
Detak jantung Nara berdegup tak karuan saat melihat seseorang yang sedang duduk di depan Papa Zain dengan setelan jas yang kemejanya berwarna senada dengan kebaya yang sedang ia pakai.
"Nenek.." lirih Nara dengan telapak tangan yang terasa dingin.
"Kenapa? Masih berniat kabur?" Tanya Oma Gayatri mengejek. Nara mengatupkan bibirnya rapat.
Salah! Salah besar memang kalau ia bertanya pada wanita tua menyebalkan di sampingnya saat ini. Tangan tua Oma Gayatri terus menuntun lengan Nara sampai ke tengah-tengah ruangan dan merenggang saat gadis itu sudah berada tepat di sebelah Elang.
"Duduk!" perintah beliau setengah menekan kedua bahu Nara. Gadis yang sudah sah menjadi istri Elang itu pun menurut. Duduk di sebelah pria tampan yang tak henti-hentinya memandang takjub pada wujud cantiknya.
'Beautiful ..' batin Elang berdecak memuja.
"Apa lo lihat-lihat!" ketus Nara lirih.
Sejenak Elang terkesiap. Memandang Nara dengan tatapan begitu sulit di artikan. Namun sedetik kemudian sudut bibirnya tertarik tipis, nyaris tak terlihat. Kali ini Elang benar-benar percaya, bahwa gadis yang terlampau menyilaukan mata di sebelahnya itu adalah Naraya. Ya, Naraya Azkara. Gadis pujaan hatinya!
Elang benar-benar merasa bahagia dan merasa konyol dalam waktu yang bersamaan. Jadi selama ini seseorang yang ingin Kakek dan Neneknya jodohkan padanya itu adalah Nara yang sama? Kenapa ia jadi sebodoh ini untuk menyadarinya. Elang merutuki tingkahnya, betapa sangat berdosa sekali ia pada kedua sesepuh tua Bimantara itu selama ini.
Kalau saja Elang tahu yang akan di jodohkan olehnya adalah Naraya. Mungkin, ia tidak akan susah-susah menabung benih terlebih dahulu.
Penyesalan memang selalu datang belakangan.
Elang segera memutar kepala, lalu menoleh pada sang Kakek dan Oma yang saat ini juga tengah menatapnya. Tatapan yang semula penuh dengan kekesalan dan kebencian itu seketika luruh, berubah menjadi menghangat.
"Thank's Oma ..'
"Cih.." decih Oma Gayatri sembari membuang muka. Elang terkekeh pelan, dia mana peduli dengan wajah masam Oma Gayatri. Yang terpenting adalah Naraya sudah menjadi miliknya.
"Dasar tukang drama," cibir Kakek Damar. Persis seperti yang Elang lakukan pada beliau beberapa waktu yang lalu di rumah sakit.
Jangan salahkan Elang kalau dia jadi cowok yang suka mendrama. Kalau bibit leluhurnya saja juga jado memainkan drama.
"Saudari Nara. Silahkan cium tangan saudara Elang, mulai saat ini dia adalah suami dan imammu"
'Haiya! Suami?!' miris Nara berkecamuk dengan batinnya.
"Ehem!" Elang berdehem lalu menyodorkan tangannya tepat di depan wajah Nara.
Dengan mencebikkan bibirnya sebal, Nara pun meraih tangan Elang lalu mengecupnya singkat. Nyaris hanya menempel pada pucuk hidungnya saja.
"Lo gak niat banget sungkem sama gue!" Kesal Elang berhasil membuat hadirin menahan napas.
"Ya udah sini!" Tak mau berperang mulut dengan Elang. Nara akhirnya kembali mencium punggung tangan Elang. Kali ini dengan setulus hati.
Cup
Nyes! Pemandangan manis di depannya saat ini benar-benar membuat hati Elang terasa sejuk.
Setelah melihat sang pengantin wanita yang bar-bar selesai mencium punggung tangan suaminya. Pak penghulu kembali menyuruh Elang bergantian untuk mencium kening Nara. Jelas, dengan senang hati cowok yang sudah ternara-nara itu memajukan wajahnya. Berniat untuk menempelkan bibirnya pada kening istri cantiknya.
