
Genggaman pada pergelangan Nara semakin erat kala Elang merasakan gadis itu ingin melarikan diri. "Elang! Gue mau kabur," rengek Nara.
Menulikan telinga. Itulah yang Elang lakukan saat mendengar suara rintihan Naraya. Bukannya melepaskan cowok itu justru semakin menambah kecepatan ayunan langkahnya dan mempererat genggaman tangannya.
Tepat berada di depan pintu bertuliskan presidential suite baru Elang sedikit melonggarkan cekalannya.
"Ini kan?" Tanya Elang sembari tersenyum penuh smirk. Nara menelan ludah, wajahnya langsung pucat pasi.
Tamat sudah riwayat Nara setelah ini! Entah apa yang akan terjadi pada Kakek dan Neneknya jika Elang benar-benar nekat menggagalkan rencana perjodohan yang telah mereka buat bersama sabahat baiknya." Lo tega sama Kakek Nenek gue Elang?" Nara mengiba, berharap cowok itu mau mengasihinya kali ini.
"Kenapa enggak! Kalau mereka punya cucu sekejam lo!"
Sialan!
Mata Nara mendelik mendengar jawaban sadis yang keluar dari bibir beracun Elang.
"Masuk!" Elang segera membuka pintu president suite di depannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Haha... Kamu bisa saja Malik!"
"Permisi!" ucap Elang membuat semua pasang mata yang sedang berada di ruangan mewah itu menoleh ke arah sumber suara.
"Oh ****!" Umpat Elang saat melihat si tua bangka ternyata juga ada di dalam sana.
"Elang!" Panggil Mama Naya dengan tatapan melotot, apa-apaan putranya itu. Apakah Elang sengaja membawa seorang gadis kesini untuk menggagalkan rencana perjodohan yang telah Ayah mertuanya rencanakan.
"Damn! Ikut gue!" Elang segera menarik tangan Nara, bergegas membawanya keluar dari ruangan tersebut.
"Kakek .." cicit Nara melirik Kakek Malik sekilas, sebelum akhirnya berdecak kesal karena kakinya harus terseret cepat akibat tarikan yang Elang lakukan pada pergelangan tangannya.
"Lo mau bawa gue ke mana?" Ketus Nara.
"Kemanapun asal enggak ke dalam sana tadi!"
"Lo bikin malu Kakek gue depan temannya, Elang! Nanti kalau Kakek gue serangan jantung gimana?" Geram Nara yang tak di pedulikan oleh Elang. di
"Lo gak lihat di dalam sana tadi juga ada Kakek gue?" Decak malas Elang membuat sebelah alis Nara terangkat. “Kakek lo?” Tanya Nara bingung.
"Hm! Yang pakai kemeja biru perut buncit tadi Kakek gue. Damar Bimantara!" Jawab Elang singkat.
Keduanya saat ini sudah berada di dalam lift. Lantai dasar adalah tujuan Elang untuk mendarat. Ia harus segera membawa calon pengantin galaknya itu kabur dari sekitar hotel keluarganya. Kalau tidak, bisa gawat! Bisa-bisa pria tua itu akan mencelakai Naraya.
Dasar! Elang saja yang suka berpikiran negative thinking pada Kakeknya!
"Lang sumpah, lo ngerasa ada yang aneh gak sih?" Tanya Nara.
Sayangnya, Elang tak mendengarkan pertanyaan Nara. Cowok itu sedang khusyuk mengetik sesuatu pada layar ponselnya.
"Elang! Dengerin kalau gue lagi ngomong!" Kesal Nara sembari menggoyangkan lengan Elang.
"Diem Ra! Gue lagi nyari bantuan, nanti lo bisa bicara sepuasnya ke gue pas di kamar.”
What? Apa katanya tadi? Berbicara sepuasnya di kamar! Memangnya cowok itu berniat membawa Nara ke mana coba? Nara jadi nething, ia takut Elang akan kembali melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"Jangan harap lo bisa kabur dari gue!" Imbuh Elang yang masih sibuk dengan ponselnya.
