My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
28.mulut tanpa filter


__ADS_3

Sore hari yang begitu indah dengan panorama alamnya. Tadi, setelah tidur siang Mama Naya langsung menyuruh Nara untuk bersiap-siap. Mengajaknya ke rumah sakit. Mama Naya tidak mau menunda lagi. Beliau ingin memastikan Naya dan calon cucunya itu dalam keadaan sehat.


Dan beruntungnya Nara, karena janin yang sedang ia kandung berkembang dengan baik. Benih sebesar biji kacang kedelai itu saat ini sudah menginjak usia 4 Minggu.


Lucunya setelah pemeriksaan selesai - si konyol Elang itu tidak henti-hentinya berdecak takjub dengan hasil USG yang Dokter berikan padanya.


Cowok itu dengan angkuhnya mengatakan kepada Dokter bahwa calon benihnya sangat mirip dengan wajahnya.


Haha! Rasanya Nara ingin menangis dan membenturkan kepala Elang saat mendengar prolog gila yang cowok itu lontarkan pada Dokter kandungan tadi.


Parahnya lagi, Elang langsung memotret foto hitam putih dengan titik kecil itu sebagai wallpaper ponselnya.


"Gue harus rajin jengukin dia Ra. Takutnya saat pembentukan wajah nanti dia lupa dengan wajah gue. Nanti jatuhnya malah mirip sama lo lagi," kelakar cowok itu sembari membesar kecilkan foto USG hasil jepretannya.


"Gila! Mirip gue banget gak sih calonnya ini anak?" Decak Elang seperti orang tidak waras.


Nara yang sedang duduk di ayunan hanya geleng-geleng kepala. Terserah Elang mau berkata apa. Nara sudah lelah menjawabnya! Nanti kalau dayanya sudah habis, pasti juga diam-diam sendiri- pikir Nara.


"Aunty!!" sapa Jia yang sore ini tengah berkunjung ke kediaman Bimantara bersama keluarga besarnya.


Nara yang sedang menikmati asamnya buah kedondong sontak melambaikan tangan, membalas sapaan Jia yang tertuju padanya. Maklum mulutnya sedang penuh oleh asinan buah kedondong yang tadi Mama Naya beli di pinggir jalan.


"Duh pengantin baru, bawaanya emang berdua-duaan terus ya? Tante jadi inget tahun 80 an kalau lihat yang beginian." Celetuk Mama Intan yang sengaja menggoda Nara dan Elang.


Nara nyengir, bingung mau menjawab apa.


"Hallo Kinan?" Sapa Nara sembari menggenggam tangan mungil balita menggemaskan di gendongan Jia saat ini.


"Hallo juga Aunty cantik.” Nara menepuk pahanya, menyuruh Jia untuk mendudukkan bocah itu pada pangkuannya. Namun lagi-lagi Elang bertingkah gila.


"Kinan sama Uncle saja. Nanti dedeknya penyet di dalem perut Aunty!" Nara langsung mendelik dengan penuturan Elang yang menggelikan di telinganya.


Elang segera meraih tubuh bocah cantik yang hampir saja mendaratkan bokongnya pada paha Nara itu. Lalu menggodanya seperti biasa.


"Calon Bapak yang gokil!" Jia tertawa, melihat wajah masam Nara.


Elang memasang wajah masa bodohnya, tidak peduli dengan tatapan Nara yang kesal padanya. Elang tidak mau anaknya yang masih sebesar biji kedelai itu nantinya tertekan, dan membuatnya gagal berkembang.


Galuh yang baru bergabung berdecih, lalu mendorong bahu Elang dengan tatapan sewot.


"Posesip gila lo!" Cibir Galuh.


Mama Intan geleng-geleng kepala, beliau tidak percaya kalau Elang begitu selucu itu setelah menikah.


"Tante masuk dulu, ya." Mama Intan mencubit pelan pipi Nara, lalu segera melenggang pergi meninggalkan taman.


"Papa! Buruan Pa! Jangan lupa ayam taliwangnya di bagasi mobil." Teriak Mama Intan menggelegar.

__ADS_1


"Busyet! Mulut Mama kayak toa rusak," decak Galuh dengan menatap takjub Mama Intan yang memiliki suara power full.


"Eh- btw gue tadi ada perlu sama lo monyet. Penting!" Lanjut Galuh tertuju pada Elang.


Kinan yang hampir terlelap dengan ayun-ayunan tangan besar Elang pada akhirnya harus terjaga kembali. Balita menggemaskan hasil main gelap-gelapan itu merengek saat berada di gendongan Jia.


"Nanti Uncle gendong lagi, okey." Elang mencium sekilas pipi gembul Kinan lalu segera mengajak Galuh pergi ke gazebo taman.


Ini urusan laki-laki, Nara tidak boleh mendengarnya. Bisa gawat nanti!


"Gimana tinggal sama Oma? Betah?" Tanya Jia saat Elang dan Galuh sudah menjauh pergi.


Nara tersenyum tipis, kemudian mengangguk.


"Lumayan, Oma asyik juga kalau lagi marah-marah," jawab Nara membuat Jia mengangguk juga tertawa.


"Hebat sih lo Ra. Tadi siang pas Tante Naya ke rumah nganterin mangga, beliau nyeritain kedetakatan lo sama Oma loh! Gue jadi iri dengernya," kata Jia dengan tersenyum getir.


Nara menaikkan sebelah alisnya sembari menepuk-nepuk paha Kinan.


"Gue gak deket sama Oma. Tinggal di sini juga baru 3 hari," jawab Nara apa adanya.