Namun, sepertinya Nara tidak konsentrasi dengan apa yang telah Pak Penghulu interupsi barusan. Membuat gadis itu tersentak dan melotot saat melihat wajah Elang begitu dekat dengan wajahnya. Nara segera mengangkat tangannya lalu mendorong bibir Elang dengan kasar.
"Lo mau ngapain? Dasar cowok mesum!" sentak Nara dengan galak.
Elang mendengus sebal. Lalu menepis tangan Nara yang ada di depan bibirnya.
Galuh dan Jia tepuk jidat secara berselebrasi saat melihat kedua pasangan pengantin baru itu malah beradu mulut. Tak hanya mereka berdua, Pak penghulu pun juga ikut geleng-geleng kepala melihat kelakuan pasutri yang baru saja sah menjadi pasangan suami istri beberapa menit yang lalu itu.
"Gue bukannya mesum Nara .. lo gak denger Pak penghulu tadi ngomong apa?" Tanya Elang dengan gemas-gemas kesal.
Nara mengerutkan keningnya lalu balik bertanya. “Emangnya Bapak tadi ngomong apa?" Tanyanya pada Pak Penghulu dengan mimik muka serius.
"Kelamaan!" Dengan gemas Galuh akhirnya turun tangan. Suami dari Jia itu mendorong kepala Nara dan Elang. Menyatukan dua manusia kepala batu itu dengan sekali dorongan.
Cup!
Bukan kening yang Elang dapatkan melainkan bibir kenyal nan manis milik Nara.
"Gusti!" Nenek Mayang mengelus dadanya. Sementara para hadirin yang lainnya hanya bisa tepuk jidat. Kacau!
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan matanya. Elang malah dengan sengaja menggigit bibir bawah Nara. Dan hal itu membuat Galuh yang tadinya ingin usil jadi membelalakkan matanya.
"Anjing!" umpatnya kasar.
"Galuh!!!"
"Astaghfirullah.. kelepasan Oma!" Galuh segera menjauh dari cowok gila di depannya. Lalu menoyor kening Elang yang masih khusyuk menempel pada jidat Nara.
Jangan tanyakan bagaimana keadaan Nara saat ini. Rasanya untuk berteriak. Gadis itu sudah kehabisan daya. Lututnya terasa tak bertulang, bibirnya bak puding nutrijel yang tiba-tiba mencair. Nara mendadak lemas dan kehabisan oksigen besti!
"Apa Nara aman dengan pilihan Ayah?" Bisik Papa Zain dengan wajah merah padam. Kakek Malik terkekeh lalu mengangguk mantap.
"Lebih baik Nara menikah dengan laki-laki yang sangat mencintainya. Daripada tinggal dengan Bapaknya! Tidak pernah peduli." Tutur Kakek Malik setengah mencibir Papa Zain yang langsung kicep.
Yang di katakan Kakek Malik memang benar adanya. Lebih baik Nara jatuh ke dalam tangan pria yang sangat mencintainya. Jangan sampai putrinya masuk ke lubang buaya. Yang di dalamnya hanya ada kehidupan seperti neraka dunia.
Zain sadar, selama kepergian Dinara. Putrinya itu belum pernah merasakan kedamaian dan kasih sayang yang utuh. Kali ini Zain akan melepaskan Nara dengan ikhlas. Walaupun ia sudah tidak bisa melihat dengan leluasa wajah putri semata wayangnya.
'Bahagia selalu putriku.
__ADS_1
Sayang.. pasti sekarang kamu lega 'kan disana? Putri kita sudah menikah dengan Elang. Pangeran kataknya.' Bibir Papa Zain melengkung dengan indah. Ini adalah keinginan terkahir Dinar sebelum benar-benar menutup mata. Menyuruh Zain mamastikan yang terbaik untuk pasangan hidup Nara.
Setelah acara akad nikah selesai. Nara langsung di boyong ke kediaman Bimantara. Dan hal itu membuat Nara murung. Bagaimana tidak? Setelah ini ia akan terperangkap selamanya bersama Elang dan Neneknya yang galak itu!
"Elang?" panggil Nara lirih saat keduanya sudah berada di halaman rumah mewah Bimantara.
"Hm.. apa?" Tanya Elang.
