati tanggapan dari Nara . Hingga senyum tengilnya terbit ketika menyadari sesuatu yang membuat cowok itu memajukan sedikit wajahnya .


Fyuh !


Nara terkesiap , mengerjapkan matanya dengan pelan , tatapannya mendadak jadi resah . " Apaan sih lo ! " ketus Nara sengaja menutupi salah tingkahnya di depan Elang .


" Ck ! Lo bengong tadi , " jawab Elang santai . Cowok itu kembali mendekatkan wajahnya , menyuruh Nara untuk kembali mengobati lukanya .


" Ini semua gak gratis ! " Pelotot Nara yang di sambut kekehan kecil dari bibir Elang .


" Apapun asal lo bahagia Ra ! " Nara mendelik , dengan kesal menekan luka di sudut bibir Elang .


" Argh ! Lo gila ? "


" Rasain ! " Nara tak peduli dengan wajah Elang yang terlihat merah padam menahan sakit karena ulahnya , siapa suruh cowok itu mencoba untuk memodusi dirinya .


Dipikir Nara gadis menye - menye yang akan termakan oleh bujuk manis rayunya gitu ? Cih ! Tidak akan pernah .


" Pelan - pelan , Ra ! " Nara mencebik , kali ini mengoleskan salep pada sudut bibir Elang dengan gerakan lembut .

__ADS_1


__ADS_2