Lagian apa yang harus di irikan dari dirinya. Nasib Jia dan Nara saja sama-sama mengenaskan. Jia masih enak bisa melanjutkan kuliahnya, sementara Nara. Ah entahlah! Gadis itu tak tahu dengan nasib kedepannya.


Tapi yang jelas, Nara sudah sangat legowo menerima anak yang sedang ia kandung saat ini. Tidak apa meskipun di tukar dengan masa depannya. Nara lebih menikmati takdir yang sedang berjalan sekarang. Lebih tepatnya pasrah dengan keadaan.


Nara hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Jia.


"Berarti lo juga salah satunya dong?" Jia menggeleng, "gue gak pernah di harepin sama Oma. Yang harusnya nikah sama Galuh itu sepupu gue Sherin. Lo pasti udah tahu kan anaknya yang mana?"


Nara tertegun, menatap Jia dengan tatapan sulit di artikan. ' Jadi yang harusnya nikah sama Galuh, Sherin?”


Jia mengangguk. “Dia sepupu gue, anak dari Kakak angkat bokap gue." Nara mulai sedikit paham, tetapi yang sekarang menjadi pertanyaan di dalam kepala Nara. Kenapa Galuh akhirnya menikah dengan Jia bukannya Sherin.


"Sherin sukanya sama Elang!"


Deg


Jantung Nara mendadak terpompa dengan cepat, ada rasa takut karena gadis yang baru merayakan ulang tahunnya ke 18 itu menyukai Elang. Padahal Nara kemarin sudah bisa menduga kalau gadis itu memang memiliki perasaan yang lebih dengan suaminya. Tetapi mendengar langsung dari mulut Jia, Nara jadi mendadak tidak terima.


"Terus Galuh?" Tanya Nara dengan bingung.


"Gue sama Galuh udah pacaran dari jaman SMA, ya cuma kebablasan pas kuliah. Terus ada Kinan." Jelas Jia dengan tertawa pelan.


Nara menarik sudut bibirnya tipis lalu menyandarkan kepalanya pada tali ayunan.


"Gila sih? Nasib kita bisa sama. Bedanya gue sama Elang bukan siapa-siapa!" kata Nara miris.

__ADS_1


Jia tersenyum, mengecup kening putrinya dengan sayang. " Tapi sekarang lo istri dari Elang, Ra. Gak semua perempuan bisa seberuntung lo! Contohnya Sherin. Dia mati-matian ngejar Elang. Tapi gak pernah dapet respon yang baik. Padahal dulu Kakek gue udah mau nuker perjodohan yang gagal antara Galuh sama Sherin dengan Elang. Tapi suami lo itu enggak mau, kerennya lagi Kakek Damar juga nolak. Mungkin karena Kakek sama Oma udah milih lo buat cucu kesayangannya!"


Nara tercengang mendengar cerita dari Jia. Apa benar seperti itu? Kalau iya, yang di ucapkan Elang semalam memang realita. Bukan bualan semata.


"Em- apa di keluarga ini semua penduduknya hasil dari jalur perjodohan Jia?"


Jia tekekeh, mengangguk dengan cepat. Membenarkan pertanyaan Nara. "Terus nasib anak kita nanti gimana dong? Jalur perjodohan juga?" Tanya Nara lagi.


"Maybe Ra!"


"Freak banget! Mending gue ngajak Elang kabur aja ke luar negeri!" sungut Nara di sambut gelak tawa oleh Jia.


"Ngapain ke luar negeri? Mau ngajakin baby moon ya?" Celetuk Elang yang tiba-tiba datang dari belakang seraya mendorong ayunan Nara, pelan.


"Baby moon kepala lo!” ketus Nara.


Galuh terbahak, sumpah itu Elang dan Nara memang selalu berhasil mengocok perut Galuh saat berinteraksi bicara.


"Jangan mau kalau di modusin Elang kayak tadi malem Ra." Elang mengerang rendah, matanya begitu tajam menatap Galuh yang berniat membocorkan rahasianya.


"Maksudnya?" tanya Nara dengan satu alis yang terangkat sedang.


"Gak ada maksud, gak usah di dengerin omongan si ****** Galuh. Ayo masuk, istirahat. Tadi kan Dokter bilang lo gak boleh capek-capek."


Nara mencebik, memangnya siapa yang capek. Kan tadi siang Nara sudah istirahat dengan cukup.


"Ngeles mulu lo! Ra.. asal lo tahu, semalam laki lo itu sengaja-"


Dugh!


"Sath! Pabrik produksi gue panas anjing!” umpat Galuh sembari memegangi telur T-rexnya yang terasa pecah setelah di tendang Elang.


"Elang lo kejem banget! Kalau Kinan gak bisa punya adek lagi gimana?" protes Jia.


"Anak lo jaminannya!" sungut Galuh.


Elang maju selangkah, lalu menarik kaos Galuh. Emosi. “ Ngomong apa lo barusan hah? Lo pikir merawanin Nara gampang? Harganya mahal! Gak sebanding dengan nyawa Lo!"


"Gak peduli. Kalau biji kurma gue gak berfungsi. Anak lo bakalan gue sita!"


"Jia suruh nikah lagi. Apa susahnya!" pancing Elang kali ini berhasil membuat Galuh kebakaran jenggot.


Tak hanya Galuh, Jia dan Nara pun sampai tercengang dengan mulut ternganga lebar.


"Elaaang! Mulut lo meresahkan!" pekik Nara bersungut-sungut kesal.


doain semoga upnya lancar tiap hari.

__ADS_1


__ADS_2