"Anterin gue pulang. Lo gak lihat gue kayak gembel, gak bawa apapun!" Bisik Nara membuat sudut bibir Oma Gayatri berkedut tipis.
"Semua keperluan kamu sudah ada di dalam cucu menantu. Kamu tenang saja kebutuhan kamu terjamin disini," Nara mencebik, gagal sudah rencananya untuk minggat.
"Kamu jangan sungkan-sungkan kalau perlu sesuatu sayang. Bilang sama Mama, oke." Nara nyengir. Gadis itu masih terlihat kaku jika beradu pandang dengan Mama Naya.
"Iya Tante."
"Loh.. kok manggilnya Tante sih? Panggil Mama juga dong, kayak Elang. Kamu kan sekarang juga anak Mama."
"Iya Ma." Jawab Nara kikuk.
Elang tekekeh pelan melihat wajah kaku Nara. Semoga dengan kelembutan yang Mamanya punya, Nara bisa betah tinggal di rumahnya.
Kini semua anggota keluarga berada di ruang tengah. Oma Gayatri langsung saja memberitahu pada Nara peraturan-peraturan dalam keluarga Bimantara. Salah satunya makan malam tepat di jam 7 malam.
Nara beberapa kali menelan ludahnya kelu, tradisi di rumah Elang mirip seperti kehidupan di zaman dinasti kuno. Dan anehnya, si cowok tengil yang suka membuat ulah itu ternyata selama ini dengan patuh menjalani tradisi-tradisi aneh di dalam keluarganya.
"Paham Nara?" Tanya Oma Gayatri.
Nara mengangguk. "Paham Nek."
"Oma. Bukan Nenek!" Ketus Oma Gayatri.
"Nenek sama Oma itu sama saja, Oma gak usah lebay," bela Elang dengan nada yang terdengar sangat santai. Sesaat Nara tertegun, ternyata cowok itu tidak sepenuhnya patuh pada peraturan keluarganya. "Jangan mengajari istrimu untuk melawan Oma, Elang!" Pertegas Oma Gayatri.
Elang mendengus. Omanya itu terkadang sangat berlebihan sekali. "Bawa istrimu ke kamar Elang. Jangan sampai dia kelelahan," suruh Kakek Damar.
Tanpa banyak bicara, Elang segera berdiri dan menarik tangan Nara. Menggenggam tangan gadisnya itu dan mengajaknya ke lantai atas.
Seperti kerbau yang di colok hidungnya. Nara menurut saja mau dibawa kemana oleh Elang." Ingat! Langsung tidur! Besok kalian harus sekolah."
"Papa gak perlu khawatir. Elang gak bakalan ngapa-ngapain menantu Papa malam ini."
Blush
Pipi Nara langsung memerah sampai batas telinga. Malu? Jelas! Rasanya Nara ingin pingsan saja mendengar ucapan yang sangat terpuji dari bibir Elang barusan.
Mama Naya menahan tawa. Beliau segera pamit untuk menuju kamarnya. Hari ini banyak sekali kejadian yang membuat Mama Naya ingin tertawa terpingkal-pingkal karena kelakuan putra dan menantu cantiknya.
"Seneng banget kamu kelihatannya Ma?" Mama Naya yang sedang berjalan pun menoleh, lalu tersenyum lebar.
"Banget Pa. Nara anaknya lucu banget. Cantik lagi," puji Mama Naya yang langsung disambut pelukan hangat oleh Papa Alam.
"Semoga mereka bisa rukun."
"Mama bakalan ngasih yang terbaik buat Nara. Semoga gadis itu betah ya, Pa.” Papa Alam mengangguk, mencium kening Mama Naya lembut.
"Sekarang kita istirahat."
"Iya."
Dari ruang tengah. Sepasang mata tua tengah memandang kepergian Nara dan Mama Naya
dengan tatapan redup. "Dinar.. putrimu sudah berada di bawah pengawasan wanita yang tepat Nak. Semoga kamu mau memaafkan kesalahan Tante di masa lalu," dengan rasa penyesalan yang begitu dalam, Oma Gayatri berjanji. Setelah ini, beliau akan memastikan kebahagiaan Nara.