Nara mencebikkan bibirnya. Bagaimana bisa cowok itu membaca pikirannya. Apa si brengsek tampan ini memiliki indera ke enam? Cih, rasanya tidak mungkin! "Mending kita kembali aja deh Elang. Kita ngomong baik-baik sama mereka," usul Nara yang langsung di hadiahi tatapan tajam oleh Elang.
"Lo mau gue kasih tutorial cara membuat bibir bengkak, Ra?"
Glek!
Bibir Nara mengerucut, hatinya tak henti-hentinya mengumpat kesal. Apa salahnya sih mencoba usulnya!
Jujur kalau sudah seperti ini, Nara lebih merasa tenang jika kedua Kakek mereka tahu yang sebenarnya. Daripada harus kabur-kaburan seperti sekarang. Yang ada, Naralah nanti yang bakalan rugi.
"Lo belum tahu gimana sifat Kakek Nenek gue. Jadi mendingan diem Ra! Nurut, sama gue!"
"Serah lo!"
Ting
Setelah perdebatan sengit barusan, pintu lift terbuka. Elang segera membawa gadisnya itu menuju pintu keluar.
"Mau ke mana bocah tengik?" Tegur Kakek Damar membuat Elang memejamkan mata. Bagamana bisa Kakek Damar lebih dulu berada di lantai bawah- batin Elang jengkel.
Laki-laki tampan yang sudah berhasil menghamili Nara itu langsung menyembunyikan gadisnya di belakang punggungnya. Lalu menatap Kakeknya dengan sengit.
"Mau Kakek apa?"
Nara yang sebenarnya masih bingung dengan keadaan di depan sana jadi ikut-ikutan menegang. Gadis itu tanpa sadar meremas kedua pinggang Elang, merasa takut.
"Kembali ke president suite sekarang! Bawa gadis itu juga!" perintah Kakek Damar.
"Ck! Nara hamil. Elang gak bisa lanjutin rencana murahan Kakek!" Nara meringis, matanya pun terpejam dengan kuat. “Elang gak usah jujur-jujur amat bisa gak sih!" Lirihnya sebal.
Kakek Damar berkacak pinggang, lalu maju beberapa langkah. "Kamu mau nurut sama Kakek atau milih gadis itu Kakek kirim jauh-jauh dari kota ini?" Ancam Kakek Damar terlihat tidak main-main.
"Fine!"
Prok
Prok
Dua bodyguard berbadan besar datang, Elang yang sudah tahu niat tidak baik Kakeknya sontak menyuruh Nara pergi.
"Lari Ra!" Perintah Elang sembari melepas tangan Naraya yang ada di pinggangnya.
"Lang!"
"Gue bilang Lari Naraya," Nara akhirnya mengangguk, lalu lari secepat mungkin menuju pintu keluar.
Kini atensi Elang tertuju pada dua pria sangar yang sedang berusaha menangkap Nara.
"Selain tua bangka ternyata anda juga seorang pengecut Tuan Damar Bimantara!" Decih Elang, yang setelah itu segera meraih kedua kerah anak buah Kakeknya dari arah belakang.
"Mau ke mana lo, hah?"
Bugh!
Bugh!
Kakek Damar mendengus.
Cucunya itu benar-benar keras kepala. "Roy! Tangkap gadis itu!" perintah Kakek Damar setengah meninggikan suaranya.
Elang terbelalak. Kali ini ia telah kalah telak dengan Kakeknya. "Brengsek! Berani lo sentuh dia sedikit saja, gue patahin tangan lo bangsat!" teriak Elang pada orang suruhan Kakek Damar.
__ADS_1
Dugh!
Merasa habis kesabaran, Kakek Damar pun akhirnya memberikan pukulan pada tengkuk leher cucunya. Membuat sang pembangkang terjatuh sembari meringis lalu hilang kesadaran.
"Bawa dia ke lantai atas!" titah Kakek Damar pada kedua bodyguard sangarnya.
"Baik Tuan Besar."
