
"Nanti kalau anakmu itu sudah lahir, usahakan rawat sendiri. Jangan seperti Jia. Apa-apa ibu mertuanya yang di jagakan! Manja sekali," celetuk Oma Gayatri yang sepertinya sedikit sensi dengan istri Galuh.
"Nara usahakan Oma." Jawab Nara singkat. Nara tidak mau berjanji, karena ia takut tidak bisa memenuhi janjinya pada Oma Gayatri.
"Sudahlah Bu. Jangan bahas yang masih jauh di depan mata. Lebih baik suruh Rani buat bikin jus mangga. Kerongkongan tua ini mendadak jadi haus," Kelakar Kakek Damar.
Nara tertawa kecil, lalu bangkit berdiri.
"Biar Nara yang buatin aja Kek. Kalau bikin jus, Nara masih bisa." Kakek Damar tersenyum teduh, lalu mengangguk.
"Gulanya jangan banyak-banyak Nara. Nanti Kakekmu itu bisa diabetes!" Seloroh Oma Gayatri ketus.
"Siap Oma."
"Tambahin susu putih kental manis ya Nak."
"Hey! Tanpa susu. Umurmu itu sudah mau kepala 7. Jangan sampai nanti ada gejala penyakit tambahan karena pola makanmu yang suka ngawur itu!" Bentak Oma Gayatri.
"Dasar istri tidak punya perasaan! Gula dan susu tidak akan membuatku cepat mati!"
"Nara punya Oma taburi milo coklat."
"Punya Kakek tambahi susu coklat juga!"
"Tidak punya pendirian. Tadi katamu susu putih?”
"Bukan urusan Ibu!"
Nara tertawa-tawa sembari berjalan menuju rumah. Ternyata di balik wajah tegas dan galak Kakek Damar dan Oma Gayatri, terbesit tingkah yang sangat konyol dan begitu lucu. “Manis sekali." Kekeh Nara dengan gelengan kecil di kepala.
Elang tersenyum puas. Sedari tadi dia hanya memperhatikan interaksi antara Nara dan kedua sesepuh Bimantara dari kejauhan.
"Lo orang asing yang pertama kali bisa merebut hati mereka berdua Ra."
Pukul 7 malam setelah melakukan rutinitas makan malam. Elang meminta izin pada keluarganya untuk menghadiri acara ulang tahun temannya. Sebenarnya Oma Gayatri sudah melarang keras Elang membawa Nara pergi ke acara pesta temannya itu, tetapi berhubung si Elangnya ngeyel dan memaksa. Dengan berat hati Oma Gayatri akhirnya mengizinkan mereka berdua pergi.
Dengan satu catatan, mereka berdua harus berada di rumah tepat jam 11 malam.
"Jagain menantu Mama. Awas kalau kamu tinggal-tinggal disana," pesan Mama Naya saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Iya Mama." Jawab Elang. Tanpa Mama Naya minta pun, Elang pasti akan menjaga Naraya.
"Nara berangkat dulu, Ma."
"Hati-hati sayang. Have un!"
Mobil yang di kendarai Elang itu pun keluar dari pelataran mewah Bimantara. Sedari Nara keluar dari kamar tadi, sebenarnya Elang sudah berulang kali berdecak-decak kagum dengan tampilan gadis itu malam ini.
Rasanya Elang begitu tidak rela berbagi keindahan yang melekat pada diri Nara pada siapapun malam ini. Gadis itu terlampau cantik dengan dress merah maroon potongan sabrina yang mempertontonkan leher jenjang dan bahu putih mulusnya.
"Lo ngapain sih lihat ke arah gue segitunya? Dandanan gue ada yang aneh?" Tanya Nara sembari mengeluarkan kaca kecil dari dalam slim bagnya.
Nara menelisik tampilannya, mulai dari atas kepala sampai berhenti tepat di depan bibir yang sudah terolesi oleh lipcream berwarna nude.
"Perasaan gak ada yang aneh," gumam Nara lirih.
Elang terkekeh kemudian mengacak poni Nara dengan lembut. "Lo cantik!" Pujinya.
Nara mendelik lalu membuang muka. “Gak usah kumat deh!"
