
Suasana di kantin terlihat ramai. Banyak siswa-siswi yang tengah bercakap sembari menikmati camilan dan minuman di atas mejanya masing-masing. Pandangan Nara langsung tertuju pada meja paling ujung, di mana ada Ghea dan Jonathan yang sedang mojok berdua.
"Mana pesenan gue?" Ghea meringis. Kemudian menyikut lengan Jonathan dengan tatapan kikuk.
"Gue ganti bentar!" Secepat kilat kekasih dari Ghea itu ngibrit ke arah buk kantin. Tadi ia khilaf meminum juice semangka milik Naraya. Habis! Pemiliknya tak kunjung datang. Kan sayang kalau minuman sesegar itu harus di anggurin.
"Tadi di minum Jo hehe ... Abisnya lo lama banget Beb,” kilah Ghea yang di sambut cebikkan bibir dari Nara.
"Sialan si Jo!"
"Lo sama Elang tadi dari mana btw?"
Nara melirik tipis Ghea yang sedang menunggu dengan antusias jawaban darinya. Lalu menjawab seadanya.
"Taman," singkatnya.
"Gue heran, kenapa sih Elang terus-terusan mepetin lo Ra? Kalian gak lagi ada something yang disembunyiin dari gue 'kan?"
“Gak ada! Dia aja yang gak jelas!" jawab Nara cepat. Namun, Ghea seolah bisa menangkap sinyal aneh dari gelombang mata Nara yang terlihat risau.
"Kita temenan udah mulai dari orok Ra. Gue harap ucapan lo emang bener."
Deg!
Nara memiringkan kepalanya, mengamati raut wajah sahabatnya dengan perasaan yang sulit di artikan.
Nara benar-benar bingung harus memulai dari mana jika menceritakan semua beban pikirannya pada Ghea.
Sejujurnya Nara saat ini begitu takut. Takut akan sesuatu yang kehadirannya tidak ia harapkan tumbuh dan benar-benar berkembang. Dia butuh seseorang yang bisa di ajak berbagi keluh dan kesahnya.
"Ra.. lo ada masalah?"
Nara menghela napas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar. "Gue gak tahu harus mulai dari mana Ghe." Ucap Nara pada akhirnya.
Ghea meraih tangan Nara. Menggenggamnya dengan erat. Memberi tahu pada gadis itu bahwa Ghea selalu ada untuknya.
" Gue bukan hanya sahabat lo Nara, tapi saudara lo. Gue ingetin kalau lo udah mulai lupa." Nara mengangguk, perlahan kepalanya ia sandarkan pada pundak Ghea.
"Gak harus disini kan gue ceritanya Ghe." Ghea menggeleng, tangannya perlahan menepuk-nepuk dengan gerakan lembut pada kepala Nara.
“Gak harus sekarang, tapi gue akan tagih nanti. Pas pulang sekolah," dengan pasrah Nara akhirnya mengangguk.
Mungkin dengan cara berbagi masalahnya pada Ghea. Dadanya yang terasa sesak belakang ini akan sedikit berkurang. Bagaimana pun Ghea adalah satu-satunya teman rasa saudara yang Nara punya. Nara yakin, rahasianya akan aman di tangan Ghea.
"Juice semangka datang!” Seloroh Jo sembari mengangkat juice semangka ala-ala Mas barista caffe.
"Lama banget Lo!" ketus Nara yang kini sudah kembali ke mode galaknya.
"Antri Ra. Noh lihat, Bu Tutik full antrian!" jelas Jonathan sembari menunjuk stand Bu Tutik menggunakan gerakan dagunya.
"Alasan!"
Jonathan melotot,
bisa-bisanya ia di anggap beralasan oleh Naraya. Padahal kenyataannya memang iya!
Tapi bukan tanpa alasan Jonathan melakukannya. Tadi ia tidak sengaja keasyikan ikut nimbrung gosip yang sedang viral di bicarakan anak-anak kelasnya di depan stand Bu Tutik.
"Kalian ngerti gak? Si Pc udah di kandangin ke kejaksaan agung!" Tanya Jonathan layaknya biang gosip di sekolahnya.
Nara dan Ghea mendongak, menatap Jonathan yang sedang berdiri di depan meja mereka, malas.
"Enggak!" jawab keduanya kompak.
"Ck! Kalian berdua kudet!" cibir Jonathan.
"Sebodoh amat!" Balas keduanya lagi masih dengan kompak.
“Ikh, sebel deh eyke!” Kesal Jonathan menirukan gaya si gemulai Luluk alias Lukman.
"Jo! Ye ngapain ngode-ngode Eyke. Ey ***** keliling baru tau rasa gurihnya situ diy ahh!”
