
Nara menoleh lalu menggeleng. "Kayaknya Papa gak ada di rumah deh."
Tangan Elang mengusap lembut pipi Nara, mencoba menenangkan gadis itu bahwa semua pasti akan baik-baik saja.
"Besok kita ke sini lagi. Sekarang kita pulang. Lo kelihatan capek banget." Nara mengangguk, mungkin Papa Zain saat ini sedang sibuk.
"Makasih karena lo mau peduli sama gue Lang.”
Elang menggenggam tangan Nara erat, lalu mengecupnya dengan lembut. “Anytime Ra. Inget .. lo masih punya gue. Jangan pernah merasa sendiri, hm?"
Salah tingkah! Nara selalu merasa blushing saat di perlakukan semanis ini oleh Elang. "Bisa gak natapnya biasa aja? Gak usah kayak gitu."
Elang terkekeh, lalu menarik tangan Nara dengan sekali tarikan. Membawanya masuk ke dalam dekapannya.
"Gue sadar gue bukan cowok idaman lo Ra. Tapi sebisa mungkin gue bakal jadi yang terbaik untuk lo."
Elang mungkin memang bukan laki-laki yang Nara harapkan. Tetapi Elang akan mencoba membuat Nara bahagia di sampingnya.
Tanpa Elang sadari, justru dia lah laki-laki setelah Papa Zain yang berhasil membuat Nara merasa aman dan nyaman.
'Lo gak seburuk yang gue pikir Elang.'
Yah, walaupun mulut dan tingkah cowok itu sering membuat Nara jengkel. Tetapi tidak bisa Nara pungkiri kalau Elang yang tengik itu memiliki sisi lain yang begitu manis dan lembut.
"Sekarang pulang ya? Gue udah pengen tidur sambil pelukan " Nara mencebik, baru juga ia memuji cowok itu. Sekarang sudah bertingkah lagi.
“Gak bisa apa, kalau mulut lo itu gak resek sehari saja?" Elang terkekeh, lalu mengurai pelukannya.
"Gak bisa kalau itu dengan lo "
"Gue lelah elang"
Tertawa gemas, Elang kembali mencuri ciuman sebelum pergi dari depan rumah Papa Zain. Tetapi bukan di pipi kali ini, melainkan bibir manis Nara.
Cup!
Awalnya hanya sebuah kecupan. Kecupan yang keterusan menjadi ******* dan berujung menjadi ciuman panas. Yang tidak mampu keduanya hindari karena Elang maupun Nara, keduanya sama-sama melakukannya menggunakan perasaan.
"Jangan lupa napas Ra?" bisik Elang terkekeh geli. Perlahan Nara membuka matanya, malu.
'Sialan!'
Niat hati ingin pergi dari sekitar komplek perumahan Papa Zain. Namun saat Elang baru ingin menginjak gas pada mobilnya. Sebuah mobil mewah berwarna hitam legam terlihat berhenti di depan rumah Nara. Hal itu membuat Elang maupun Nara gagal pulang.
"Itu mobil Papa."
Elang menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke arah depan pagar rumah Nara. Awalnya Elang merasa lega saat melihat pintu pagar terbuka dan menyaksikan Papa Zain keluar dari mobil bersama seorang pria dalam keadaan baik-baik saja. Namun tatapan Elang mendadak jadi bingung saat para pelayan dari dalam rumah tiba-tiba membawa beberapa koper dan di masukkan ke dalam mobil yang sama.
"Gue harus turun!"
Elang segera mencekal pergelangan tangan Nara dengan kepala menggeleng. Menyuruh Nara untuk tetap tinggal di dalam mobil.
"Tapi Elang."
"Nurut sama gue." Nara akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka berdua kembali melihat situasi yang ada di halaman rumah kediaman Azkara.
Tak selang setelah koper-koper itu masuk ke dalam mobil Papa Zain. Silvi keluar dengan air mata yang sudah berderai-derai. Elang sedikit mengerutkan kening, sebelum akhirnya tersenyum puas ketika melihat Papa Zain melempar beberapa foto ke arah Silvi dengan tatapan marah.
"Tepat! Galuh memang bisa di andalkan.'
"Papa kenapa kasar banget sama Silvi? Ini ada yang gak beres Elang. Gue mau turun."
"Silvi pantas Ra mendapatkan itu. Masih untung cuma di lempari kertas foto! Kalau gue jadi Papa langsung gue cekek aja lehernya sampai mampus!” Nara mendelik, dengan gemas mencubit pinggang Elang.
__ADS_1
"Njir.. sakit Ra!"
"Rasain! Mulut lo gak ada filter."
Elang mendengus pelan. Apa salahnya coba dengan ucapannya barusan. Coba saja kemarin Jonathan tidak segera mendengar rencana licik Silvi dari salah satu anak gengnya. Sudah bisa di pastikan pernikahan mereka yang baru berumur 3 hari itu pasti akan hancur karena sebuah insiden panas dari otak licik si lampir Silvi.