"Gue serius Nara. Malam ini lo cantik."
Blush..
Pujian yang terlontar dari mulut Elang kali ini bagaikan sihir kiriman yang membuat tubuh Nara mematung, pipinya terasa panas. Ada badai kecil-kecilan yang sedang menghantam hati mungil Nara. Katakan saja saat ini Nara sedang melting.
"Emang biasanya gue kelihatan burik gitu?" Cicit Nara yang malah kelihatan salah tingkah di depan Elang.
Elang tertawa, jelas Nara tetap terlihat cantik meskipun tanpa make up sekalipun. Hanya saja malam ini gadis itu terlihat berbeda dari biasanya. Lebih tepatnya, berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya. “Lo lucu!” Kata Elang masih dengan tawa renyahnya.
Nara mencebik, pun tangannya tak luput terlihat sedang mengipasi wajahnya yang masih saja terasa panas. Padahal Ac di dalam mobil sudah menyala. Tetapi entah mengapa, wajah Nara masih saja terasa gerah.
'Berasa hareudang gue!'
Dan sumpah demi apapun. Elang yang menangkap gerak-gerik lucu dari Nara saat ini hanya bisa tertawa geli. "Kena lo!" lirihnya tanpa menimbulkan suara.
Kecewa. Itu yang Sherina rasakan saat ini. Niat hati ingin menjadikan Elang tamu spesial pada acara ulang tahunnya yang ke 18 malah gagal total. Sherin harus menelan pil pahit ketika Elang dengan terang-terangan mengenalkan seorang gadis cantik bernama Naraya sebagai kekasihnya.
“Kalau gitu gue tinggal ke anak-anak Rin. Ayo, Ra." Elang menggandeng pinggang Nara, lalu meninggalkan Sherin yang masih bungkam.
__ADS_1
Sherin tersenyum kecut dengan hati yang teriris perih. Usahanya tampil cantik malam ini di depan Elang sia-sia. Ini adalah pesta ulang tahun tersial bagi Sherin di sepanjang sejarahnya.
"Apa kurangnya gue Lang." Gumam Sherin dengan tatapan getir.
Hari semakin larut, Nara sudah tampak bosan dengan acara-acara yang teman Elang mainkan. "Gue boring banget." Ujar Nara pada Ghea.
"Sama bege! Berasa ingin terbang langsung ke atas ranjang gue!" timpal Ghea.
Sedari tadi Nara dan Ghea sudah seperti model majalah keliling yang menjadi ajang pamer Elang dan Jontahan.
Kedua cowok itu memperkenalkan Nara dan Ghea pada teman-teman nongkrongnya. Yang kebanyakan kalau Nara lihat sih teman sesama aliran sesatnya.
Terbukti, saat ini para cowok-cowok bermulut besar itu sedang melakukan pesta minum-minuman. Untung saja Elang dan Jonathan tidak ikut-ikutan minum seperti yang lainnya.
"Hallo ladies?" sapa Romi anak sekolah Pancaloka. Dan kebetulan sekali Nara dan Ghea mengenalnya, karena cowok itu dulunya pernah menjadi teman mereka saat duduk di bangku SMP.
"Minggat sana lo!” usir Nara ketus.
"Ck! Lo tetep aja galak Ra. Gak pernah berubah!”
"Emangnya lo berharap gue berubah jadi apa? Ikan duyung!" sinis Nara dengan tatapan tak bersahabatnya.
"Wuih makin sexy aja lo kalau ngegas gitu Ra." Goda Romi dengan bibir tersungging tipis.
"Mending lo pergi deh Rom. Gak usah nyari gara-gara. Alam kita udah berbeda sekarang!" Romi tertawa nyaring mendengar ucapan Ghea.
"Cewek secantik kalian kenapa harus bernasib sial sih? Mau-maunya jadi jalangnya Elang sama Jonathan. Kalian bakalan nyesel suatu saat nanti kalau tau kebusukan mereka berdua. Terutama lo Ra!" Nara mengepalkan tangannya kuat, lalu mendorong dada Romi dengan kasar.
"PERGI!" Bentaknya.