Ghea dan Nara terkikik. Sementara Jonathan, cowok itu sudah bergidik ngeri membayangkan bibirnya yang sexy jadi sasaran empuk ikan ****** bersurai gelombang itu.
"Najis!" ujarnya jijik.
Dari arah toilet kantin, Elang terlihat sedang berjalan lemas. Rambutnya yang acak-acakan dan sedikit basah membuat semua siswi-siswi memekik keheranan.
"Calon imam gue kenapa itu? Pucet banget sumpah!"
"Sudi nggak ya si Elang kalau gue kasih napas buatan. Kayaknya lemes banget."
"Huuuw.. ngarep lo!"
Nara memutar bola matanya dengan jengah mendengar kicauan gadis-gadis di sekitar kantin yang terang-terangan mengkhawatirkan Elang. Tetapi yang mereka katakan juga memang benar adanya, Elang tampak pucat dan lemas dengan tampilan acak-acakannya.
Nara jadi berpikir- Jangan-jangan cowok gila itu kembali muntah seperti yang di katakan tadi di taman. Kalau sampai iya, lumayan prihatin juga sih Nara padanya.
__ADS_1
Eh tunggu! Kenapa si sialan itu sekarang malah berjalan ke arah mejanya. Gawat! Melihat akan hal itu Nara langsung buang muka, pura-pura menyruput juice semangka di atas mejanya.
Malas gila kalau sampai ketahuan Elang ia sedang memperhatikan gerak-gerik cowok itu. Yang ada Elang nanti akan berpikir yang macam-macam padanya.
"Lo kena gejala asam lambung lagi?"
Elang tak menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Jonathan. Cowok itu lebih memilih duduk di sebelah Nara dengan jarak yang sangat dekat.
" Bisa gak lo duduknya agak kesanaan?" Ketus Nara.
Elang memasang wajah memelas. Berharap Nara mau mengerti dengan penderitaannya saat ini. "Please Ra!" Merasa sedikit kasihan, Nara pun akhirnya memilih diam.
Ada yang aneh! Ghea merasa ada yang janggal dengan dua anak manusia yang tidak pernah akur di sebelahnya ini. Sebenarnya apa yang sedang Nara dan Elang tutup-tutupi darinya. Ghea benar-benar kepo tingkat dewa saat ini. Ingin mencecar sederet pertanyaan pada Nara! Tetapi itu tidak mungkin terjadi, mengingat saat ini mereka masih berada di area sekolahan.
"Gila! Kenapa larinya ke Nara mulu sih?" Bisik-bisik siswi yang duduk di bangku belakang Nara dan Ghea.
"Yee Elang sadar kali di sekolah ini yang paling bening itu emang si Nara!"
Silvi yang masih bisa mendengar dengan tajam gosip miring dari anak-anak kantin jelas mengepalkan tangannya kuat. Sebenarnya apa lebihnya Nara di banding dirinya? Bukankan ia juga sangat cantik, hanya saja mines kurang pintar sedikit dari si Nara.
Ih, ih, dasar Silvi yang tak pernah sadar diri. Sampai kapan pun perumpamaan wujudnya dan Nara itu sangatlah jauh berbeda! Jika Nara ibarat Bulan maka Silvi adalah awan hitamnya. Mulai dari paras dan hati keduanya sangatlah jauh-jauh berbeda. Nara tak pernah memiliki sifat iri dan dengki. Sementara Silvi, dia adalah jagonya dalam memerankan penyakit hati itu.
"*****! Tukang cari muka, lihat aja nanti apa yang bisa lakuin sama lo!" Gumamnya penuh tekad.
Gerah, risih, jengkel bercampur jadi satu. Elang terus saja menempeli Nara bagaikan seekor cicak yang selalu membutuhkan dinding untuk bertahan hidup. "Gue mau pulang! Mobil lo di sana!" Tunjuk Nara dengan tatapan horor.
Elang berdecak lidah, ia tidak sanggup harus merasakan lemas kembali jika berjauhan dengan Nara. "Gak bisa! Gue mau ikut lo pulang!"
Astaga naga dragon ball! Ini cowok sinting benar-benar tidak bisa menepati janjinya sendiri yang baru saja ia buat tadi di belakang sekolahan.
"Lo tadi udah janji sama gue Elang! Jangan buat gue ingkar juga, sama janji gue!" Geram Nara sembari bersedekap dada.
"Argh! Awas lo bohong!" ancam Elang dengan tatapan yang tajam.
“Hem! Udah sana pergi!” usir Nara.
"Hm! Tapi lepas sweater lo dulu, Ra!" Nara melotot buru-buru mendekap tubuhnya dengan erat.
