My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
23.elang absurd


__ADS_3

Sepulang sekolah.


Setelah mengganti seragamnya dengan pakaian rumahan Nara langsung turun ke lantai bawah. Nara berniat ingin membantu Mama Naya yang tadi kelihatan sibuk memanen buah mangga dari kebun belakang rumah.


"Cepet banget ilangnya." Elang berdecak kesal saat sudah tidak mendapati Nara di dalam kamarnya.


Dengan langkah lebar Elang menuruni tangga, mencari keberadaan Nara. "Berandalan sekolah, tumben sekali jam segini sudah ada di rumah!" Sindir Kakek Damar sembari berjalan menuju pintu tengah.


Elang menaikkan sebelah alisnya, bingung kenapa Kakeknya itu membawa keranjang sebesar gentong air. "Mau Kakek apakan keranjang pakaian itu?” Bukannya menjawab pertanyaan Kakeknya, Elang malah balik bertanya. Yang jelas, membuat Kakek Damar jadi mendengus kasar.


“Keranjang pakaian gundulmu itu? Ini keranjang buah. Mau di pakai ngangkat mangga dari kebun!” Elang hanya mengangguk-anggukan kepalanya sembari ber-oh-riya.


Kakek Damar segera pergi ke kebun belakang dengan Elang yang ikut membuntutinya. “Bawa ini! Sekali-kali kamu itu angkat-angkat barang berat!" Perintah Kakek Damar setengah melempar keranjang berukuran king size itu ke arah Elang.


Bukannya kesal, Elang malah terkekeh. Sebenarnya sedari tadi Elang sudah menunggu pria tua itu untuk mengomel. Sehari tidak mendengarkan kicauan yang terlontar dari mulut pedas Kakek Damar, rasanya ada yang kurang.


Sesampainya di kebun belakang, mata Elang langsung menangkap sosok cantik yang sedari tadi ia cari keberadaannya. Dasar si begundal Elang yang alay! Padahal si Nara juga baru beberapa menit terlepas dari jangkauan matanya. Tetapi cowok itu seakan-akan menganggap Nara telah hilang dari sisinya dalam waktu yang cukup lama.


"Ra.. Panas! Lo ngapain ikut-ikutan ngambil mangga di bawah pohon?" Omel Elang kurang suka dengan apa yang sedang Nara lakukan saat ini.


Elang tidak mau gadis itu lecet sedikitpun. Apalagi sampai panas-panasan seperti saat ini. Bisa terbakar nanti kulit putih istrinya yang semulus porselen itu! "Gue udah biasa panas-panasan!"


"Nara! Perbaiki cara bicara kamu dengan Elang.” Tegur Oma Gayatri.


Nara yang sedang memungut Mangga sontak meringis kikuk saat di tatap sedemikian rupa galaknya oleh Oma Gayatri.


" Manggilnya aku-kamu dong!" Goda Mama Naya sembari mengambil alih buah mangga dari tangan Nara.


"Dengerin tuh kata Oma Ra. Lo harus manggil gue Mas Elang!" perintah Elang sembari terkekeh geli.


Bugh!


"Kamu juga! Ngasih contoh sama istri itu yang baik! Malah ikut-ikutan ngomong gak bener." Oma Gayatri yang ada di sebelah Elang langsung melotot, dan menimpuk kepala cucunya itu dengan kardus lipat.


Nara tersenyum mengejek, lalu menjulurkan lidahnya. Merasa puas karena melihat Elang mendapat omelan sekaligus tabokan maut dari Oma Gayatri.


"Rasain!" cibirnya tanpa mengeluarkan suara.


Elang terkekeh, dengan sengaja memajukan bibirnya seperti bebek yang akan berciuman.


Mata Nara melotot, melihat apa yang telah cowok itu lakukan padanya. Bagaimana kalau semua orang tahu dan melihatnya? Oh tidak! Bisa-bisa Nara akan mati gaya.


Tak mau jadi salah tingkah karena perbuatan Elang, gadis itu segera pergi untuk masuk ke dalam kebun, menyusul Mama Naya yang sedang mengambil mangga-mangga berjatuhan di bawah pohon.


"Makin berani aja tuh cowok sama gue!" Geram Nara sembari *******-***** mangga yang sedang ia genggam.


"Neng! Awas.. nanti kejatuhan mangga, jangan lama-lama di bawah pohon!" teriak Bapak-bapak pemetik mangga yang ada di atas pohon.


Nara terjingkat kaget, lalu segera berlari kecil menghindar dari pohon-pohon mangga yang belum selesai di petik buahnya.


