My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
32.pisang raja dan pisang barlin


__ADS_3

lukman yang masih on dengan kameranya langsung menganga mendengar klaim sadis dari pria hot yang ada di depan Silvi.


"Matiin kamera lo! Dia mertua gue!" Bisik Elang dengan nada penuh pengancaman.


"Ukh! Ayang Elang! Suka ganggu kesenangan Luluk deh! Jadi dia Bapaknya si princess Nara? Ulala.. bagi nomornya dong!"


"Matiin kamera lo atau gue bikin geser kepala lo sekarang juga!"


"Ya unta.. iya iya, demi Ayang, Luluk matiin nih "


Tanpa sadar Nara langsung mengusap perutnya, jangan sampai calon anaknya berperilaku seperti si uget-uget Lukman!


Elang menggenggam tangan Nara erat, lalu menghampiri Papa Zain. Senyum pria paruh baya itu langsung mengembang, melihat sang putri menghampirinya bersama Elang.


"Papa." Papa Zain mengangguk, langsung memeluk Nara dengan penuh kasih sayang.


"Maafin Papa belum bisa balas pesan kamu, Papa sibuk sayang." Nara tidak peduli dengan alasan Papa Zain, yang terpenting saat ini Nara bisa memeluk beliau.


Iri? Sudah pasti Silvi rasakan, dada Silvi seolah terbakar melihat pemandangan di depannya saat ini.


Rasa benci yang sudah memupuk pada Nara itu semakin mendarah daging. Harusnya dia lah yang mendapat semua kasih sayang dan perhatian itu dari Papa Zain dan Elang.


Bukannya Nara!


Cih, tidak tahu diri!


"Gue gak bakalan nyerah!" Gumam Silvi, perlahan pergi meninggalkan halaman sekolah yang mendadak seperti hawa neraka baginya.


"Papa ada kepentingan apa ke sekolah?" tanya Elang yang sedari tadi berada di belakang Nara.


Papa Zain perlahan mengurai pelukannnya pada Nara.


Bergantian memeluk Elang erat. Menepuk pundak cowok itu, seolah berterima kasih karena sudah menggantikannya untuk menjaga Nara.


Dan percayalah – interaksi - antara Elang dan Papa Zain barusan membuat semua siswa/i kembali dibuat terkejut dan heboh.


Mereka semakin yakin kalau berita yang pernah ramai beberapa hari yang lalu tentang pertunangan Elang dengan cucu sahabat Kakeknya itu, orangnya adalah Naraya.


Secara beberapa hari ini Elang begitu dekat dengan Nara, di tambah lagi pagi ini perlakuan yang diberikan Papa Naraya kepada Elang begitu hangat. Fix! Kaum hawa semakin menciut untuk maju setelah ini.


Saingan mereka benar-benar berat. Naraya itu gadis tercantik dan paling pintar di SMA Cakrawala. Rasa-rasanya mereka ingin undur diri saja kalau lawannya si perfect Nara.


Begitupun dengan kaum Adam yang sudah lama memiliki perasaan pada Nara, ibarat kangkung yang tersiram air panas. Tubuh mereka langsung loyo kalau harus bersaing dengan si begundal Elang. Most wanted SMA Cakrawala yang tak pernah mengenal kata ampun pada lawannya.


"Nara .. kenapa harus lo sih? Harapan gue semakin setipis saringan tahu kalau kayak gini.”


"Elnara .. gak sih? Gue gak masalah lah gak di nikahi Elang. Yang penting kawal mereka sampai halal!"


"Tapi.. tapi bias Elang terlalu berkarak di hati gue gimana dong?"

__ADS_1


"Lo gak lihat! Saingan berat noh!"


Begitulah riuh gadis-gadis alay yang masih mempeributkan hubungan antara Elang dan Nara. Ada yang mendukung ada pula yang masih belum ikhlas.


Kembali pada Papa Zain dan Elang.


"Papa ke ruang Kepala sekolah dulu kalau gitu. Nanti ke rumah ya, Papa mau makan-makan sama kalian." Pamit Papa Zain pada akhirnya setelah memberi tahu alasannya kepada Elang dan Nara saat ini kenapa datang ke sekolah.


"Oke Pa." Jawab Elang seraya merangkul pundak Nara.


"Gak usah kumat!" Ketus Nara, menepis tangan Elang yang menyampir di bahunya kasar.


"Anak Papa galak banget. Suka main kdrt," adu Elang pada Papa Zain.


Papa Zain sontak tertawa dan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mirip almarhumah Mamanya dulu, galak-galak tapi aslinya mah manja.”


"Papa!" kesal Nara yang jelas malu gila lah! Bisa-bisanya Papa Zain berkata seperti itu pada cowok segila Elang. Bisa semakin melambung di atas awan saja si resek itu nantinya.


"Canda sayang.” Papa Zain mengacak poni Nara dengan gemas, lalu benar-benar pamit untuk pergi ke ruang Kepsek. Menghadiri panggilan atas kasus Silvi yang sudah menyebar ke seluruh sekolah.


"Apa lo! Sana duluan, gue mau ke toilet bentar." Usir Nara.


"Mau gue anter?"


"Gak!"


"See.." geram Nara menatap kepergian suaminya itu dengan perasaan luar biasah jengkelnya.