Ya, meskipun Jonathan
kemarin sudah memberi balasan yang sepadan pada Romi dan Silvi. Tapi bagi Elang pembalasan itu masih belum cukup. Silvi dan Romi harus membayar perbuatan mereka dengan harga yang mahal.
Kalau bisa sekalian Elang bikin mereka tidak bangun selama dua tahun!
"Keren! Kick aja Pa!" Seru Elang berdecak puas saat melihat Silvi di dorong masuk ke dalam mobil. Nara menggelengkan kepalanya pelan, kenapa pula dia bisa menikah dengan laki-laki sependendam Elang.
"Gak sia-sia kita kabur malam-malam Ra. Ternyata ada tontonan gratis menyenangkan." Kekeh Elang yang di sambut cubitan maut oleh Nara.
"BANGSZTT!!" Elang meringis saat bola mata Nara mendelik dengan tajam. "Lepasin sayang." Bukannya melonggar cubitan itu semakin menjadi-jadi. Kesal sekali rasanya Nara.
"Gue gak suka dengan mulut lo yang kasar Elang."
Elang mengangguk, dengan wajah memelas. “Iya .. ampun. Sekarang lepasin dong. Ini panas banget Ra " Merasa kasihan dengan tampang cowok nakal di depannya yang terlihat kesakitan. Nara pun akhirnya melepas cubitan kecil gilanya!
Elang bernapas lega sembari mengusap-usap pinggangnya yang naas selalu menjadi sasaran jahat tangan Naraya.
"Sekarang kita pulang. Ini udah malem .. besok kita ke sini lagi. Mungkin Papa juga butuh istirahat. Nenangin pikiran."
Nara melongo, menatap aneh si begundal Elang. Sebenarnya Elang ini manusia model apa sih? Tadi mulutnya berkicau menyebalkan sekali, sekarang sudah beda lagi.
"Lo Elang bukan sih?" tanya Nara dengan mata menyipit.
Dengan menghidupi mesin mobil kembali Elang mengerutkan kening, sebelum akhirnya mengangguk.
"Iya gue Elang suaminya Nara. Kenapa ya, Mbak?" Nara mendelik juga mencebik.
Yang jelas, mereka meninggalkan area komplek perumahan mewah itu dengan senyum yang sama-sama mengembang. Jika Elang, mungkin karena merasa lega melihat Nara sudah tidak dalam keadaan sedih dan cemas lagi. Dan Nara? Entahlah.. dia hanya bisa merasakan kenyamanan di dalam hatinya. Yang jelas, salah satu penyebab senyum itu ada karena perlakuan sederhana yang Elang berikan padanya malam ini.
Jarum jam menunjukkan pukul 1 malam. Tadi di perjalanan pulang Nara merengek meminta mampir ke penjual kembang tahu yang di jual abang-abang ronde di pinggir jalan.
Dengan perdebatan panjang akhirnya Elang menuruti permintaan sang istri. Lucunya setelah memakan kembang tahu yang bagi Elang tidak ada enak-enaknya itu Nara langsung tertidur pulas di dalam mobil. Elang jadi berpikir, mungkin ini semua karena kemauan biji kedelai bar-bar yang ada di dalam perut Nara.
Membayangkan si biji kedelai bar-bar, Elang jadi senyum-senyum sendiri. Elang sudah sangat penasaran dengan bentuk wajah hasil produksi unggulnya itu. Apakah akan setampan dirinya atau secantik Naraya.
"Halah gemes gue!" dengan tekekeh kecil, Elang melangkah pelan menuju lantai atas sembari menggendong si Nara yang sudah terlelap di dekapannya.
"Lo cantik banget sih Ra. Pantes gue setengah mampus ngebet kawin sama lo!" untung Nara saat ini sudah tertidur, coba kalau perempuan itu masih terjaga. Sudah bisa Elang pastikan. Dia akan kembali mendapat cubitan maut dari si galak bermata panda itu!
Keesokan harinya.
Nara sudah terlihat rapi dengan seragam sekolahnya. Sementara Elang - cowok itu masih betah berada di dalam kamar mandi sembari bersiul-siul tidak jelas.
"Cepetan Elang! Ini udah jam setengah 6!" teriak Nara dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Bentar sayang. Masih luluran!" Goda Elang dari dalam kamar mandi.
Nara mendelik sebelum akhirnya menggelengkan kepala dengan sudut bibir tertarik ke atas tipis.
"Dasar sinting!"
Sepuluh menit kemudian, Elang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Nara segera menepuk kursi di depan meja rias dengan hairdryer yang sudah on di genggaman tangannya.
"Cepet! Gue gak mau kena hukuman Oma kalau sampai telat ." Elang terkekeh, berjalan santai mendekati Nara.
"Perhatian banget sih?"