Nara meronta-ronta saat tangannya di tarik paksa oleh laki-laki berwajah datar suruhan Kakek dari Elang. Sungguh, Nara tidak pernah menyangka kalau hari ini akan ada drama yang membuat dirinya berulang kali terkejut.
"Lepasin! Om mau bawa aku ke mana?" Ketus Nara yang hanya di pandang lelah oleh orang kepercayaan Kakek Damar.
"Lebih baik Nona tidak memberontak, karena percuma. Hanya akan buang-buang tenaga saja." Nara mencebikkan bibirnya kesal.
"Makanya lepasin ini tangannya biar aku gak berontak!” Protes Nara.
“Maaf, saya hanya di perintahkan Tuan Besar untuk membawa Nona ke lantai atas." Dengan memutar bola matanya malas, Nara pun akhirnya memilih menurut. Ia ingin tahu apa yang sedang Kakek dari Elang itu rencanakan.
'Apa gue mau di gantung hidup-hidup di atas gedung kali ya? Gak .. Gak! Meskipun gue sering denger kalau pria tua ini kejam tapi masa iya sampai tega bunuh gue sih?' monolog Naraya di dalam hatinya.
"Tapi kalau gue beneran di gantung gimana? Gentayangan dong gue nantinya. Argh.. Kakek! Kakek di mana sih?'
Lantai 12 adalah tempat di mana pria bernama Roy tadi membawa Nara. "Silahkan masuk Nona," ucap Roy dengan sopan.
"Ini kamar siapa Om?" Tanya Nara bingung.
"Lebih baik Nona masuk. Karena Nyonya besar setelah ini akan datang. Saya permisi dulu Nona." Nara melongo setelah di masukkan ke dalam kamar asing hotel begitu saja oleh antek-antek Kakek Damar.
"Fix! Gue bakalan di mutilasi, huwa .." Nara mengacak rambutnya, frustasi. Putri semata wayang dari Zain Azkara itu mondar mandir di dalam kamar seperti layangan yang hampir putus.
"Ghea!"
Nara menepuk jidatnya, saat
menyadari ponselnya tadi di ambil
oleh si begundal Elang. Gagal
sudah rencananya untuk meminta
bantuan sahabatnya, Ghea.
"Akh sial! Terus gimana dong ini? Gue belum siap meninggoy Tuhan!" Dengan menggigit ujung-ujung jarinya, Nara memutar otak. Berpikir keras agar bisa keluar dari kamar mewah yang telah mengurungnya saat ini.
Ceklek
"Mampus!" Cicit Nara yang segera berlari kecil menuju arah ranjang, lalu duduk di pinggiran dengan wajah dibuat semenyedihkan mungkin. Siapa tahu saja, orang yang berniat jahat padanya jadi merasa kasihan.
"Lumayan," seloroh Oma Gayatri saat berada di dalam kamar hotel yang di tempati Nara.
Mendengar suara ketus yang terlontar dari perempuan tua di depan pintu, Nara pun menoleh. Dapat Nara duga, wanita yang berpenampilan elegant itu adalah Nenek dari Elang.
"Nara ya?" Tanya perempuan cantik berwajah kalem yang saat ini sedang berdiri di belakang Nenek Elang.
Nara mengangguk, kedua tangannya saling menyatu erat dengan tatapan gugup. "Kenalin saya Mamanya Elang," Oma Gayatri berdecih, lalu mendekati Nara.
“Jangan terlalu akrab dengan orang asing Nay!" ketus Oma Gayatri.
'Cih, wanita tua yang sombong!' batin Nara sinis.
"Sejak kapan kamu dekat dengan cucu saya?" Tanya Oma Gayatri.
"Cukup angkuh!"
"Terimakasih atas pujiannya Nek."
Mama Naya mengusap tengkuknya yang mendadak jadi meremang. Astaga! Elang benar-benar tepat memilih seorang perempuan seperti Nara. Gadis itu tidak mudah di tindas. Tidak seperti Mama Naya yang hanya bisa menurut dan pasrah.
"Jangan pernah menjawab jika saya sedang berbicara Naraya," Nara mengangguk, patuh.
