My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
13.perdebatan sengit


__ADS_3

Dengan mengendarai mobil secara kebut - kebutan pagi itu Elang dan Galuh segera pulang ke Jakarta . Jelas di ikuti semua pasukan di belakangnya . Berita dari Mama Naya pagi ini membuat Elang baru merasakan takut yang sangat besar .


Ia masih ingat betul kejadian 3 tahun yang lalu . Dimana , Kakek Damar pernah mengalami serangan jantung akibat gudang pada pabrik tekstil milik keluarganya kebakaran . Ada secuil nasihat Dokter yang membuat Elang begitu cemas saat ini .


" Argh ! Pasti Papa udah bilang semua sama Kakek ! " Kesal Elang sembari memukul setir bundar pada mobilnya .


Kecemasan begitu Elang rasakan ! Jika sampai terjadi sesuatu dengan Kakek Damar , Elang tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri . Alasannya- jelas karena rencananya pasti akan gagal total untuk menikahi Nara .


Elang paham betul watak Oma Gayatri . Nenek tua itu pasti akan mengungkit - ungkit masalah ini sampai Elang mau insyaf dan menurut pada mereka berdua . " Sial sial sial ! " umpatnya .


Satu jam lebih Elang melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang tampak ramai nan macet . Bibirnya tak berhenti komat kamit di sepanjang perjalanan . Ia masih berharap . Semoga , Kakeknya yang galak itu hanya syok bukan terkena serangan jantung .


" Huh ! " Menghembuskan napas dengan kasar , mobil Elang akhirnya sampai juga memasuki area rumah sakit . Elang dan Galuh segera keluar dari mobilnya masing - masing .


" Yank gue takut .. " rengek Jia . Asal kalian tahu , sampai saat ini Jia begitu takut bertemu dengan Kakek dan Nenek dari Elang dan Galuh tersebut .


Bukan tanpa alasan , menurut Jia kedua lansia itu begitu dingin dan menakutkan . Selama Jia menikah dengan Galuh . Percakapan yang pernah terjadi antara Jia dan kedua sesepuh itu hanya bisa di hitung dengan jari . Bagi Jia Kakek Nenek Galuh itu berbeda sekali dengan Kakek - Nenek yang ada di luaran sana .


" Gak usah takut , ada gue Yank , " Jia akhirnya mengangguk dengan pasrah . Mau bagaimana pun mereka berdua juga tetap orang tua dari Mama Intan . Jia tidak mau di katakan cucu menantu yang durhaka .


" Jia ! " panggil Papa Dirta .


Jia menghentikan langkah kakinya , mencari suara dari Papa mertuanya . Setelah celingukan ke kanan dan kiri , akhirnya yang Jia cari ketemu juga .


" Loh Papa sama Kinan .. " ucap Jia sembari berlari kecil , menghampiri Papa Dirta .


" Kamu disini saja sama Kinan . Gak baik naik ke atas , banyak penyakit ! " ujar Papa Dirta dengan mata berkedip - kedip . Jia yang mengerti kode dari Papa Dirta sontak mengangguk .


“ Iya Pa . Ayo , anak cantik sama Mommy dulu ? " bujuk Jia . Kinan si balita berusia lima bulan itu seketika menangis . Ia tidak mau di pisahkan oleh Opanya .


" Sama Mommy dulu sayang . Nanti Opa gendong lagi , " setelah menciumi wajah cantik Kinan , Papa Dirta menyerahkan cucu cantiknya itu pada Jia .


" Ck ! Sini sama Daddy saja , " Galuh meraih Kinan dari gendongan Jia .


Namun secepat kilat Papa Dirta menarik kaos putranya , membuat Galuh memekik kesal karena hampir saja terjerembab ke belakang . " Papa apaan sih ? "


" Kamu itu yang apaan ? Biarin Jia di taman sama Kinan . " Tegas Papa Dirta . Galuh berdecak lidah , memasang wajah malasnya .


" Ingat ! Dia Kakek kamu ! "


" Papa juga harus ingat ! Kakek itu juga mertua Papa ! " Kedua anak dan ayah yang sama - sama memiliki tingkah absurd itu akhirnya naik ke lantai paling atas . Dimana Kakek Damar saat ini sedang di rawat .