__ADS_1
Nara hanya diam mendengar celometan Elang yang tidak akan ada habisnya. Tangan perempuan itu dengan lembut dan cekatan bekerja di atas kepala Elang. Menyugar dan menggosok pelan. Tidak lupa Nara juga memberikan vitamin pada rambut Elang.
Elang terus memperhatikan wajah serius Nara dari pantulan cermin. Anjir! Makin lama istrinya itu makin cantik gila! Membuat Elang jadi ingin merekamnya saja pagi ini.
"Sumpah lo makin gede Ra."
Plak!
Sebuah pukulan keras mendarat di belakang kepala Elang.
"Gue congkel mata lo kalau jelalatan Elang!" ketus Nara sembari menggeser sedikit tubuhnya ke belakang punggung Elang.
Elang terkekeh, lalu berbalik badan. Mengamati si galak Nara dengan tatapan yang tak terbaca.
Mimik muka Nara mulai terlihat tegang, melihat si iblis tampan di depannya itu mengeluarkan smirk andalannya.
"Gue kan cuma bilang lo makin gede Ra. Kenapa lo mukul kepala gue, hm?" tanya Elang sembari mencengkeram kedua sisi bahu Nara.
Tubuh Nara membeku, di tatap seintens ini oleh Elang membuatnya jadi mati kutu. Cowok itu memang mempunyai pesona yang tidak main-main. Lengah sedikit saja, bisa di pastikan. Nara akan habis di terkam sampai menjerit keenakan.
Eeeeh!
"Gue .. gue tadi gak sengaja .." ucapan Nara terhenti saat merasakan hembusan napas Elang menyapu permukaan kulit wajahnya.
Elang tersenyum miring, semakin menekan cengkeraman tangannya pada bahu Nara. Lalu tanpa aba-aba langsung menyatukan bibirnya dengan gerakan tak sabaran. Salah siapa Nara semakin tumbuh besar. Elang jadi makin gemas kan.
Nara meremas kedua sisi pinggang Elang dengan erat. Napasnya seakan habis terkuras akibat permainan bibir Elang.
'Ini ciuman apa?' batin Nara bertanya-tanya.
Masalahnya kemarin Elang melakukannya dengan sangat lembut, tidak sebuas dan seganas seperti sekarang. Astaga.. astaga.. otak suci Nara semakin lama semakin terkontaminasi oleh kemesuman Elang.
Tak hanya kaget dengan ciuman brutal Elang pagi ini, Nara harus kembali tersentak kaget saat merasakan ada tekanan lembut pada bagian dadanya. Ingin rasanya Nara menolak tapi ini terlalu enak. Tuhan.. Nara sudah tidak sepolos dulu lagi!
Puas memberi les private sederhana pagi ini pada Nara. Elang perlahan melepas ciumannya lalu terkekeh mendapati wajah Nara yang tampak memerah pasrah.
"Sarapan dulu Ra. Nanti malam lagi." Bisik Elang sembari mengecup sekilas pipi Nara. Lalu terkekeh-kekeh melenggang pergi.
Oh God!
Tolong siapa pun di sana .. sadarkan Nara dari kebisuannya saat ini. Dia ingin tersadar dan segera memberi pelajaran pada cowok bermulut tengik itu dengan menimpuk kepalanya menggunakan hairdryer sampai kejang-kejang.
"Elang sialan!" rengek Nara berasa ingin karam saja di tengah lautan.
Belum sampai di situ Elang berulah. Di meja makan pun cowok itu juga masih gencar menjahili Nara.
Contohnya saat ini, dengan berpura-pura menjatuhkan sendoknya ke atas lantai Elang berjongkok di bawah kaki meja makan. Lalu mencubit pelan paha Nara. Membuat sang empu yang lagi-lagi menjadi korban kejahilan Elang sampai harus tersedak dan terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan. Gue gak bakalan makan lo disini." Ucap Elang lirih.
Tangannya menepuk-nepuk pundak Nara. Sesekali tersenyum menyeringai saat gadis itu meliriknya waspada.
'Papa.. Elang nakal!' jerit Nara dalam hati.
"Pisau ini kalau buat motong burung emprit kamu masih sanggup Elang! Mau Oma coba?" celetuk Oma Gayatri dengan tatapan tajam yang tertuju pada Elang.
Mendengar kata sadis Oma Gayatri seketika semua penghuni yang ada di meja makan jadi melongo dengan otak traveling ke mana-mana. Membayangkan si burung emprit yang berukuran sangat minimalis.
"Punya Elang sebesar burung gagak Oma. Pisau itu gak akan mampu.”
"Astaga anak ini mulutnya minta di ruqiyah!” dumel Oma Gayatri yang jadi malu sendiri.
"Oma .. Nara mau pulang Oma!" rengek Nara dengan wajah memerah menahan tangis.
__ADS_1
Ia tidak pernah menyangka kalau mulut suaminya itu sangat berakhlak mulia.