My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
31.skandal panas silvi


__ADS_3

Memanyunkan bibir dengan wajah di tekuk, sepagi ini wajah cantik Nara harus terlihat seperti asam cuka jawa, masam.


Sementara yang telah membuat kekecutan di wajah Nara malah menyanyi dengan mengeraskan audio pada mobilnya. Seperti tak punya dosa dan beban hidup.


Percuma Nara mengomel, menangis, meraung-raung kalau musuh terbesarnya adalah Elang Bimantara. Si begundal yang tidak akan pernah sadar diri kalau dirinya itu sangat menyebalkan.


"I need somebody who can love me at my worst. No, I'm not perfect, but I hope you see my worth, yeah 'Cause it's only you, nobody new, I put you first ..” lagu dari Pink Sweats berjudul 'At My Worst' itu Elang nyanyikan sangat merdu, sesekali cowok itu juga menggoda Nara dengan memainkan jemari lentiknya di angkat-angkat ke udara.


Membuat sang empu hanya bisa pasrah dengan kegilaan suaminya pagi ini.


"Elaaang! Awas!" Jerit Nara saat melihat Kakek-kakek ingin menyebrang jalan.


Ciiiit


Dengan gerakan cepat Elang langsung menaruh sebelah tangannya pada dasbor mobil. Ia tidak akan membiarkan kepala Nara terbentur karena kecerobohannya.


Bruk!


"Lo gak papa kan Ra?"


Dengan tatapan cemas, Elang langsung menangkup kedua sisi pipi Nara, memeriksa wajah gadisnya itu teliti.


"Nyetir pakai mata!" Nara memukul Elang yang masih setia menatapnya dengan tegang.


"Iya gue salah. Kepala lo gimana?" Nara menggeleng pelan, pertanda ia dalam keadaan baik-baik saja.


Melihat hal itu napas Elang langsung terhembus lega, ia mengusap puncak rambut Nara dengan lembut lalu bersandar pada jok mobil.


"Kalau mendadak pusing bilang gue," Nara memutar bola matanya jengah, Elang itu sangat lebay sekali. Tadi kan yang terbentur dasbor tangan cowok itu sendiri. Jadi tidak mungkin kan kalau kepala Nara tiba-tiba yang cedera.


"Cepetan berangkat! Kurang lima belas menit lagi gerbang udah di tutup Elang. Lo pagi ini ngedrama banget!" Keluh Nara.


Elang terkekeh lalu mengangguk, "let's go!" jawabnya dengan menginjak gas pada mobilnya.


Tidak ada perbincangan atau perdebatan lagi setelah insiden barusan. Elang benar-benar membawa mobilnya dengan tatapan fokus ke arah jalanan, sampai memasuki gerbang tinggi sekolahan.


Baru juga tiba di parkiran sekolah, perhatian Nara langsung tersita oleh keributan yang teman-temannya lakukan di tengah-tengah halaman sekolah.


"Gak usah ikut-ikutan. Inget lo lagi hamil," Elang memperingatkan.


Nara menoleh dengan kedua alis yang saling bertautan, bingung.


"Emangnya itu lagi ada apa?" Elang mengangkat bahunya rendah, sok pura-pura tidak tahu menahu dengan apa yang sedang terjadi di tengah halaman sekolah.


"Kita langsung ke kelas." Nara mencebik, tetapi tetap menurut dengan ucapan cowok itu. " Tunggu gue dulu, baru turun!" Perintah Elang berhasil membuat Nara menghela napas dalam-dalam.

__ADS_1


Sabar.. mungkin ini resiko memiliki suami seprotektif Elang. Kalau pun Nara membangkang, nanti ujung-ujungnya dia sendiri yang bakalan rugi. Karena cowok itu pasti mempunyai sejuta akal licik untuk membalasnya.


"Turun Ra." Suruh Elang saat pintu mobil sudah terbuka, Nara mengangguk tipis lalu segera turun dari mobil.


"Gak usah lihat ke sana. Anggep aja mereka lagi demo minyak goreng!" Lagi, Nara hanya bisa mencebik.


"Gue setuju ***** ini di DO dari SMA Cakrawala guys!"


"Iyalah .. gila aja ini sekolahan elite mau nampung jalangnya SMA Pancaloka? Najis! Bikin malu penghuninya yang suci-suci!"


"Bilang aja lo sekarang udah miskin! Gila sih? Tapi gak usah sampai ngejalag juga dong!"


"Eh kalau dia jatuh miskin, harusnya Nara juga gong! Kan mereka berdua satu atap satu bapak!"


"Beda bapak kali ye! Kalau Nara kan emang asli anaknya Bapak Zain Azkara. Kalau dia kan kagak jelas. Aji mumpung aja emaknya dinikahi sama bokapnya Nara!"


"Huuuuu!!"


Langkah Nara seketika terhenti, telinganya masih bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang teman-temannya itu bicarakan. Tanpa mempedulikan peringatan yang Elang lontarkan tadi padanya, Nara langsung putar badan dan lari menuju ke kerumunan anak-anak di tengah halaman sekolah.