"Lo jangan gila! Ini parkiran sekolah Elang!" ujarnya dengan panik.
Elang mendengus kemudian maju selangkah. "Gue cuma mau sweater lo Ra. Bukan mau perkosa lo lagi," bisik Elang berhasil membuat wajah Nara merah dan menegang kaku. Benar-benar si berandalan Elang yang brengsek!
"Cepetan! Lo mau lepas sendiri atau gue yang lepasin?” Imbuhnya berbisik dengan nada genit.
"Lo!" tunjuk Nara pada wajah tampan Elang, menatap netra legam itu dengan tatapan tidak percaya.
Elang tersenyum miring, tangannya mulai nakal ingin meraih sweater Nara.
"Gitu dong!" celetuk Elang sembari mengendus-endus sweater milik Nara yang aromanya sangat wangi.
"Sekarang gue mau pulang! Jangan ganggu gue dulu sementara, please!" Pinta Nara dengan nada yang terdengar memohon tapi juga geram.
"Oke. Tapi nanti kabari gue hasilnya." Nara membulatkan bibirnya, memandang cowok banyak maunya di depannya itu dengan muak.
"Lama-lama gue bisa ketularan gilanya kayak lo Elang!" Dengan mengacak rambutnya frustasi, Nara segera membuka pintu mobilnya. Masuk dan segera keluar dari area parkiran.
"Elaaaang gila!" teriak Nara sembari memukul-mukul setir pada mobilnya.
Setidaknya dengan wangi-wangian yang melekat pada sweater Nara. Elang bisa merasakan sedikit kedamaian pada perutnya. Tidak peduli dengan banyaknya pasang mata yang saat ini tengah melihatnya dengan tatapan aneh.
Yang terpenting Elang sudah mendapatkan sweater kesayangan Naraya. "Naraya Azkara .. no problem sekarang cuma kain tipis ini yang bisa gue peluk. But, gue janji setelah hari esok!" gumamnya geleng-geleng kepala.
Sesuai janji Nara kepada Ghea. Siang ini kedua gadis itu berada di apartemen milik Ghea. Sebuah apartemen mewah hadiah dari Mama Helena saat gadis itu berusia 17 tahun beberapa bulan yang lalu.
"Ghea gue.. gue udah pernah ngelakuin hal kotor sama Elang!"
"Ha? Gimana.. gimana?"
Ghea yang sedang menatap wajah Nara dengan serius sampai linglung. Gadis itu tidak paham dengan maksud ucapan Nara yang berkata 'melakukan hal kotor'.
"Ra.. please jelasin yang detail sama gue. Jangan bikin gue bingung!" Ghea menangkup kedua sisi bahu Nara. Perasaannya tiba-tiba saja jadi tidak enak.
"Elang udah ngambil keperawanan gue Ghea!" telak Nara dengan memejamkan matanya.
"APA!!!"
Dengan mata melotot Ghea berteriak histeris. Ini tidak mungkin! Nara pasti sedang berniat mengerjainya. Ya! Nara pasti sedang mengerjai dirinya! " Lo pasti mau ngeprank gue! Ya kan?" tebak Ghea tersenyum tegang.
Nara memandang Ghea dengan mata berkaca-kaca. “Apa di mata lo gue kelihatan sedang bercanda Ghe?" tanya Nara dengan nada melemah.
Deg
Deg
Deg
"Naraaa.. kapan? Kenapa lo gak pernah cerita sama gue!" histeris Ghea dengan memeluk tubuh sahabatnya itu erat. Tangis Ghea terdengar sangat terpukul, tetapi tidak dengan Nara. Temannya itu justru menepuk-nepuk punggung Ghea. Seolah sahabatnya itulah yang kehilangan kehormatannya.
__ADS_1
"Gue gak papa! Gak ada gunanya juga di ingat-ingat. Semua udah terlanjur terjadi."
Telinga Ghea salah dengar tidak sih? Ini bocah udah gak perawan tapi kok enggak ada sedih-sedihnya! Ghea saja yang sebagai temannya rasanya ingin terjun bebas dari atas apartemen.
"Lo gak ada niat bunuh diri atau nuntut Elang gitu Ra?" tanya Ghea dengan sesenggukan.
Nara berdecak kesal, kemudian mengurai pelukan di antara mereka berdua. "Percuma kalau gue nuntut! Nama baik keluarga gue bakalan jadi taruhannya." Ghea mengusap air matanya dengan kasar. Menatap Nara semakin sendu.
"Ra lo nangis atau teriak-teriak gitu kek! Kenapa lo harus setegar ini sih? Bikin gue jadi sakit ati aja tau nggak lihatnya."