"Yang terpenting Nara sudah berada di dalam rumah ini Bu. Bukankah sifatnya sangat mirip dengan Dinar, hm?"
Oma Gayatri mengangguk juga menggeleng. “Tetapi wajahnya tidak bisa berbohong. Gadis itu sangat mirip dengan ..." Jeda Oma Gayatri dengan mata yang berkunang-kunang.
"Sudahlah, ayo istirahat." Ajak Kakek Damar.
Menghembuskan napas dengan berat, Oma Gayatri akhirnya mengangguk. Menuruti kemauan Kakek Damar.
Di lain tempat ..
Silvi dengan murka membanting semua barang-barangnya dari atas meja riasnya.
"Kenapa selalu Nara! Kanapa?"
Gadis picik itu sudah tahu semua fakta yang terjadi hari ini antara Elang dan Nara. Jelas, berita itu datangnya dari Papa zain.
Selain itu juga dari orang berbadan besar yang tadi sore datang dan langsung menyuruh Mama Soraya untuk mengemasi barang-barang Nara.
"Pasti semua ini karena rencana lo yang murahan Ra!" Duga Silvi sembari mengacak rambutnya frustasi. “Oke! Kalau lo bisa pakai cara kotor. Gue juga bisa lakuin hal yang sama!" Sambungnya tersenyum setan.
Mengusap wajahnya dengan kasar, Silvi segera keluar dari kamar. Dia perlu bantuan Mama Soraya. Hanya ibu kandungnya itu yang bisa melancarkan niat jahatnya untuk menjadi benalu di dalam hidup Nara dan Elang.
"Mama!" Panggil Silvi di
depan kamar Mama Soraya.
__ADS_1
Tak ada jawaban. Pintu kamar Mamanya masih tertutup rapat. "Mama kemana sih? Perasaan tadi bokap si Nara udah pamitan pergi lagi deh!” Gerutu Silvi.
"Ah! Lanjutin Mas. Ini enak banget," Silvi melotot kala menempelkan telinganya pada pintu kamar Mama Soraya.
"Mama ikh!" Kesal Silvi sembari menghentak-hentakkan kakinya.
Ini sudah yang kelima kalinya Silvi memergoki suara laknat Mamanya yang tengah bermain ranjang dengan pria lain. “Gak ada takut-takutnya jatuh miskin tuh orang!" Gerutu Silvi yang kemudian pergi dari kamar Mama Soraya.
Sudah satu jam lebih Nara duduk di atas sofa kamar sembari memainkan ponselnya. Sebenarnya gadis itu sudah sangat mengantuk, tetapi melihat mata Elang masih keep strong.
Membuatnya jadi ekstra waspada. Nara bukan gadis bodoh yang tahu arti malam pengantin. tak
Sampai kapan pun Nara tidak akan siap melakukan hal yang menjurus ke intim bersama dengan Elang. Selagi di hati Nara belum ada rasa cinta. Dia tidak akan kembali terlena. Cukup sekali saja Nara merasa terperdaya dan khilaf. Kali ini ia pastikan tidak akan istilah kebablasan lagi untuk yang kedua kalinya.
"Ra!" Panggil Elang dengan nada yang terdengar kesal.
"Hm.."
"Lo gak capek dari tadi mantengin ponsel terus? Istirahat gih-besok kita harus bangun pagi. Lo gak denger tadi Oma bilang apa?"
Nara menaikkan sebelah alisnya lalu melirik Elang dengan wajah terangkat rendah. "Wajib stand by di meja makan jam 6 pagi 'kan?" Elang mengangguk. Membenarkan ucapan Nara.
"Ya udah tinggal bangun jam 5. Apa susahnya," lanjut Nara yang kemudian kembali menunduk, fokus pada ponselnya. Berbalas pesan dengan Ghea yang masih antusias menanyakan drama nikah grebeknya hari ini.
Elang berdecak kesal lalu loncat dari atas ranjangnya. Melangkah mendekati Nara. "Lo mau tidur dengan cara lo sendiri atau dengan cara gue?"
