
Mau protes pun rasanya Mama Naya juga tidak ada gunanya. Karena keputusan Ayah mertuanya itu adalah mutlak.
"Naya lihat Elang sebentar di lantai atas Yah, Bu." Pamit Mama Naya dengan wajah yang terlihat sangat kecewa.
"Pastikan dia tidak kabur. Oh iya bilang juga, besok tidak usah sekolah."
"Nanti Naya sampaikan Bu," Mengangguk, Oma Gayatri mempersilahkan menantunya untuk pergi terlebih dahulu.
Dengan langkah gontai Mama Naya naik ke lantai dua. Beliau langsung masuk ke dalam kamar Elang. Dari aroma minyak angin yang merebak memenuhi ruangan putanya, beliau bisa menebak kalau Elang masih dalam keadaaan tidak baik-baik saja.
"Bau minyak angin, astaga!” Gumam Mama Naya. "Lang.. Elang! Kamu di mana Nak?" Lanjut Mama Naya memanggil sang putra.
"Balkon kamar Ma!"
Mendengar suara Elang napas Mama Naya terhembus lega. " Mama pikir kamu pingsan di toilet Elang," bukan tanpa alasan Mama Naya berpikir seperti itu. Karena beberapa hari yang lalu beliau menemukan Elang terduduk lemas di dalam kamar mandi.
"Ngapain kamu?" Tanya Mama Naya.
Elang yang sedang memejamkan mata sembari menutupi wajahnya menggunakan sweater Nara sontak membuka matanya.
"Nyari angin malam," jawab Elang asal.
Mama Naya menaikkan sebelah alisnya sembari mendekati putranya. “Ini jaket rajut milik siapa?" Tanyanya menyelidik. Lalu mengangkat sweater warna dusty pink itu tinggi-tinggi dari wajah Elang.
Elang berdecak, merebut sweater Nara dari tangan Mama Naya dengan kesal. "Punya Nara."
Mendengar jawaban putranya, Mama Naya langsung menepuk jidatnya, kacau.
Fix! Feeling Mama Naya akurat. "Apa dengan wangi-wangian yang melekat pada baju itu kamu tidak merasa mual Lang?" Elang langsung mengangguk, membenarkan ucapan Mama Naya.
"Sedikit membantu," ujarnya dengan senyum yang tersungging
tipis. "Gitu ya? Em- Lang. Nenek tadi pesen sama Mama besok kamu izin dulu gak sekolah bisa?"
Tatapan Elang seketika menajam, ia sudah waspada dengan permintaan Oma Gayatri pada Mamanya. "Untuk?" Tanya Elang dingin.
"Mama juga gak paham Elang. Yang jelas beliau pesen sama Mama seperti itu. Kamu nurut sekali ya Nak, sekali ini saja. Mama capek harus mendapat cacian dari Oma Gayatri, karena di anggap gak becus mendidik kamu." Pinta Mama Naya memelas.
Membuang napas dengan kasar, Elang meraih tangan Mama Naya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Kita lihat saja apa rencana orang tua itu Ma. Mama gak perlu khawatir, Elang kali ini bakalan ikutin kemauan mereka."
"Makasih Nak karena mau mengerti posisi Mama disini," Elang tersenyum tipis kemudian mengangguk.
'Kakek salah besar cari masalah sama gue!'
Keesokan harinya. Tidak seperti biasanya. Elang turun dari lantai atas dengan pakaian yang begitu rapi. Tetapi tidak merubah surai legam cowok itu yang masih menunjukkan ciri khasnya, yakni tertata acak-acakan.
"Sudah siap?” Tanya Kakek Damar dengan pandangan bangga pada cucu kesayangannya.
"Seperti yang Kakek lihat. Elang tepat waktu 'kan?" Tanyanya setengah mencibir.
Dengan terkekeh pelan Kakek Damar menggelengkan kepalanya.
"Kamu memang kebanggaan Kakek." Rasanya Elang ingin tertawa meledek mendengar pujian yang Kakek Damar lontarkan untuknya.
Elang menganggap ia bukanlah cucu kesayangan pria tua bangka itu. Melainkan boneka wayang yang siap untuk dijadikan mainannya.
"Berangkat sekarang?" Tanya Papa Alam sembari menepuk-nepuk pundak putranya.
__ADS_1
"Oma harap nanti kamu bisa jaga sikap Elang,” tak ada jawaban dari bibir Elang. Cowok itu lebih memilih fokus pada layar ponselnya. Sejujurnya saat ini Elang begitu kesal dengan Nara. Karena gadis itu tidak juga memberikannya kabar baik.
Mobil yang membawa rombongan keluarga kolongmerat Bimantara itu pun akhirnya sampai pada tujuan.
Semua karyawan Bima hotel serempak menunduk saat keluarga terpandang tersebut memasuki bangunan mewah yang pagi ini akan menjadi saksi bisu pertemuan dua sahabat untuk mengikat cucu-cucu meraka dalam sebuah perjodohan.
“Apa tamu saya sudah datang ?" Tanya Kakek Damar.
"Sudah Tuan Besar. Sekitar lima belas menit yang lalu," jawab resepsionis hotel.
Kakek Damar mengangguk dengan wajah datarnya. Dengan langkah terhentak penuh wibawa beliau menuju ruang president suite. Menemui tamu spesialnya, yaitu Kakek Malik.
Siapa yang menduga, saat sedang berjalan di lorong hotel, Elang berpapasan dengan sepasang suami istri yang menggunakan wangi-wangian begitu menyengat indera penciumannya. Dan hal itu membuatnya langsung mual seketika.
"Sial!" umpatnya kesal.
