My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
14.elang tersiksa


__ADS_3

Dengan menendang - nendang daun kering yang berguguran di atas rerumputan taman kota , Naraya mengerucutkan bibirnya , sebal . Cowok tengik itu sudah membuatnya menunggu hampir tiga puluh menit lamanya . Elang tidak tahu saja saat ini wujudnya itu sedang diburu oleh antek - antek Kakeknya .


" Sampai gue ketangkep Kakek ! Lo bakalan gue cekik Elang ! " Dumel Nara dengan tangan seperti sedang mencakar - cakar wajah Elang .


" Ehem ! " Nara mendongak , bayangan tubuh tinggi dari seseorang yang arwah dan raganya sedang ia tunggu tengah meredupkan terik matahari yang sedari tadi menyinari wajah cantiknya .


Nara mengerang geram . Menatap wajah yang tak pernah mau menghilang dari bayang - bayang isi kepalanya itu dengan gerah .


" Sorry lama , tadi gue beli ini dulu . " Elang menyodorkan milk shake rasa strawberry kepada Nara .


Dengan wajah ketusnya Nara mengambil minuman tersebut dari tangan Elang , dan percayalah .. wajahnya yang galak itu semakin terlihat menggemaskan saja di mata Elang . " Kenapa sih jutek banget ? Gue kan udah minta maaf tadi , " ujar Elang .


" Bukan tadi tapi barusan ! " sarkas Nara . Setelah itu menegak milk shake dingin di genggaman tangannya hingga tandas . Elang terkekeh , tanpa aba - aba segera menarik lengan Nara . Membawanya pergi dari area taman kota .


" Hey ! Lo mau bawa gue ke mana ? " Tanya Nara dengan wajah kebingungan .


" Udah nurut aja , gue cuma mau ngomong berdua sama lo ! " Nara mendengus , merotasikan kedua bola matanya dengan jengah .


“ Lo gak lihat disini gak ada orang lain selain kita ? "


" Maksud gue di tempat yang aman Nara , disini terlalu rame . Gue gak suka , " ujar Elang sembari melirik sebentar si galak Nara .


" Apa lihat - lihat ! Jalan yang bener ! Lo mau kita berdua jatuh ? " Sungguh ! Bagaimana Elang tak gemas dengan gadis berpipi merah muda bernama Naraya Azkara ini ? Kalau setiap bertemu , hati dan perasaan Elang selalu dibuat campur aduk , jungkir balik dan berbunga - bunga .


Sikap ketus yang melekat pada diri gadis itu membuat Elang selalu terkapar - kapar . Nara terlalu mempesona dengan sikap jutek dan galaknya . Argh ! Membuat Elang jadi ingin melakukan khilaf untuk yang kedua kalinya saja kan jadinya .


" Lo jangan galak - galak Ra ! Nanti kalau gue gemes lo bisa kena semburan bisa beracun lagi , mau ? "


Semburan bisa beracun . Maksudnya ? Nara menaikkan sebelah alisnya dengan kaki terus mengayun , mengikuti langkah Elang yang terus menggiringnya entah ke mana . " Gak jelas ! " Malas berpikir , akhirnya Nara hanya membalas ucapan Elang dengan kalimat andalannya .


Mobil adalah tempat yang Elang pilih untuk berbicara empat mata dengan Naraya , Elang segera mengambil duduk berhadapan dengan Nara . Karena posisi mereka yang duduk di kursi belakang , jadi memudahkan Elang mengikis jarak untuk mendekati Nara .


" Stop ! Udah gak usah maju - maju ! Cepetan lo mau ngomong apa ?! " Sentak Nara sembari memelototkan matanya .

__ADS_1


Ya Tuhan ! Bibir itu , rasanya Elang ingin menciumnya dengan brutal . Untung saja malaikat putih masih berbisik - bisik disebelah telinga Elang . Menyuruh cowok itu agar menepis hasrat napsu dan pikiran kotornya . Huh ! Oke , saat ini memang bukan waktunya untuk memikirkan hal yang kurang waras . Karena masalah besar sudah berada di depan mata .


" Ra , nikah sama gue . Mau ya ? " to the point Elang kali ini dengan wajah memelas .


Nara melongo mendengar permintaan Elang yang begitu mengejutkan detak jantungnya . Elang pikir , nikah itu sebuah permainan ? Benar - benar tidak waras si brengsek Elang di hadapannya ini.


" Lo bener - bener gak waras Lang . Mending gue anter lo berobat ke Dokter spesialis kejiwaan ! " geram nara.


" Ck ! Gue masih waras Naraya . Karena itu gue ngajak lo ketemuan sekarang . Dan tentunya untuk nikah . " Jelas Elang sembari menatap lekat manik mata indah milik Nara .


" Gue gak mau ! " tolak Nara tegas .


" Kalau udah gak ada yang perlu di omongin lagi , gue mau balik sekarang ! Obrolan receh lo buang - buang waktu berharga gue tau nggak ! " Lanjut Nara .


Jemarinya beranjak meraih gangang pintu mobil . Berniat untuk pergi dari hadapan Elang . Sayang sekali , angan - angan Nara untuk terbebas lebih cepat dari Elang tidak dapat terwujud . Si bad boy tampan itu mana mungkin membiarkan Nara pergi begitu saja .