" Kamu udah denger penyebab Kakekmu itu jatuh pingsan ? " Tanya Papa Dirta .


Galuh memiringkan kepalnya sedikit , sembari bermain lidah . " Palingan juga karena si Elang ! " tebak Galuh .


" Katanya Mama sih kasusnya hampir mirip sama kamu Bedanya , yang di tidurin sama Elang gadisnya masih abu - abu , " kata Papa Dirta dengan frontal . Galuh garuk - garuk lehernya yang tidak gatal , ucapan Papa Dirta barusan membuat Daddy dari Kinan merasa tertampar .


" Papa kalau ngomong kebiasaan- "


" Kenapa ? Ucapan Papa banyak benernya ' kan ? " tukas Papa Dirta dengan senyum mengejek .


" Galuh dulu gak sengaja Pa ! " elak galuh, Memang kenyataannya dulu ia mencetak Kinan itu karena tidak sengaja .


Kalau tidak salah hanya 3x saja khilafnya . Pagi di villa , siang di hotel dan malamnya di apartemen . Lalu tidak pernah coba - coba lagi bermain tutorial membuat anak .


" Heleh ! Tidak sengajamu terdengar banyak sengajanya ! "

__ADS_1


" Pa ! "


" Tinggal bilang iyes aja kok susah ! " Galuh memilih diam . Berdebat dengan pria menyebalkan di sampingnya itu memang membuatnya sering kesal . Papa Dirta bukanlah lawan yang sepadan untuk menyeimbangi kegilaan Galuh . Beliau adalah suhunya , Galuh tak akan mampu .


***


Hal yang pertama kali Elang dapatkan setelah masuk ke dalam ruang Kakek Damar adalah tamparan keras . Bukan Mama Naya ataupun Papa Alam yang melakukannya , melainkan Oma Gayatri .


Kilatan amarah dan rasa kecewa bener - bener menguar dari sosok tertua menantu Bimantara tersebut . Seumur hidupnya beliau belum pernah mendengar hal semenjikikkan yang pernah ada di dalam daftar turunan keluarganya seperti apa yang telah Elang lakukan saat ini .


" Oma kecewa sama kamu Lang ! Lihat , karena perbuatanmu ! Kakekmu sampai mau mati ! " geram Oma Gayatri , menatap Elang dengan penuh amarah .


" Maaf Oma .. " Elang menundukkan kepala , ia sadar . Saat ini , kesalahan memang terletak padanya . Oma Gayatri berdecih , kemudian mengambil duduk di sebelah Papa Alam .


" Lebih baik kirim saja dia ke Kalimantan ! Ibu sudah tidak tahan dengan tingkah putramu itu ! Lama - lama Ibu juga bisa ikut jantungan . " Elang mengumpat pelan dalam hatinya , ia bukannya tak peka dengan ancaman yang diberikan oleh Oma Gayatri . Wanita tua itu tidak pernah main - main dengan ucapannya .


" Alam terserah Ibu saja , baiknya gimana ? Alam nurut . " Elang melotot mendengar jawaban Papa Alam .


Apa - apaan Papanya itu ! Kenapa sekarang Papanya jadi ikut - ikutan berada di kubu Oma Gayatri sih ? Ah , sial ! Kalau seperti ini , akses untuk menuju Roma bagi Elang semakin jauh saja . " Ma ? "


" Mama terserah Papa saja Elang . Mama juga udah lelah ngurusin kamu . Mama gak mau kena serangan jantung juga seperti Kakek ! " **** ! Kini apa yang harus Elang lakukan ? Pilihannya hanya ada dua . Menurut atau kabur


Ceklek


" Lam ! Ini vit- " ucapan Mama Intan , Kakak dari Papa Alam menggantung di udara , kala melihat sang tersangka ternyata sudah berada di dalam ruangan sang Ayah .


" Loh .. ponakan Tante udahan minggatnya ? " Elang memiringkan bibirnya , menatap mertua dari Jia itu dengan pandangan memelas .


Berharap saja , sang Tante mau membantunya untuk keluar dari ruangan yang penduduknya teramat kejam semua padanya . Tapi sayang , bukannya bala bantuan yang Elang dapatkan , yang ada Mama Intan justru menambah bubuk merica pedas sebagai penambah penyedap penderitaannya .