Akan Nara ikuti permainan wanita tua di depannya saat ini. Apa kamu menyukai cucu saya?" Tanya Oma Gayatri yang dijawab gelengan kepala dari Nara, cepat.
Bibir wanita tua itu tersungging tinggi, nampak sekali begitu sinis. "Kalau kamu tidak suka kenapa bisa hamil dengan cucu saya?" Tanya beliau lagi, kali ini dengan tatapan angkuh nan menjengkelkan.
Nara menggedikkan bahunya, kepalanya juga menggeleng, pertanda gadis itu juga tidak tahu. "Kamu tuli?" Tanya Oma Gayatri.
Nara kembali menggeleng untuk yang ketiga kalinya. Dan perbuatan Nara kali membuat Oma Gayatri menjadi sangat geram.
“Jawab pakai mulut kamu!” Nara menghela napas panjang, lalu melemaskan kedua bahunya. " Kan Nenek sendiri tadi yang nyuruh Nara diam. Salah lagi ya?" Tanya gadis itu tak kalah menyebalkan dari cara bicara Oma Gayatri. Hanya saja Nara dengan versi yang sopan.
"Halah sudahlah! Nay, suruh perias itu sekarang masuk! Kepala Ibu jadi pusing setelah berbicara dengan gadis ini. Ibu mau kembali ke kamar!"
Mama Naya menahan senyum sekaligus memandang takjub calon menantunya yang sudah berhasil membuat Ibu mertuanya menyerah.
"Baik Bu. Naya antar, ayo."
Oma Gayatri mengangguk. Namun sebelum benar-benar pergi beliau sempatkan menoleh dan memandang paras cantik Nara dengan tatapan sulit di artikan.
"Jangan coba-coba kabur! Atau Kakek dan Nenekmu yang akan menanggung semua kenakalanmu!" Ancam Oma Gayatri sebelum akhirnya benar-benar pergi dari kamar Naraya.
"Kenapa Elang bisa betah punya Nenek jahat seperti wanita tua itu!" Gerutu Nara yang mencibiri kesombongan Oma Gayatri. "Cukup angkuh! Cih, apa Nenek lampir itu tidak sadar kalau kelakuannya jauh lebih sombong dari gue?" Lanjut Nara setelah menirukan komentar Oma Gayatri padanya tadi.
Dari balik pintu, seseorang yang sedang Nara nyinyiri tersenyum simpul, kepalanya pun menggeleng tidak percaya. "Mirip sekali seperti Dinara!"
Belum juga kebingungan Nara usai. Kini ia harus di kejutkan lagi oleh kehadiran perias yang tiba-tiba ingin mendandaninya. "Tante saya gak lagi mau ke pesta. Kenapa harus di dandani segala sih?" Keluh Nara dengan bibir yang mengerucut ke depan.
"Kakak cantik nurut ya. Atau nanti saya bakalan kehilangan pekerjaan saya. Please!" Mohon sang perias dengan tatapan memelas.
Menghembuskan napas dengan kasar, Nara akhirnya mengangguk. "Tapi jangan tebel-tebel. Aku gak suka," pinta Nara.
"Siap cantik! Sekarang pakai kebaya ini dulu ya."
"Harus banget apa?" Dengan bermalas-malasan Nara segera mengganti dressnya dengan kebaya modern berwarna salem.
Sekitar dua puluh menit perias itu mendandani Nara dengan sedemikian rupa. Nara yang baru membuka matanya karena tadi di interupsi untuk memejamkan mata sontak kelimpungan.
"Aaaa! Kenapa aku jadi kayak pengantin gini?" Tanya Nara dengan tampang syok beratnya.
Perias yang tampak takjub dengan wajah Nara yang semakin terlihat cantik seketika terkekeh geli. "Kakaknya kan memang mau jadi pengantin. Gimana sih? Gemesin aja tingkahnya," komentar perias tersebut dengan geleng-geleng kepala.
"Ha? Siapa bilang? Nara gak mau married Tante! Astaga .. ini apa-apaan?" Nara menelisik riasan di wajahnya dengan tatapan nanar.
Ceklek
"Nara?"