Elang menoleh, matanya langsung memerah saat melihat Romi mencoba menyentuh tangan Nara. "Singkirin tangan lo brengsek!" teriak Elang sembari melangkah lebar. Jonathan mendesis tajam, bisa-bisanya mereka kecolongan.
"Calm bro! Gue cuma-"
Bugh!
"Siapa yang ngasih ijin lo nyentuh milik gue hah!!"
Bugh!
Pukulan-pukulan membabi buta terus Elang layangkan pada wajah dan perut Romi. Dan hal itu membuat siapa pun tidak ada yang berani melerainya. Termasuk Jonathan.
"Bilang sama gue! Dia nyentuh lo berapa kali? Argh! Bangsat!"
Bugh!
Bugh!
Nara menarik tangan Elang dengan kasar lalu mendorongnya dengan tatapan penuh kekecewaan. "Bisa gak dengerin gue dulu?" pinta Nara.
Elang masih saja menatap penuh amarah Romi yang sudah terbatuk-batuk akibat pukulan darinya. Tetapi bagi Elang semua itu seakan tidak cukup! Elang masih ingin memberi bogeman maut pada cowok itu sampai sekarat- kalau perlu. "Gue gak bakalan lupain kejadian malam ini ." Ujar Romi dengan tatapan sinis.
Cowok itu segera pergi dari hadapan Elang lalu menemui seseorang yang sedang tersenyum puas di ujung garden. “Lo harus bayar gue mahal. Gak cukup kalau dengan tubuh lo! Selain luka gue juga dapet malu!” bisik Romi dengan nada yang terdengar serak.
"Hemm .." jawabnya dengan malas.
"Sekarang tugas lo! Ingat ... jangan sampai gagal!" suruh seseorang itu yang tak lain adalah Silvi pada cowok yang berdiri tidak jauh darinya.
"Oke.. tapi inget ya, lima juta!"
"Iya!" Geram Silvi.
Setelah cowok berseragam pelayan itu pergi dari hadapannya. Silvi dan Romi segera melanjutkan aksinya. Menyiapkan sebuah kamar hotel yang malam ini akan menjadi saksi bisu untuk acara enak-enaknya bersama Elang.
"Silahkan Kak." Nara yang sedang duduk di bangku paling pojok bersama dengan Elang sontak menatap sekilas pelayan yang di depannya.
"Makasih." Bukan Elang, melainkan Nara.
Gadis itu telah mengambil sebuah minuman yang di dalamnya sudah Silvi campur dengan obat ajib-ajib.
"Minum dulu." Suruh Nara.
Elang berdecak. Tetapi juga mengambil minuman itu dari tangan Nara. Tanpa pikir dua kali, Elang langsung meneguknya sampai tandas. Saat ini ia memang sedang membutuhkan air dingin untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
Setelah memastikan emosi Elang sedikit reda, Nara baru berani mengajak bicara cowok itu. Nara juga menceritakan kejadian yang tadi ia alami bersama Ghea pada Elang tanpa ada yang di tutup-tutupi.
"Terus lo percaya gitu sama Romi?" tanya Elang dengan suhu tubuh yang mendadak sedikit berbeda. Kepalanya juga terasa sedikit berat.
“Apa menurut lo gue percaya sama dia? Gue bukan perempuan bodoh!"
__ADS_1
Masih dengan perdebatan kecil yang terjadi, tiba-tiba Sherin datang. "Sorry ganggu. Gue bisa ngomong bentar gak sama Elang?"
"Lo tetep disini!" pertegas Elang sembari mencekal pergelangan tangan Nara.
"Please Lang! Sekali ini aja. Setelah ini gue gak bakalan minta waktu lo lagi."
"Lang!" Nara menatap Elang dengan anggukan kecil di kepala. Dengan malas Elang pun akhirnya melepas tangan Nara.
"Jangan jauh-jauh dari gue!"
"Iya."
Elang terus memperhatikan punggung Nara yang perlahan mulai menjauh dari tempatnya duduk. Dalam hati kecil Elang, terbesit rasa kesal karena Nara memilih untuk pergi.
'Sial kenapa tubuh gue mendadak panas gini?' batin Elang dengan gerakan mulai tak tenang.
"Lang gue udah boleh ngomong sama lo belum?”