"Raaa!!" teriak Ghea.


Ghea berlari kecil menyusul Nara yang sudah berjalan menuju arah toilet siswi.


"Bebe.. tungguin!" teriak Ghea.


"Gue udah kebelet banget.” Jawab Nara tanpa menghentikan langkah kakinya.


Kantin sekolah..


Berita Silvi sudah tersebar luas. Ghea beberapa kali menyodorkan ponselnya pada Nara, memberitahu isi sosmed dari Gc anak-anak sekolah luar yang tengah menggunjing si Romi dan Silvi.


"Heran gue! Siapa yang udah nyebarin foto-foto mereka berdua sih." Komentar Nara sontak membuat Jonathan tersedak batagor yang hampir meluncur ke dalam kerongkongannya.


Ghea melotot, memberi kode pada kekasihnya itu agar tetap bersikap normal.


Jangan sampai Nara tahu kalau pelakunya adalah si hacker Jonathan. Tapi kalau masalah foto yang tertempel di mading sekolah pagi tadi, itu pyur kerjaan antek-antek Elang dan Galuh. Jo tidak ikut-ikutan.


Dia hanya bertugas menyebarkan foto skandal panas itu di akun-akun sosmed. Juga nomor siswa/i sekolahan. Jonathan memang ahlinya kalau soal hacker-menghecker.


"Jangan bilang orang itu lo, Jo?" duga Nara dengan mata menyipit, curiga.

__ADS_1


"Sembarangan deh lo Bege! Jo gak bakalan segila itu! Cowok gue masih seratus juta persen waras! Yang gue omongin bener kan By?" Jonathan mengangguk dengan cepat, sebagai jawaban yang Ghea lontarkan.


'Hem.. bagus! Tanpa sadar lo udah ngatain gue gila By!' batin Jonathan, melirik Ghea dengan gemas.


"Suapi gue!"


Elang membuka mulutnya menyuruh Nara untuk menyuapinya. "Makan sendiri! Tangan lo kan ada dua Elang. Masih berfungsi dengan baik lagi." Dumel Nara yang pada akhirnya teralihkan oleh tingkah manja Elang.


"Gue gak suka di bantah Nara. Lo mau gue bikin kembung disini ?" gertak Elang.


Nara mendelik, memukul Elang dengan kesal. Lalu mendekatkan bibirnya pada sebelah telinga Elang. “Gue bisa minta ajari Oma jadi dokter bedah! Kalau mulut lo masih suka bicara jahanam Elang!"


Glek!


Menelan ludah dengan kasar, tatapan Elang yang tajam itu seketika meredup.


"Emangnya lo siap kalau punya gue yang sebesar pisang Raja ini berubah jadi pisang barlin Ra? Nanti lo gak puas lagi.” Salah besar! Kalau Nara menganggap cowok segila Elang akan takut dengan ancamannya.


Yang ada, cowok itu malah semakin menjadi-jadi. Membuat darah Nara semakin mendidih. Dan kepalanya terasa berasap.


"Gue cantik Elang kalau lo lupa. Jadi, gue masih bisa cari suami lagi!" skak mat. Elang mendapatkan lawan yang sepadan kali ini untuk menyeimbangi kegilaannya.


Brak!


"COBA SAJA! PALINGAN KALAU GAK MATI - LAKI LO GUE BUAT MEMBUSUK DI KERAK NERAKA!"


Ghea dan Jonathan melongo. Degup jantung mereka berdua masih berdebar-debar karena inseden gebrakan meja barusan.


"Hem.. emang lo harusnya membusuk di kerak neraka Elang! Freak!" tuding Nara yang saat ini sudah berdiri tegak di depan Elang. Lalu meninggalkan cowok itu dengan perasaan kesal juga campur malu.


"Bukan gue! Tapi suami lo!" bentak Elang emosi, cowok itu mengacak rambutnya kasar, frustasi.


Ghea geleng-geleng kepala, lalu bangkit dari duduknya. " Artinya - orang itu emang lo sendiri dodol!"


Elang menautkan kedua alisnya, berpikir. Sebelum akhirnya melotot, menyadari kebodohannya sendiri.


“Tunggu aja, prediksi gue. Lo matinya kalau gak gantung diri mentok minum racun serangga!" ledek Jonathan yang langsung di hadiahi tatapan membunuh oleh Elang.


"Fu*k!" umpat Elang, setelah itu segera pergi dari area kantin. Yang penduduk keseluruhannya masih terbengong-bengong tanpa berani berkomentar.


Ting


Nara yang sudah berada di depan kelas terpaksa menghentikan langkahnya. Merogoh ponselnya untuk melihat pesan yang masuk.


Elang Temui gue di taman sekarang! Membantah, habis lo nanti malem!


Nara mencebikkan bibirnya saat melihat pesan masuk yang berisi ancaman dari Elang. Dengan perasaan dongkol, gadis yang tengah membawa bibit unggul dari pewaris Bima Corp itu akhirnya berbalik badan. Menemui suaminya yang entah sedang merencanakan apa lagi di taman belakang.


'Baby! Harusnya kalau kamu mau hadir .. pilih-pilih calon Papa yang sedikit waras dikit dong!' ratap Nara tanpa sadar memegangi perutnya yang masih rata.

__ADS_1


__ADS_2