Deg
__ADS_1
Deg
Tubuh Nara membeku. Telinganya mendadak berdengung, lututnya terasa lemas mendengar suara seseorang yang sangat ia ketahui siapa pemiliknya.
"Papa!"
Nara memutar tubuhnya.
Dan yaps! Orang itu adalah Papa Zain lengkap dengan setelan jas hitamnya. "Cantik sekali," Nara menggeleng, bukan! Ini pasti bukan Papanya. Sudah lama Nara tidak pernah mendengar pujian itu dari Papa Zain.
"Saya permisi dulu Tuan,"
Papa Zain mengangguk. Mempersilahkan perias yang telah mendandani putrinya untuk keluar.
"Sini peluk Papa dulu!" Nara masih mematung. Ia takut ini hanyalah mimpi.
"Kenapa Papa ada disini? Bukannya Papa masih ada di Jerman?" Bukan pelukan yang Papa Zain dapatkan. Melainkan pertanyaan dari Naraya.
"Pekerjaan itu tidak jauh lebih penting dari hari spesial kamu sayang." Nara menaikkan sebelah alisnya sembari mencerna ucapan Papa Zain.
"Apa Papa tetap tidak dapat pelukan setelah jauh-jauh landing dari Jerman?" tanya Papa Zain sembari merentangkan tangan.
"Pa!" Nara segera lari dan berhambur dalam pelukan Papa Zain. Dia sangat rindu. Rindu pada laki-laki yang telah menjadi cinta pertamanya.
"Ara kangen Pa .." Papa Zain mencium kening Nara dengan perasaan yang sangat rumit. “Papa juga kangen Ara. Setelah ini bahagia ya sayang. Semoga kamu mendapatkan kasih sayang yang utuh, seperti yang kamu rindukan dari Mama Dinar." Nara menggeleng, memeluk tubuh Papa Zain semakin erat.
"Ara cuma mau sama Papa! Ara gak butuh siapa pun Pa. Cukup Papa." Terenyuh, itulah yang Papa Zain rasakan saat ini.
"Papa gak bisa selalu ada di dekat kamu sayang. Pilihan Kakek untuk kamu sudah sangat tepat." Nara kembali membeku. Setelah mendengar penuturan Papa Zain.
Pilihan Kakek? Jadi setelah ini Nara akan menikah dengan pilihan Kakeknya. Bukan dengan Elang? Huh, mungkin karena tingkahnya yang kurang sopan tadi, Nenek dari Elang jadi tidak menyukainya. Tapi syukurlah, setidaknya Nara tidak akan kembali bertemu dengan wanita tua angkuh itu lagi.
"Ehem! Sudah belum pelukannya?" Tanya Kakek Malik.
Papa Zain mengurai pelukannya, lalu kembali mengecup kening Nara. “Papa tinggal dulu ya?" Pamit Papa Zain seraya mengusap lembut kepala putrinya.
"Pa!"
"Senyum sayang."
Nara tersenyum tipis. Hari ini meskipun ada banyak sekali drama yang terjadi pada Nara. Tetapi tidak bisa menepis bahwa perasaan bahagia itu sedang ia rasa. Nara begitu bahagia karena Papa Zain kembali bersikap lembut dan hangat padanya.
"Ara sayang Papa." Gumamnya lirih.
Sementara di lain kamar, Elang sedang mengumpat, mengabsen seluruh nama hewan pada kebun bintang dengan nada yang terdengar kasar.
Bagaimana tidak? Si tua bangka itu membuatnya tidak berkutik. Beberapa menit yang lalu setelah Elang sadar. Kakek Damar dan Oma Gayatri mengancam Elang dengan membawa-bawa keselamatan Nara. Dengan sangat terpaksa akhirnya Elang menyetujui permintaan sesepuh Bimantara itu.
"****!" Mengusap wajah dengan kasar, Elang segera keluar dari kamar hotel.
Waktu yang diberikan pria tua itu hanya lima belas menit untuk dirinya bersiap. Lalu menyuruhnya untuk pergi ke ruang VVIP.