Merasa niat baiknya kembali di remehkan . Elang segera menarik tangan Nara dan menyudutkan tubuh rampingnya di pintu mobil dengan cara mengungkungnya menggunakan kedua tangan lebarnya .


" Gue gak bakalan bisa bertanggung jawab setelah ini kalau lo tetep keras kepala Naraya ! " Geram Elang dengan menekan kedua bahu Nara . Bibir Nara terkatup rapat , matanya pun ikut menyipit karena wajah Elang terlampau dekat saat ini dengan wajahnya .


"Tapi gue maunya tanggung jawab! Lo itu gak peka banget sih? Harusnya lo sebagai perempuan disini yang minta tanggung jawab sama gue, kenapa kesannya malah gue yang kehilangan keperawanan, ha?" Kelakar Elang jelas membuat kedua bola mata Nara seketika melebar.Sebenarnya yang keras kepala disini siapa?


Bukankah Nara sudah tidak mau mempermasalahkan masalah yang terjadi kemarin. Harusnya Elang bersyukur, karena Nara tidak mengungkit masalah tersebut berlarut-larut. Tetapi ini kenapa malah Elangnya yang terus-terusan ngeyel sih! Membuat Nara jadi ikutan tidak waras saja dibuatnya.


"Mungkin itu berlaku buat cewek alay di luar sana. Tapi enggak dengan gue!" Nara mendorong dada Elang dengan kasar, setelah itu menatapnya begitu tajam.


"Inget baik-baik Lang! Gue gak bakalan nikah sama orang yang gak pernah gue cintai. Apalagi dengan cowok sebrengsek lo! Cih, gak akan pernah!" Ucap Nara seraya menuding wajah tampan Elang dengan nada berapi-api.


"Gue Naraya Azkara udah blacklist nama lo dari daftar calon imam gue! I swear.. Elang Bimantara!" Imbuhnya sembari mendorong jidat Elang kasar. Setelah itu segera keluar dari dalam mobil Elang.


"Huh, dia pikir gue cewek murahan gitu? Lo salah besar Elang!" Nara bersungut-sungut kemudian menyempatkan untuk memutar badannya kebelakang dan mengacungkan jari tengahnya untuk cowok brengsek yang masih mematung dan mengamati gerak geriknya dari dalam mobil sana. Setelah itu benar-benar pergi dari hadapan Elang dengan perasaan luar biasa jengkelnya.


"Gue semakin yakin, kalau lo itu bidadari yang sengaja Tuhan design cuma buat gue Ra!” Celetuk Elang bergumam seperti orang yang baru terkena sawan.

__ADS_1


Setelah kejadian di taman kota tadi. Baik Nara maupun Elang sama-sama merasa galaunya. Jika Elang murung karena harus di hadapkan oleh kenyataan penolakan Nara yang kesekian kalinya.


lain lagi dengan Nara yang harus ikut pulang ke rumah Kakek Malik dan Nenek Mayang karena di jemput paksa.Tadi setelah dari taman kota, Kakek tua itu sudah menunggunya di halaman rumah Tante Helena. Membuat Nara mau tak mau akhirnya harus ikut mereka berdua untuk pulang ke rumah utama.


Malam hari..


"Ara.. ayo, makan malam dulu, Nak." Panggil Nenek Mayang.


Dengan bermalas-malasan Nara bangkit dari atas ranjangnya. Lalu membuka pintu kamarnya dengan raut wajah muram.


"Nara belum laper Nenek." Nenek Mayang mencubit pelan pipi cucunya. Setelah itu meraih lengan Nara, memaksa gadis itu untuk turun ke bawah.


"Sedih boleh, tapi jangan lupa makan sayang. Nanti kalau Kakekmu itu bicara tentang perjodohan lagi biar nenek pukul pakai centong nasi." Gurau Nenek Mayang membuat sudut bibir Nara tersungging tipis.


"Beneran ya Nek. Awas Nenek bohong sama Ara!"


"Kapan Nenek pernah bohong sama Ara?"


Mendengar hal itu, Nara langsung menerbitkan senyum termanisnya. Mungkin jika saat ini Elang melihatnya, cowok itu akan kejang-kejang seperti orang yang sedang terkena ayan.


Sayang sekali! Elang tak bisa melihatnya. Mungkin memang takdirnya hanya bisa melihat


wajah galak dan suram Naraya. Haha!


"Ara sayang Nenek .. banyak-banyak!" ujar Nara sembari memeluk tubuh Nenek Mayang dengan erat.


"Nenek juga sayang Ara.”


Meja makan sudah penuh dengan menu-menu menggiurkan olahan tangan Nenek Mayang. Membuat mata Nara berbinar-binar karena lidahnya sudah tak sabar untuk mencicipinya.


Sungguh, kalau boleh jujur, sebenarnya ia lebih betah tinggal di rumah Nenek dan Kakeknya. Nara merasa, lebih hidup dan di perhatikan.


Tidak seperti di rumah Papa Zain. Setiap hari hanya ada menu ala kebarat-baratan yang tersaji di meja makan. Jenuhnya lagi, perdebatan tidak pernah usai Nara dapatkan dari sang Papa setiap kali jumpa dan bertatap muka. Jelas! Semua itu karena hasutan ibu tirinya. Soraya.

__ADS_1


"Udah laper belum?" goda Nenek Mayang.


Nara terkesiap.


__ADS_2