"Ini rumah keluarga Elang luasnya berapa hektar coba? Bisa gitu ada rumah lengkap dengan taman plus kebun seluas gini?" decak kagum Nara dengan kaki yang terus mengayun entah ke mana.


"Nara, kesini sayang." Panggil Mama Naya.


Nara celingukan, lalu tersenyum tipis saat menemukan keberadaan Mama Naya. Ternyata di tengah-tengah kebun, ada sebuah rumah kayu untuk berteduh.

__ADS_1


"Makan sayang.."


Melihat potongan buah mangga yang Mama Naya sodorkan, mendadak lidah Nara jadi kebanjiran air liur.


"Tangan Nara kotor Mama." Mama Naya tertawa pelan, lalu memberikan garpu pada menantu cantiknya itu. "Pakai ini sayang." Nara mengangguk, lalu menerima garpu dari tangan Mama Naya.


"Gimana? Manis?" Tanya Mama Naya.


Nara mengangguk antusias, rasa mangga yang baru saja masuk ke dalam mulutnya sangatlah manis.


"Ini jenis mangga apa, ya, ma ?" Tanya Nara penasaran.


" Mangga harum manis sayang. Kalau yang baru di petik itu namanya mangga madu." Nara mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mendengarkan penuturan Mama Naya.


"Habisin sayang. Tadi Mama sengaja ngupasin memang buat kamu." Nara meringis dengan wajah malu-malu mau. "Beneran nih boleh Nara habisin? Mama gak mau ikutan makan?" Mama Naya mencubit pelan pipi Nara sembari tertawa kecil.


"Iya anak cantik. Habisin, Mama gak minta. Oh iya sayang, besok kamu ikut Mama ya? Mumpung sekolah kamu kan besok libur."


Nara yang sedang melahap buah mangga sontak memelankan kunyahannya. Lalu bertanya. " Mau ke mana Ma? Sama Elang juga?" Mama Naya mengangguk, lalu mengusap pipi Nara dengan lembut.


"Ke Dokter. Kamu belum pernah periksain calon cucu Mama ke Dokter kan?" Nara meringis kikuk dengan pertanyaan Mama Naya barusan. Mana ada di dalam isi kepala Nara sampai sejauh sana memeriksakan kandungannya. Mengetahui dirinya hamil saja baru beberapa hari yang lalu, itu pun lewat alat kecil yang dibeli Ghea.


“Kalau gitu besok ikut Mama ya, sayang." Mengangguk, Nara hanya bisa mengangguk patuh pada ucapan Mama Naya. Mama Naya tersenyum lega. Beliau begitu suka sekali dengan sifat menantunya yang menurut.


"Huek!"


"Huek!"


"Kenapa lagi anak itu?” Gumam Mama Naya yang langsung turun dari rumah kayu dan mencari keberadaan si begundal Elang yang entah muntah-muntah karena mencium bau apa saat ini. "Ish, lihat gak ya ?" Gumam Nara.


Berdecak kecil dengan menghembuskan napas pelan, Nara akhirnya memilih untuk ikut mencari keberadaan Elang.


"Elang! Lo kenapa?" Tanya Nara yang mendadak jadi cemas ketika melihat kaki suami tengiknya itu mengeluarkan darah.


Dengan berjongkok di sebelah posisi Elang yang terduduk, Nara dengan gerakan cepat langsung merobek ujung dressnya dan mengikatkan potongan kain itu pada kaki Elang yang berdarah.


"Lo habis manjat pohon? Iya ?" Tebak Nara kali ini dengan memukul pelan bahu Elang.


"Gue lihat ulat bulu Ra di atas!" Adu Elang sembari bergidik ngeri sembari, lalu buru-buru menarik tubuh Nara agar menempel pada tubuhnya.


"Terus kamu muntah-muntah tadi kenapa? Gara-gara lihat ulat bulu juga?" Tanya Mama Naya yang sebenarnya ingin tertawa karena melihat Nara hanya bisa pasrah saat tubuhnya di endus- endus oleh putranya.


"Bukan!"


"Terus?" desak Nara yang kini juga ikut-ikutan penasaran.


"Sumpah! Bau orang yang metik mangga di atas asem banget Ra! Gue gak tahan!" Bisik Elang membuat kedua bola mata Nara melotot, sebelum akhirnya hanya suara tawa merdu Nara yang terdengar menari-nari di telinga Elang.


Elang tertegun, baru kali ini ia melihat tawa Nara yang begitu indah menghiasi wajah cantiknya. Pipi yang selalu terlihat putih kemerah-merahan itu semakin terlihat menggemaskan saat sang empunya menyipitkan mata dengan bibir melengkung lebar.