Ini sebenarnya ada apa sih ! Kenapa semua seakan tak mau membelanya , kesannya kenapa hanya Elang saja yang salah disini . Ya emang semua salah lo bambank .


" Lebih baik Elang pergi , kalau Kakek sudah sadar Mama bisa hubungi Elang ! Gak ada gunanya Elang kesini , " ucap cowok itu dengan tampang tak berdosanya .


" Tetap di sini ! " titah Oma Gayatri .


Bukannya Elang mendengarkan perintah Omanya , yang ada Elang malah semakin mempercepat langkahnya . Bertepatan dengan Elang yang ingin keluar dari ruangan tersebut , Galuh dan Papa Dirta masuk .


" Lah , mau ke mana ? " Tanya Galuh dengan sebelah alis yang terangkat .


" Neraka ! Kenapa , lo mau ikut ? " Jawab Elang dengan tatapan membunuhnya . Galuh bergidik ngeri , kemudian menggeser tubuhnya . Memperluas akses untuk Elang keluar ruangan .


" Berhenti Elang ! " cegah Papa Alam , kali terdengar begitu geram . elang Menghentikan langkah dengan tersenyum tipis . Elang pun menoleh .


" Drama kalian terlalu receh ! Bilang sama Kakek tua itu , sampai kapan pun Elang gak bakalan mau di jodohin ! Elang maunya cuma sama Nara ! Naraya Azkara . " Papa Alam mendelik , tak tahan dengan tingkah putranya , beliau pun mengambil langkah lebar sembari mengepalkan tangannya kuat , berusaha memberi pelajaran pada bocah badung itu kembali .


" Habis kesabaran Papa , Elang ! Sudah habis ! " Semua sudah menatap tegang situasi yang terjadi saat ini .


Bisa mereka pastikan , setelah ini Elang akan mendapatkan pukulan telak dari Papa Alam . Elang sudah pasrah , lebih tepatnya tak peduli dengan apa yang akan dilakukan Papa Alam padanya . Bagi Elang , luka - luka yang di berikan oleh Papanya itu tidak ada apa - apanya . Namanya juga Elang , kalau sudah merasa paling benar , semua yang berada di depan matanya hanya akan di pandang remeh .


" Anak tidak tahu di un- ”


" Tunggu !! " cegah seseorang dari dalam kamar VVIP sana .


Mendengar suara familiar itu , sontak kepalan tangan yang sudah mengudara di depan wajah Elang menggantung begitu saja . Begitu pula dengan manusia yang tengah memejamkan mata karena insiden barusan , semuanya bergegas membuka matanya lebar - lebar kemudian menoleh ke sumber suara yang berada di atas ranjang rumah sakit . Elang menyeringai , benar kan dugaannya ! " Dasar tukang drama ! " Kakek Damar melepas alat bantu pernapasan pada hidungnya , kemudian duduk dengan dibantu Mama Intan .


" Siapa nama lengkap gadis itu ? Ulangi sekali lagi ! " Elang mengerutkan keningnya , tumben sekali laki - laki tua itu bertanya identitas dari gadis pujaannya .

__ADS_1


Biasanya beliau selalu pasang wajah garang jika Elang membicarakan Nara di depan semua keluarganya . Ah ya ! Elang tahu , pasti Kakek tua itu sengaja bertanya karena ingin mencari Nara dan membuat rencana yang licik . Enak saja ! Elang tidak akan pernah membiarkan itu terjadi ! .


" Bukan urusan Kakek ! Jangan pernah menyentuh dia Kek . Atau Elang bakalan ngelakuin hal yang bisa buat Kakek menyesal seumur hidup ! " Mama Naya terbelalak mendengar jawaban terpuji yang keluar dari mulut putranya .


" Ralat ucapan kamu Elang ! Kamu benar - benar gak sopan ! " Bukannya Elang meralat kata - katanya . Yang ada , cowok itu malah tertawa sinis dan memutar kedua bola matanya .


" Gak ada yang salah sama ucapan aku Ma . Kenapa harus di ralat ? " Geram dan gemas ! Itu yang Mama Naya rasakan saat ini .


Jangankan Mama Naya ,Galuh saja sampai geleng - geleng kepala dengan keberanian sepupunya itu . Apa Elang tidak bisa melihat , istri dari Kakek tua itu saat ini tengah menatapnya seperti iblis neraka . Hih ! Melihat auranya saja , tubuh Galuh sudah dibuat merinding gila .