"Gak ada gunanya. Sekarang ada masalah yang lebih serius lagi Ghe. Gue bingung!"
"Jangan-jangan lo hamil!" seloroh Ghea yang sudah bisa menebak alur cerita dari kejadian yang menimpa Nara.
Wajah Nara langsung suram mendengar dugaan dari Ghea. Kenapa ucapan Elang dan temannya sama-sama menjurus ke sana sih? Semakin galau kan Nara jadinya!
“Gue gak ngerti Ghe. Yang jelas gue udah telat dua minggu.”
"MAMPUS MAMPUS MAMPUS!" heboh Ghea sembari memukul-mukul bantal di atas pahanya. "Cepetan tes bege! Kenapa lo nyantai banget sih?" imbuhnya panik sendiri.
"Gue takut Gheaaa.. Lo pikir gue siap gitu? Kalau beneran gue hamil gimana? Terus mau di kemanain nanti bayinya? Gue kan masih sekolah!" Ghea menepuk-nepuk keningnya berulang kali. Lalu loncat dari atas ranjang.
“Bentar! Lo jangan ke mana-mana. Gue mau ke depan!"
"Ghe lo mau ninggalin gue ke mana? Ikut!"
"Gak usah! Udah lo yang anteng aja di atas sana. Okey! Bentaran gue cuma bentaran doang!" Setalah berpesan pada Nara, Ghea segera keluar apartemennya. Meninggalkan Nara yang entah mau ke mana.
"Ish! Bisa-bisanya gue mau jadi Aunty secepat ini! Astaga .. astaga .. ini mulut gue! Gak gak.. Nara pasti cuma kebanyakan pikiran jadi anunya telat datang ke bulan! Eh- gimana sih mulut gue ini!" Dengan menepuk-nepuk pelan bibirnya, Ghea segera lari menuju apotik yang ada di depan apartemen.
Beberapa menit kemudian.
Perdebatan dan dorong-dorongan pun akhirnya harus terjadi di depan kamar mandi antara Ghea dan Naraya.
"Lo mau gue telponin si Elang? Atau Om Zain?" ancam Ghea dengan mata melotot.
"Lo sahabat durjana Ghea! Sialan!" kesal Nara akhirnya masuk juga ke dalam kamar mandi.
"Sip! Gitu dong nurut .."
"Lo ngapain ikut masuk juga! Gue gak tolol Ghea. Gue bisa sendiri."
"Hilih! Bisa aja nanti lo celupin itu alat ke dalam bak mandi. Cepetan ikh! Gue gak ngintip deh. Cus Ra!"
"Aargh!” rasanya Nara ingin menjambak dan mencekik Ghea saat ini juga. Entah siapa yang salah Nara tak tahu. Suatu keberuntungan atau malah kesialan setelah menceritakan masalahnya pada Ghea. Yang jelas Nara saat ini benar-benar nervous dengan hasil akhirnya.
"Udah belom?"
"Bentar!"
“Lama banget sih?”
"Ikh, bentaran. Sabar dong!"
Dengan gerakan yang sangat pelan, Nara menghidupi keran pada bawah shower. Berniat mencelupkan alat tes kehamilan itu pada air keran. Namun sepertinya gerak-gerik Nara sudah terbaca oleh Ghea.
"Naraaaa! Mau lo apain itu tespecknya ha?!"
Nara terjingkat, kemudian meringis. "Lo ngagetin gue Ege!"
"Lo beneran mau gue aduin sama-"
"Fine! Gue gak nakal lagi."
"Cepetan!"
Sialan! Mau tak mau akhirnya Nara mengambil air seninya. Lalu mencelupkan alat kecil bernama tespack itu pada wadah yang berisi air keramat tadi.
"Gimana Ra?" tanya Ghea berbisik.
"Gue deg-degan Ghe!"
"Sama anjir!"
"Satu... Dua ..."
Pas di hitungan ketiga Nara mengangkat tespack itu ke hadapannya dan Ghea. Dan alangkah bahagianya hati Nara saat melihat alat tes kehamilan itu hanya menunjukkan garis satu.
"Yes! Gue gak hamil!" Nara segera membuang tespack itu ke atas lantai dengan perasaan bahagia.
Tapi tidak dengan Ghea, gadis itu segera memungut alat tespack milik Nara lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Ra.. mata lo kayaknya rabun deh! Ini apa?" tunjuk Ghea tepat di depan wajah Nara. Membuat raut wajah Nara yang tadinya terlihat ceria berubah menjadi pucat pasi seketika.
Nara panik! Dia benar-benar
panik!
__ADS_1
"Gak! Ini pasti karena lo belinya yang kw."
"Ra gue ada sepuluh tespack! Cepetan lo coba pakai merk yang lain."