"Puas ketawanya?" Tanya Elang sembari menjapit pelan hidung mancung Nara.


"Belum." Jawab Nara yang di sambung tawa jenaka oleh Elang.


"Ngetawain apa sih kalian ini? Mama pergi aja deh," Mama Naya geleng-geleng kepala saat melihat keduanya masih saja tertawa. Entah apa juga yang membuat mereka tertawa tak berkesudahan seperti itu. Yang jelas, Mama Naya merasa senang. Jika keduanya tampak bahagia.

__ADS_1


"Bantuin gue Ra!"


"Ogah, berdiri aja sendiri. Jangan manja lo!" Nara menepuk-nepuk ujung dressnya lalu segera meninggalkan Elang yang masih terduduk lemas di atas tanah.


"Nara lo mau jadi istri durhaka!" Nara mencebik malas, terpaksa berbalik badan dan membantu cowok manja yang masih menunggu bantuannya untuk berdiri itu.


"Buruan!" galaknya.


"Gak ikhlas banget."


"Buruan Elang! Gue tinggal nih!" Ancam Nara.


Elang mendengus kemudian meraih tangan Nara dan menariknya dengan memusatkan bebannya pada gadis itu.


"Lang!" Teriak Nara yang kini sudah kehilangan keseimbangan.


Mau di lihat dari segi manapun tenaga Elang dengan tenaga Nara jauh sangat berbeda. Tubuh Nara yang tak seberapa dengan berat badan Elang membuatnya harus terhitung ke depan dan terjatuh ke atas tubuh besar Elang. Berkahir dengan suara ******* ngilu yang terdengar saling bersahut-sahutan.


"Bego! Ah ya ampun!"


Walhasil, bukannya Nara yang membantu Elang untuk berdiri, yang ada suaminya itu lah yang kini harus bangkit lebih dulu untuk membantu Nara yang meringis karena kepalanya terbentur kening Elang.


"Ada yang sakit? Perut lo gak kegencet kan? Ra ngomong dong? Argh! Lo bikin gue takut." Nara mendengus sembari berkacak pinggang.


"Bukan perut gue yang sakit. Tapi jidat gue!" Ketus Nara dengan tatapannya yang terlihat sangat jengkel.


Mendengar jawaban Nara, Elang seketika menghembuskan napasnya lega, lalu mengarahkan matanya pada kening Nara yang terlihat memerah. Tanpa pikir panjang, cowok itu langsung mendekatkan bibirnya pada kening Nara dan ..


Cup!


"Udah gue obati, sekarang gimana? Masih sakit gak?" Tanya Elang dengan tampang tak berdosanya.


Nara tercengang dengan mulut menganga lebar.


"Elaaang!" teriaknya tertahan. Nara benar-benar ingin menangis karena perbuatan Elang yang nekat barusan.


Nara benar-benar malu!


Bagaimana tidak malu, kalau para buruh petik mangga saat ini tengah terbatuk-batuk berjamaah di atas pohon. Menggoda keduanya yang mereka pikir mungkin sedang bermesraan.


"Anggap aja mereka lalat yang berkeliaran di kebun!"


Nara mendelik dengan tangan terkepal kuat. "Ugh! Awas aja lo!" geramnya yang setelah itu segera pergi dari hadapan Elang.


"Gue harus detox wajah! Ini muka gue udah terkontaminasi banyak bakteri dari bibir Elang!" ucap Nara menggebu-gebu.


"Ngomong apa lo barusan?”


Nara melotot, menyadari si begundal sialan itu masih mengikutinya dari belakang. Malas harus beradu mulut dengan Elang, Nara buru-buru berlari kecil meninggalkan kebun, bergabung dengan Kakek Damar dan Oma Gayatri yang sedang memilah-milah buah mangga.


"Nara boleh bantu, Oma."


"Kamu pisahin mangga madu sama mangga harum manis ke dalam kardus yang sudah di tata sama Mang Dayak.” Nara mengangguk, ikut membantu Oma Gayatri memilah-milah buah mangga itu ke dalam kardus kosong.


"Besok antar ini ke rumah Kakek sama Nenekmu, Nara."

__ADS_1


"Iya Oma."


"Sekalian antar juga ke rumah Tante Intanmu, dia sekarang jadi sok sibuk setelah punya cucu." Nara hanya mengangguk tanpa berani komentar, ia tak mau mencari gara-gara dengan wanita tua cerewet itu.


__ADS_2