Nara seketika mendelik, bergegas lari ke arah ranjang. Menaruh ponselnya di atas nakas, setelah itu berbaring di atas ranjang king size milik Elang. Tidak lupa, Nara juga memberi pembatas guling di tengah-tengah ranjang. Nara khawatir, Elang akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya nanti. "Lo gak boleh ngelewati batas guling ini!" Tunjuk Nara pada guling yang hanya diam pasrah menyaksikan drama pasangan pasutri muda absurd itu saat ini.
Tersenyun miring. Cowok itu menatap Nara dengan tatapan penuh arti. "Tenang aja gue gak bakalan ngelunjak malam ini. But.. kalau pas gak lagi khilaf!" Balas Elang bak iblis tampan yang sedang mengincar mangsanya.
"Lo itu! Uuukh!" Geram Nara dengan tangan yang terangkat di udara. Rasanya Nara ingin mencabik-cabik wajah tampan Elang yang semakin lama semakin menyebalkan di matanya.
Elang tertawa puas melihat Nara tampak frustasi. Namun sedetik kemudian tawa itu meredup saat mengingat gadis itu saat ini tengah hamil anaknya. " Tidur Ra! Sebelum gue berubah pikiran!" suruh Elang dengan nada penuh ancaman.
"Ya elonya tapi jangan macem-macemin gue! Lo bikin gue stres Elang!" keluh Nara yang memang tampak lelah.
"Iya iya enggak. Sekarang merem, atau lo mau gue peluk dulu biar bisa tidur nyenyak?"
"Elaaaang!"
"Fine enggak."
Setelah kekesalan Nara yang mencapai puncak barusan. Elang tak menganggu lagi gadisnya. Ia memilih untuk ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Nara. Jelas dengan guling sebagai penyekat di antara keduanya.
Lama Elang memejamkan mata. Tapi tidak kunjung bisa menyelami alam bawah sadarnya. Yang ada ia malah membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Argh!" Memukul kepala dengan sedikit kesal, Elang menarik selimut sampai menutupi seluruh kepalanya. Membuat Nara yang belum terlelap jadi ikut heran sendiri dengan gerak-gerik Elang yang tak tenang sedari tadi.
Usaha Elang untuk mengistirahatkan raganya benar-benar gagal total.
Bagaimana tidak? Kalau yang ada di dalam otaknya sedari tadi adalah bayangan akan iklan susu rasa buah-buahan. Mulai dari susu rasa buah melon, semangka dan pepaya bangkok. Parahnya lagi, yang terakhir malah iklan susu kambing etawa yang bisa di teguk langsung dari sumbernya!
"Sial!"
Elang segera membuka selimutnya lalu menoleh kesamping. Dilihatnya punggung Nara yang tampak membelakanginya dengan tatapan kehausan.
"Ra?" Panggil Elang.
"Apaan lagi? Gue ngantuk Elang!"
"Mendadak gue jadi haus!"
"Minum lah! Kenapa malah curhat!" kesal Nara.
Elang mendengus. Kemudian membuang guling yang menjadi pembatas di tengah-tengah mereka.
"Lo gak peka banget sih jadi istri." Nara mengerang geram. Dengan mata yang sudah sangat sayu akhirnya ia bangkit dari ranjang. Namun, tiba-tiba tangannya di cekal dan tubuhnya dihempaskan ke atas ranjang.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan Elang!
"Lo mau ke mana?"
"Tadi katanya haus!"
Elang mengangguk. “Ya udah lepasin ini tangan lo, gue ambilin air putih di bawah!"
Ya ampun Nara kenapa harus jauh-jauh sih. Elang kan mintanya yang di putar langsung dari sumbernya, bukan dari dispenser.
"Tapi gue maunya minum susu Ra. Bukan air putih!" Nara berdecak, lalu menepis tangan Elang dengan kasar.
"Iya gue bikinin. Mau susu panas atau dingin?”
Elang mengacak rambutnya frustasi. Lalu berguling ke atas ranjang, tidur membelakangi Nara. "Argh! Tersera lo deh. Gue capek!"
'Capek- Nahan hasrat sialan ini Raa!' imbuhnya. Nelangsa.
Nara melongo, bingung dengan sikap Elang yang sangat aneh.
"Gak jelas!" Malas meladeni Elang yang entah merajuk karena apa. Nara akhirnya memilih untuk tidur kembali dan memejamkan mata.
__ADS_1