Elang mengangguk dengan tatapan datarnya. "Cepetan! Gue gak bisa ninggalin Nara lama-lama!"
'Segitu pentingnya ceweknya murahan itu di mata lo Lang?' batin Sherin dengan segala prasangka buruknya.
"Lo yakin sama pilihan lo? Dia bukan cewek yang tepat buat lo Lang! Asal lo tau gue udah denger dari Silvi kalau dia itu perempuan gak baik! Dia itu sim-"
"Cukup!" bentak Elang dengan nada yang sangat dingin.
"Siapa lo berani ngerendahin Nara di depan gue hah?!" tanya Elang kali ini dengan posisi berdiri. Sherin tertegun, ini kali pertama ia di bentak oleh Elang dengan tatapan yang begitu tajam.
"Gue sayang sama lo Elang! Karena itu gue gak mau lihat lo salah milih pasangan." Elang berdecih dengan kepala yang mulai bergoyang-goyang.
“Lo gak berhak jelek-jelekin Nara di depan gue. Yang tahu baik buruknya dia cuma gue."
"Kenapa? Apa karena dia udah nyerahin tubuhnya sama lo!" sindir Sherin kali ini dengan tatapan sinis.
"Ya! Yang lo bilang barusan memang bener! Karena Nara itu istri sah gue! Wajar kan? Gak ada yang salah!" tanya Elang tersenyum miring.
Dier!
Sherin tertawa keras lalu menggeleng tidak percaya. “ Dengan status lo yang masih pelajar? Ngaco!"
"Apa yang gak mungkin bagi gue. Kalau lo masih belum percaya. Tanya aja sama sepupu lo, Jia!" skak mat! Sherin bungkam.
Tidak mungkin ia mau bertanya pada Jia. Sementara hubungannya dan Jia saja saat ini sedang merenggang.
"****!" Elang mengumpat rendah, kepalanya semakin terasa berat. Suhu tubuhnya juga terasa kian meningkat. Ada yang tidak beres pada tubuhnya! Elang menyadari itu.
"Lang! Lo kenapa?" tanya Sherin mencoba untuk membantu Elang yang terlihat oleng.
"Jangan sentuh gue!” sentak Elang.
Dari kejauhan, Ghea dan Jonathan tampak berlarian. Dari tatapan keduanya pada Elang, kentara sekali kalau mereka sedang mencemaskan keadaan cowok itu.
“Ikut gue!” Jonathan segera menarik tangan Elang dan menyeretnya menuju parkiran hotel.
"Gue pamit pulang dulu ya, Rin.” Sherin mengangguk, meskipun dari tatapannya saat ini gadis itu begitu kebingungan.
"Thank's karena udah mau dateng."
"Okey."
Dengan langkah yang terseret-seret Elang memaki-maki Jonathan yang tengah menariknya kasar. “Nara masih di dalem bastard!" teriak Elang dengan tatapan yang semakin berkabut.
"Diem! Nara udah aman sama gue. Sekarang lo cepetan minggat dari tempat sialan ini." Bentak Jonathan yang tak kalah jengkelnya dengan Elang.
"Lang! Nanti lo jangan sakitin temen gue ya apapun yang terjadi ." Nasehat Ghea dengan wajah yang terlihat sangat resah.
"Dimana Nara." Tanya Elang dengan suara seraknya.
"Masuk mobil!" titah Jonathan sembari mendorong tubuh Elang, gemas.
Elang tersungkur di jok mobil depan dengan mengumpat kasar. Tindakan Jonathan benar-benar membuatnya geram.
"Pasang sabuk pengaman!" titah Nara dengan tatapan yang sulit di artikan. Gadis itu segera menghidupi mesin mobil milik Elang dan membawanya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Elang tertegun. Sejak kapan Nara berada di dalam mobil? Mata tajamnya yang kian berkabut menelisik tubuh istrinya dari atas sampai bawah.
Sial! Mendadak hanya karena melihat bahu mulus Nara, libido Elang langsung menerjang. si Buyung perkutut yang masih aman di dalam sangkar pun juga ikut mengerang ingin segera di bebaskan.
"Damn!" umpat Elang dengan gerak tubuh yang mulai tidak tenang.
__ADS_1