"Kenapa?" Tanya Mama Naya.
"Elang ke toilet sebentar," singkat Elang sembari memegangi perut atasnya yang terasa di aduk-aduk.
"Mau Mama temenin?" Tawar Mama Naya yang di jawab gelengan kepala dari Elang.
"Jangan coba-coba kabur Elang! Oma tunggu di president suite!"
Karena sudah tidak tahan merasakan mual yang menghantam perutnya. Elang pun akhirnya tak mendengarkan pesan Oma Gayatri dan sialnya lagi, ia tak sadar malah memasuki toilet wanita. Untung saja keadaan toilet saat ini sedang sepi.
"Huek!"
"Huek!"
"Bangsat! Kenapa nyiksa banget," kesal Elang sembari membasuh wajahnya dengan air dari kran.
Elang memelototkan matanya. Ia begitu mengenali suara merdu milik gadis ini. Tanpa pikir dua kali, Elang segera keluar dari kamar mandi. Dan benar saja dugaannya, gadis itu adalah Naraya.
"Gak! Mana mungkin gue bisa nerima perjodohan sialan ini. Kalau di dalam perut gue udah ada- ada .. Aaa Elang sialan! Ini semua gara-gara lo brengsek!"
Deg
Jantung Elang seakan terbang dari sarangnya. Ucapan Naraya barusan membuatnya seakan ingin menangis dan tertawa secara bersamaan.
"Sorry Elang! Gue gak bisa ngecewain Kakek," Nara membuka slim bagnya lalu meraih benda kecil yang pagi ini ingin ia berikan pada Elang. Namun setelah mengetahui niat Kakeknya saat ini. Nara jadi berniat ingin membuangnya.
"Pengecut!"
Deg
Deg
Nara mematung melihat seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu toilet paling ujung. Tangannya mendadak gemetaran, kakinya seakan terpatri pada lantai yang sedang ia pijaki.
"Elang.."
Dengan langkah lebar, Elang mengikis jarak mendekati Nara.
"Lo hamil anak gue 'kan?" Tanya Elang tersenyum miring.
Gugup. Gelisah! Itulah yang Nara rasakan saat ini. Kakinya perlahan mundur, degup jantungnya terasa berdebar hebat.
"Bukan urusan lo!" Jawab Nara sembari menggenggam alat kecil yang ada di balik tangannya.
__ADS_1
Bibir Elang tersungging tipis, senyuman maut yang selalu meluluhkan syaraf kaum hawa itu sengaja Elang tebar demi membuat pertahanan Nara runtuh.
"Gue bapaknya! Lo jangan coba-coba pisahin gue sama dia!” Nara tercengang mendengar ucapan Elang.
Ditambah posisi cowok itu yang benar-benar sudah berada tepat di depan wajahnya. Membuatnya tak berdaya.
Nara mati kutu!
Merasa tidak ada pergerakan dari Nara, Elang segera merampas benda kecil tersebut dari tangan Nara dengan sekali tarikan.
Nara mendelik menyadari tespack yang ia sembunyikan sudah berpindah tangan.
"Elang! Kembaliin!"
Elang tersenyum penuh kemenangan saat melihat ada dua garis merah yang tertera jelas di alat tersebut.
"Kena lo! Selamat terperangkap dengan gue selamanya Naraya!" Nara mendengus, Bisa-bisanya cowok itu malah bahagia diatas kehancurannya.
"Lo gak usah berharap lebih dengan kehamilan gue Elang! Karena gue udah nerima perjodohan yang Kakek gue buat sama sahabatnya. Mungkin, gue mau gugurin ja-nin ini aja!" Jelas Nara seketika membuat kedua tangan Elang terkepal kuat.
Bugh!
Sebuah pukulan berhasil Elang layangkan pada dinding kamar mandi. Nara memejamkan matanya, sepertinya dia sudah salah bicara.
"Ngomong apa lo barusan!" tanya Elang dengan kilatan amarah yang terlihat jelas pada netra tajamnya.
"Gue .. gak bisa lihat Kakek, Nenek gue kecewa Elang!"
"Apa dengan cara membunuh?" Tanya Elang dengan nada yang terdengar mengerikan.
Perlahan Nara memberanikan diri untuk membuka matanya. Dan hal yang pertama kali Nara dapatkan saat membuka matanya adalah sebuah raut wajah marah dan kecewa dari seorang Elang.
"Sorry!" Pandangan Nara tertunduk. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Pilihan yang harus Nara ambil saat ini sangat membingungkan.
Nara serba salah!
"Dimana Kakek lo sekarang?" Tanya Elang.
"Lo mau apa?"
"BILANG SAMA GUE
DIMANA KAKEK LO SEKARANG !"
Nara terkesiap, degup jantungnya kembali berpacu dengan cepat. Ini pertama kalinya Elang berbicara sekeras dan sekasar ini padanya.
"President suite." jawab Nara lirih.
Tanpa pikir panjang, Elang segera menarik tangan Nara dan membawa gadis itu pada ruangan yang disebutkannya tadi. Persetan dengan Kakek Neneknya saat ini yang tengah menunggunya.
Urusan Nara jauh lebih penting dari apapun. Apalagi saat ia tahu Nara sedang membawa benih berharganya. Jangan harap ada yang bisa memiliki gadis itu selain dirinya.
"Lang, please jangan bikin kekacauan. Lo bikin gue takut!"
"Lo belum tahu 'kan gue bisa senekat dan segila apa Ra?!"
Menelan ludah dengan susah payah, Nara akhirnya pasrah dengan apa yang akan Elang lakukan setelah ini padanya.
'Matilah riwayat gue!'
__ADS_1