"Sialan! Gue gak ada pilihan lain!" Elang segera memasuki ruang VVIP yang di dalamnya sudah ada kelurga besarnya dan anehnya juga ada Nenek dan Kakek Nara.
'Cih! Jadi Kakek sama Neneknya Nara juga di jadikan tahanan!'
"Ganteng banget sepupu gue!"
Elang menatap geram Galuh yang sedang duduk manis bersama Jia. Bukannya cowok itu membantunya, yang ada malah menertawakan kesialannya. Awas saja, Elang akan membuat perhitungan nanti pada Galuh saat acara sialan ini selesai.
"Bagaimana Tuan Damar apa acaranya bisa di mulai?” Tanya Pak Penghulu.
"Silahkan Pak."
'Nara maafin gue!'
"Baca ini! Jangan sampai salah nyebutin nama calon istri kamu!" Bisik Papa Alam.
Elang mendengus. Lalu meraih kertas dari tangan Papa Alam dan membacanya dalam hati.
'Saya terima nikah dan kawinnya Naraya Azkara binti Zain Azkara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. ****! Apa-apaan gue ini? Tulisan aja sampai berubah jadi nama Nara. Segitu besarnya arti lo bagi hidup gue Ra! Lo bikin gue gak waras.'
"Gimana udah?" Tanya Papa
Alam.
"Pa! Ini namanya coba Papa baca. Mata Elang mendadak ngeblur!" Alibi Elang.
Mama Naya menahan tawa, begitupun dengan Galuh dan Jia." Apa perlu Tante bacain Elang?” Ledek Mama Intan.
Elang berdecak, menatap ibu kandung dari Galuh itu dengan tatapan sebal.
"Kamu perlu Kakek pinjami kacamata?" Kali ini Kakek Damar yang meledek Elang.
"Argh! Gak usah. Elang udah hafal," finalnya.
Masa bodoh dengan tawa yang nanti akan terdengar jika ia sampai salah menyebutkan nama calon istri abal-abalnya. Siapa suruh ia di paksa menikahi gadis yang tidak pernah ia cinta.
"Jadi bagaimana. Sudah siap ?" Elang mengangguk, meskipun kenyataannya belum siap sejuta persen!
"Bismillahirrahmanirrahim ..Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Elang Bimantara dengan saudari Naraya Azkara binti Zain Azkara dengan mas kawin emas seberat 500 gram di bayar tunai.”
Bungkam! Elang kemudian menggelengkan kepalanya dengan mata mengerjap pelan.
Apa sekarang
pendengarannya jadi ikut terganggu? Oh God! Rasanya Elang ingin kabur saja dari acara konyol ini.
"Lang!" Papa Alam menepuk pundak Elang untuk membuyarkan lamunan bocah itu. Elang berdehem kemudian melanjutkan acara ijab kabulnya dengan berkata. “Saya terima nikah dan kawinnya Naraya Azkara binti Zain Azkara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
Elang melongo seperti manusia purba yang baru terbangun dari tempat persembunyiannya. "Kenapa jadi sah?" Tanyanya dengan bodohnya.
Plak!
Sebuah geplakan yang cukup keras mendarat pada belakang kepala Elang. "Naraya sudah sah menjadi istrimu!" Bisik Papa Alam.
Elang semakin terlihat cengo. Lalu berbisik pada Papanya. “Ah Papa yang bener?" Tanya Elang dengan tatapan tak percaya.
"Jaga cucu Kakek setelah ini Elang, awas kalau kamu berani membuat Nara kami kembali mendapat luka!" Ujar Kakek Malik.
"Nah, kalau sudah begini Elang baru percaya. Astaghfirullah, ini kenapa rasanya jadi jedag jedug gini?" Tanya Elang dengan wajah memelas.
Galuh tertawa terpingkal-pingkal nyaris membuat semua keluarganya ingin menelannya hidup-hidup.
__ADS_1
"Nah, itu keponakan baru Tante. Cantik banget kan Elang?" Celetuk Mama Intan saat melihat Nara masuk ke dalam ruang VVIP di gandeng Oma Gayatri.
"Bidadari gue.."