"Nara!" geram Elang.


"Minggir!" Nara menerombol gerombolan siswa/siswi yang sedang melingkar lebar di tengah-tengah halaman, dengan perasaan gelisah.


"Ra! Lo gak usah peduli sama dia. Dia tuh *****!"


Telur, tepung dan saos tomat bersatu jadi satu di atas rambut gadis itu. Belum lagi mata Nara harus melihat foto-foto yang sangat menjijikkan berjatuhan di atas tanah pavling.


500


"Ra.. tolongin gue," pinta Silvi dengan wajah mengiba.


"Gak punya muka lo! Kalau gue jadi lo Ra, ogah banget!" seloroh salah satu siswi yang kebetulan satu kelas dengan Nara.


"Emang muka tembok! Urat malu udah putus!"


"Diam!" Bentak Nara.


"Kalian gak berhak hakimi dia kayak gini!" Geram Nara dengan menatap tajam seluruh siswa/i yang mengerubungi silvi.


"Hiks! Gue di jebak Ra.” Cicit Silvi mengeluarkan jurus baling-baling bambu, pura-pura jadi lembu.


Nara menggelengkan kepalanya pelan, ia tahu Silvi sedang berakting saat ini. Sejujurnya, Nara sudah lelah dengan tingkah gadis tak beradab itu.


Tetapi membiarkan saudari tirinya seperti sampah tak berguna di tengah-tengah halaman sekolah seperti saat ini juga membuatnya tidak tega.

__ADS_1


"Ayo!" Nara mendekat, sembari mengulurkan tangannya.


Silvi bernapas lega, ia bergegas meraih tangan Nara. Namun sebelum hal itu benar-benar terjadi, Elang lebih dulu menarik tangan Nara dan memeluk pinggangnya posesif.


"Sampah seperti lo gak pantes nyentuh milik gue!"


Jlep


Nara mendelik dengan penuturan Elang barusan, suara heboh pun mulai terdengar berkumandang, memekakan telinga Nara yang tengah berada di dekapan elang.


"Oh my ghost! Gue gak salah denger kan?"


"Gak gak! Ini pasti salah!"


"Tandai hari ini sebagai hari berkabung besti!”


Silvi memandang gerah Nara yang ada di pelukan Elang. Belum lagi suara-suara lucknut yang keluar dari mulut gadis-gadis di sekitar halaman sekolah.


Ibaratnya - saat ini Silvi sedang jatuh dari atas tangga masih tertimpa beton baja pula. Mengsedih sekali bukan? Tapi ini memang pantas gadis licik itu dapatkan. Mengingat tujuan awalnya adalah merebut Elang dari sisi Nara dengan cara yang kotor.


"Oh God! Ternyata dari sini asal bau bangkainya?" Celetuk Ghea yang baru datang bersama Jonathan.


"Busyet! Lo mau open BO disini Sil?" Jonathan berjongkok, lalu mengambil salah satu foto Silvi yang sedang tertidur dengan Romi dalam satu selimut.


Cowok itu sengaja mengangkatnya tinggi-tinggi, seolah foto itu adalah bendera perang yang sedang berkibar.


"What? Silpong lo gak waras! Emangnya uang jajan dari bokapnya Nara kurang? Sampai-sampai lo kesandung kasus esek-esek begindang?" Sambung Ghea seakan sebuah bara api yang membakar wajah Silvi.


"Permisi.. permisi! Inces Luluk mau lewat, permisi!"


Nara memejamkan matanya, bisa di pastikan. Kalau Lukman datang, berita ini akan menyebar ke mana-mana. Si laki-laki gemulai itu adalah biangnya gosip di sekolah ini.


Jika Lukman sudah menjatuhkan ultimatum, bisa di pastikan sekolahan luar pun akan segera mengetahui skandal menjijikkan ini.


"Well well well .. Akika cacamarica bau-bau sengak bawang malhotra ternyata dari sini sumbernya!" Cerocos foto copyan sist lucinta meong itu sembari mengarahkan kamera mahalnya pada si Silvi yang sedang berusaha kabur dari bidikan kamera Lukman.


"Hey you stupid! Jan kabur ye, mau kemandose akikah bakalan kejar you sampai ketumbar(ketemu)!"


"Anjay!" Jonathan tertawa geli mendengar bahasa planet yang cowok jadian-jadian itu lontarkan.


"Silpi! Berhenti kagak! You bikin akikah merekah! Hiih!" Teriak Lukman yang sedang berlari-lari melambai mengejar Silvi.


Dan sialnya, langkah Silvi harus terhenti ketika melihat Papa Zain pagi ini tiba-tiba ada di sekolahnya.


"Papa .." gumam Silvi dengan tatapan mengiba.

__ADS_1


Ada sedikit rasa kasihan di hati Zain ketika melihat Silvi dalam keadaan mengenaskan seperti saat ini. Tetapi mengingat apa yang sudah dia perbuat pada Nara, membuat emosinya kembali tersulut dan memandang gadis itu tak kalah jijiknya seperti memandang rendah ibu kandungnya.


"Saya bukan Papa kamu!"


__ADS_2