" Naraya Azkara ! " Tangan Elang terkepal kuat mendengar nama lengkap Nara terlontar dari bibir Oma Gayatri . Firasat Elang mendadak jadi tidak enak , ia takut kedua sesepuh Bimantara itu akan melakukan hal yang tidak - tidak pada Naraya .


" Lebih baik rubah sikapmu ! Menurutlah dengan Kakek dan Oma . Atau- kamu bisa tahu sendiri , apa yang bisa Oma lakukan dengan kedamaian gadis malang itu Elang ! "


" Fu * k ! " umpat Elang .


' Keren ! ' batin Papa Dirta rasanya ingin bertepuk tangan .


' Ya Tuhan ! Ngidam apa istriku dulu ? Kenapa hasil produksi kami jadi seberandalan ini ? ' batin Papa Alam , sembari menepuk keningnya berkali - kali .


" Sampai kapan pun Elang gak bakalan mau ! Jika itu soal perjodohan . " Oma Gayatri memandang angkuh cucunya . Kemudian mengangguk - angguk dengan bersedekap dada .


" Kamu akan menyesal bocah tengik ! Lihat saja nanti ! " Elang tersenyum miring dengan ancaman Kakek Damar .


"Oh ya ? Elang anggap semua ini tantangan dari Kakek ! Salam waras Kek " Setelah mengatakan itu , Elang benar - benar pergi dari kamar inap Kakek Damar .


Meninggalkan semuanya yang tampak melongo akibat mendengar kalimat santunnya untuk singa Bimantara . " Anak itu ! " rutuk Mama Naya dengan wajah pucat pasi .


' Kita lihat saja siapa yang akan menang Elang Bimantara cucu berandalanku ! ' cibir Kakek Damar dengan ilmu kebatinannya .


Panik ! Saat ini Elang begitu panik . Berbeda sekali dengan raut wajah angkuhnya tadi saat di dalam kamar Kakek Damar . Perubahan cemas itu dengan drastis terbit di wajah tampan Elang , saat dia sudah berada di dalam mobilnya .


" Sial ! Gue harus nyembunyiin Nara di mana coba ? " Lama Elang berpikir , tapi tak menemukan solusi juga .


" Argh brengsek ! " Merasa frustasi dan tak ada pilihan lain , akhirnya Elang merogoh ponselnya dan mencari nomor Naraya disana .


Me: Lo dimana Ra ?


Tidak ada balasan , namun chat yang Elang kirim sudah centang biru . Tandanya Nara sudah melihatnya , tetapi sengaja tidak mau membalas chat masuk darinya .


" Nara .. lo itu , argh ! " Dengan kesal , Elang kembali mengirim pesan untuk Naraya . Kali ini dengan kalimat sengaknya .


Me : Bales . Atau gue bakalan sebarin video kita kemarin siang


Benar saja , tidak butuh waktu lama . Nara langsung membalas chat kedua yang masuk dari Elang .


Naraya : Tunggu gue di taman kota .


Me : Sure Baby


Elang terkekeh ketika mengetik chat yang terakhir untuk Nara . Biar saja , gadis itu mengomel saat membacanya . Emangnya enak !.


" Nara yang galaknya mirip burung gagak ! Gue otw . " Mesin mobil pun terdengar menyala . Si begundal Elang segera melajukan kuda besinya untuk menemui gadis pujaan hatinya . Entah apa yang sedang Elang rencanakan saat ini . Yang jelas , semua rencananya itu tidak akan pernah ada yang waras .


Sementara di lain tempat , Nara begitu merasakan jengkel yang teramat dalam . Ia harus berbohong pada Ghea dan memesan taxi online demi menemui cowok sialan yang dua hari ini selalu mengganggu pikirannya .


" Gue santet lama - lama lo Elang ! " Nara ******* - ***** ponsel di tangannya , bahkan , sesekali menggigitnya karena terlalu kesal . Supir taxi yang sedang menyetir di depan tersentak heran . Masa iya penumpang cantik yang sedang duduk di kursi penumpang itu bisa melakukan hal sekeji itu- batinnya .

__ADS_1


__ADS_2